45. Mutasi

1071 Kata

Gerakan Danar yang hendak meneguk minumannya terhenti. Dia menatapku sesaat, lalu menghela napas. "Apa itu penting banget?" Kalau dia masih menganggapku sahabat, dia akan menjawabnya dengan mudah. Tapi, tunggu. Aku tiba-tiba salah tingkah. Ini pasti wujud dari overthinking yang aku rasakan akhir-akhir ini tentang Tama. Menelan ludah kasar, aku beranjak duduk di samping Danar dengan gerakan pelan. "D-dia nggak seperti Tama, kan?" tanyaku ragu. Aku bisa melihat kerutan samar pada dahinya. "Seperti Tama?" Aku mengangguk, lalu kembali merasa nyeri saat ingat sebelum ke rumah sakit aku sempat melihat Tama dengan istrinya. "Sudah punya pasangan." "Gue nggak tau," sahutnya melengos dengan muka masam. Kentara sekali Danar nggak mau mengatakan hal yang sebenarnya. "Oke. Gue nggak mau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN