Tama menoleh padaku. Ada gestur gusar yang aku lihat di wajahnya. Tatapnya seolah bertanya 'kenapa kamu izinkan Giko menginap di sini?' Lalu dia membuang napas kasar dan menyusul Giko ke balkon. Sejenak aku melihat Giko menawarinya rokok, tapi Tama menolak. "Gue ngantuk. Boleh gue tidur?" tanyaku, menahan mata yang sudah terasa berat. Beberapa kali aku menahan kuap. "Lo istirahat aja gih. Jangan lupa kunci pintu kamar biar Tama tenang," sahut Giko. Aku mengernyit sebentar, tapi nggak menimpali ucapan Giko. Masa bodo dengan mereka yang sedang mengobrol aku pun beranjak ke kamar. Paginya aku dikejutkan pemandangan yang menakjubkan. Kedua lelaki itu tidur di sofa dengan kaki naik ke atas meja. Giko di sisi kanan, Tama di sisi kiri. Keduanya tidur dengan posisi kepala meneleng, salin

