Daripada rasa penasaranku makin menggunung, lebih baik aku keluar dari kamar mandi. Aku bergerak perlahan dan langsung mendapat perhatian dari mereka berdua. Aku tersenyum canggung dan mengangkat tangan ragu. "Hai," sapaku, lalu melirik Danar yang sepertinya tidak mau menjelaskan apa-apa tentang kemunculan wanita cantik itu. "Hai." Wanita itu balas menyapaku lalu menyimpan nampan sarapan Danar dan berdiri. Aku otomatis mendekat dan dia mengulurkan tangan terlebih dulu. "Gue Marissa. Terima kasih, ya, udah jagain Danar. Untuk selanjutnya biar gue yang jagain dia aja." Meski bingung, aku menyambut uluran tangannya. "Gue Wina." Seumur-umur mengenal Danar, baru pertama kali aku melihat wanita cantik ini muncul. Siapa dia? "Bisa dilanjut sarapannya?" tanya Danar, terdengar dingin. I

