Bagian 9 - Hal Yang Mengejutkan

2046 Kata
Makan malam bersama orang tua Yo Han ternyata tak terlalu menakutkan seperti yang Bitna bayangkan. Kedua orang tua Yo Han sangat ramah padanya, terlebih lagi Nam Yong Bae ayah Yo Han yang ternyata sangat humoris. Yah walaupun beberapa leluconnya sangat kuno dan tidak lucu. Lalu Nam Yoo Rin, kakak perempuan Yo Han. Dia memang seperti yang Yo Han deskripsikan. Gaya bicaranya memang ceplas-ceplos tapi Yoo Rin terlihat sangat anggun dan elegan. Penampilannya benar-benar mencerminkan dirinya sebagai seorang CEO perusahaan besar. “Bitna-ssi apa kesibukanmu?” tanya Seung Ah. Mereka sedang mengobrol santai di ruang keluarga sambil minum teh setelah makan malam tadi. Di dalam ruangan itu hanya ada Yo Han Bitna dan orang tuanya. Sementara Yoo Rin harus pergi karena ada urusan mendesak. “Nde?” “Maksudku apa yang kau lakukan, bekerja atau punya kegiatan lain?” Bitna menatap kikuk Seung Ah lalu beralih menatap Yo Han. Pria itu kemudian mengangguk kecil memberi isyarat Bitna untuk menjawab apa adanya. “Aku... Bekerja di Cafe,” jawab Bitna dengan suara pelan. “Cafe? Maksudmu mengelola sebuah Cafe?” Bitna kembali menatap Yo Han lalu menjawab, “bukan, aku bekerja sebagai pekerja paruh waktu di sebuah Cafe.” “Ahh.... Pekerja waktu.” Seung Ah menatap suaminya dan Yo Han bergantian lalu tertawa canggung. Ekspresi wanita paruh baya itu kemudian berubah kecewa setelah mengetahui bahwa Bitna hanya seorang pekerja paruh waktu. Bitna yang menyadari perubahan ekspresi Seung Ah hanya bisa menundukkan kepalanya. Sepertinya ketakutannya akan menjadi nyata. “Appa apa kau ingat tentang Kim Chul Sik?” Mendengar nama Kim Chul Sik, Yong Bae menatap putranya. Nama itu terdengar tak asing baginya. “Kim Chul Sik? Teman kuliah ayah?” tanya Yong Bae memastikan siapa yang dimaksud oleh Yo Han. Mendengar nama ayahnya disebut refleks Bitna mengangkat kepalanya lalu menatap Yo Han. Seung Ah yang juga tak asing dengan nama itu ikut bertanya pada Yo Han. “Kim Chul Sik yang dulu membantu bisnis ayahmu? Apa kau tahu sesuatu tentang keberadaannya sekarang?” Bitna menatap Yo Han dan kedua orang tuanya bergantian. Bagaimana bisa kedua orang tua Yo Han mengenal ayahnya? “Bitna adalah putri Kim Chul Sik,” ungkap Yo Han. “Omo....” Seung Ah dan Yong Bae saling bertatapan dengan ekspresi sama-sama terkejut. “Kau benar-benar putri Chul Sik?” tanya Seung Ah memastikan. Bitna mengangguk pelan. “Nde, apa Anda mengenal ayahku?” “Yeobo, dia benar-benar putri Chul Sik temanmu,” ucap Seung Ah sambil mengelus tangan suaminya. “Bagaimana kabar ayahmu? Sudah lama sekali aku tak mendengar kabar apa pun tentangnya.” Giliran Yong Bae bertanya pada Bitna. Wajah pria paruh baya itu terlihat senang mengetahu bahwa Bitna adalah putri dari Kim Chul Sik, teman kuliahnya dulu. “Ayah—” “Kim Chul Sik sudah meninggal,” potong Yo Han sebelum Bitna menyelesaikan perkataannya. “Meninggal?” Yong Bae menatap putranya tak percaya. Bertahun-tahun tak mendengar kabar apa pun tentang sahabatnya, tiba-tiba saja Yo Han bilang Chul Sik sudah meninggal. Tentu ini sangat mengejutkan baginya. “Sudah sebulan sejak ayah meninggal dunia,” lirih