bc

2085 Jo Meets Sha

book_age16+
12
IKUTI
1K
BACA
adventure
bxg
heavy
soldier
high-tech world
dystopian
like
intro-logo
Uraian

Jika kita dihujam pandemik COVID-19 di tahun 2020, bagaimana dengan 50 tahun ke depan di tahun 2070? Di dunia ini muncul kembali virus pandemik baru bernama BIO-6 yang menyerang otak dalam waktu empat jam yang mengubahnya menjadi seperti zombie. Jika dalam dua hari tidak dipenggal atau ditembak kepalanya, akan menjadi flora, flora dapat menempel di dinding bangunan dan menyebar virus BIO-6 maka itu para ilmuwan menciptakan masker khusus. Selang 15 tahun berlalu, Firestone berhasil membangun tempat aman bernama Magnoia dan penduduk yang tersisa 1:7 nya pun bertahan hidup di sana. Jo salah satu yang berhasil selamat pada pandemik 2070 diangkat menjadi pasukan militer Magnoia bernama Morbids tepatnya di unit ekspedisi, ia bertugas menyelamatkan penduduk yang masih tinggal di luar wilayah Magnoia, memusnahkan flora untuk memperluas wilayah Magnoia. Namun saat bertugas ia bertemu seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta dan siapa sangka, gadis itu ternyata menyimpan rahasia yang dapat membuat dunia kembali seperti semula.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
"Saat ini, seluruh dunia kembali dijangkitkan virus pandemik yang mengerikan setelah 50 tahun dari virus pandemik sebelumnya yaitu COVID-19 di tahun 2020. Virus yang dinamakan BIO-6 ini ditemukan di dataran Rusia, dan mulai merebak ke seluruh penjuru dunia---" "Jo Byeong Gyu!” panggil seorang wanita yang menggendong balita usia lima tahun memecah fokus bocah laki-laki mengenakan seragam sekolah dasar yang sedang fokus menonton layar televisi di stasiun. Wanita itu pun menghampirinya dan ikut menonton bersama anaknya. “Astaga, mengerikan. Semoga tidak masuk ke Korea.” Mereka pun menaiki kereta menuju rumah mereka. Bahkan bunyi pengumuman di dalam kereta menyuruh semua penumpang untuk berlindung di dalam rumah agar tidak terjangkit ataupun diserang oleh manusia mutan. Sekolah-sekolah pun akan diliburkan secepatnya, pun lahan pekerjaan, tidak boleh ada yang keluar rumah. Masyarakat diminta agar membeli kebutuhan untuk beberapa waktu mendatang. Maka itu, suasana di kereta kali ini cukup padat. Byeong Gyu yang duduk di kursi menggendong adiknya diam-diam memperhatikan tangan sosok lelaki yang berdiri di samping ibunya. Urat-uratnya menonjol sekali, kulitnya mengkerut dan terlihat berwarna kehijauan. Ditatapnya pula waja lelaki itu, tak terlihat karena memakai masker dan sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Byeong Gyu ingat ia membawa koper besar saat masuk seperti habis bepergian jauh. Asal tahu saja, rute kereta yang ditumpangi ini tersambung dengan kereta dari bandara Incheon. Untung saja perjalanan Byeong Gyu naik kereta tidak begitu lama. Ia, ibu, dan adiknya turun tetapi ia masih penasaran dengan lelaki tadi. Betapa terkejutnya ketika lelaki itu menatapnya dengan mata melotot dan merah, mulutnya seperti mengerang. Tak lama ketika kereta mulai berangkat lagi ke stasiun berikutnya, kepalanya pecah dan berubah seperti bunga pemakan serangga dan memakan manusia hidup di sebelahnya. Byeong Gyu teriak sekencang-kencangnya dan mendapat tatapan aneh sekaligus terkejut dari orang-orang di sekitarnya. Ia menangis sesenggukan, apa yang dilihatnya itu sedikit membuatnya trauma. Tetapi ia beruntung sempat turun dari kereta, jika tidak, mungkin adalah korban pertama lelaki itu. Setelah itu pun, ia lebih sering mengurung diri di kamarnya. Karena kebetulan, masyarakat tidak diizinkan keluar oleh pemerintah setempat. Seluruh rumah dikunci rapat dan semua pintu dihadang lemari agar makhluk yang dilihat Byeong Gyu tidak berhasil menerobos masuk. Yang anak itu ketahui dari smartphone adalah BIO-6 yang menyerang otak dalam waktu empat jam yang mengubahnya menjadi seperti zombie yang dinamai flora, manusia yang sudah mati namun masih terlihat hidup dengan kepala menyerupai bunga pemakan serangga yang dapat menyerang kepala manusia lainnya lalu menyerang otak manusia hidup untuk mentransfer virusnya. Seperti yang ia lihat di kereta kala itu. Jika kepala yang menyerupai bunga pemakan serangga itu tidak segera dipenggal dan dibakar selama dua hari maka dapat menempel di dinding bangunan untuk masih menyebar virus. Dunia ini akan benar-benar hancur pikirnya. Bahkan ini mengalahkan film-film zombie apocalypse yang ia tonton bersama ayahnya. Sudah dua minggu keluarga Byeong Gyu menunggu bala bantuan. Mengurung diri dalam rumah tidak berani keluar karena banyak terdengar suara teriakan minta tolong ataupun jerit takut di luar. Hal itu membuat mereka stress dan putus asa. Persediaan makan mereka hampir habis, mereka benar-benar harus berhemat. Adiknya, Jin Gyu, sering rewel karena porsi minum s**u berkurang. Kali ini Byeong Gyu yang mulai keluar dari dalam kamarnya mencoba menonton televisi, mencari berita bagus karena sinyal internet telah tumbang. Di televisi pun tidak ada tayangan apa-apa, hanya bagaikan semut keabuan yang berkumpul. Kemudian satu-satunya hiburan yang ia dapatkan adalah komik shonen yang telah ia baca dua kali, bosan. Namun mereka masih bersyukur karena listrik dan air masih berfungsi. Tokk! Tokk! Tokk! Permisi!! Byeong Gyu yang mendengar suara itu memberitahu kedua orang tuanya di dapur. Mereka terharu, hampir menangis, berharap berasal dari pertolongan. Digesernya lemari yang menghalangi pintu. Sang ayah membuka sedikit pintu rumah mengintip apakah benar ini bala bantuan atau akal-akalan flora saja. Tiba-tiba orang berpakaian seperti astronot dengan masker seperti belalai gajah membuka pintu lebar-lebar dan menarik tangan ayahnya. Sang ibu terkejut dan berteriak membuat panik kedua putranya. “Tenang! Tenang! Kami dari tim penyelamat! Saya cuma pakaikan masker!” ucap salah satu dari mereka yang berhasil memakaikan masker untuk sang ayah. Kemudian yang lainnya memberi masker kepada ibu juga masker untuk anak-anak kepada Byeong Gyu dan Jin Gyu. “Komplek rumah ini sudah aman dari flora tapi tumbuhan yang menempel di dinding untuk menyebarkan virus masih belum seluruhnya dimusnahkan. Jadi harus pakai masker khusus ini.” Mereka sekeluarga diberi arahan menuju mobil truk yang berisi tetangga-tetangga mereka yang masih hidup bahkan bisa dihitung jari. Truk akhirnya berangkat ke tempat penampungan evakuasi di pusat kota Seoul. Mereka bahagia mereka pikir akan selamat untuk sementara waktu, bahan pangan tersedia banyak pula. Dari ucapan tim penyelamat Byeong Gyu mengetahui sesuatu, bahwa flora tidak hanya menyerang kepala manusia tetapi juga menyebar virus dengan melepas sebagian kepala bunganya ke dinding untuk menjadi tanaman penyebar virus. Maka itu, ke manapun harus mengenakan masker khusus yang diberikan tim penyelamat ini.   *** Tepat tiga bulan mereka tinggal di penampungan bersama semua penduduk di Korea yang masih selamat. Beruntung keluarga Byeong Gyu tinggal di ibukota jadi mereka lebih cepat dievakuasi. Banyak penduduk yang meninggal karena kehabisan bahan pangan, bukan karena virus. Namun kehidupan di penampungan tidak bisa dibilang nyaman, untuk mandi mereka harus antri, juga makanan dan obat-obatan. Hampir setiap hari mereka melakukan tes apakah mereka terjangkit virus BIO-6 atau tidak. Sejauh ini tidak ada, cukup aman. Byeong Gyu sedikit benci berada di penampungan. “Bu, kenapa kita nggak kembali ke rumah dengan membawa persediaan makanan? Di sini nggak betah, Buu. Kamar mandinya jorok, antri lama, makanannya nggak enak.” Sang Ibu mencoba menenangkan putra sulungnya. “Kalau kita kembali ke rumah nanti ketemu flora yang belum diberantas mau? Atau tanaman yang baunya bisa keluarin virus? Pak penyelamat bilang belum semua tanamannya belum selesai dibasmi.” “Siapatau sekarang udah! Tuh liat tuh. Anak SMP itu gangguin aku terus!” Byeong Gyu menunjuk ke arah anak laki-laki bertubuh gempal dan botak menjulurkan lidah padanya. Memberi isyarat lewat mulutnya “Nggak usah ngadu ke ibumu anak cengeng.” Ibunya hanya bisa menghela napas. “Ya sudah kamu main sama Nara saja.” Ibunya menyebut nama anak perempuan seusia putranya itu. “Masa main sama anak perempuan? Nara suka nempel-nempel aku terus, nggak nyaman. Terus anak SMP itu sering ledekin aku pacaran sama Nara.” Ibunya tertawa mendengarnya. Terdengar bunyi pengumuman di tenda-tenda pengungsian, semua pengungsi mulai saat ini tidak akan tidak di pengungsian lagi. Melainkan, mereka harus pergi meninggalkan Korea ke Amerika. Semua pengungsi terkejut, tak sedikit dari mereka berteriak protes tidak setuju. Mereka hanya ingin kembali pulang ke rumah masing-masing. Mereka menganggap pemerintah dan tim penyelamat lamban dalam mengatasi pandemi ini. Namun jika ingin selamat, mau tidak mau wajib patuh. Mengapa semua masyarakat Korea harus pindah? Di Amerika sedang dikembangkan sebuah wilayah yang bebas dari virus dengan dinding yang tidak dapat ditembus virus manapun. Membangun negara baru yang sangat futuristik dan tak akan ada lagi rasisme karena manusia dari seluruh penjuru dunia yang selamat akan dikirim ke sana. “Keberangkatan akan dimulai minggu depan. kami berharap seluruh pengungsi bersiap berangkat, ucap seseorang yang suaranya keluar dari speaker pengumuman.” Pengungsi tak henti-hentinya berkoar. “Apa negara kebanggaan kita sendiri nggak bisa membuat wilayah seperti Amerika??” Tak lama mereka mencoba untuk demo ke kantor para tim evakuasi dan penyelamat. Byeong Gyu hanya terdiam, entah pindah lebih baik atau diam di penampungan. Di penampungan saja ia tidak betah. Ia tidak Amerika seperti apa, lagi pula ia hanya anak kecil. Seperti anak-anak lainnya, ia ingin cepat dewasa agar bisa melakukan sesuatu untuk dunia yang telah porak poranda ini. ***      Hingga hari yang telah ditetapkan untuk pergi pesawat dari Amerika pun tiba di tempat penampungan mereka. Beberapa awaknya turun untuk membantu warga Korea bergegas, mereka mendahulukan anak-anak dan wanita. Keluarga Byeong Gyu memilih untuk ikut ke Amerika. Setidaknya dari yang diumumkan tim penyelamat, tempat itu jauh lebih baik dari pengungsian. Ditambah Byeong Gyu yang rewel meminta keluar dari sana. Hak setiap individu memilih pergi atau tetap di Korea dengan membangun kembali negaranya karena beberapa dari pengungsi bersikap apatis terhadap migrasi ini atau mungkin terlalu percaya diri kalau negaranya akan pulih kembali tanpa bantuan Amerika. Wajah Byeong Gyu benar-benar terlihat berbinar tak murung seperti biasanya ia tinggal di penampungan. Dengan tas ransel di punggungnya, ia berlari mendekati pesawat itu lalu menyalami para awak kapalnya yang tampak tinggi-tinggi dan berkulit pucat sampai ia harus menengadah dengan mulutnya melongo, mata sipitnya membulat. Para awak yang gemas melihatnya mengacak-acak rambutnya juga menunjuk ke arah ibu dan ayahnya yang mengejarnya. “Anak bandel! Ayo antri dulu,” ucap sang Ayah yang menggenggam tangannya. Namun ternyata, yang didahulukan adalah anak-anak dan wanita karena para awak hanya sedikit dan butuh bantuan laki-laki setempat. Hingga ia hanya bertiga dengan ibunya mengantri untuk dicek kesehatan. Saat mengantri, Byeong Gyu melihat ayahnya membantu salah seorang awak yang terlihat lemas. Awalnya anak itu terlihat bangga melihat ayahnya ... “Byeong Gyu, jaga adik kamu sebentar. Ibu mau bantu Nenek Jirin yang kerepotan bawa barang.” Ibunya pun pergi setelah ia menggenggam tangan Jin Gyu. Lokasi nenek Jirin tak jauh dengan ayahnya. “Ayah-Ibu ngapain?” tanya Jin Gyu sambil menghisap jari telunjuknya yang penuh sisa bumbu snack. “Tolongin orang-orang, biar bisa naik pesawat bareng kita,” jawabnya. “Pesawat??” Wajah Jin Gyu yang tembem terkejut bukan main. Byeong Gyu hanya mengangguk kegirangan sambil berjoget menghibur adiknya itu, tiba-tiba terdiam memaku ketika Nara sedari tadi memperhatikannya. Gadis kecil itu tertawa membuat seluruh wajahnya memerah. Ternyata Nara juga naik pesawat, bahkan ia lebih dulu dites kesehatan karena keluarganya memiliki keistimewaan tersendiri di negaranya. Byeong Gyu memilih memperhatikan kedua orang tuanya yang tak kunjung kembali. Cukup lama ia melihat lelaki lemas yang bersama ayahnya itu, ia tersadar kulit awak kapal itu seperti ada guratan di tangan dan lehernya. Membawanya terhempas ke peristiwa ia menjadi saksi pertama infeksi virus alias flora di Korea, tepatnya di dalam kereta menuju rumahnya. Ia berteriak memanggil ayahnya namun bukan ayahnya yang menengok tapi semua orang di sana. Tanpa aba-aba awak kapal yang dicurigai sudah terinfeksi virus berubah menjadi flora dan menempel di kepala ayahnya dalam waktu beberapa detik lalu berpindah ke orang lain. Semua orang di sana berhamburan menjauh dari ayahnya. Byeong Gyu, Jin Gyu, dan anak-anak lainnya diangkut langsung ke dalam pesawat. “Ayah! Ibu! Lepasin!” Byeong Gyu memberontak ketika tubuhnya diangkut oleh para awak lalu pintu pesawatnya ditutup agar flora tidak dapat masuk. Dari dalam pesawat ia dapat melihat ibunya menolong ayahnya yang terkapar lemas, sesak napas, urat-uratnya menonjol parah. Di situ Byeong Gyu menyadari, virusnya tidak langsung bereaksi mengubah manusia menjadi flora, butuh waktu beberapa menit. Tapi semua itu sia-sia karena belum ada penawarnya. Ayahnya akan tetap jadi flora cepat atau lambat. Sang Ibu terlihat ditarik oleh awak kapal agar tidak bersentuhan dengan orang yang sudah terinfeksi. Ayahnya hanya meminta, “Tolong jaga anak-anak.” Ia yakin tubuhnya akan dibawa untuk dipenggal agar tidak berubah menjadi flora dan membahayakan. Namun sayangnya kepalanya berubah menjadi flora dan menempel pada kepala istrinya. Hingga, mereka berdua harus berpisah dengan anak-anak mereka. Byeong Gyu tak ingin melihat kejadian setelah ayahnya berubah menjadi flora. Ia takut, trauma makin tak berujung maka ia bersembunyi. Hingga sebuah keberuntungan ia tak harus melihat tragis ibunya menjadi korban infeksi ayahnya sendiri. Menunggu dan menunggu ibunya tetapi tidak datang. Suara di tempat penampungan yang sebelumnya gaduh, banyak orang berteriak dan barang berjatuhan kini lebih sunyi. Ia memberanikan diri mengintip lewat jendela, melihat ibunya juga terkapar lemah dengan ciri-ciri terinfeksi virus BIO-6, anak itu menjerit. Tak lama, pesawatnya berangkat. Byeong Gyu bahkan tak sempat mengucap selamat tinggal untuk terakhir kalinya pada orang tuanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.6K
bc

TERNODA

read
199.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

Marriage Aggreement

read
87.1K
bc

JANUARI

read
49.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook