Bagian 6 - Kontrak

1730 Kata
Yo Han menatap Bitna yang terlihat bingung saat membaca kontrak yang dia buat. “Ada apa? Apa ada yang membuatmu keberatan?” tanya Yo Han. Bitna menggeleng pelan. Tak ada satu hal pun yang memberatkannya dalam kontrak itu. Malah menurutnya Yo Han terlalu baik, bagaimana bisa tidak ada hal yang terkesan memberatkannya di dalam kontrak itu. “Apa hanya ini isi kontraknya?” tanya Bitna tak yakin dengan kontrak yang baru dia baca. “Ya, apa kau mau menambahkan beberapa detail dalam kontrak itu?” Bitna kembali menatap kertas putih di tangannya. Dia pikir Yo Han sudah gila. Bagaimana bisa pria itu menulis kontrak yang begitu sederhana? Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk membuatnya menjadi pembantu berkedok istri bagi Yo Han, karena pria itu telah melunasi semua hutangnya? Namun apa yang terjadi? Tak ada kata yang menyangkut tentang pembantu, bekerja dan sejenisnya. Kontrak Hubungan Nam Yo Han dan Kim Bitna. Pihak pertama : Nam Yo Han Pihak kedua : Kim Bitna 1. Pihak pertama akan melunasi semua hutang pihak kedua, jika pihak kedua setuju untuk menikah dengan pihak pertama. 2. Kedua belah pihak harus bersikap selayaknya pasangan suami istri di depan keluarga dan rekan bisnis. 3. Tidak boleh menjalin hubungan dengan orang lain selama kontrak masih berlaku. 4. Pihak pertama dan kedua dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing yang tidak berkaitan dengan masalah keluarga. 5. Pihak kedua akan mendapatkan berbagai fasilitas selama menjadi istri dari pihak pertama. 6. Pihak pertama akan membiayai seluruh kebutuhan pihak kedua selama menjadi pasangan suami istri. 7. Pihak pertama akan mengizinkan dan membiayai pendidikan pihak kedua. 8. Kedua belah pihak bersedia melakukan skinship di depan anggota keluarga dan rekan bisnis. Semua poin dalam kontrak itu terlalu mudah untuk Bitna—kecuali nomor delapan. Jika begini bukankah Yo Han lebih mirip ibu peri? Apanya yang simbiosis mutualisme? Di sini hanya Bitna yang mendapat banyak keuntungan. Hutangnya lunas dan dia tak perlu lagi bingung soal biaya hidup karena Yo Han yang akan menanggungnya. Dan lagi poin ketujuh Yo Han akan membiayai pendidikan Bitna. Itu artinya dia bisa kembali kuliah? “Apa ada yang membuatmu keberatan?” tanya Yo Han yang membuat Bitna tersadar dari lamunannya. “Tidak– maksudku selain poin delapan, bukankah ini terlalu berlebihan,” jawab Bitna. Kecuali poin delapan semua poin dalam kontrak itu menguntungkannya. “Berlebihan?” Bitna mengangguk. “Soal kau yang membiayai hidupku itu aku bisa menerimanya, tapi soal fasilitas dan biaya pendidikan bukankah itu agak berlebihan. Ini akan merugikanmu.” Yo Han mengusap batang hidungnya. Fasilitas yang akan dia berikan pada Bitna lalu juga biaya pendidikan, itu sama sekali tak akan merugikannya. Coba bayangkan jika orang-orang melihat Bitna sebagai istrinya nanti dan Bitna tak mendapatkan fasilitas apa pun? Apa yang akan dikatakan orang-orang tentangnya? Lalu alasan Yo Han ingin membiayai pendidikan Bitna itu agar orang-orang dan rekan bisnisnya tidak memandang rendah Bitna nantinya. Dan tentu itu akan berpengaruh pada kariernya nanti. “Tidak ada yang berlebihan. Ini harga yang pantas kau dapatkan karena sudah mau menikah denganku. Kau tahu bagaimana jadinya jika seluruh negeri ini tahu aku seorang gay? Apa bisa kau bayangkan seberapa jauh harga saham kami akan terjun bebas?” Bitna terdiam mendengar perkataan Yo Han. Benar reputasi Yo Han tentu akan sangat mempengaruhi perusahaannya. Jika seluruh negeri tahu jika Yo Han adalah seorang gay, tentu hal tersebut akan sangat berdampak pada saham perusahaan. “Lalu pikirkan juga tentang kedua orang tuaku. Mereka pasti akan sangat terkejut jika tahu putra mereka adalah seorang gay,” lanjut Yo Han. Benar, Bitna juga lupa tentang orang tua Yo Han. Di dunia ini tak ada orang tua yang tak kecewa saat tahu jika anaknya ternyata berbeda. Mereka pasti akan sangat kecewa dan terpukul saat tahu kebenaran tentang orientasi seksual putranya. Namun, apakah semua yang Bitna dapatkan dari Yo Han adalah harga yang pantas karena telah membantu pria itu menutupi kekurangannya? “Kim Bitna, dengarkanku.” Bitna perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kedua manik mata Yo Han. Pria itu saat ini sedang menatapnya dengan lembut dan berusaha meyakinkannya jika semua yang Bitna dapatkan tidaklah berlebihan. “Tidak ada yang berlebihan. Ini harga yang pantas kau dapatkan. Kau menyelamatkan reputasiku, perusahaan dan juga perasaan kedua orang tuaku.” “Tapi—” “Soal fasilitas yang kau dapatkan itu memang hakmu sebagai istriku nanti. Lalu pendidikan, apa kau tak mau kembali kuliah?” Kembali kuliah? Sebelumnya tak pernah terbesit keinginan untuk kembali melanjutkan pendidikannya. Kau tahu selama ini bertahan hidup di tengah kejaran rentenir sudah terasa sangat berat untuknya. Kembali kuliah rasanya adalah hal yang mustahil bahkan hanya untuk sekedar membayangkannya. Namun, Yo Han baru saja bilang jika pria itu akan membiayai pendidikan Bitna. “Bukan aku bermaksud merendahkanmu, tapi orang-orang pasti akan memandangmu rendah jika mereka tahu apa pendidikan terakhirmu.” Mendengar perkataan Yo Han membuat Bitna merasa kepalanya baru saja dipukul dari belakang. Dia sama sekali tak memikirkan bagaimana pandangan orang-orang melihatnya menikah dengan Yo Han, direktur KL Cosmetics. Mereka pasti memandangnya rendah mengingat latar belakang Bitna. Sungguh Bitna tak memikirkan hal itu saat menerima tawaran Yo Han. Harusnya dia memikirkan semua akibat jika dia menikah dengan Yo Han. Namun, mundur pun sekarang percuma. Bitna sudah terlanjur setuju menikah dengan pria itu. “Bitna-ssi, aku memintamu kembali melanjutkan pendidikan karena aku tak mau orang-orang memandangmu rendah. Suatu saat nanti saat kontrak ini berakhir kau mungkin juga akan membutuhkannya bukan?” lanjut Yo Han. Bitna menatap Yo Han. Berakhir? Apa itu artinya dia tak akan seumur hidup bersama Yo Han? “Berakhir? Itu artinya....” “Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan.” Sekali lagi Yo Han benar. Mereka tidak pernah tahu yang akan terjadi di masa depan. “Berhenti memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Sekarang fokus saja pada kontrak itu, apa ada hal lain yang membuatmu keberatan?” “Oh....” Bitna kembali membaca kontrak yang dipegangnya. “Poin kedelapan.” Yo Han meraih kontrak di tangan Bitna dan membacanya. “Poin delapan? Tentang skinship? Tentu kita harus melakukannya di depan orang-orang agar mereka percaya pada hubungan kita.” “Maksudku sampai batas mana skinship yang harus kita lakukan?” “Ciuman?” ucap Yo Han yang sukses membuat Bitna terbelalak karena terkejut. “Ciuman katamu? Bukannya itu berlebihan,” protes Bitna. Bagaimana bisa mereka berdua berciuman? Itu adalah hal yang tak masuk akal. “Ayolah, kita mungkin— hanya akan melakukannya sekali di upacara pernikahan nanti. Bukankah aneh jika kita tidak melakukannya? Kau pikir kita akan berciuman berapa kali?” Oh sungguh sekali lagi Bitna lupa jika mereka harus berciuman saat upacara pernikahan nanti. Memikirkan semuanya tentang pernikahan ini membuat kepalanya berdenyut. Harusnya dia memikirkannya matang-matang sebelum menerima tawaran Yo Han. “Jangan-jangan kau belum pernah berciuman dengan seorang pria?” Bitna mendelik menatap Yo Han. Pria itu sedang mengejeknya sekarang? Berciuman? Tentu Bitna pernah melakukannya dulu—dulu sekali saat hidupnya belum jatuh ke dalam jurang penderitaan. “Sudahlah, sekarang simpan saja kontrak itu dulu. Kita bicara lagi besok, aku mengantuk.” Yo Han bangun dari sofa lalu berjalan menuju kamarnya meninggalkan Bitna dan selembar kertas berisi kontrak hubungan mereka di ruang tamu. Setelah Yo Han benar-benar masuk ke dalam kamarnya Bitna menyentuh dahinya yang tiba-tiba berdenyut hebat. Dia tidak menyangka semua akan jadi serumit ini. Skinship, ciuman semua itu membuat kepalanya sakit. Dia pikir semua akan selesai hanya dengan menikah dengan Yo Han. Ternyata tidak, ada banyak rentetan hal-hal yang tak pernah Bitna pikirkan tentang pernikahan ini. Oh sungguh Bitna mulai berpikir bahwa dia mengambil keputusan yang salah. *** Hari itu Bitna sudah berpakaian rapi dan siap berangkat bekerja. Begitu dia keluar dari kamarnya Bitna sama sekali tak menemukan keberadaan Yo Han di apartemen itu. Padahal biasanya pria itu sudah duduk manis di ruang tamu sambil membaca koran dan minum secangkir kopi setiap kali Bitna keluar dari kamarnya di pagi hari. “Jam 8 pagi,” kata Bitna melirik jam yang menempel di dinding. “Dia sudah pergi bekerja?” Bitna berjalan menuju dapur untuk mengambil minum dari dalam kulkas. Begitu sampai di depan pintu kulkas Bitna melihat sebuah sticky note berwarna biru tertempel di pintu kulkas. Bitna segera mengambil dan membaca sticky note tersebut. Aku pergi ke Jepang selama beberapa hari untuk urusan pekerjaan. Selama aku pergi pikirkan baik-baik kontrak waktu itu, kita bicarakan lagi setelah aku kembali. Dan satu lagi, tak perlu membersihkan rumah, setiap dua hari sekali akan ada ahjumma yang datang dan membersihkannya. Bitna meremas sticky note itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Gadis itu kemudian membuka kulkas di depannya dan mengambil sebotol air mineral dari dalam sana. Beberapa hari ke depan Bitna tak akan bertemu Yo Han. Ini hal yang bagus, karena dengan begitu dia bisa berpikir dengan tenang tentang kontrak itu. Bitna menatap sekitar ruangan itu lalu memiringkan kepalanya. Memang tak bertemu Yo Han selama beberapa hari adalah hal yang bagus karena terkadang pria itu mirip dengan nenek-nenek yang suka mengomel tak jelas. Tapi rasanya ada yang salah jika dia tinggal di sana sendiri saat pemiliknya tak ada. Namun jika tidak di sana, di mana lagi dia harus tinggal? “Sial, aku terlambat,” kata Bitna saat melirik jam di dinding. Gadis itu segera berlalu menuju pintu depan dan buru-buru memakai sepatunya. Karena terlalu asyik dengan segala pikirannya tentang Yo Han, Bitna sampai lupa jika dia harus pergi bekerja. *** Hari keempat setelah Yo Han pergi ke Jepang. Bitna masih menjalani hari-harinya seperti biasa, pergi bekerja pagi-pagi sekali dan pulang malam. Perbedaannya hanya tak ada Yo Han yang selalu menunggunya pulang bekerja untuk membicarakan masalah kontrak. Siang itu Bitna bekerja di Cafe seperti biasanya. Setelah membawa gelas kotor bekas minum pelanggan ke dapur dan mencucinya Bitna kembali ke meja counter. Hari ini Cafe tempatnya bekerja cukup ramai karena mendapat banyak pelanggan. Hal itu memang bagus untuk bisnis Cafe-nya, tapi itu hal yang buruk untuk Bitna dan pegawai yang lainnya karena itu artinya mereka akan sangat sibuk bekerja. Tring... Terdengar suara lonceng yang tergantung di atas pintu saat seorang pelanggan mendorong pintu itu dan masuk ke dalam Cafe. “Selamat datang—” Bitna menatap kaget pelanggan yang baru saja masuk ke dalam Cafe tempatnya bekerja . “Kenapa kau kaget begitu? Kau pikir aku ini hantu?” Mata Bitna berkedip memastikan bahwa dia tak salah melihat pelanggan yang saat ini berdiri di depannya. Itu Nam Yo Han. Di sudah kembali ke Korea? Tapi kapan? Bahkan sampai tadi pagi saja tak ada tanda-tanda keberadaan pria itu di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN