Danar kesal karena kesusahan menyuap dengan tangan kiri. Dia mendorong mangkoknya menjauh. "Butuh bantuan?" Lelaki berwajah lempeng itu nggak menjawab dan hanya menyeka bibirnya yang belepotan kuah seblak. Aku menarik napas melihat tingkahnya. Dia terbiasa mandiri, lengannya yang menggantung itu pasti membuatnya kesal setengah mati. Aku menyimpan piringku, dan meraih mangkok Danar. "Gue suapin sini." Danar melirikku dengan kening berkerut. "Nggak usah. Lo makan aja." "Ahelah! Nggak usah sok kuat. Udah, suapin Wina aja. Gue lagi males nyuapin lo," sambar Giko, menyempatkan diri menjeda kegiatan makannya. Danar berdecak, dan dia pasrah saat aku menyodorkan sendok. "Nah, gitu kan enak. Wina bisa sambil makan dan nyuapin lo," ujar Giko lantas tertawa. "Kalian udah mirip kayak laki

