Nao melangkah terseok memasuki kediaman orang tuanya. Ia tidak berniat mengadu tentang apa pun, hanya butuh tempat untuk bersandar. Barangkali, dekapan sang mama bisa menyamarkan kesakitannya. Tangan perempuan itu bergerak meremat d**a. Ada rasa sakit luar biasa di dalam sana. Saking sakitnya, Nao sampai tidak bisa menyuarakan apa-apa. Tangisnya tertahan, kemarahannya mengendap, sekadar mengatakan bahwa hatinya terluka pun sulit. Napas perempuan berambut pendek itu mulai memberat, pandangannya pun kabur. Nao hanya berusaha mengokohkan pijak agar tubuhnya tak limbung dan mengundang kepanikan seisi rumah. Dengan sedikit gemetar, Nao menekan bel rumah, sesekali mengetuk pintu rumahnya pelan. Saat Alfa keluar, Nao masih sempat melihatnya. Ia juga mencoba tersenyum tatkala Alfa melempar pe