Bitna. Raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah sedih saat kembali mengingat ayahnya. Melihat raut wajah Bitna yang sedih, Seung Ah lantas menarik tangan gadis itu dan mengusapnya pelan. “Kau tidak apa-apa?” tanya Seung Ah penuh perhatian. Dia tahu Bitna pasti masih sangat berduka atas kepergian ayahnya. “Kau sudah lama tahu jika ayah Bitna meninggal?” tanya Yong Bae pada Yo Han. “Ya, aku juga datang ke pemakaman beliau.” “Lalu kenapa tak memberitahu ayah?” “Waktu itu aku juga sangat terkejut saat mengetahu bahwa Chul Sik ahjussi ternyata sudah meninggal.” “Kau datang ke pemakaman ayahku?” tanya Bitna. Dia tak ingat melihat wajah Yo Han di antara pelayat yang datang. Jika Yo Han memang datang harusnya Bitna tahu, mengingat tak banyak pelayat yang datang saat pemakaman ayahnya. “Ya, kau bahkan membungkuk memberi salam padaku,” jawab Yo Han. “Benarkah?” Sesaat kemudian Bitna ingat jika memang ada pria tinggi yang tak dia kenal datang ke pemakaman ayahnya. Setelah mengingat kembali barulah dia sadar bahwa itu adalah Yo Han. “Aku tidak menyangka Chul Sik sudah meninggal, selama bertahun-tahun aku berusaha mencari keberadaannya. Setelah mendengar kabar bahwa bisnisnya bangkrut aku semakin khawatir dan ingin sekali menemuinya tapi, tak seorang pun tahu tentang keberadaannya,” jelas Yong Bae dengan wajah kecewa. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menemukan sahabatnya selama ini. “Bitna-ssi ayahmu dan ayah Yo Han dulu berteman dekat semasa kuliah. Saat ayah Yo Han mulai merintis bisnisnya ayahmulah yang paling banyak membantunya. Maafkan kami karena tak bisa membantu apa pun saat ayahmu mengalami kesulitan, kami sudah berusaha mencari tahu tentang keberadaan ayahmu tapi semuanya tak pernah berhasil.” Bitna menatap Seung Ah yang saat ini mengusap kepalanya dengan lembut. Bisa Bitna lihat wanita paruh baya itu merasa sedih dan bersalah sekarang. Apa memang hubungan kedua orang tua Yo Han dan ayahnya sangat dekat? Dia tidak pernah tahu atau bertemu mereka sebelumnya. “Walaupun kami merasa menyesal tak sempat menemui Kim Chul Sik, tapi setidaknya kami bisa bertemu dengan putrinya. Kau ingat dulu kau sering sekali bermain di rumah ini?” Bermain di sini? Di rumah kedua orang tua Yo Han? Bitna sama sekali tak ingat jika dia pernah menginjakkan kakinya di rumah ini sebelumnya. “Tentu mungkin kau tak ingat, dulu kau masih sangat kecil usiamu baru lima tahun dan kau terlihat sangat cantik,” jelas Seung Ah sambil kembali mengusap pipi Bitna. Acara makan malam itu kemudian berubah menjadi pertemuan yang dramatis antara kedua orang tua Yo Han dan Bitna, putri sahabat mereka. Bitna yang masih bingung dengan fakta bahwa kedua orang tua Yo Han dan ayahnya ternyata berteman dekat berusaha memahami situasi yang terjadi. Saat Bitna berusaha memahami segala hal yang terjadi dan penjelasan panjang kedua orang tua Yo Han tentang hubungan mereka dan ayahnya, Bitna kembali teringat dengan perkataan Yo Han. Pria itu bilang kedua orang tuanya pasti akan merestui mereka hanya dengan tahu siapa Bitna. Sekarang Bitna sadar apa maksud perkataan Yo Han itu. Orang tua Yo Han mau menerima dirinya sebagai calon istri Yo Han karena Bitna adalah putri dari sahabat mereka. Terlepas dari latar belakang dan keadaan ekonomi Bitna, kedua orang tua Yo Han tidak peduli. Karena mengetahui Bitna adalah putri dari mendiang sahabat mereka sudah cukup. *** “Masih terkejut?” tanya Yo Han sembari melirik Bitna yang hanya menatap lurus ke luar jendela mobil. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah orang tua Yo Han. Dan dari ekspresinya Bitna terlihat masih sangat terkejut setelah mengetahui hubungan orang tua Yo Han dan ayahnya. “Jadi ini alasanmu kenapa harus menikah denganku?” tanya Bitna. “Benar. Kau lihat sendirikan hanya dengan tahu kalau kau anak dari sahabatnya mereka langsung menerimamu sebagai calon menantu, bahkan mereka tidak peduli dengan latar belakang atau apa pun itu.” “Lalu jika aku bukan anak sahabat mereka?” “Kau pasti sudah tahu jawabannya.” Benar, Bitna tahu pasti apa jawabannya. Kedua orang tua Yo Han pasti menolaknya. “Apa kau menganggap semua ini serius? Apa kau juga sakit hati jika mereka menolakmu karena kau miskin?” Bitna mendecih. Yang benar saja dia menganggap semua ini serius. Jika bukan karena Yo Han membayar semua hutangnya Bitna tak akan sudi melakukan ini semua. Satu pelajaran penting yang Bitna dapatkan malam ini, mereka yang memiliki kekayaan dan derajat lebih tinggi hanya akan memilih seseorang dari golongan yang sama untuk masuk ke dalam kehidupan mereka. Dia ingat betul bagaimana dinginnya tatapan ibu Yo Han saat tahu dirinya hanya seorang pekerja paruh waktu. “Sudahlah, yang penting semuanya sudah teratasi. Hutangmu lunas lalu kebenaran bahwa aku seorang gay tidak akan pernah diketahui oleh orang tuaku. Dan satu lagi aku tidak perlu lagi datang ke acara perjodohan yang mereka rencanakan.” Bitna menatap sebal ke arah Yo Han. Bagaimana bisa pikiran pria itu begitu sederhana. Bagi Yo Han memang semua masalah selesai, tapi Bitna masih merasa tak nyaman karena tahu bahwa ternyata kedua orang tua Yo Han adalah sahabat ayahnya. Bitna yakin mereka mau menerimanya hanya karena rasa kasihan dan bersalah. “Kenapa menatapku seperti itu?” “Orang tuamu pasti menerimaku karena rasa kasihan dan bersalah kan?” “Mungkin sebagian benar sebagian lagi tidak.” Bitna mengerutkan dahinya. “Maksudmu?” “Kau pasti berpikir bahwa kedua orang tuaku seperti orang-orang kaya di drama yang tidak setuju anaknya menikah dengan gadis miskin bukan?” Benar. Dalam pikiran Bitna orang tua Yo Han memang seperti itu. “Kau salah. Mereka bukan orang kolot yang hanya mau menerima orang-orang yang sederajat dengan mereka. Apa lagi sejak kakakku mendeklarasikan dirinya tak akan pernah menikah, mereka tak peduli dengan siapa anak-anaknya berhubungan asalkan pada akhirnya kami menikah.” “Benarkah?” “Jangan terlalu memikirkannya. Pikirkan saja dirimu, jika kau terlalu menganggap serius semua hal tentang hubungan palsu ini kau mungkin kau akan jatuh cinta padaku dan berakhir patah hati. Ingat aku ini seorang gay, aku tidak tertarik dengan perempuan.” Bitna mendengus lalu membuang muka menatap keluar jendela. Tanpa Yo Han beritahu Bitna tak akan mungkin jatuh cinta pada pria menyebalkan itu. Meskipun Yo Han bukan gay Bitna yakin dirinya tak akan jatuh cinta pada Yo Han. Bahkan dalam mimpi pun itu tak akan pernah terjadi. Yo Han melirik Bitna sekilas lalu kembali fokus pada jalanan beraspal di depannya. Dalam hati Yo Han merasa lega karena semua berjalan sesuai rencananya. Mulai dari meyakinkan Bitna hingga kedua orang tuanya. Sekarang dia tak perlu lagi menghadapi omelan kedua orang tuanya untuk segera menikah dan Bitna juga tak perlu lagi menanggung hutang. Bukankah ini benar-benar simbiosis mutualisme? *** Tok tok tok “Bitna.” “Bitna.” “Kim Bitna.” “Sampai kapan kau mau meringkuk di atas kasur.” Samar-samar Bitna mendengar suara Yo Han yang berteriak di depan kamarnya. Ingin sekali Bitna melempar Yo Han dengan bantal karena telah mengacaukan paginya yang tenang. Untuk apa coba pria itu berteriak di depan kamarnya? Mau tidak mau Bitna akhirnya menyibak selimut yang ia kenakan dan bangun. Ia kemudian berjalan menuju pintu kamarnya. Begitu dia membuka pintu kayu itu Bitna di sambut oleh wajah Yo Han yang siap mengomelinya. “Hanya karena kau jadi pengangguran sekarang, kau akan tidur seharian?” Benar Bitna telah resmi menjadi pengangguran sejak dua hari lalu. Bitna sudah berhenti dari semua pekerjaan paruh waktunya dan ini waktunya dia menikmati kehidupan sebagai pengangguran sebelum dia menyandang status sebagai istri Yo Han. “Kenapa kau sudah mengomel pagi-pagi?” “Pagi? Pagi katamu? Kau tak lihat matahari sudah hampir sejajar dengan kepalamu?” “Benarkah?” “Wah kau ini benar-benar.” Seakan tak peduli dengan bagaimana kesalnya Yo Han, Bitna justru sibuk menggaruk-garuk kepalanya. Sepertinya karena lupa keramas selama beberapa hari kulit kepalanya terasa gatal. “Sana cepat mandi. Mataku sakit melihat betapa kacaunya penampilanmu. Kita bicara sambil makan siang, aku akan memesan makanan.” “Makan siang? Aku bahkan belum sarapan.” “Tentu kau belum sarapan karena terus meringkuk di bawah selimut,” omel Yo Han. “Nde nde nde.” Setelahnya Bitna berjalan kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian ganti lalu kembali keluar menuju kamar mandi. “Mandi dengan cepat, aku tak punya banyak waktu. Setelah ini aku harus kembali untuk bertemu klien penting!” teriak Yo Han begitu Bitna masuk ke dalam kamar mandi. “NDE!!!” balas Bitna sama-sama berteriak. Beberapa menit berlalu Bitna keluar dari kamar mandi dengan celana olahraga berwarna biru muda dan kaos warna senada. Lalu rambutnya yang basah terbungkus dengan handuk berwarna putih. Begitu menginjakkan kakinya di ruang makan Bitna di sambut oleh bau harum dari jjampong. *Jjampong adalah olahan mie kuah yang disajikan bersama sayur dan produk laut. Melihat tampilan jjampong yang begitu menggugah selara makannya Bitna bahkan beberapa kali menelan ludah. “Aku tidak tahu kau juga makan makanan seperti ini,” ucap Bitna begitu dia menjatuhkan pantatnya ke atas kursi. “Apa kau akan makan dengan tampilan seperti itu?” Yo Han menunjuk kepala Bitna yang terbungkus dengan handuk. “Bukankah kau bilang tak punya banyak waktu? Lebih baik makan seperti ini, jika menunggu aku mengeringkan rambut mie-nya akan lembek dan itu tidak enak.” Yo Han menghela napas menatap Bitna. Sepertinya dia salah memilih calon istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN