Bagian 16 - First Day

1632 Kata
Minah meletakkan segelas minuman pesanan Bitna ke atas meja, lalu gadis ikut duduk di depan Bitna. “Maaf membuatmu lama menunggu,” ucap Minah. “Tidak apa-apa, apa kau tak masalah duduk di sini dan mengobrol denganku?” Minah menggeleng. “Tidak apa-apa, lagi pula Cafe juga sedang sepi.” “Ah....” Bitna menyesap caramel macchiato milikinya. Sedetik setelahnya Bitna mengerjapkan matanya. Minuman itu rasanya sangat enak, sesuai dengan seleranya. Rasanya cukup pas di lidah, tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis. Rasanya sedikit kecewa karena Bitna baru tahu jika caramel macchiato rasanya seenak ini. Mulai sekarang Bitna akan menjadikan caramel macchiato sebagai minuman favoritnya. “Oh ya, karena sebentar lagi aku akan mulai kuliah lagi, sebagai seorang senior apa kau bisa memberiku saran?” tanya Bitna. Sudah lama sekali sejak dia berhenti kuliah, jadi Bitna merasa sedikit gugup. “Saran?” Minah menyentuh pelipisnya. Dia tidak tahu apakah bisa memberi saran pada Bitna. Memang sekarang dia adalah senior Bitna di universitas, tapi rasanya aneh jika dia memberi saran pada Bitna mengingat gadis itu lebih tua darinya. “Iya saran, aku merasa sangat gugup. Kau tahu mungkin aku akan jadi yang tertua di angkatanku, bagaimana kalau aku tidak bisa berbaur dengan mereka?” Bitna sangat khawatir tidak bisa berbaur dengan mahasiswa lain nantinya. Mengingat dia kembali kuliah saat usianya 25 tahun, usia di mana harusnya Bitna sibuk dengan pekerjaan. “Jangan khawatir, kau masih terlihat sangat muda,” kata Minah. “Jangan berlebihan.” “Tidak-tidak eonni, kau memang masih terlihat muda, percayalah.” Minah memang tidak berbohong dengan kata-katanya. Menurutnya Bitna sama sekali tidak terlihat jika sudah berusia 25 tahun, dia juga tidak terlihat jika sudah menikah. Bitna memiliki tubuh langsing dengan tinggi badan 162 cm, membuat tubuhnya terlihat proporsional. Lalu wajahnya yang kecil dengan mata sipit khas orang Korea, bibir mungil berwarna merah muda serta hidungnya yang mancung membuat gadis itu memiliki paras yang cantik. Dan jangan lupakan lesung pipi di wajahnya, membuat gadis itu juga terlihat sangat manis. Siapa pun yang melihat Bitna pasti tak menyangka jika gadis itu sudah berusia 25 tahun. “Jangan menggodaku,” ucap Bitna salah tingkah. Dia memang senang Minah mengatakan bahwa dirinya masih terlihat muda, tapi apakah orang lain juga akan berpikiran sama? “Eonni, kau tak perlu khawatir. Saranku adalah jangan terlalu percaya pada ucapan senior, terlebih lagi senior laki-laki. Lalu jika mereka mengajakmu minum bersama lebih baik cari alasan untuk menolaknya, kau tahu mereka sering mengganggu anak-anak baru dengan mengajak minum bersama dan itu hampir setiap hari.” Bitna mengangguk mengerti. “Mungkin aku akan jarang ikut kegiatan seperti minum bersama, kau tahu Yo Han membuat peraturan batas jam malamku hanya sampai jam 10 malam.” “Benarkah?” “Iya, sangat kekanak-kanakan bukan?” “Sepertinya suamimu takut kau akan di dekati laki-laki lain,” ucap Minah setengah iri. Menurutnya Yo Han terlihat sangat mencintai Bitna. Bitna hampir saja tersedak setelah mendengar ucapan Minah. “Memang dia bilang agar aku tidak terlalu dekat mahasiswa laki-laki.” “Omo.... Sepertinya dia sangat mencintaimu,” ucap Minah sambil memukul pelan bahu Minah. Bitna hanya meringis mendengar ucapan Minah. Yo Han mencintainya? Itu adalah hal yang mustahil. Pria itu seorang gay, mana mungkin Yo Han mencintainya. Semua peraturan yang dibuat Yo Han, jam malam, melarangnya dekat dengan laki-laki itu semua hanya untuk menjaga agar tidak ada gosip tentang dirinya. Tidak lebih dari itu. *** Bitna melangkah keluar dari sebuah ruangan. Hari ini adalah hari pertama dia masuk kuliah dan dia baru saja mengikuti mata kuliah pertamanya hari ini. Sebenarnya Bitna merasa tidak terlalu nyaman karena terus di perhatikan oleh mahasiswa yang lain sejak tadi. Pertama karena dia adalah yang tertua di angkatannya, kedua karena pagi tadi Yo Han mengantarnya. Pria itu mengantarnya dengan mobil mewah, turun dari mobil mewah membuat Bitna menjadi pusat perhatian sejak pagi. Mereka pasti berpikir dirinya berasal dari keluarga kaya, dan itu membuatnya tak nyaman. “Permisi.” Seorang mahasiswa laki-laki menepuk pundak Bitna dari belakang. Membuat gadis menoleh kaget. “Ya?” “Apa kau ingat aku?” tanya pemuda itu sambil menunjuk dirinya. Bitna mengerutkan dahinya, berusaha mengingat-ingat siapa pemuda yang saat ini berdiri di depannya. “Ah... Dompet,” seru Bitna saat berhasil mengingat siapa pemuda itu. Dia adalah pemuda yang menemukan dompetnya saat tes ujian masuk dulu. “Benar, aku yang menemukan dompetmu waktu itu. Namaku Kwon Seung Woo.” Pemuda bernama Seung Woo itu mengulurkan tangannya pada Bitna. Bitna menatap tangan pemuda itu selama beberapa detik. Apa tidak masalah dia berkenalan dengan seorang laki-laki? Ah, masa bodoh lagi pula Bitna tidak punya niat terselubung. “Aku Kim Bitna,” kata Bitna setelah menjabat tangan Seung Woo. Setelahnya kedua orang itu hanya saling bertatap canggung. “Apa kau mau ke kantin?” ajak Seung Woo mengingat sudah masuk waktunya makan siang. “Kantin?” “Ya, sudah waktunya makan siang. Jika kau tak keberatan makan bersamaku.” Bitna melirik jam tangannya, benar sekarang memang sudah masuk jam makan siang. Bitna berpikir sejenak, dia belum punya kenalan lain selain Seung Woo di sana, Minah juga mungkin sedang sibuk dan pasti rasanya aneh jika Bitna makan sendirian. “Baiklah kalau begitu,” ucap Bitna setuju dengan ajakan Seung Woo. Makan bersama pemuda itu lebih baik dari pada makan sendirian dan menjadi pusat perhatian, lagi pula Yo Han tidak akan tahu apa yang dilakukannya di kampus. Seung Woo dan Bitna duduk bersama sambil menikmati makan siang mereka di kantin. Sejak duduk di sana mereka lebih banyak diam sambil menikmati makanan masing-masing. Bitna memang pendiam dan dia jarang memulai pembicaraan dengan orang lain. “Maaf, tapi apa benar kau adalah yang tertua di angkatan kita?” tanya Seung Woo berhati-hati, dia takut akan menyinggung Bitna. “Iya, sepertinya terlihat begitu jelas ya kalau aku yang tertua,” jawab Bitna lalu tertawa canggung. “Tidak kok, aku pikir malah kita ini seusia.” Bitna tersenyum tipis lalu kembali menyantap makanannya. Dia tidak tahu apa Seung Woo memang menganggap mereka seusia atau ucapan pemuda itu hanya sekedar basa-basi agar tak menyinggungnya, tapi Bitna senang mendengarnya. “Berapa usiamu?” tanya Seung Woo lagi. “25 tahun.” “Boleh aku memanggilmu noona?” *Noona : Panggilan seorang laki-laki kepada wanita yang lebih tua. Bitna menatap Seung Woo sejenak. Dia memang lebih tua dari Seung , tapi panggilan itu terasa aneh untuknya. “Boleh,” ucap Bitna akhirnya. “Baiklah, Bitna noona.” Bitna menatap Seung Woo yang saat ini tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya. Melihat Seung Woo tersenyum seperti itu mengingatkan Bitna pada seekor anak anjing di toko hewan peliharaan dekat Cafe tempatnya dulu bekerja. “Noona, kau akan datang kan nanti?” “Datang ke mana?” “Ke acara penyambutan mahasiswa baru.” “Ah....” Bitna baru ingat ada pengumuman di grup chat tentang acara penyambutan mahasiswa baru. “Tentu aku akan datang,” ucap Bitna. Meskipun sebenarnya dia ragu bisa pulang sebelum jam malam yang ditentukan Yo Han. Masa bodoh dengan jam malam, lagi pula ini kesempatan yang bagus untuk berbaur dengan mahasiswa lain mengingat dia tak punya kenalan—selain Seung Woo. *** Bitna menutup pintu perlahan lalu berjalan mengendap-endap menuju ruang tamu. Sekarang sudah jam setengah dua belas malam, dan itu artinya dia melanggar jam malam yang ditentukan Yo Han. Bitna hanya berharap pria itu belum pulang karena sibuk bekerja atau tidur lebih awal. Jika Yo Han memergokinya pulang selarut ini, Bitna yakin Yo Han akan mengomelinya mengingat betapa cerewetnya pria itu. “Baru pulang.” Bitna menghentikan langkahnya lalu menoleh ke sumber suara. Yo Han sedang duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Kau melanggar jam malam di hari pertama masuk kuliah, sungguh tak bisa aku percaya.” “Aku tidak bermaksud melanggar.... Ada acara penyambutan mahasiswa baru.... Jadi aku harus datang kan,” ucap Bitna sedikit tergagap. “Kau pasti sangat senang bisa berhaha-hihi dengan mahasiswa laki-laki di sana.” “Tidak, kenapa kau berpikir aku melakukan hal seperti itu?” “Bukankah itu alasan para gadis ikut acara seperti itu?” Yo Han bangun dari sofa lalu mendekat ke arah Bitna. Pria itu kemudian mengendus tubuh Bitna. Bitna refleks melangkah mundur saat Yo Han mendekat dan mengendusnya. Pria itu mirip anjing pelacak sekarang. “Kau minum alkohol?” selidik Yo Han. Dia bisa mencium bau alkohol dari tubuh Bitna. “Hanya dua gelas tidak lebih dan aku tidak mabuk. Aku masih sangat-sangat sadar sekarang,” tegas Bitna, dia memang hanya minum dua gelas bir tadi. “Lagi pula kenapa kau mengendusku? Seperti anjing saja.” Mata Yo Han melebar tak percaya Bitna baru saja menyamakannya dengan seekor anjing. “Anjing katamu?” “Iya anjing, minggir aku ingin istirahat.” Bitna mendorong tubuh Yo Han menjauh lalu berjalan melewati pria itu. “Tunggu.” Yo Han menarik tangan Bitna membuat gadis itu berhenti lalu menatap sebal ke arahnya. “Apa lagi? Aku ingin istirahat sekarang.” Sungguh Bitna rasanya sudah ingin segera berbaring di ranjangnya. Hari ini sangat melelahkan untuknya. Apa lagi saat di acara tadi dia harus menjawab berbagai pertanyaan mahasiswa lain tentang usianya. Dan sekarang dia tak punya tenaga untuk berdebat dengan Yo Han. “Karena kau melanggar peraturan, bukankah kau harus dihukum?” Bitna menatap jengah Yo Han. Dia ingin pembicaraan ini segera berakhir. “Oke, selama seminggu ke depan aku yang akan mencuci piring dan membuang sampah, puas?” Bitna menepis tangan Yo Han lalu menuju kamarnya meninggalkan Yo Han yang sedang berusaha menahan tawanya. Sebenarnya dia hanya pura-pura marah. Yo Han tahu hari ini Bitna akan pulang larut karena pasti ada penyambutan mahasiswa baru, tapi dia sengaja pura-pura marah untuk mengerjai Bitna. Dan terbukti rencananya berhasil, bahkan dia tidak perlu berdebat dengan Bitna tentang siapa yang mencuci piring dan membuang sampah selama seminggu ke depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN