Chapter 26

1244 Kata
Saat akhir pekan, rombongan belajar bareng akhirnya berkumpul di taman rumah Davika. Mereka menggelar karpet di sana sembari mengobrol ringan. Suasana terasa hangat karena matahari sudah bersinar terik padahal jam baru menunjukkan pukul 7 pagi. Davika keluar dari rumahnya dan membawa beberapa buku paket dan buku tulis serta alat-alat tulis lainnya. Dia menaruhnya di meja kecil. “Jadi, kita mulai pelajarannya dari mana?” tanya Deo bersemangat. Yang lainnya mulai membuka buku masing-masing. Mereka duduk melingkar di atas karpet berwarna biru. Kasya dan Davika duduk berdampingan sedang bisik-bisik sembari menunjuk sesuatu di buku tulis. “Terserah dari mana saja. Kita ‘kan adain ini karena biasanya ada yang belum mengerti kalau diajarin guru. So, siapa yang mau bertanya duluan?” Viko menatap teman-temannya. “Aku,” ucap Mira mengangkat tangannya. Gadis itu membuka lembar buku kimianya dan menggesernya ke tengah. “Aku masih kurang mengerti dengan penyelesaian contoh soal ini,” ringisnya. Davika mencondongkan kepalanya melihat buku latihan Mira. Kening gadis itu mengernyit dan tak lama kemudian dia mengangguk pelan. “Oh ini mengenai hubungan konfigurasi elektron, ya.” “Iya. Aku kurang ngerti.” “Ini gampang banget, kok, Mir. Kamu tinggal tentukan golongan dengan melihat elektron valensi. Nah, untuk periodenya, kamu bisa tentukan dengan melihat kulit (n) terbesar dalam konfigurasi elektronnya. Gimana?” Mira berkedip-kedip sejenak, seolah sedang mencerna penjelasan Davika. Gadis itu mendongak dan menatap Davika dengan raut seolah sedang berkata aku-belum-mengerti. “Coba buka bab yang membahas tentang itu. Di situ sudah tersedia, kamu tinggal cocokin doang.” “Oke.” Mira mulai membuka buku paketnya dan mengamati isinya. Dia sesekali menulis di buku latihannya. “Kamu pintar, ya, Dav,” puji Yeri tersenyum lebar, memamerkan barisan giginya yang rapi. “Biasa saja. Semua orang sebenarnya pintar. Semuanya tergantung dari seseorang seberapa keras dia berusaha untuk mengerti dan memahami suatu materi,” ucap Davika menyunggingkan senyum kecil. Deo yang sedang berkutat dengan buku biologinya langsung mendongak. Dia menatap Davika dengan ekspresi dibuat terluka dan tangan meremas dadanya sendiri. “Kok aku tersinggung dengan ucapan kamu, Dav.” “Eh? Iya, kah? Kamu tersinggung di bagian mananya?” Deo berdehem dan mulai berlagak seolah dia adalah Davika. “Semuanya tergantung dari seseorang seberapa keras dia berusaha untuk mengerti dan memahami suatu materi.” Pemuda itu kembali memasang ekspresi merana, “aku ini orangnya tidak seperti itu. Kalau materi sudah berlalu dan aku belum memahaminya, ya, aku biarin aja. Perkataanmu benar-benar menyentuh sanubariku, Dav.” “Tidak usah sok puitis kamu, ish!” celetuk Yeri dengan wajah jijik. “Heh! Ini memang isi hatiku. Kamu diam aja! Suka banget recokin aku!” “Sudah, sudah. Kita di sini mau belajar bareng, bukan lihat kalian adu bacot,” lerai Viko, “ayo lanjutkan, siapa yang mau bertanya lagi.” Kasya, Mira dan Yeri sontak mengangkat tangan masing – masing. Viko menyuruh mereka berundi agar bisa menentukan siapa yang duluan bertanya. Kasya langsung mengalah duluan dan berkata dia bertanya di akhir saja. Hanya Yeri dan Mira yang heboh silat kata memperebutkan posisi pertama. Viko dan Deo sampai geleng – geleng kepala melihat betapa barbar-nya dua gadis itu. Bi Minah datang membawakan mereka sirup dan camilan membuat perkelahian dua orang itu berhenti. Mereka memutuskan rehat sebentar sembari menikmati minuman dan camilan yang Bi Minah sediakan. Selesai istirahat sebentar, entah dirasuki makhluk apa, Yeri memberikan posisi pertama pada Mira yang tentu saja langsung kegirangan. Dan ujung-ujungnya tetap saja Davika yang menjelaskan semuanya. Hasil homeschooling-nya ternyata bisa bermanfaat bagi teman-temannya. Rombongan anak rajin itu akhirnya belajar hingga pukul 9 pagi. ••• Hari pertama Ujian Nasional telah tiba. Para siswa kelas tiga kini berada di depan ruangan masing – masing menunggu waktu masuk tiba. Semuanya memasang wajah gugup. Hari ini dan tiga hari ke depan akan menentukan lulus-tidaknya mereka dari SMA Bangsa. Saking gugupnya, beberapa bahkan harus bolak-balik ke WC karena kebelet pipis. Sementara itu, Davika duduk di depan ruangan 1 dengan Yeri dan Deo. Dua orang yang berada di sampingnya itu tengah memejamkan mata dengan mulut komat-kamit. Davika hanya bisa mendengus geli melihat mereka masih saja menghapal beberapa materi. Bagi Davika itu sia-sia