Tawa Arin langsung terhenti begitu melihat Giko mendekat. Dia bahkan langsung pura-pura sibuk di depan layar. Aku dengan mata setengah watt yang hampir redup mengangkat kepala, menahan kuap, lalu merentangkan tangan. "Beb, makan siang, yuk." Tepat dugaanku. Tidak seperti biasanya yang lebih dulu menggoda Arin, dia langsung menghampiriku. Tersenyum lebar sembari menumpukan lengannya ke pembatas kubikel. "Gue lagi males, makan. Ngantuk. Mau tidur aja." Aku kembali menjatuhkan kepala ke atas meja. Kasih aku waktu satu jam buat tidur. "Win, tapi ini bentar lagi jam makan siang loh. Emang lo nggak lapar?" tanya Giko lagi. Tanganku terangkat dan mengacungkan telunjuk. "Kasih aku satu jam aja buat tidur. Aku ngantuk banget." "Danar mana?" "Dia lagi ada meeting di luar. Sudah sejam

