18. Mie Goreng

1089 Kata

Aku menatap layar ponsel yang masih bercahaya menampilkan caller ID Tama. Cuma ditelepon, tapi dadaku bergetar hebat. Padahal tadi malam aku sudah lumayan rileks bicara padanya. Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya sebelum menerima panggilan dari Tama itu. Sedikit berdeham, lantas kudekatkan benda persegi itu ke telinga. "Halo." "Hai, Win. Kamu udah pulang?" tanya Tama begitu panggilannya itu aku angkat. "Belum masih di kantor," Aku menjawab seraya melirik jam tangan. Pukul setengah lima sore. "Aku pikir udah pulang. Kira-kira pulang jam berapa nanti?" Aku nggak pernah mematok akan pulang jam berapa jika sedang lembur begini. "Nggak tau sih. Tergantung selesainya pekerjaan aja. Kenapa?" "Tadinya mau nawarin pulang bareng. Kita kan searah." Aku sontak terdiam. Tama me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN