"Nao kebetulan lagi ke luar kota, Pa. Katanya ada semacam bedah buku dan mungkin di sana susah jaringannya." Anton ingin percaya, sungguh. Namun, gelagat Orion tak setenang biasa. Tampak jelas keragu-raguan dalam nada bicaranya. Ditatap seperti itu, Orion merendahkan pandanganya berusaha menghindari tatapan sang ayah mertua. Demi apa pun ia merasa terintimidasi hanya karena ditatap dalam diam. Tatapan itu, sama persis seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu. "Terus kenapa kamu enggak ikut nemenin?" Suara berat dan sarat akan rasa cemas sekaligus penasaran itu membuat Orion merinding. Semua kebohongan yang sudah disiapkan seolah lenyap tanpa jejak. "Hm, aku ... aku ada kerjaan, Pa. Kebetulan, Nao juga pergi sama timnya dan beberapa penulis lain, jadi aku enggak terlalu khawatir."