saja. Mereka belum tentu akan mengingat semua materi itu nanti saat mengerjakan soal. Memahami dan tahu cara kerja tiap soal itu yang penting. Davika menatap jauh ke ruangan 3. Di sana berdiri Viko dan Kasya beserta siswa lainnya. Mereka sama gugupnya sekarang. Dia dan Viko berlainan ruangan karena para guru mengacak ruangan mereka. Davika berada dalam ruangan 1 sementara Viko terlempar ke ruangan 3 bersama Kasya. Ketika tatapan Davika masih terkunci pada Viko, cowok itu juga tanpa sengaja menoleh dan memergokinya. Davika langsung membuang mukanya cepat – cepat namun sia-sia saja karena Viko sudah menyadarinya. Viko menatap jam tangannya. Masih ada waktu lima menit lagi. Dia mendekati Davika dan meninggalkan Kasya di sampingnya yang menatap kepergian cowok itu dengan alis terangkat. “Dav.” “Eh iya, Viko,” cicit Davika lalu berdiri. Yeri dan Deo yang sedang sibuk menghapal membuka mata mereka dan ikut berdiri. “Bagaimana perasaan kamu sekarang?” tanya Viko meraih telapak tangan Davika dan menggenggamnya. Davika menarik napas panjang dan mengangguk pelan. “Cukup baik. Setidaknya, kita sudah berusaha keras selama ini.” “Syukurlah. Semangat, ya. Tidak usah gugup. Aku yakin kamu bisa mengerjakan semua soalnya.” Davika meringis kecil, “Kamu juga jangan gugup, ya. By the way, tangan kamu dingin dan basah. Itu tandanya kamu lagi gugup, ‘kan?” “Ah, ini.” Viko segera melepas tangan Davika dan mengusap tangannya sendiri sembari tersenyum kikuk. “Sebenarnya, aku juga sangat gugup.” “Tidak usah malu karena ketahuan Davika gugup, Vik. Aku juga sama gugupnya sekarang,” celetuk Deo. “Ck! Suara kamu ngerusak mood, tahu!” decak Viko. “Ih, ngegas!” Dua cowok itu melengos muak. Yeri yang kembali sibuk ke dalam hapalannya tak memperhatikan mereka berdua. “Eh, Mira di ruangan mana, sih?” tanya Davika. “Dia terdampar di lantai bawah.” Deo tergelak. “Lah, jauh banget,” gumam Davika mengetahui lantai bawah adalah ruangan 10 sampai 20. “Sebentar lagi bakal masuk. Nanti kerjain soal ujian tidak usah terburu-buru. Aku balik ke ruanganku dulu. Selesai ujian kita ke kantin bareng, ya?” Davika mengangguk erat. “Kamu juga jangan gugup.” Viko terkekeh-kekeh pelan mendengarnya dan menepuk kepala gadis itu. “Wah, enak ya kalau sudah punya pacar. Ada yang semangatin,” celetuk Deo. “Yaudah, karena kamu jomblo, minta aja Yeri semangatin kamu. Dia juga jomblo, ‘kan?” sindir Viko kesal. Mulut Yeri berhenti komat-kamit. Gadis itu menoleh pada Deo dengan raut wajah meremehkan. “Silakan menyemangati diri-sendiri, dasar jomblo!” “Kamu juga jomblo! Dasar jomblo!” “Aku single, bukan jomblo!” “Sudah sana kembali ke ruangan kamu. Waktunya makin menipis. Nanti kamu malah tidak bisa kerjain soal gara-gara lihat mereka adu bacot,” suruh Davika. Ternyata gadis itu juga sudah jengah melihat perkelahian Yeri dan Deo. Viko kembali ke depan ruangan 3. Dia menatap Kasya yang sepertinya memiliki aura-aura kelam di sekelilingnya. “Muka kamu kenapa, Sya? Kok mendung gitu?” tanya Viko. “Kamu, kok, dekat banget sama Davika?” tanya gadis itu lirih. Jiwa pencemburunya sudah keluar. “Aku cuma kasih dia semangat doang, kok. Masa tidak boleh.” “Tapi aku cemburu!” tegas Kasya dengan nada bertahan, “kamu tidak semangatin aku juga?” “Ah,” senyum Viko merekah, “bilang aja kalau kamu mau kuberi semangat juga.” Kasya melengos. “Semangat, ya, Say ... eh, maksudnya, Sya,” bisik Viko mengedipkan sebelah matanya. Mau tak mau, Kasya tersenyum. Namun, senyumnya sirna ketika para pengawas ujian sudah muncul dari tangga. Bukan hanya dia, Viko dan siswa lain juga menatap horor, terutama pada map yang di pegang pengawas. Semua siswa menatap map berisi soal UN seolah itu adalah nuklir yang siap keluar dan meledak. Sebelum pengawas mendahului mereka ke dalam kelas, semua siswa masuk ke dalam kelas dengan rapi dan duduk di tempat masing-masing. Ketika Kasya menoleh ke belakang, Viko yang duduk di kursi belakang tersenyum kecil dan mengacungkan tinjunya sebatas d**a. Gadis itu tersenyum kecil. Namun, dia kembali bertanya-tanya. Kapan hubungan Davika dan Viko berakhir? Makin lama egois makin bertumbuh dalam hatinya. Kadang dia berpikir untuk langsung memberitahu Davika semua kebenarannya, namun hati kecilnya selalu mengingatkan Kasya bahwa Davika adalah temannya. Ketika soal dan lembar ujian mendarat di mejanya, Kasya menggelengkan kepala dengan pelan mengusir semua tentang Davika. Untuk saat ini dia akan fokus pada UN dan bukan hal lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN