Bagian 5 - Keputusan Yang Tepat?

1892 Kata
“Baiklah, aku setuju.” “Apa?” Mata Yo Han berkedip tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bitna bilang setuju bukan? Telinganya tidak salah dengar? “Aku bilang aku setuju menikah denganmu,” ucap Bitna sekali lagi. Yo Han terdiam menatap Bitna. Ini sungguh di luar dugaannya. Dia tidak menyangka bahwa Bitna akan setuju menikah dengannya secepat ini. Awalnya Yo Han pikir Bitna akan meminta waktu lebih lama untuk berpikir, tapi ternyata tidak. “Jadi kau benar-benar setuju menikah denganku?” tanya Yo Han kembali memastikan jika Bitna serius dengan ucapannya. “Ya.” Bitna mengangguk pasti. “Pilihan yang tepat,” kata Yo Han sambil berusaha menahan senyumnya. Sungguh dalam hatinya Yo Han sedang sangat kegirangan karena akhirnya Bitna mau menikah dengannya. Jika bisa digambarkan, di atas kepala Yo Han saat ini ada banyak kembang api meletup-letup. Namun, sebagai direktur KL Cosmetics dia harus menjaga wibawanya di depan Bitna. Dia tidak boleh terlihat senang di depan gadis itu. “Lalu bagaimana dengan kontraknya?” tanya Bitna. “Kontrak?” “Kontrak hubungan kita.” Bitna tidak mau menyesali keputusan yang baru saja dia buat. Oleh karena itu dia membutuhkan kontrak. Kau tahu tulisan di atas kertas bermeterai lebih dapat dipercaya dari pada kata-kata di mulut. Apa lagi kata laki-laki, ada banyak kebohongan di sana. “Ah....” Yo Han mengangguk-angguk setelah mengerti maksud Bitna. Yo Han tahu pasti gadis itu masih takut dan ragu dengan keputusan yang baru saja dibuatnya. “Soal kontrak kita bicarakan besok saja,” ucap Yo Han bangun dari sofa. “Besok? Bukankah kau bilang akan membicarakannya sekarang?” “Sekarang sudah terlalu larut, apa kau tak mengantuk? Lagi pula yang penting kau sudah setuju.” Bitna mendengus kesal. Bukankah Yo Han sendiri yang sebelumnya bilang akan membicarakan masalah kontrak itu sekarang? Besok? Rasanya Bitna sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana isi kontrak perjanjian mereka. Tentu Bitna penasaran, dalam perjanjian ini dia mempertaruhkan hidupnya untuk menikah dengan pria itu. “Dasar plin plan, bukankah dia sendiri yang bilang akan membicarakannya sekarang,” gumam Bitna pelan. Yo Han yang hendak membuka pintu kamarnya kembali berbalik menatap Bitna. “Apa kau mengatakan sesuatu?” Bitna menggeleng cepat sambil menutup mulutnya rapat. Dia tak menyangka gumaman pelannya dapat didengar Yo Han. Yo Han menggaruk telinganya yang tak gatal. Dia yakin tadi mendengar Bitna mengatakan sesuatu. “Sudah larut kau juga harus tidur,” ucap Yo Han sebelum menutup pintu kamarnya. “Nde,” sahut Bitna yang kemudian menghela napas lega. Untung saja Yo Han tak mendengar ucapannya tadi. Gadis itu kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menatap langit-langit ruang tamu bernuansa putih itu. Setelahnya Bitna menghembuskan napas perlahan, seolah-olah dia sedang melepas beban berat dalam dirinya. “Kim Bitna, mulai detik ini kau tak perlu lagi memikirkan hutang-hutang ayah. Kau tak perlu lagi hidup dalam kejaran para rentenir itu. Sekarang kau bisa hidup bebas,” ucap Bitna pada dirinya sendiri. Yo Han samar-samar mendengar ucapan Bitna dari dalam kamarnya. Pria itu kemudian menghela napas pelan. Yo Han berharap ini adalah keputusan yang tepat. Dia bisa menyelamatkan dirinya dari perjodohan yang direncanakan orang tuanya dan juga membebaskan Bitna dari belenggu hutang mendiang ayahnya. *** Pagi itu matahari bersinar cerah di akhir musim gugur. Meski udara mulai berubah semakin dingin, tapi sama sekali tak mengurangi keindahan musim ini. Yo Han sedang duduk manis sambil memegang secangkir kopi di tangannya. Pria itu sedang menikmati pemandangan dari balkon apartemennya. Karena Bitna sudah setuju menikah dengannya, Yo Han bisa tidur sangat nyenyak semalam. Sekarang dia tidak perlu lagi datang dalam perjodohan yang direncanakan orang tuanya. Kriet... Yo Han segera menoleh ke arah kamar tamu begitu mendengar suara pintu terbuka. Di lihatnya Bitna sudah berpakaian rapi dan siap pergi ke suatu tempat. “Kau mau pergi ke mana?” tanya Yo Han. “Bekerja,” jawab Bitna. Yo Han mengerutkan dahinya. “Di hari minggu?” “Ya,” sahut Bitna yang kemudian berlalu menuju pintu apartemen Yo Han. “Aku tidak tahu kalau kau juga bekerja di hari minggu.” Dalam hati Bitna mendecih kesal. Yo Han pasti tak tahu rasanya bekerja selama tujuh hari dalam seminggu. Pria itu kaya dan punya segalanya. Jika pun harus bekerja dia bisa menyuruh sekretarisnya atau apalah itu. Tidak seperti dirinya yang tak mengenal hari libur dalam hidupnya. Semua hari sama saja, Bitna harus bekerja keras setiap harinya. “Kim Bitna,” panggil Yo Han sebelum gadis itu melangkah keluar apartemen. “Apa?” Bitna menoleh dengan ekspresi setenang mungkin. Dia tidak boleh terlihat kesal di depan Yo Han. Jika membuat kesalahan mungkin saja dia akan ditendang keluar dari sana. “Karena sudah setuju menikah denganku, kau harus memikirkan untuk segera berhenti bekerja.” Bitna terdiam. Yo Han benar, jika dia menikah dengan pria itu Bitna harus berhenti bekerja. Karena akan terlihat aneh jika istri dari direktur KL Cosmetics bekerja paruh waktu. “Kau tahu maksudku bukan?” “Aku tahu,” sahut Bitna lalu melangkah keluar dari apartemen Yo Han. Tentu Bitna tahu apa maksud Yo Han, dia bukan gadis bodoh. Setelah Bitna benar-benar pergi Yo Han bergegas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia harus menghubungi Seung Min dan meminta sekretarisnya itu menyiapkan kontrak hubungannya dengan Bitna. Yo Han tidak mau menyia-nyiakan waktu. Lebih cepat kontrak itu dibuat, maka lebih cepat pula dia menikahi Bitna. “Sekarang aku tak perlu lagi menghadiri acara perjodohan bodoh itu,” ucap Yo Han sambil menyilangkan kakinya di atas meja lalu menyesap secangkir kopi yang tadi dipegangnya. Yo Han kemudian menarik sudut bibirnya. Dia mengingat kembali bagaimana dengan mudahnya dia meyakinkan Bitna untuk menikah dengannya. Jika tahu akan semudah ini, harusnya sejak awal Yo Han mengusik Bitna dan membuat gadis itu terpuruk agar mudah didekati. Ternyata memang mudah mendapatkan simpati wanita saat dia sedang terpuruk. *** Hari Minggu yang seperti hari biasanya bagi Bitna. Seperti biasa Bitna sibuk bekerja di Cafe hari itu. Tangannya yang ramping tampak lincah meracik minuman pesanan pelanggan yang datang ke Cafe tempatnya bekerja. Selain membuat minuman Bitna juga melakukan pekerjaan lain. Seperti mencuci piring dan gelas kotor, hingga membersihkan meja setelah pelanggan pergi. “Eonni ada yang bisa aku bantu?” tanya Minah yang baru saja kembali dari dapur. Di sini hanya Minah yang suka rela menawarkan bantuan pada Bitna. Yang lain? Mereka hanya peduli pada pekerjaan mereka sendiri. “Bisa kau ambilkan cheese cake di lemari pendingin? Kita kehabisan stok di depan,” perintah Bitna sambil tersenyum. “Oh???” Minah terdiam menatap Bitna. Gadis itu baru saja tersenyum padanya, hal yang bahkan jarang Bitna lakukan. “Kenapa?” Bitna balik menatap aneh ke arah Minah. “Eonni, kau baru saja tersenyum kan?” “Ya, lalu kenapa?” “Apa ada hal baik yang terjadi?” Bitna mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Minah. “Maksudku, kau kan jarang sekali tersenyum. Jika kau sampai tersenyum aku pikir sesuatu yang baik pasti terjadi padamu.” Bitna terdiam mendengar perkataan Minah. Hal baik ya? Apa terbebas dari hutang ayahnya dan akan menikah dengan Yo Han bisa disebut dengan hal baik? Terbebas dari hutang itu memang hal baik, tapi menikah dengan Yo Han— Bitna tidak yakin. Dia baru mengenal Yo Han kurang dari dua minggu, dan soal apakah Yo Han benar-benar gay Bitna juga tidak tahu. “Eonni,” panggil Minah sambil menepuk pelan pundak Bitna hingga membuat gadis itu terlonjak kaget. “Ya?” “Jadi apakah ada sesuatu yang baik terjadi padamu?” “Yah... Bisa dibilang seperti itu.” “Benarkah? Apa itu?” tanya Minah penasaran. “Oh... Lain kali akan aku beritahu.” Bitna tak mungkin bilang pada Minah jika dirinya sebentar lagi akan menikah. Jika Bitna mengatakannya dia yakin Minah mungkin akan pingsan karena kaget. Mendengar jawaban Bitna membuat Minah mengerucutkan bibirnya. Padahal dia sudah sangat penasaran, tapi Bitna sama sekali tak mau memberitahunya. “Baiklah, yang penting eonni merasa senang.” Meskipun Bitna tidak memberitahunya, mengetahui ada hal baik terjadi pada gadis itu sudah cukup membuat Minah senang. Walaupun baru setahun ini dia mengenal Bitna, tapi Minah tahu jika Bitna sering mengalami hal-hal sulit. Jadi mendengar adalah baik yang membuat Bitna tersenyum juga membuatnya senang. *** Seperti biasa Bitna pulang bekerja jam 10 malam. Begitu gadis itu membuka pintu apartemen Yo Han, dilihatnya pria itu sedang berdiri bersandar dinding sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Jangan lupakan bagaimana cara Yo Han menatap Bitna saat ini, mirip seorang ibu yang mendapati anaknya pulang larut malam dan siap mengomelinya. “Apa kau mencoba membuatku terkena serangan jantung?” gerutu Bitna pelan sambil melepas sepatunya. “Serangan jantung?” ucap Yo Han tak percaya. “Memangnya siapa yang tak kaget melihatmu berdiri di balik pintu sambil melotot seperti itu.” Yo Han mendengus menatap punggung Bitna yang berlalu melewatinya. Gadis itu sudah berani mengomel padanya, padahal sampai kemarin malam gadis itu bahkan tak berani menatap matanya. Sepertinya setelah setuju menikah dengannya Bitna jadi lebih berani. Dengan kesal Yo Han berjalan menuju kamar Bitna dan mengetuk pintu kamar gadis itu. “Kim Bitna, kita harus bicara,” ucap Yo Han sambil mengetuk pintu kamar Bitna. Bitna membuka pintu kamarnya lalu menatap malas ke arah Yo Han. Sungguh dia enggan bicara dengan Yo Han sekarang. Dia sangat lelah karena bekerja seharian ini, dan sekarang dia tak punya tenaga untuk meladeni Yo Han. Lagi pula Bitna yakin Yo Han tak akan membicarakan kontrak mereka seperti kemarin malam. “Kau tak mau membicarakan kontrak hubungan kita?” ucap Yo Han yang sukses menarik perhatian Bitna. “Kontrak?” “Bukankah sejak kemarin kau ingin membicarakan kontrak itu? Jika penasaran kita bisa bicarakan sekarang, tapi kalau kau tidak mau kita bicarakan besok—“ “Tidak-tidak. Kita bicarakan sekarang saja,” sahut Bitna cepat. “Kalau begitu ikut aku.” “Nde.” Bitna kemudian mengekor di belakang Yo Han menuju ruang tamu. Sungguh melihat Bitna mengekor di belakangnya membuat Yo Han membayangkan jika gadis itu mirip anak anjing yang sedang mengikuti tuannya. “Kau lihat amplop cokelat di atas meja itu.” Yo Han menunjuk amplop cokelat yang tergelatak di atas meja. “Ya.” “Itu adalah detail kontrak hubungan kita. Aku minta Seung Min menyiapkannya pagi tadi. Kau bisa membacanya dulu, jika ada yang mau kau tambahkan kau bisa bicara padaku.” Bitna dengan cepat meraih amplop cokelat di atas meja dan membukanya. Matanya tampak begitu fokus membaca setiap kata yang tertuang dalam lembaran kertas putih yang saat ini dipegangnya. Dia harus benar-benar teliti membaca kontrak itu. Bitna tak mau menyesal di kemudian hari, bisa saja Yo Han mungkin membuatnya sengsara lewat kontrak yang dia buat. Misalnya membuat Bitna menjadi pembantunya seumur hidup. Coba pikirkan, Yo Han rela melunasi semua hutangnya asal Bitna mau menikah dengannya. Yah... Walau alasannya untuk menyembunyikan kenyataan bahwa Yo Han sebenarnya adalah gay, tapi apa lagi keuntungan Yo Han dari menikahi Bitna? Jawabannya tidak ada kecuali fakta dia mendapat seorang istri. Dengan menjadikan Bitna pembantunya seumur hidup, Yo Han tak perlu memperkerjakan orang lagi untuk membersihkan rumahnya. Dan itu harga yang pantas karena dia sudah melunasi hutang-hutang Bitna. Oh... Sepertinya Bitna terlalu berpikir jauh. Dia bahkan tak menemukan kata pembantu atau semacamnya dari kontrak yang dia baca. “Tunggu ini....” Bitna menatap Yo Han ragu-ragu. Sepertinya ada sesuatu yang salah dari kontrak yang dia baca. “Ada apa? Apa ada yang membuatmu keberatan?” tanya Yo Han.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN