Bagian 10

1922 Kata
“Jadi mau bicara apa?” tanya Bitna setelah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. “Apa kau sudah memutuskan akan kuliah di mana?” Bitna mengangguk dengan mulut sibuk mengunyah makanan. “Di mana? Mengambil jurusan apa?” “Di universitas yang sama dengan Minah.” Yo Han menyipitkan matanya. Minah? Siapa itu? “Teman kerjaku di Cafe.” “Ah.... Lalu jurusannya?” “Film dan televisi.” “Kau yakin dengan itu? Setelah mendaftar kau tak akan berubah pikiran?” Bitna menggeleng. “Aku sudah mendaftar kemarin lusa, dan ujian masuknya akan dilakukan dua minggu lagi.” “Kau dan ibu sibuk mempersiapkan pernikahan, kau yakin bisa fokus belajar untuk tes itu?” Beberapa hari yang lalu Bitna dan Yo Han kembali menemui orang tua Yo Han. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang pernikahan, dan sudah di putuskan mereka akan menikah di bulan Januari, di pertengahan musim dingin. Bitna mengangguk pasti. “Aku bisa mengatur waktu belajar untuk persiapan tes dan mempersiapkan pernikahan.” “Baguslah, tapi apa kau yakin dengan jurusan itu? Bukankah lebih baik kau memilih jurusan bisnis, manajemen atau sejenisnya? Aku bisa membantumu mendapatkan perkerjaan nantinya atau mungkin kau bisa bekerja di perusahaanku.” “Tidak, aku sudah memikirkannya baik-baik.” “Baiklah kalau kau memang inginnya seperti itu.” Bitna melirik Yo Han sekilas. Pria itu sudah sangat membantunya dengan membuatnya bisa kembali kuliah. Jika Yo Han nantinya juga membantunya mendapatkan pekerjaan, Bitna berpikir bahwa dirinya pasti mirip parasit yang terus mendapatkan keuntungan dari Yo Han . Lagi pula setelah mendapatkan kesempatan untuk hidup dengan layak Bitna ingin menata kembali kehidupannya dan menemukan apa impiannya. Dia ingin melakukan hal-hal yang dulu sempat terkubur dalam ingatannya. “Kau tak lupa jika besok ada janji dengan ibuku?” “Ya, bahkan ibumu meneleponku lima kali kemarin.” Yo Han tertawa. Sepertinya ibunya sangat menyukai Bitna. “Apa itu lucu?” kata Bitna kesal. Mengingat bagaimana ibu Yo Han terus menghubunginya dan bicara masalah persiapan pernikahan membuat gadis itu kewalahan kemarin. “Sedikit, aku tak pernah melihat ibuku menyukai gadis lain selain Yoo Rin noona sebelumnya.” Tentu saja karena sebelumnya Yo Han tak pernah mengenalkan gadis lain pada ibunya. Bitna yang pertama. Bitna mendecih. “Jadi ini yang mau kau bicarakan?” “Ya....” Yo Han menjeda perkataannya lalu berpikir. “Ah satu lagi, soal undangan pernikahan. Kau sudah buat daftar temanmu yang kau undang ke pernikahan kita?” “Mungkin hanya Minah.” “Kau bercanda?” “Apa wajahku terlihat sedang bercanda?” Yo Han menghela napas tak percaya. Apa Bitna hanya akan mengundang Minah saja? Apa gadis itu tak punya teman atau kenalan yang lain? “Apa kau tak punya teman atau kenalan? Bukankah kau punya teman di tempat kerja? Kau harus mengundang mereka!” Bitna menggeleng cepat. “Aku hanya lumayan dekat dengan Minah, kalau mengundang yang lain rasanya canggung karena kami tidak terlalu dekat. Bukankah mengundang Minah saja sudah cukup?” “Apa kau pikir pernikahan kita ini permainan? Setidaknya kau harus mengundang beberapa orang agar pernikahan ini terlihat nyata.” “Bukankah saling mengucap janji di depan para tamu itu sudah membuktikan kalau pernikahan kita itu nyata?” “Itu benar, tapi....” Yo Han memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Bukankah harusnya mengundang beberapa orang di pernikahan mereka? Jika tidak lalu apa yang akan dipikirkan orang tuanya dan rekan bisnisnya nanti. “Sudahlah, Minah saja sudah cukup. Lagi pula orang-orang tak akan peduli. Mereka mungkin hanya akan bergunjing tentang latar belakangku.” Ucapan Bitna itu menyadarkan Yo Han. Gadis itu benar, mereka mungkin tak akan terlalu peduli. Mereka hanya akan peduli pada latar belakang Bitna, gadis miskin yang tiba-tiba menikah dengan direktur KL Cosmetics. “Baiklah kalau kau bersikeras hanya mengundang Minah,” pasrah Yo Han tentang keputusan Bitna. Lagi pula dia tidak bisa terus memaksa Bitna, membuat gadis itu mau menikah dengannya saja adalah hal yang mengesankan. Jika tidak ada Bitna mungkin sekarang dia masih harus datang ke acara perjodohan yang di rencanakan oleh orang tuanya. *** Hari ini Bitna dan Seung Ah, ibu Yo Han pergi ke sebuah butik untuk melakukan fitting gaun pengantin. Harusnya Bitna datang bersama Yo Han, tapi karena Yo Han sangat sibuk Seung Ah menawarkan diri untuk menemani calon menantunya itu. Seung Ah ingin menjadi lebih dekat dengan Bitna karena gadis itu sebentar lagi juga akan menjadi putrinya. “Omo... Yeppeuda,” ucap Seung Ah saat pegawai butik membukai tirai dan memperlihatkan Bitna yang sudah memakai gaun pengantin. Bitna sedang mencoba gaun pengantin dengan model ball gown berbahan lace berwarna putih. Sungguh Bitna tampak sangat anggun dalam balutan gaun pengantin itu. “Tapi rasanya... Ini agak berlebihan,” ucap Bitna sambil menutup bagian atas dadanya dengan kedua tangan. Gadis itu tampak tidak nyaman mengenakan gaun itu karena bagian dadanya yang sedikit terbuka. “Berlebihan? Tidak-tidak kau cantik, sangat cantik,” puji Seung Ah sambil menyingkirkan kedua tangan Bitna dari dadanya. Seung Ah kemudian memutar tubuh Bitna menghadap ke sebuah cermin yang sangat besar. Bitna menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya terpukau melihat indahnya gaun yang saat ini dia kenakan. Bahkan Bitna beberapa kali berkedip memastikan bahwa bayangan di cermin itu memang adalah dirinya. “Kau lihat? Kau sangat cantik dengan gaun itu, kita ambil gaun ini saja ya?” Bitna mengangguk pelan menyetujui ucapan calon mertuanya. Walaupun sedikit tidak nyaman karena bagian d**a yang sedikit terbuka, tapi gaun itu memang sangat cantik dan Bitna menyukainya. “Harusnya Yo Han melihatmu memakai gaun ini, aku yakin dia pasti akan sangat terpukau melihatmu. Kau cantik sekali.” Bitna tersenyum canggung menanggapi ucapan Seung Ah. Dia sendiri yakin kalau Yo Han tak akan bereaksi apa-apa melihatnya mengenakan gaun itu, ingat Yo Han seorang gay. Dia tidak tertarik dengan wanita. “Bitna-ya setelah ini ayo sekalian makan siang bersama bagaimana?” Bitna menatap Seung Ah ragu. Sebenarnya dia merasa agak kurang nyaman berlama-lama dengan Seung Ah, tapi menolak ajakan calon mertuanya itu pasti sanga tidak sopan. “Nde,” kata Bitna menyetujui ajakan makan siang Seung Ah. “Di dekat sini ada restoran yang menyajikan steik yang lezat, kau harus mencobanya,” ucap Seung Ah sambil mengusap rambut Bitna pelan. Bisa Bitna rasakan kalau Seung Ah sangat menyukainya. Bahkan setiap kali berbicara dengannya wanita paruh baya pasti tersenyum hangat. Mendapatkan perlakuan yang baik dari Seung Ah sebenarnya cukup membebani Bitna. Karena sebenarnya dia membohongi wanita paruh baya itu tentang hubungannya dengan Yo Han. Jika Seung Ah tahu yang sebenarnya, wanita itu pasti akan sangat marah dan kecewa. Bahkan Bitna sendiri tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika kebohongannya bersama Yo Han terbongkar nantinya. Dia hanya berharap Seung Ah dan suaminya tak tahu yang sebenarnya. *** Bitna dan Seung Ah makan siang di sebuah restoran yang letaknya tak terlalu jauh dari butik tadi. Saat makan siang itu Seung Ah benar-benar memperhatikan Bitna dengan baik. Mulai dari memotongkan daging steik milik Bitna hingga beberapa kali menyuapi gadis itu. Seung Ah memperlakukan Bitna seperti putrinya sendiri, yah walaupun mungkin dia tidak memperlakukan Yoo Rin seperti itu. Mengingat kembali bagaimana Yoo Rin mendeklarasikan diri untuk tidak menikah membuat kepala Seung Ah berdenyut tiba-tiba. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa putrinya itu mengatakan hal konyol seperti tidak akan pernah menikah. Apa Yoo Rin ingin menjadi tua sendirian dan kesepian? Dasar gila. Oke, lupakan tentang Yoo Rin dan kembali pada Bitna. “Bagaimana? Bukankah steik di sini sangat enak rasanya?” Bitna mengangguk setuju dengan yang Seung Ah katakan. Steik yang disajikan restoran itu memang enak. Mungkin juga terasa sangat enak karena Bitna sudah lama sekali tak makan makanan mewah seperti ini. “Bitna-ya bisa kau ceritakan sedikit bagaimana kau bisa bertemu Yo Han hingga berkencan? Kau tahu sebelumnya anak nakal itu tak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun. Aku sampai lelah menjodohkannya dengan beberapa anak temanku, dan selalu berakhir dengan kegagalan.” Bitna tersenyum sekilas mendengar cerita Seung Ah. Tentu saja Yo Han tak terlihat dekat dengan wanita karena pria itu seorang gay. “Kami pertama kali bertemu di Cafe tempat aku bekerja,” jelas Bitna. “Lalu apa dia yang pertama kali mendekatimu?” tanya Seung Ah bersemangat. “Nde, tapi aku sempat menolaknya karena dia mirip penipu,” jawab Bitna. Ucapan Bitna ini tidak sepenuhnya bohong, memang dia awalnya mengira Yo Han adalah penipu. “Penipu? Bagaimana bisa?” “Itu... Karena cara bicaranya,” kata Bitna yang kemudian tertawa canggung. “Tapi... Ahjumma—” “Berhenti memanggilku seperti itu. Sebentar lagi kau akan menikah dengan Yo Han. Jadi mulai sekarang panggil aku eomma, oke?” “Tapi....” “Bitna-ya sebentar lagi kita akan jadi anggota keluarga, jadi kita harus mulai mengakrabkan diri satu sama lain. Coba panggil aku eomma,” “Nde... Eomma,” ucap Bitna sedikit tergagap karena canggung. Sudah lama sekali dia tidak menyebut kata itu. Eomma. Sejak ibunya menghilang empat tahun lalu Bitna sendiri tak pernah berpikir akan menyebut seseorang dengan panggilan itu. Baginya sosok ibunya sudah menghilang dalam hidupnya. Namun hari ini dia menemukan orang lain untuk dia panggil ibu. Orang yang terlihat sangat menyukainya. Seung Ah bahkan bilang bahwa Bitna sudah seperti anaknya sendiri. Mendengar perkataan Seung Ah sedikit membuat Bitna tersentuh. Sudah lama sekali dia tidak bertemu orang yang baik padanya. “Ahjumma— tidak-tidak maksudku eomma, apa kau tahu aku tinggal di mana?” Seung Ah menganggukkan kepalanya. Tentu dia tahu di mana Bitna tinggal. “Tentu, kau tinggal bersama Yo Han kan? Dia sudah cerita padaku.” “Ah.... Benarkah?” “Wae? Kau terkejut aku tak marah?” Bitna mengangguk pelan. Tentu saja dia terkejut melihat seorang ibu yang tidak marah saat mendapati anaknya tinggal bersama seorang wanita padahal mereka belum menikah. “Tenang, aku ini bukan orang yang kolot. Justru aku malah senang kalian tinggal bersama sebelum menikah, setelah ayahmu meninggal pasti tidak ada yang menjagamu. Jadi dengan tinggal bersama Yo Han dia bisa menjagamu.” “Ah... Nde.” Tapi masalahnya bukan dia bisa menjagaku, dia sendiri jarang di rumah, batin Bitna. “Satu lagi, dengan kalian tinggal bersama aku berharap mungkin bisa mendapatkan seorang cucu lebih cepat.” Bitna hampir saja tersedak sepotong daging yang di masukkan ke dalam mulutnya saat mendengar ucapan Seung Ah. “Kau tak apa-apa?” Tanya Seung Ah lalu menyodorkan segelas air minum pada Bitna. Gadis itu segera meminum segelas air yang di berikan Seung Ah. Bitna masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Cucu? “Aku dan ayah Yo Han sudah ingin sekali menimang cucu. Saat Yo Han bilang akan segera menikah kami sangat bahagia karena akhirnya kesempatan kami untuk mendapatkan seorang cucu akan segera datang. Jadi Bitna-ya tolong bekerja keraslah agar kami segera mendapatkan seorang cucu,” ucap Seung Ah penuh harap pada Bitna. Sementara gadis itu hanya bisa merespons perkataan Seung Ah dengan senyuman canggung. Seorang cucu? Bitna bahkan tak pernah memikirkan hal itu saat menyetujui tawaran Yo Han. Pria itu memintanya menikah hanya untuk menyembunyikan orientasi seksualnya, bukan untuk memberikan seorang cucu untuk kedua orang tuanya. Tapi jika nanti setelah mereka menikah dan tidak segera mendapatkan keturunan, orang-orang mungkin akan bergunjing tentangnya dan Yo Han. Apa dia juga harus melahirkan anak untuk Yo Han? Memikirkan semua kemungkinan yang ada membuat kepala Bitna sakit. Kenapa sebelumnya dia tidak memikirkan hal ini dan juga kenapa Yo Han tak membahas soal anak di dalam kontrak. Jika memang tidak ada di dalam kontrak itu artinya Bitna tidak perlu melahirkan seorang anak bukan? Tapi bagaimana kalau ternyata Yo Han menipu dan menjebaknya? Oh tidak itu pasti mimpi buruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN