Bunyi alarm pintu terkunci terdengar dari belakang Tama. Aku menelan ludah melihat lelaki itu menjulang di hadapanku. Aku nggak tahu apa yang Tama pikirkan. Di apartemennya ada Sintia, istrinya, bisa-bisanya dia malah mengejarku ke sini? Apa dia memang sudah nggak waras? "Tam, lebih baik kamu balik ke unit kamu. Aku nggak mau cari gara-gara," ujarku yang masih berpikir sehat di sini. Tama menggeleng, kakinya maju selangkah, lalu tangannya menggapai sebelah tanganku, dan menggenggamnya. Tentu saja aku nggak tinggal diam. Aku mencoba menarik tanganku dari genggamannya. Tama nggak boleh meraba perasaanku melalui sentuhan ini. Nggak boleh. Namun, genggamannya terlalu erat. "Aku minta maaf. Pasti kamu enggak nyaman banget tadi," ucapnya lirih dengan mata lurus menatapku. Aku paling ng

