Ily memperhatikan penampilannya di depan cermin. Walaupun baru menikah kemarin, Ily sudah kembali pada aktivitas lamanya. Sebelum pergi ke lokasi pemotretan ini Ily sempat terlibat perdebatan dengan mamanya yang melarangnya pergi. Namun dengan sikap keras kepala yang Ily punya akhirnya ia tetap pergi. Ily sempat bingung karna setelah dia bangun tidur Alian sudah tidak ada di rumah. Sempat terfikir dibenak Ily bahwa pria itu memutuskan untuk pergi. Namun mengingat ucapannya kemarin malam Ily langsung menepis pikirannya.
“Ternyata benar lo udah move on dari gue,” ucapan seseorang itu membuat Ily yang sedari tadi merapikan anak rambutnya langsung menoleh keasal suara. Melihat siapa yang datang ia hanya memutar bola matanya malas.
“Lo itu gak pantas untuk selalu dikenang,” balas Ily santai.
“Tapi rasanya lo berlebihan deh kalau ngelakuin semua ini cuma buat buktiin ke gue kalau lo udah move on,” ucapan Leo itu membuat Ily menatapnya geram. Kenapa dulu ia sempat mencintai pria menyebalkan seperti ini?
“Lo gak usah sok tau deh, gue lakuin ini karna gue emang cinta sama suami gue, bukan karna lo!” jelas Ily penuh penekanan membuat Leo tersenyum simpul.
“Bagus kalau gitu, lagian gak terlalu penting buat gue,” Leo mengeluarkan sebatang rokok kemudian menghidupkannya dan mulai menghisapnya. Ily menatap pria dihadapannya dengan tatapan menjijikkan.
“kamu udah siap pemotretannya?” tiba-tiba sebuah suara terdengar diantara mereka. Ily membulatkan matanya tak percaya saat melihat seorang pria berperawakan tinggi kokoh dengan wajah terpahat begitu tampan berdiri dihadapannya.
“Belum, baru mau mulai,” balas Ily yang masih tampak terkejut. Pria itu mengangguk paham kemudian beralih menatap Leo yang tampak menatap Pria itu bingung.
“Oh iya Al, kenalin ini Leo fotografer disini dan Leo ini Alian suami gue,” jelas Ily dengan malasnya memperkenalkan kedua Pria yang selalu membuat hatinya kesal beberapa waktu belakangan ini. Kedua pria itu saling berjabat tangan sembari tersenyum. Ily memperhatikan raut wajah Leo yang biasa saja. Bukannya Ily berharap Leo masih menyimpan perasaan padanya, hanya saja Ily ingin melihat ekspresi kesal dari pria itu.
Tak berapa lama Leo mengintruksikan bahwa pemotretan akan segera dimulai. Sebenarnya Ily sudah menyuruh Alian untuk tak menunggunya. Namun dengan santainya Alian menolak permintaan Ily itu kemudian berlalu menuju sofa yang berada diruangan ini. Ily hanya mampu menggeram kesal melihat suaminya itu.
Alian menunggu Ily sembari memainkan ponselnya. Games adalah salah satu pelariannya dalam mengusir jenuh saat ini. Ily sesekali melirik Alian. Tiba-tiba tampak salah seorang rekan modelnya menghampiri Alian, mengajaknya bercerita, dan dengan ramahnya Alian meresponnya walaupun tampak masih fokus pada ponselnya. Ily menatap kesal saat menyadari bahwa rekan modelnya yang tidak ia ketahui namanya itu tampak mencari perhatian suaminya.
“Yuk pulang,” ucap Ily membuat Alian langsung mendongakkan wajahnya menatap Ily. Saat pemotretannya usai Ily langsung menghampiri Alian yang kini sudah sendiri karna rekan modelnya tadi sudah pergi. Alian tersenyum kemudian bangkit dari duduknya.
“Dasar kadal, bukannya nungguin istri malah tebar pesona!” ketus Ily kemudian berlalu dari Alian. Alian menautkan Alisnya bingung tak paham dengan ucapan Ily, namun sesegera mungkin Alian mengikuti Ily.
"Masuk," ucap Alian agar Ily masuk kedalam mobilnya yang pintunya sudah dibukakan Alian. Ily hanya diam sembari melipat Kedua tangannya didepan d**a. Pandangannya diedarkan kesepanjang jalan.
"Katanya tadi mau pulang."
"Gue pulang pakai taksi," balas Ily ketus. Memang ia tadi tidak membawa mobil.
"Aku kesini buat jemput kamu disuruh mama. Masa kamu pakai taksi," ucap Alian. Ily masih diam tak bergeming.
"Ya tapi terserah kamu sih. Kamu kan tau sendiri tempat pemotretan kamu di dalam gang, gak ada taksi yang lewat, palingan ojek. Kalau gitu aku pulang duluan ya," Alian hendak menutup kembali pintu mobilnya, namun tiba-tiba Ily terlebih dahulu masuk. Alian terkekeh kecil melihat sikap istrinya itu. Menggemaskan sekali.
***
Ily mengupas apelnya sembari sesekali bersenandung. Malam ini rumahnya terasa sepi karna orangtuanya yang sedang pergi menemui rekan bisnisnya,.
“Kamu gak makan?” Ily hanya diam tak menjawab. Dari suaranya saja ia sudah tau siapa yang bertanya.
“Bikinin aku kopi boleh gak?” kini Ily menatap malas kearah Alian yang sedang berdiri dibalik minibarnya.
“Kopi ada disebelah sana, gulanya ada didalam toples, air panasanya ada di termos, lo bisa bikin sendiri kan?” ucap Ily seadanya kemudian kembali mengupas apelnya. Alian hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Ily. Bukankah biasanya disaat santai seperti ini istri akan membuatkan minuman untuk suami? Tapi sepertinya itu tak berlaku untuk Ily.
Alian pun akhirnya memutuskn untuk membuat kopinya sendiri. Tak begitu sulit, dulu sebelum menikah ia juga sering membuatnya sendiri
“awww,” pekik Alian saat tangannya dengan tak sengaja tersiram air panas. Ily yang mendengar pekikan Alian langsung berlari kearah Alian.
“Lo kenapa? Tangan lo kesiram?” tanya Ily yang tampak panik dan langsung menatap tangan Alian.
“Gak papa kok, Cuma kaget aja tadi. Airnya panas banget,” balas Alian sembari tersenyum.
“Yaudah Lo duduk aja sana, biar gue bikinin,”ucap Ily kemudian mengambil alih gelas yang Alian pegang. Alian pun memutuskan untuk duduk di mini bar memperhatikan istrinya yang sedang menyedukan kopi untuknya.
“Nih,” Ily memberikan gelas kopi itu pada Alian.
“Makasih, kamu khawatir banget ya aku kenapa-kenapa?” tanya Alian sembari tersenyum menggoda istrinya. Didalam hati Ily merutuki kebodohannya atas sikap spontannya tadi. Harusnya ia biasa saja. Kenapa ia begitu peduli? Pasti pria dihadapannya ini kini sedang besar kepala. Tanpa menjawab ucapan Alian, Ily langsung berlalu kekamarnya. Alian terkekeh melihat tingkah istrinya. Apalagi melihat pipinya yang tampak pula merona. Menggemaskan sekali.
***
Alian membolak balik agendanya untuk penerbangan besok. Mengingat jadwal penerbangan yang sudah disusun jauh-jauh hari Alian memutuskan untuk tak mengambil cuti terlebih dahulu setelah menikah. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan ternyata Ily lah yang masuk. Ily melirik Alian sekilas kemudian berlalu menuju lemari pakaian. Ily benar-benar kesal, kenapa mamanya membawa semua pakaiannya kekamar ini? Ia jadi harus bolak balik kamar untuk mengambil pakaiannya. Ily menggapai-gapai piyamanya yang berada pada lemari bagian atas. Tapi rasanya begitu sulit.
"Kalau gak bisa itu minta tolong. Ntar kamau jatuh," ucap Alian lembut yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Ily yang membuat Ily tersentak kaget. Ily menoleh kebelakang membuat wajahnya dan Alian bertemu hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan. Alian tersenyum kecil sembari menggigit bibir bawahnya yang membuat Ily merasa Alian sangat... errr menggemaskan dan seksi. Ily langsung mengalihkan pandangannya sementara Alian membantu mengambil piyamanya dan memberikannya pada Ily.
"Makasih," Ily langsung berlalu dari Alian.
"Kamu mau tidur dimana?"
"Di teras," balas Ily ketus. Alian terkekeh geli mendengar jawaban istrinya. Alian merasa harus sudah terbiasa dengan sifat ketus istrinya itu.
***
Alian menyeret kopernya keluar kamar. Diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Ia harus segera pergi. Namun langkah Alian terhenti saat ia melihat pintu kamar Ily. Alian berjalan menuju kamar Ily. Dibukanya pintu kamar itu dan terlihatlah seorang gadis meringkuk didalam selimutnya. Alian menghampiri Ily. Dielusnya pucuk kepala Ily dengan lembut sembari tersenyum.
"Aku kerja dulu yaa," bisik Alian kemudian mencium dahi Ily lembut. Karna tak punya waktu lama Alian langsung segera pergi meninggalkan istrinya yang masih larut dalam mimpinya.
***
Ily mendumel tak jelas pagi ini. Ia benar-benar merasa repot karna baju-bajunya yang sudah dipindahkan mamanya ke kamar yang Alian tempati membuat dengan terpaksa Ily menuju kamar Alian. Saat ia membuka pintunya, tiba-tiba dahi Ily berkerinyit saat melihat kamar itu kosong. Kemana Alian? Tak mau ambil pusing Ily langsung menuju lemari. Lagi-lagi dahi Ily berkerinyit saat melihat koper yang sempat ia lihat dibawah lemari sudah tak ada. Apa Alian kabur dari rumah? Rasanya tak mungkin. Kemana dia pergi?
Tidak ingin ambil pusing, Ily langsung bergegas keluar kamar saat sudah mendapatkan baju yang ia inginkan.
***
"Ma Alian kemana?" Tanya Ily sambil mengaduk-ngaduk teh yang ia buat. Jujur ia menjadi sangat penasaran kemana pria itu. Mamanya yang sedang menyiram tanaman dihalaman belakang menggelengkan kepalanya jengah melihat putrinya. Bagaimana ia tak tau kalau suaminya kerja.
"Kamu gimana sih. Suami kerja kok gak tau. Ly, cobalah buat peduli sama suami kamu," ucap Ayu mengingatkan.
"Lah dianya aja gak bilang sama aku kalau mau kerja," ucap Ily membela dirinya. Ayu hanya bisa menghela nafas berat. Putrinya memang sangat keras kepala. Sepertinya ia dan suami sudah salah sejak awal dalam mendidikan anak-anaknya yang sama keras kepalanya itu.
***
"What? Suami lo udah 4 hari gak pulang dan dia bilang kerja?" Tanya Caca tak percaya. Memang ini sudah 4 hari Alian pergi.
"Tau tuh anak. Jangan-jangan dia punya cabe-cabean diluar sana," ucap Ily ngasal yang berhasil mendapat satu jitakan pelan didahinya dari Caca.
"Lo tu ya, suudzon banget sama suami. Dosa tau gak."
"Terus menurut lo? Dia bilang kerjanya supir lah, karyawan lah, mana ada yang kerja berhari-hari gak pulang," ucap Ily.
"Lagian nih ya Ca, gue gak percaya dia supir atau karyawan. Lo tau gak? Mobil dia itu keren banget, dan barang-barang dia brendid semua," ucap Ily lagi.
"Wah, kerjaannya bukan sembarangan tu Ly."
"Jangan-jangan dia p**************a," ucap Ily lagi yang berhasil mendapat hadiah jitakan dari Caca.
"Istri durhaka!"
"Pokoknya gue harus tau siapa dia sebenarnya," tekat Ily. Caca hanya mampu mengangkat bahunya acuh melihat sikap sahabatnya itu. Benar-benar rumah tangga yang aneh pikirnya.
***
Ily mondar mandir di kamarnya berfikir keras. Sudah 5 hari Alian tak pulang dan itu makin membuat Ily penasaran sebenarnya apa yang dikerjakan suaminya itu. Akhirnya Ily memutuskan untuk mencari informasi tentang Alian di kamarnya. Sesampainya di kamar Alian, Ily mulai mencari-cari. Pasti akan ada yang bisa ia dapatkan dikamar ini. Ily memulai membuka buka laci, lemari dan setiap sudut ruangan. Tapi ia tak menemukan apa apa.
Tiba-tiba saat Ily sibuk mencari,
"Aaaaaaa," pekik Ily saat tiba-tiba lampu padam menjadi gelap gulita.
"Mama, papa!!!!" Pekik Ily. Namun tak ada jawaban. Ily baru ingat kalau mama dan papanya sedang keluar. Pembantunya pasti juga sudah tidur sekarang.
"Aaaa gelap," Ily terduduk dilantai. Jujur ia sangat takut gelap. Ily mulai terisak karna merasa takut.
"Ly," suara panggilan itu sangat Ily kenal.
"Aliiaan. Gue takut," Alian langsung mempercepat langkahnya. Dengan penyinaran dari ponselnya Alian pun mencari Ily.
"Ly kamu kenapa?" Tanya Alian yang sudah berada dihadapan Ily. Ily langsung mendongakkan kepalanya dan kemudian berhamburan kepelukan Alian. Alian yang awalnya kaget kemudian membalas pelukan Ily untuk menenangkannya. Tadi saat Alian pulang dari apartement Verrell untuk mengganti seragam pilotnya tiba-tiba saja lampu padam. Mendengar suara Ily Alian langsung segera menuju kamarnya.
"Kamu tunggu disini dulu ya. Aku cari lampu emergency dulu," kata Alian. Baru Alian melangkah tapi Ily menahannya. Sepertinya Ily masih takut. Tanpa berfikir panjang Alian langsung menggendongnya dan mendudukkannya diranjang membuat Ily terpekik kaget.
"Udah terang," ucap Alian saat lampu emergency sudah berhasil dinyalakan. Ily menatap Alian sesaat kemudian langsung mengambil lampunya hendak keluar dari kamar itu.
"Kamu boleh gak jaga perasaan aku, tapi setidaknya kamu jaga perasaan orang tua kamu. Gimana perasaan mereka kalau mereka tau kita gak sekamar?" Ucap Alian yang menghentikan langkah Ily. Ily tampak berfikir sejenak, kemudian Ily berbalik berbaring di ranjang menutup badannya dengan selimut. Alian tersenyum kecil, setidaknya kalian ini istrinya itu mendengarkannya.