Aku terselamatkan dari cecaran Arin karena dia lantas sibuk dengan tumpukan pekerjaan yang Danar beri. Aku juga bisa fokus mengerjakan pekerjaanku hingga selesai. Pukul setengah delapan malam aku baru benar-benar merampungkan pekerjaan. Sementara Arin dan Danar belum kembali ke kantor divisi lantaran sedang mengikuti rakor di lantai sepuluh. Ketika aku sedang merapikan meja, ponsel pintarku yang ada di dekat PC bergetar. Senyumku sontak terbit saat membaca nama yang tertera di layarnya. Aku meraih benda pipih itu dan mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Tama," sapaku, menjepit ponsel di antara telinga dan bahu. Sementara dua tanganku memasukkan barang-barang pribadiku ke dalam tas. "Udah pulang, Wina?" tanya Tama di sana. "Ini baru mau turun. Kamu di mana?" Aku menarik resletin

