55. Spaneng

1046 Kata

Mendengar cerita Tama tentang hubungannya dengan istrinya bikin aku tambah spaneng. Entahlah, aku sama sekali tidak bisa menerima begitu saja penjelasannya. Serasa masih belum masuk ke nalarku. Begini, Tama mengaku menikah dijodohkan. Dijodohkan! Sekali lagi aku tekankan. Dijodohkan saja bisa menghasilkan anak-anak yang jarak lahirnya begitu dekat, gimana kalau enggak dijodohkan? Masuk akal enggak sih? "Mamaku dan orang tua Sintia menuntut kami untuk segera memiliki anak," dalih Tama. Yang lagi-lagi hanya membuatku bersedekap tangan dan berdecak. Kalau aku menceritakan semua yang dia akui kepada Giko dan Danar, aku yakin isi komentar mereka semua tentang hujatan untuk Tama. Beberapa menit lalu aku mengantar kepulangan Tama. Hanya sampai depan pintu saja. Lalu aku segera masuk set

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN