“Kak! Kakak!”
Byeong Gyu terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi menyakitkan yang nyata terjadi 15 tahun lalu, yang membuatnya bertahun-tahun membutuhkan perawatan psikolog bertahun-tahun akibat traumanya. Fisik selamat dari suatu bencana saja tidak cukup, namun juga psikis. Setelah meletusnya pandemi BIO-6 banyak survivor sepertinya butuh perawatan psikolog. Kehilangan orang tua dan segala-galanya, hanya tinggal dengan adiknya, Jin Gyu yang membangunkannya.
“Kenapa, sih? Serem banget mimpinya?” kekeh Jin Gyu.
“Mimpi soal awal mula pandemi lagi, Jin.”
Jin Gyu terdiam rupanya kakaknya masih suka memimpikan itu, ia khawatir itu akan merusak psikisnya kembali dan menyuruhnya untuk tidak terlalu menggubris mimpinya itu.
“Ayo cepat, hari ini pengangkatan tim ekspedisi muda, ‘kan? Mantap kakakku jadi kapten!”
Byeong Gyu menghela napas lalu tersenyum simpul. Ia membuka ponselnya dan menemukan chat dari teman-temannya yang memberi selamat atas resmi diangkatnya sebagai militer tim ekspedisi muda apalagi sebagai kapten di angkatannya. Selamat menjalankan tugas Kapten Jo!
Setelah mereka berdua diangkut dari Korea ke Amerika, kini wilayah futuristik di Amerika tersebut dinamakan Magnoia. Pemerintah Magnoia dengan senang hati mengasuh anak-anak yatim piatu akibat pandemi dari seluruh dunia. Tentu Byeong Gyu dan Jin Gyu bertemu banyak orang-orang dari seluruh dunia. Nama Byeong Gyu sulit dieja oleh selain orang Korea. Jadi, ia lebih akrab disapa dengan nama keluarganya Jo, Jo Byeong Gyu.. Sedangkan Jin Gyu menjadi Jin. Bukan dari nama keluarganya yang juga Jo, Jo Jin Gyu.. Namun dengan syarat, kelak dewasa nanti mereka harus mengabdi kepada pemerintah Magnoia. Seperti contoh mereka yang masuk akademi militer Magnoia yang bernama Morbids. Morbids terbagi menjadi dua, yaitu tim ekspedisi dan tim pengamanan. Tim ekspedisi bertugas untuk menyelamatkan penduduk hidup yang masih tinggal di luar wilayah Magnoia, memperluas wilayah Magnoia dengan memusnahkan flora dan tanaman yang dihasilkannya di dinding bangunan.
“Kak, aku masih nggak paham kenapa kakak ambil tim ekspedisi bahkan jadi kapten. Pergi keluar Magnoia, itu bahaya!”
“Kamu nggak bosan di dalam sini terus? Main lah ke dunia luar. Di sana banyak flora yang bisa ku musnahkan.”
Jin hanya menggeleng-geleng kepala melihat kakaknya bersiap mandi. Sebenci itu Jo pada flora yang telah merenggut nyawa orang tuanya, ia terkenal bengis membunuh flora saat di akademi. Tetapi hal itu tingkat ketangkasan, kecerdasan, dan kekuatan Jo jauh di atas rata-rata akademisi lainnya, juga jiwa kepemimpinannya membuat ia terpilih menjadi kapten tim ekspedisi. Jin yang saat ini masih berlatih di akademi militer dengan mantap memilih tim pengaman. Tidak mau nyawanya mati sia-sia oleh flora dan tim pengamanan memiliki wewenang khusus masuk ke wilayah penguasa Magnoia untuk melindungi mereka.
“Nanti aku bisa lindungin Kak Nara,” cicit Jin sedikit mengejek Jo.
Jo hanya menggelengkan kepalanya. Nara, gadis kecil di penampungan, ia selamat. Karena keluarganya mendapat privilege tinggi maka saat ini mereka menjadi salah satu penguasa Magnoia termasuk Nara yang juga lulus kedokteran dan melakukan penelitian mengenai virus BIO-6 untuk menemukan vaksin yang bahkan sudah 15 tahun belum ditemukan.
Vaksin, pikir Jo. Akankah ditemukan di luar wilayah Magnoia? Ia pernah mendengar desas-desus bahwa sebenarnya vaksin sudah ditemukan sesaat pandemi itu meletus oleh ilmuwan Rusia namun keanehan terjadi karena ilmuwan itu terbunuh oleh elit global yang sekarang menjabat sebagai para penguasa Magnoia. Dan beberapa anggota keluarga ilmuwan itu telah divaksin masih hidup hingga kini yang entah mereka ada di mana. Yang pasti bukan dalam kuasa Magnoia. Jo paham, keluarga ilmuwan itu pasti sangat membenci para elit global. Dalam tugasnya sebagai tim ekspedisi muda, ia harap dapat membantu Nara perihal vaksin.
***
“Kepada kawan-kawan akademisi militer. Saya ucapkan selamat kepada kita semua dan semoga dapat menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.”
Riuh penonton bertepuk tangan terhadap pidato yang dilontarkan Jo sebagai kapten tim yang hanya berjumlah 17 orang di angkatannya. Terbilang sedikit, karena hanya orang-orang spesial yang berani ke luar Magnoia untuk membunuh flora. Ia pun kembali ke kursi tempat duduknya bersama teman-temannya. "Broo, pidatonya kereenn," ujar lelaki seusianya yang duduk di sebelah kirinya, ia berperawakan khas Eropa dengan rambut cepak blonde, kulit sedikit pucat dan rahang tegas. Ia berasal dari Spanyol dan ketampanannya terkenal playboy namun jangan ragukan kemampuannya dalam hal fisik dan teknik. Jo hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya." Nanti malem ke club, semua juga rayain hari ini ... jangan nolak atau kubunuh kau," canda lelaki itu.
Jo hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Emilio, sorry aku ada urusan di sekolah tinggi kedokteran."
Emilio tampak langsung kecewa dan jengkel namun ekspresinya langsung berubah seakan teringat sesuatu."Aahh, aku tau. Pasti mau kencan sama Nara, 'kan? Oke, kita nggak bakal ganggu kalian berdua."
Dari samping kanan Jo menyembul kepala perempuan teman seangkatan lainnya dengan wajah sedikit risih. "Ssstt.. Emilio! Berisik banget daritadi." Namanya Ayu, kulit sawo matang, rambut lurus hitam legam, dan berwajah manis asal Indonesia. Ia salah satu akademisi tercerdas dalam hal akademik dan handal dalam mencipatakan strategi p*********n. Emilio langsung meminta maaf. Hal unik yang selalu terjadi pada mereka bertiga adalah mereka selalu menjadi rekan satu tim dan akhirnya menjadi sahabat. Emilio sang playboy yang banyak tingkah hanya patuh kepada Ayu.
"Jooo, selamat," ujar Nara sembari memeluk Jo. Ternyata gadis asal Korea seperti Jo itu juga menghadiri upacara kelulusan akademisi militer tepat acara tersebut usai. Emilio dan Ayu sedikit bergibah di belakang melihat interaksi itu. "Nanti sore jadi ke laboratorium flora?" tanya Nara lagi, kali ini lebih serius.
Sebelum menjawab, Jo menoleh pada teman-temannya. "Jangan lama-lama, ya. Mereka ajak aku pub nanti malam."
Nara terkekeh. "Tentu, hari kelulusan harus dirayain sama temen-temen."
Tiba-tiba Emilio dan Ayu muncul dari balik punggung Jo. "Kau juga boleh ikut Nara," cetus Ayu.
"Tapiii," ucap Emilio terpotong, "ajak kita ke lab flora, oke? Oh atau kalian berdua mau kencan? Kencan masa di lab, nggak asik lah."
Jo menengok ke belakang dengan menaikkan satu alisnya. Bisa-bisanya Emilio menguping pembicaraannya dengan Nara. Akhirnya Nara menyetujuinya, Ayu dan Emilio bersorak.
---
Setibanya di lab, emilio sedikit mengantuk mendengar ucapan Nara mengenai flora tidak seperti Jo dan Ayu yang secara seksama mendengarkan. Ia memperhatikan satu persatu jenis flora yang diawetkan dalam sebuah tabung raksasa. Rasanya jika bertemu mereka Emilio ingin membinasakannya habis-habisan. Tinggal sedikit lagi, mereka lulusan tim ekspedisi akan keluar dari Magnoia dan memburu flora. Emilio yakin semua tim ekspedisi memiliki trauma juga hasrat kuat untuk menghancurkan flora. Ia pun melirik pada Jo, terutama kapten mereka itu.
"Kita sedang tahap mencari vaksin. Para ilmuwan berpikir vaksinnya berasal dari tubuh flora sendiri ternyata bukan. Makanya kami minta bantuan tim ekspedisi militer untuk cari tumbuhan atau apapun yang sekiranya dapat dijadikan vaksin," cetus Nara panjang lebar. Jo hanya tersenyum dan mengangguk.
"Vaksin maksudmu?" Ayu sedikit tertegun. "Nggak pernah terpikirkan olehku. Pasti dunia bakal kembali normal. Nggak perlu dipetak-petak seperti Magnoia saat ini."
"Aku harap vaksin bukan hal fiktif," timpal Emilio santai.
"Makanya kita jadiin vaksin itu realita, Emil, Yu." Akhirnya Jo si lelaki cool itu angkat bicara.
Mereka berempat saling menyemangati satu sama lain.
"Udah, kan? Ayooo kita ke pub! Nara juga boleh ikut! Lagipula kau bakal kelulusan kedokteran minggu depan. Kita rayain lebih cepat!" Omongan Emilio itu mengundang tawa. Kemudian Nara mencoba menggenggam tangan Jo saat perjalanan menuju pub, namun Jo pura-pura tak menghiraukannya. Nara hanya bisa kecewa untuk kesekian kalinya.