"Sebaiknya, apa yang harus kita lakukan sampai kita tertidur?" Suara Rizal, mengisi keheningan yang tercipta di antara dirinya dan Aya malam itu.
Keduanya kini sudah berada dalam posisi berbaring di ranjang mereka. Iya, ranjang pengantin, yang harusnya dan biasanya digunakan untuk melakukan tugas mereka sebagai suami istri. Tapi karena Rizal mengatakan akan memberi kelonggaran pada Aya khusus malam ini, karena dirinya juga merasa lelah setelah seharian disibukan dengan serba-serbi acara pernikahan, mereka akhirnya hanya berbaring di sana.
Berbaring kaku di bawah selimut yang sama dengan jarak yang terbentang seukuran guling yang memisahkan keduanya. Tidak, bukan berarti di antara mereka ada guling, itu hanya ungkapan untuk menggambarkan bahwa di antara Rizal dan Aya masih ada jarak yang memisahkan. Sama seperti kondisi mental mereka yang juga mungkin merasa masih ada jarak, dan menurut Rizal inilah saatnya untuk mempersempit atau mengikis jarak itu hingga besok-besok tidak perlu lagi ada jarak di antara keduanya.
"Hhm... Memangnya Mas Rizal belum mengantuk?" Timpal Aya yang benar-benar berbaring kaku.
Bayangkan saja. Aya berbaring lurus, memasang kepalanya mengarah tegak ke depan, ke langit-langit kamar hotel pun dengan pandangannya yang mengarah ke sana. Bahkan meski ia bicara, Aya tetap tidak memalingkan wajahnya untuk menatap Rizal, gadis itu bertahan pada posisi yang sama dengan kedua tangan yang mencengkram selimut yang dikenakannya di atas d**a.
Gadis itu masih canggung, dan juga merasa aneh dengan situasi yang dihadapinya kini. Namun Ayana sadar benar kalau dirinya memang harus beradaptasi, secepatnya beradaptasi.
"Aku sih belum, kenapa? Kamu udah ngantuk? Kalau kamu udah ngantuk sih aku nggak akan ganggu. Nggak apa-apa kamu tidur aja duluan."
Ngantuk? Aya? Bagaimana bisa saat jantungnya masih berdebar tidak karuan seperti sekarang. Jangankan memejamkan mata, berkedip saja Aya merasa membutuhkan waktu lama.
"Nggak. Aya juga belum ngantuk kok."
"Sungguh?" Rizal merubah posisi berbaringnya jadi menyamping, tentu saja menghadap Aya.
Ayana yang menyadari pergerakan suaminya itu tentu saja terkejut, refleks menoleh menatap wajah Rizal tapi seketika menyesali gerakannya itu karena Aya seperti baru saja diberikan kejut jantung. Seketika Aya menahan napas, dan dengan cepat memalingkan wajahnya lagi ke posisi semula. Menatap langit-langit kamar.
Ya Tuhan, suaminya kenapa tampan sekali? Batin Aya.
"Beneran kamu belum ngantuk? Kalau gitu gimana kalau kita cerita-cerita aja?"
"Eh?"
"Tukar cerita, Ay... Kita kan sampai di tahap ini dengan proses yang nggak terlalu banyak ngobrol, apalagi hal-hal pribadi atau semacamnya yang dilakuin pasangan-pasangan biasanya untuk mengenal satu sama lain. Nah karena kita belum banyak tahu cerita mengenai satu sama lain, gimana kalau kita cerita-cerita aja sekarang? Aku mau denger cerita kamu dari kamu sendiri, bukan dari pandangan orang tua kamu atau orang-orang terdekat kamu."
Ah... Itu maksud Rizal.
"Tapi aku harus cerita apa? Aku bahkan nggak tahu apa yang harus aku ceritain ke Mas Rizal."
Rizal menarik napasnya, menatap sang istri masih dengan posisi berbaring menyamping sebelum mengembalikan posisinya kembali seperti semula dan seperti posisi istrinya saat itu.
"Benar juga, kalau disuruh biasanya kita bingung harus cerita apa, kan?" Rizal berpikir. "Ah, kalau gitu jawab aja pertanyaan yang aku ajuin gimana? Nanti kalau kamu mau tanya sesuatu juga Mas akan jawab sesuai dengan yang Mas rasain atau bisa Mas ceritain ke kamu."
Yah, itu tawaran yang menarik. Dan dengan begitu juga cerita biasanya akan mengalir begitu saja secara alami. Yang pasti, seperti yang Rizal mau, ini bisa jadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh juga bisa membunuh waktu agar mereka mengantuk dan bisa tertidur dengan lelap untuk hari ini.
"Deal. Mas dulu aja yang tanya kalau gitu."
Rizal tersenyum puas, melirik istrinya. Mata pria itu terlihat menyipit tajam, dengan mimik tengah memikirkan sesuatu yang serius untuk ditanyakan.
"Hhm... Kenapa kamu nerima lamaran Mas kalau boleh tahu? Karena selain kita nggak pernah kenal sebelumnya, Mas juga merasa pasti ada beberapa pria baik yang udah datang ke orang tua kamu untuk meminta kamu jadi istri salah satu dari mereka."
A-ah... Pertanyaan itu...
Saat itu Aya memberanikan dirinya untuk menoleh, tidak seperti sebelumnya yang hanya berupa refleks, kali ini Aya benar-benar melakukannya atas kesadaran penuh. Gadis itu ingin memastikan, gadis itu ingin tahu ekspresi suaminya itu ketika menanyakan hal semacam ini padanya.
Apa benar Rizal memang tidak tahu? Dan apa harus Aya menceritakannya?
***
"Sebenernya apa yang kamu suka dari Pak Dosen itu sih, Na? Dan udah berapa lama kamu suka sama Pak Dosen itu tapi lebih milih diam dan nggak berusaha untuk ngelakuin apa kek atau apa gitu supaya bisa di-notice beliau."
Ayana menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Vio. Entah sudah berapa kali Vio mengajukan pertanyaan itu sejak Vio tahu--lebih tepatnya sadar akan perasaan Ayana pada pria yang tidak mereka kenal secara personal di seberang sana. Pak Rizal, salah satu dosen juga mahasiswa S3 di kampus mereka yang cukup dikenal karena terbilang masih muda.
Yah, usia 28 tahun tapi sudah menempuh S3 bisa dikatakan masih muda, meski bukan berarti usia yang wah muda sekali untuk mahasiswa S3 pada umumnya. Sebab jelas ada beberapa yang bahkan lebih muda dari Rizal dalam hal itu.
Ngomong-ngomong mereka ada di perpustakaan, dan dibalik kegiatan Ayana yang awalnya tengah sibuk memindai buku referensi lain untuk bahan penelitiannya, gadis itu kini terdistraksi karena kehadiran dosen itu yang juga terlihat tengah mencari beberapa buku yang mungkin beliau juga butuhkan. Entah sebagai dosen atau mahasiswa S3. Yang pasti, setelah melihat Aya yang curi-curi pandang, Vio yang saat itu menyadari langsung memberikan komentar.
"Kita ini mahasiswa, Vi. Kalau deketin dosen di saat statusnya masih dosen-mahasiswi bukannya akan berdampak buruk buat dua belah pihak. Dan memangnya sejak kapan temenmu ini suka sok caper sama orang yang disuka? Bahkan orang yang disuka aja bisa dibilang nggak ada sebelum ini."
"Ho, jadi kamu mau bilang kalau beliau ini cinta pertama kamu gitu? Huuu so sweet... Kamu berharap aku bilang kayak gitu? Yang ada aku gemes sama kamu tahu!"
Untuk pertama setelah sejak tadi Aya mengarahkan tatapannya ke arah Rizal, kini Aya menatap sahabatnya yang duduk di seberangnya itu. Iya, mereka tengah berada di salah satu meja yang ada di perpustakaan, setelah mengumpulkan beberapa buku referensi dari rak-rak buku perpus yang tinggi menjulang.
"Aku nggak minta kamu untuk beranggapan kayak gitu kok. Lagian aku yang ngerasain kenapa kamu yang gemes?"
"Ish gemes, Na... Gemes karena kamu nggak ngelakuin apa-apa!"
Aya melotot, memberikan peringatan ke arah sahabatnya itu dengan melempar isyarat mengenai keadaan sekitar tempat mereka berada saat ini.
Ah sial, saking gemasnya Vio malah jadi lupa diri dalam mengintrogasi sahabatnya itu. Dan ini, situasi yang kurang lebih sama ini yang membuat Vio selalu kehilangan kesempatannya mendapatkan jawaban yang memuaskan dari lawan bicaranya itu. Intinya Vio selalu bertanya di saat yang tidak tepat, dan Aya punya berbagai macam trik untuk menhindari setiap pertanyaan dari sahabatnya itu.
Meski Vio tahu, bukan berarti Aya yang memberitahunya. Sebab kalau boleh, Aya sebenarnya hanya ingin menyimpan rahasia perasaannya itu seorang diri. Sayangnya Aya tidak sepandai itu, hingga Vio-lah dari ketiga sahabatnya yang lain yang menyadarinya lebih dulu.