"Anjing!" Jingga yang kini duduk berdampingan dengan tunangannya refleks mengayunkan tangan memberi sebuah pukulan, kemudian ganti mencubit bibir lelaki itu keras-keras hingga Hilman mengaduh sakit karena ulahnya. "Sakit sih," rengek lelaki itu. "Lagian kamu mulutnya kayak enggak pernah disekolahin. Kasar banget. Mau nanti pas ijab kabul kelepasan bilang gitu, hah? Dipecat jadi mantu kamu sama Ayah." Hilman mengerucutkan bibir. Gara-gara sebuah potret dalam ponsel yang digunakan sebagai wallpaper, ia jadi kelepasan bicara kotor saking kagetnya. Ini benar-benar berita besar. Witri pasti langsung bocor ke sana-sini jika mengetahuinya. "Itu handphone siapa? Kayaknya bukan punya kamu deh." Lagi, Jingga bersuara. Matanya menyipit penuh curiga. "Kayaknya punya Yena ketinggalan." "Terus ng

