Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Ily maupun Alian. Akhirnya mereka sudah resmi menjadi suami istri. Tadi pagi, ikrar suci itu sudah berlangsung, dan malam ini saatnya dilangsungkannya resepsi disalah satu hotel berbintang diibu kota. Ballroom hotel itu sudah didesign sedemikian rupa menjadi sangat elegant. Warna putih dan biru sangat kental memenuhi ruangan besar itu. Tamu yang diundang tak banyak karna hanya keluarga dan sahabat terdekat dan beberapa rekan kerja dari keluarga Alian maupun Ily lah yang datang. Keterbatasan tamu itu juga membuat acara resepsi ini terasa lebih hikmat. Tak terlalu formal dan terkesan santai.
“Menantu bunda cantik banget,” puji Dewi melihat kecantikan menantunya. Dewi berdiri dibelakangan Ily yang sedang duduk di depan cermin besar usai dimake up.
“Iya bun, bang Alian beruntung punya istri cantik gini,” puji Nayla pula, adik satu- satunya Alian. Ily tersenyum kecil mendapati pujian dari mertua dan adikiparnya itu.
“Makasih Bun, Nay.”
“Yaudah yuk kebawah. Tamu udah pada datang,” ucap Dewi. Ily dan Caca yang sedari tadi menemani Ily saat sedang di make up mengikuti Dewi dari belakang. Tiba-tiba Ily menahan lengan Caca membuat langkah Caca terhenti dan langsung menatapnya heran.
"Gue gak bisa, gak bisa," bisik Ily lirih.
"Lo udah terlalu jauh melangkah ke permainan yang lo buat Ly, dan sekarang lo udah benar- benar jadi istri Alian. Jangan berbuat bodoh untuk kedua kalinya," balas Caca tegas. Cacapun langsung menggandeng Ily untuk segera menuju tempat resepsi. Ily hanya mengikuti Caca dengan pasrah. Ily benar-benar ingin waktu bisa diulang kembali. Agar ia tak membiarkan dirinya melakukan hal bodoh ini. Menikah dengan Alian hanya untuk pembuktian pada Leo?
Oh that's stupid thing!
Sesampainya ditempat resepsi ternyata benar sudah dipenuhi tamu. Alian yang melihat kehadiran Ily langsung menghampirinya. Alian tersenyum kearah Ily. Ily hanya menatap Alian datar, namun sikap Ily tak menghapus guratan senyum dibibir Alian. Tiba-tiba Ily tertegun, untuk pertama kalinya ia begitu memperhatikan wajah Alian. Tak bisa dipungkiri kalau Alian sangat tampan. Tapi apakah tampan sudah cukup untuk merebut hatinya? Rasanya tidak.
"Tamunya udah pada nunggu. Kita kesana yuk," ajak Alian menggandeng tangan Ily yang membuyarkan lamunan Ily. Tanpa menjawab Ily hanya mengikuti Alian menuju pelaminan yang bernuansa modern itu. Tempat resepsi ini didominasi warna biru senada dengan pakaian yang dipakai Alian dan Ily.
Satu persatu tamu mulai menghampiri mereka, Alian dan Ily tampak menyalami para tamu sembari tersenyum. Ada beberapa tamu yang tak dikenal Alian maupun sebaliknya. Ily mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan ini. Namun sosok Leo dan kekasih barunya itu tak kunjung terlihat. Ily ingin melihat reaksinya saat menghadiri pernikahan ini. Pasalnya saat beberapa hari yang lalu ketika Ily memberikan undangan padanya ia terlihat begitu kaget. Ily berharap ia benar- benar datang karna Ily sudah membayar sangat mahal hanya untuk melihat ekspresi pria itu.
“Kamu capek?” Pertanyaan lembut Alian membuyarkan lamunan Ily. Ternyata sedari tadi Alian memperhatikan Ily yang terlihat memikirkan sesuatu.
“Enggak,” balas Ily singkat. Mendengar jawaban seadanya dari Ily, Alian hanya mengangguk paham sembari tersenyum.
“Congrats Captain,” ucap Verrell yang tiba-tiba datang dengan hebohnya. Alian membelalakkan matanya membuat Verrell sadar apa yang ia katakan. Ily mengerinyitkan dahinya.
“Oh maksud gue, congrats bro,” ucap Verrell memperbaiki ucapannya.
“Thanks bro,” balas Alian.
“Gue Verrell,” ucap Verrell memperkenalkan dirinya. Ia sadar pasti istri sahabatnya ini tak mengenalnya.
“Ily,” balas Ily sembari tersenyum kecil.
“Lo gabakal nyesel jadi istri sahabat gue,” ucap Verrell pada Ily yang hanya dibalas Ily dengan senyuman kikuk. Tak akan menyesal? Bagaimana bisa? Apakah pria yg sudah menjadi suaminya ini sangat sempurna?
***
Waktupun semakin malam. Setelah merasa semua tamu datang, acara resepsi pun usai. Sebenarnya Indra sudah menyiapkan satu kamar hotel untuk mereka namun Ily menolak dan ingin segera pulang. Siapa yang bisa menolaknya?
“Kamar kalian ada diatas. Istirahat dulu gih,” ucap Ayu saat mereka sudah sampai dirumah Ily.
“Iya Ma, kami istirahat dulu ya,” pamit Alian.
“Bun, Nay. Alian sama Ily istirahat dulu ya,” pamit Alian sopan pula kepada bunda dan adiknya kemudian menggandeng tangan Ily menuju kamarnya. Ily hanya diam mengikuti Alian. Ntah lah, sedari tadi tak banyak kata yang diucapkan Ily, apalagi semenjak ia tahu bahwa Leo benar-benar tak datang.
"Aku mau mandi dulu ya," ucap Alian ketika mereka sudah sampai di kamarnya. Ily hanya diam tak menjawab ucapan Alian dan hanya memilih duduk ditepi ranjang. Alian hanya tersenyum melihat sikap acuh Ily. Akankah gadis itu seperti itu terus menerus?
Setelah beberapa lama dikamar mandi. Kini Alian sudah keluar dengan piyama hitam sutranya. Diliriknya Ily yang masih tak berkutik dari posisi awalnya. Perlahan Alian berjalan menghampiri Ily kemudian berdiri dihadapannya.
"Kamu kenapa, dari tadi aku liat diem terus. Kamu sakit?" tanya Alian lembut.
"Gue mau lo ceraikan gue sekarang," balas Ily tegas. Alian terbelalak kaget mendengarkan ucapan Ily. Cerai? Apa gadis ini sadar apa yang barusan ia ucapan.
"Maksud kamu apa sih?" Tanya Alian tak mengerti.
"Gue mau lo ceraikan gue. Lo gak mungkin bahagia sama gue, dan gue juga gak mungkin bahagia sama lo," ucap Ily yang kini sudah mulai terisak. Ia benar-benar ingin Alian melepaskannya saat ini.
"Kita baru nikah tadi Ly, dan sekarang kamu dengan gampangnya minta cerai?" Tanya Alian tak percaya. Ya Tuhan, itu tidak mungkin. Alian mengusap wajahnya kasar. Ily tampak makin terisak.
"Kamu dengerin aku baik-baik. Aku gak akan ceraikan kamu sampai kapanpun. Kalau kamu gak bisa berjuang untuk pertahanin pernikahan kita, biarkan aku memperjuangkannya sendiri," balas Alian penuh penekanan. Alian langsung keluar dari kamar itu meninggalkan Ily yang masih terisak. Ia tak mungkin melampiaskan emosinya pada Ily. Ia harus benar-benar mendinginkan pikirannya dulu. Dan Ily juga mungkin butuh waktu untuk berpikir lagi. Alian hanya berharap besok Ily sudah tak meminta hal-hal yang tak mungkin seperi ini.
***
Sinar matahari yang memaksa masuk kedalam kamar melalui celah-celah jendala membuat Alian mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan Alian membuka matanya seiring mengumpulkan kesadarannya. Setelah matanya terbuka sempurna, Alian melirik kesamping ranjangnya. Kosong. Tak ada Ily. Jadi tadi malam Ily tak tidur disini?
Ingatan Alian kembali kepada kejadian tadi malam, kejadian yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Ily memintanya untuk menceraikannya? Bagaimana bisa? Jujur walaupun rasa cintanya belum tumbuh pada perasaan Alian, tapi dia sama sekali tidak pernah berfikir untuk menceraikannya. Setelah perdebatan panas tadi malam Alian memutuskan keluar kamar untuk menenangkan hati dan pikirannya. Ia tak ingin meluapkan segala emosinya pada Ily. Tapi sepertinya saat Alian pergi keluar kamar Ily juga keluar entah kemana, bahkan saat Alian bangun tadi subuh untuk sholatpun Ily juga tak ada. Alian mengusap wajahnya kasar. Alian sangat bersyukur diberikan tuhan kesabaran yang luar biasa besar, dan sepertinya ini adalah keturunan ayahnya. Alian tak terlalu terbiasa meluapkan emosinya pada siapapun karna Alian yakin, emosi tak akan menyelesaikan apapun.
Alian memutuskan untuk mandi, hitung-hitung membuatnya lebih segara dan menenangkan hati dan perasaannya.
***
Alian kini berada di depan kamar Ily. Tadi saat ia hendak sarapan ia bertemu pembantu Ily dan menanyakan keberadaan Ily. Alian fikir Ily sudah ada diruang makan, tapi ternyata tidak. Menurut pembantunya Ily sedang ada dikamar pribadinya. Alian tak tahu sebelumnya jika dirumah ini Ily memiliki kamar pribadi. Ia fikir kamar yang ia tempati saat ini adalah kamar Ily.
Tiba-tiba Alian terkekeh geli saat membaca tulisan dipintu kamar Ily Ily's private room. Tulisan itu dilengkapi juga stiker doraemon. Seperti anak kecil bukan? Membuat identitas kepemilikan kamar. Alian memutuskan untuk langsung membuka pintu kamarnya, Alian yakin Ily belum bangun. Benar saja, saat Alian memasuki kamar Ily, Ily sedang tertidur sembari meringkuk diranjangnya seperti anak bayi. Alian mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar ini. Penuh dengan segala macam pernak pernik bernuansa doraemon. Kamar yang jauh dari kata rapi ini terlihat hampir tak berbentuk. Alian menggelengkan kepalanya melihat beberapa baju berserakan dilantai. Alian memunguti baju itu satu persatu kemudian meletakkannya kedalam keranjang pakaian. Alian kemudian berjalan menghampiri Ily. Ditatapnya dalam- dalam wajah damai Ily. Tak ada sama sekali kesan jutek atau ketus dari wajahnya. Malah terlihat hmmmmmm menggemaskan. Alian terkekeh kecil saat menyadari dirinya menganggap gadis jutek ini menggemaskan. Tangan Alian terulur mengelus pucuk kepala Ily. Alian tersenyum saat melihat Ily sedikit menggeliat. Tak ingin mengganggu tidurnya, Alianpun memutuskan untuk keluar. Namun sebelumnya, Alian memperbaiki letak selimut Ily yang sedikit tersingkap, kemudian menutup badannya sebatas d**a membiarkan istrinya itu semakin terlelap dalam mimpinya.