"Deon duduk dulu dong. Kita ngobrol sambil makan. Uda jam makan malam ini," kata Mama Gangika mengingatkan. Stevan refleks berdiri dari atas kursi. "Ayooo ... duduk dulu." Menarik pergelangan tangan Deon, pria bertubuh tinggi berkulit coklat seperti sawo matang itu membawa Deon duduk di kursi samping Gangika. Malu-malu dan canggung dirasakan Deon dan Gangika. "Makan dulu, Deon. Nanti ... kita cerita lagi, ya," kata Mama Gangika mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. "Iya, Tante," jawabnya sambil tersenyum. Deon merasakan keluarga ini sangatlah amat nyaman. Bukan berarti keluarganya tidak hangat. Deon merasa bersyukur diterima baik meskipun belum dapat finalnya dari kedua orang tua Gangika. Mengikuti saja lebih baik. Makan malam pertama mereka terasa menyenangkan. Mengunyah mak

