Bagian 17

1796 Kata
Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi dan Bitna sudah sibuk di dapur dengan penampilan yang masih acak-acakan. Masih mengenakan piama dan rambutnya diikat asal-asalan. Sambil berkacak pinggang gadis itu melihat isi kulkas untuk mencari bahan makanan yang bisa di masak untuk sarapan. Memang pernikahannya dengan Yo Han tanpa didasari cinta dan hanya karena kesepakatan, tapi mengingat statusnya sekarang adalah seorang istri Bitna wajib menyiapkan makanan untuk Yo Han. Pria itu sudah banyak membantunya, mulai dari melunasi hutang ayahnya hingga membiayai pendidikannya. Yah walaupun Yo Han sangat menyebalkan terkadang. Tapi meskipun begitu Bitna harus mengurus kebutuhan Yo Han, seperti menyiapkan makanan, hingga membersihkan rumah sebagai balas budi atas kebaikan pria itu. “Apa yang harus aku masak,” gumam Bitna saat mendapati hanya ada telur dan sosis di dalam kulkas. Makanan kiriman ibu Yo Han juga sudah habis kemarin. Karena tak tahu harus memasak apa pilihan Bitna jatuh pada roti panggang dan telur mata sapi. Gadis itu lantas mengeluarkan dua potong roti lalu mengolesinya dengan mentega sebelum memanggangnya di atas teflon. Setelah memanggang roti Bitna kemudian membuat telur mata sapi. Setelah matang, Bitna meletakkan telur mata sapi tadi ke atas roti panggang lalu menyiapkannya ke atas meja makan. Tidak lupa dia juga menyiapkan dua jus jeruk untuknya dan Yo Han. “Kau buat apa?” tanya Yo Han yang baru saja keluar dari kamarnya. Pria itu sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam. “Roti panggang dan telur mata sapi,” jawab Bitna sambil mencuci teflon bekas memanggang roti dan menggoreng telur tadi. “Apa tidak ada makanan lain?” “Makan yang ada, jika tidak mau kau bisa makan di luar.” Yo Han mendengus pelan lalu menjatuhkan pantatnya ke atas kursi. “Kau tidak pergi kuliah hari ini?” “Aku ada kelas siang nanti.” Bitna ikut duduk di kursi di depan Yo Han lalu menyantap roti panggang dan telur mata sapi buatannya. Memang makanan itu tidak cukup membuatnya kenyang, tapi lumayan bisa mengganjal perutnya. “Kita kehabisan bahan makanan,” ucap Bitna setelah memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya. “Kalau kau bisa pergi belanja,” sahut Yo Han tanpa melihat Bitna. “Sendiri?” “Tentu saja sendiri.” “Mana bisa aku pergi sendiri.” Yo Han meletakkan pisau dan garpunya setelah roti panggangnya habis. Pria itu kemudian menatap Bitna. “Kau minta aku menemanimu?” Bitna mengangguk. Alasan kenapa dia minta ditemani Yo Han belanja adalah, pertama dia tidak perlu repot-repot naik bus sambil membawa belanjaan, kedua menghemat ongkos transportasi dan ketiga jika bersama Yo Han, pria itu yang akan membayar semuanya. “Baiklah, kau selesai kuliah jam berapa?” “Jam 4.” “Aku akan menjemputmu nanti.” “Tunggu, bisa kau jangan menjemputku tepat di depan universitas?” Yo Han mengerutkan dahinya. “Memangnya kenapa?” “Itu, saat kau mengantarku di hari pertama banyak orang terus memperhatikanku, rasanya tidak nyaman,” ucap Bitna mengingat ketika dia jadi pusat perhatian di hari pertamanya masuk kuliah. “Kenapa mereka memperhatikanmu?” “Karena aku keluar dari mobil mewah, mereka pikir aku berasal dari keluarga kaya.” Yo Han mengusap batang hidungnya. “Bukankah sekarang kau memang berasal dari keluarga kaya?” “Ini semua kan milikmu.” “Kau lupa, semua milikku sekarang juga jadi milikmu,” “Terserah, pokoknya jangan menjemput di depan universitas.” Bitna tahu setelah menikah dengan Yo Han, apa yang menjadi milik pria itu juga jadi miliknya. Tapi Bitna tetap saja merasa tak nyaman, mengingat Bitna setuju menikah dengan Yo Han karena pria itu akan melunasi hutang ayahnya. Dan lagi Bitna juga tidak suka jadi pusat