"Nao, udah siang. Bangun dulu, yuk, kita sarapan." Spontan Nao membuka mata mendengar teriakan sang mama yang sesekali juga mengetuk pintu kamarnya. Ia langsung tersadar penuh dan berubah panik melihat Orion berbaring nyaman dengan posisi memeluknya. "Ori, bangun," ujarnya setengah berbisik. Namun, lelaki itu masih tak bergerak. Nao mendengkus sebal. Perempuan itu meraba-raba sisi tempat tidur berusaha mencari pakaian yang ditanggalkannya semalam, tetapi pergerakannya terbatas karena Orion begitu erat memeluknya. "Nao, kamu masih sakit, Sayang?" Lagi, sang mama berteriak. "Aku udah bangun, Ma. Mama sama Papa sarapan duluan aja, nanti aku nyusul." Setelah berujar demikian, perempuan itu melirik Orion. Rasa sakitnya sama sekali belum berkurang, bahkan sepanjang pergumulan mereka, Nao m