perhatian. Melihat semua orang menatapnya sambil berbisik itu sangat tidak nyaman. *** Bitna sedang bersiap-siap berangkat kuliah. Kelasnya akan dimulai satu jam lagi. Tring.... Bitna melirik ponselnya yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. Yo Han meneleponnya, untuk apa? “Halo,” ucap Bitna setelah menggeser tombol berwarna hijau di layar dan mendekatkan ponselnya ke telinga. “Kau masih di rumah?” tanya Yo Han di seberang telepon. “Ya, ada apa?” “Ada dokumen penting yang tertinggal di rumah, bisa kau antarkan kemari?” Bitna melirik jam dinding. Kelasnya akan dimulai satu jam lagi, dan dari rumah menuju kantor Yo Han memakan waktu 20 menit jika naik taksi. Bitna tidak yakin bisa sampai tepat waktu sebelum kelas dimulai jika di pergi mengantar dokumen milik Yo Han. “Bitna? Halo?” “Apa dokumen itu sangat penting?” “Ya, aku membutuhkan untuk rapat setelah ini. Kau bisa mengantarnya?” “Di mana kau meletakkan dokumen itu? Aku akan mengantarnya.” Bitna tidak peduli jika dirinya nanti telat masuk ke dalam kelas. Yo Han pasti sangat membutuhkan dokumen itu, jadi dia harus mengantarnya. “Ada di atas meja di dalam ruang kerjaku, map berwarna cokelat.” “Aku akan mengantarnya setelah ini.” “Setelah sampai di kantor langsung saja naik ke lantai 8, ruanganku ada ujung lorong.” Setelah Bitna mematikan teleponnya, gadis itu bergegas ke ruang kerja Yo Han untuk mencari dokumen yang dimaksud. “Ketemu,” ucap Bitna saat menemukan dokumen yang dimaksud Yo Han. Ketika hendak pergi dari ruangan itu langkah Bitna terhenti saat laptop di atas meja kerja Yo Han tiba-tiba menyala. Ada notifikasi email masuk di layar laptop itu. Bitna menyipitkan matanya membaca notifikasi itu. “Soo Jin Lee?” gumam Bitna membaca nama pengirim email itu. “Siapa ya?” Sempat terhanyut selama beberapa detik, Bitna akhirnya sadar jika di harus mengantarkan dokumen milik Yo Han. Bitna kemudian bergegas pergi agar nanti dia tidak telat masuk ke kelas setelah mengantar dokumen milik Yo Han. *** Setelah keluar dari taksi Bitna bergegas masuk ke dalam gedung tempat kantor Yo Han berada. Melihat kedatangan Bitna, beberapa pegawai menatapnya sambil berbisik. Bitna tahu mereka pasti sedang bergunjing tentangnya, gadis miskin yang menikah dengan direktur KL Cosmetics. Tak peduli pada tatapan para pegawai itu, Bitna bergegas masuk ke dalam lift dan menekan tombol ke lantai 8 tempat ruangan Yo Han berada. Begitu lift sampai di lantai 8 Bitna bergegas keluar dan mencari di mana ruangan Yo Han. “Apa direktur ada di dalam?” tanya Yo Han pada pegawai wanita di depan ruangan Yo Han. “Nde,” jawab pegawai itu. Bitna bergegas masuk ke dalam ruangan. Setelah membuka pintu, dilihatnya Yo Han sedang duduk di kursi kebesarannya sambil membaca dokumen. “Sudah datang?” tanya Yo Han saat menyadari kehadiran Bitna. Pria itu kemudian berdiri dan menghampiri istrinya. “Ini.” Bitna menyerahkan map berwarna cokelat yang dia bawa. Yo Han mengambil map itu dan memeriksa dokumen di dalamnya, memastikan bahwa itu benar dokumen yang dia maksud. “Benar yang itu kan?” tanya Bitna, jika salah dia tidak mau kembali ke rumah untuk mengambil dokumen yang benar. “Benar yang ini.” Yo Han menutup kembali dokumen itu dan meletakkannya ke atas meja."Kerja bagus," ucap Yo Han sambil mengusap puncak kepala Bitna. Membuat gadis itu sedikit terlonjak karena kaget dengan perlakuan Yo Han yang tak biasa itu. "Bukannya kau ada kelas siang ini?” Bitna terdiam tak merespons pertanyaan Yo Han. Gadis itu masih terkejut atas perlakuan Yo Han tadi. Dia juga merasakan daddanya tiba-tiba saja berdebar-debar karena perlakuan pria itu. "Bitna? Hei?" Yo Han mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Bitna. "Ya?" sahut Bitna setelah sadar. Karena Yo Han mengusap kepalanya tadi, dia jadi kehilangan kesadarannya untuk sesaat. "Bukannya kau ada kelas siang ini?" “Be-nar," jawab Bitna sedikit tegagap. Gadis itu lalu melirik jam tangannya. “Dan itu akan dimulai 30 menit lagi, aku harus pergi sekarang.” Bitna harus bergegas pergi jika dia ingin sampai di kampus sebelum kelasnya dimulai dan sebelum Yo Han bisa mendengar jantungnya yang sedang maraton saat ini. Dia tidak tahu butuh waktu berapa lama dari kantor Yo Han ke kampusnya mengingat jarak kantor Yo Han dan kampusnya cukup jauh. “Tunggu,” panggil Yo Han saat Bitna hendak membuka pintu. “Biar Seung Min yang mengantarmu.” Mata Bitna berbinar-binar mendengar Yo Han akan menyuruh Seung Min mengantarnya. Jika begini Bitna bisa menghemat biaya transportasinya. “Terima kasih,” ucap Bitna lalu meringis membuat Yo Han yang melihatnya menggelengkan kepalanya. “Ingat aku akan menjemputmu sore nanti, jangan berkeliaran ke mana-mana!” “Nde.” *** Bitna meregangkan badannya sesaat setelah dosen yang mengajar hari itu keluar ruangan. Tubuhnya terasa pegal duduk selama dua jam sambil mendengar penjelasan dari dosen yang membosankan. Bahkan Bitna hampir tertidur tadi. “Noona,” panggil Seung Woo saat menghampiri Bitna di tempat duduknya. “Ya?” “Apa kau ada waktu setelah ini? Aku ingin mengajakmu minum kopi.” “Maaf, tapi aku sudah ada janji sore ini.” Bitna ingat setelah ini dia harus pergi berbelanja bahan makanan dengan Yo Han. Seung Woo terlihat kecewa mendengar Bitna menolak ajakannya. Sebenarnya dia ingin menjadi lebih dekat dengan Bitna, gadis itu adalah tipe idealnya. Sayang pemuda itu tidak tahu jika Bitna sudah menikah. Selain Seung Woo semua mahasiswa di angkatannya juga tidak tahu kalau Bitna sudah menikah. Gadis itu memang tak pernah mengatakan kepada yang lain tentang statusnya sebagai seorang istri, tapi Bitna selalu memakai cincin pernikahannya. Dan tidak ada yang curiga dengan itu, mereka mengira cincin yang dipakai Bitna hanya aksesoris biasa dan tak ada artinya. Mungkin Seung Woo akan benar-benar patah hati saat nanti tahu jika Bitna ternyata sudah bersuami. Bitna melihat ponselnya saat benda itu bergetar, tanda ada notifikasi. “Maaf, aku harus pergi sekarang,” pamit Bitna setelah membaca pesan dari Yo Han. Pria itu sudah datang untuk menjemputnya. Dengan wajah kecewa Seung Woo memandangi punggung Bitna yang menjauh lalu menghilang ketika melewati pintu ruangan itu. *** Bitna mempercepat langkahnya keluar dari area universitas. Sesuai perkataannya Yo Han tidak menjemputnya tepat di depan universitas, pria itu menunggunya di depan Cafe di ujung jalan menuju kampus Bitna. “Apa tak kurang jauh kau memarkir mobilmu?” tanya Bitna dengan nada menyindir setelah masuk ke dalam mobil Yo Han. Jarak tempat Yo Han memarkir mobilnya dengan kampus Bitna lumayan jauh jika di tempuh dengan jalan kaki. Tentu gadis itu merasa lelah karena harus berjalan dari kampus menuju mobil Yo Han. “Bukankah kau yang bilang agar tak menjemputmu tepat di depan universitas?” “Sekalian saja kau menjemputku di dekat tempat penyebrangan.” “Bukankah ini tempat terbaik, tak akan ada yang melihatmu di sini.” Bitna mendecih lalu memasang sabuk pengamannya. Setelahnya Yo Han memacu mobilnya menjauh dari tempat itu menuju supermarket. Setelah sampai di supermarket Bitna menyuruh untuk mengambil troli dan mendorongnya sementara dia berjalan di depan pria itu. Awalnya Yo Han menolak untuk mendorong troli, dia ikut hanya untuk menemani Bitna, bukan untuk menjadi asisten gadis itu ketika belanja. Tapi karena Bitna terus memaksa, berakhirlah Yo Han yang dengan wajah tak ikhlas mengekor di belakang Bitna sambil mendorong troli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN