Kasya masuk ke dalam rumah Davika dengan wajah keheranan karena di dalam begitu rapi. Maksudnya, rumah Davika memang selalu rapi. Tapi, hari ini rapinya tidak seperti biasa. Keluarga Davika mungkin akan kedatangan tamu.
Tangan kanan Kasya memegang buku milik Davika yang pernah di pinjamnya. Niatnya ingin mengembalikan buku ini karena sudah lama menganggur di meja belajarnya. Dia selalu lupa untuk mengembalikannya.
Gadis itu melihat Karina tengah sibuk menata meja makan. Dia melangkahkan kakinya ke sana.
“Tante, ini lagi ada acara, ya?” tanya Kasya. Matanya menelusuri meja yang dipenuhi berbagai macam makanan.
Karina menoleh. “Eh, Kasya! Pas banget kamu ke sini! Tante tadi baru aja mau suruh Davika manggil kamu ke sini. Viko dan keluarganya bakal datang ke sini. Makan malam bareng!” Karina mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada geli.
Mata Kasya berkedip-kedip mendengarnya. Viko dan keluarganya bakal malan malam bareng keluarga Davika? Apa artinya ini?
Jantung Kasya berdebar-debar. Dia mencengkeram buku yang ada di genggamannya. Kepalanya menoleh ke arah tangga ketika mendengar suara langkah kaki dari sana.
Davika berdiri di sama dengan mata yang membulat senang. Gadis itu mempercepat langkahnya dan menghampiri Kasya yang masih terperangah
“Hei! Aku baru saja mau memanggilmu! Ternyata kamu sudah di sini.”
“Eh ... i-iya,” sahut Kasya gagap, “ini ... bukumu yang pernah aku pinjam,” sambungnya seraya menyerahkan buku yang sedari tadi ada di tangannya.
Davika menerima buku itu dengan senyum terpatri di bibir mungilnya. “Oh, iya. Aku bahkan sudah lupa kalau kamu pernah meminjam buku ini,” ucapnya tertawa kecil.
Kasya tersenyum kikuk. Dia memandangi sekelilingnya dengan gelisah.
“Bunyi deru mobil dari luar terdengar. Riko muncul dari kamar dan segera menyambangi pintu. Karina dan Davika segera menyusul.
Kasya yang tak tahu harus berbuat apa, hanya mengikuti mereka dengan gelisah. Dia ingin pulang!
“Selamat malam!” sapa orangtua Viko.
“Malam. Ayo, ayo silakan masuk!” ajak Riko ramah.
Viko dan orangtuanya masuk ke dalam rumah. Karina dan Vera lantas cipika-cipiki ala ibu-ibu arisan.
“Apa kabar, Jeng?” tanya Vera.
“Baik. Kamu sendiri gimana?” tanya Karina.
“Baik juga,” ucap Vera lalu mereka tertawa bersama.
“Ini Davika, ya?” tanya Vera menatap Davika.
“Iya, Tante.” Davika langsung tersenyum kecil dan mencium punggung tangan Vera dan Tristan.
“Ah, manis sekali!” ucap Vera sembari mengelus pipi gadis itu.
“Terus ini siapa?” tanya Tristan sembari menatap Kasya, “kukira kamu cuma punya anak satu, Riko?”
Riko lantas tertawa, “Ah, ini tetangga kami sekaligus temannya Davika. Kasya, perkenalkan dirimu pada mereka.”
“Halo, Om, Tante,” ucap gadis itu kikuk dan menyalami mereka.
“Hm, kamu tinggi sekali, ya,” canda Vera.
Viko yang hanya diam sedari tadi tersenyum kecil.
“Ayo, kita langsung saja ke ruang makan! Pasti semuanya sudah lapar!” ajak Karina.
Mereka berjalan menuju meja makan. Davika menarik Kasya ke sampingnya ketika menyadari gadis itu kelihatan kikuk.
“Ayo, tidak apa-apa, kok,” bisik gadis itu.
Mereka semua kini duduk di meja makan, menyantap makanan sembari bercerita. Riko dan Tristan sibuk membicarakan masalah perusahaan, sementara Karina dan Vera sekali-kali menimpali.
Kasya yang sedang asyik makan hampir tersedak ketika kakinya di senggol dari bawah meja. Gadis itu buru-buru mengambil air dan menatap Viko yang duduk tepat di hadapannya. Matanya melotot kecil ketika Viko mengedipkan mata padanya. Dia menoleh pada Davika dan langsung saja bernapas lega karena cewek itu hanya memperhatikan makanannya.
“Jadi, Davika dan Viko ini sudah pacaran, ya?” goda Vera.
“Dari teman berujung pacaran. Wah, kayaknya kita juga dulu begitu, ya, Ma?” tanya Tristan geli.
Para orang tua tertawa mendengar ucapan Tristan. Davika tersipu mendengarnya. Viko melanjutkan makannya walaupun senyumnya tak dapat dia sembunyikan sementara Kasya hanya diam menelan kepahitan.
“Tante mau berterima kasih, loh, buat Viko. Kalau bukan karena Viko, Tante tidak tahu apa Davika bisa sembuh dari fobianya. Sekarang, Tante tidak khawatir lagi tentang masa depan Davika. Terima kasih, ya, Viko,” ucap Karina tulus.
“Sama-sama, Tante. Itu semua juga karena Davika mau berusaha melawan fobianya. Saya tinggal dukung dan temani dia, kok,” balas Viko merendah.
Riko meletakkan sendoknya dan memberi dua jempol pada Viko. “Fix! Om sudah putuskan akan merestui kamu dan Davika.”
Tawa geli meledak di meja makan itu. Bahkan Kasya pun ikut tertawa.
Menertawakan betapa malangnya dirinya ini.
•••
Setelah Viko dan orangtuanya pulang, Kasya dan Davika membantu Karina mengumpulkan piring kotor dan membawanya ke belakang. Ketika berada di depan wastafel, ponsel Kasya berbunyi.
Dia segera mengeluarkan benda pipih persegi panjang itu dari dalam kantung celananya dan mengangkat panggilan.
“Halo?”
[“Kasya, kamu lagi di mana?”] suara Viko dari sana terdengar namun tertahan.
“Aku masih di rumah Davika. Nanti saja, ya, teleponnya.”
[“Oke. Aku tutup, ya, teleponnya.”]
“Iya, bye.”
Kasya menjauhkan ponselnya dari telinga dan menekan ikon merah. Gadis itu berbalik cepat ketika seseorang menepuk pundaknya.
“Ah, kamu ngagetin aku, Dav,” ucap Kasya mengambil napas.
“Kamu habis nelpon sama siapa, Sya?” tanya Davika.
“Sama Arni. Dia nanyain aku kenapa lama banget,” elak Kasya.
“Ooh. Akhir-akhir ini kamu selalu saja kaget kalau kupanggil. Kenapa, sih?”
“Tidak apa-apa, kok. Ayo, kita cuci piring-piring kotornya,” ajak Kasya mengalihkan.
“Ayo.”
Mereka mencuci piring sekaligus bertukar cerita tentang les yang sudah berjalan selama dua hari. Mereka membahas apa saja soal-soal yang sulit mereka pahami dan janjian untuk membawanya saat belajar bareng di akhir pekan nanti.
Selesai mencuci piring, Davika belum mengijinkan Kasya pulang. Dia menyeret Kasya ke kamarnya untuk menonton film bersama.
“Seperti yang kamu minta, kita menghabiskan waktu berdua tanpa Viko,” ujar Davika seraya mengacungkan flashdisk di tangannya. “Untuk saat ini, kita belum bisa jalan-jalan, ya, ‘kan? Jadi, kita nonton film aja dulu. Selesai UN, kita bakal pergi nge-date bersama!”
Kasya mendengus geli mendengar kata nge-date. Namun, dia tetap setuju. Ujian Nasional makin mendekat. Dia tak mau bepergian untuk sementara demi menghindari kecelakaan.
Davika mengambil laptopnya dan memasukkan flashdisk-nya.
“Aku kemarin minta beberapa film dari Mira dan Yeri pakai flashdisk Papa dan mereka memberinya tadi pagi. Aku tidak tahu berapa banyak yang mereka masukkan ke sini, tapi katanya semua filmnya bagus-bagus,” terang Davika sembari menggerakkan jarinya di kursor laptop.
Sementara Davika mengutak-atik laptopnya, Kasya mendekati meja belajar Davika dan membuka beberapa buku gambar milik Davika. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil melihat berbagai gambar yang sudah dihasilkan tangan gadis itu. Dia membuka lembaran selanjutnya dan melihat gambar taman serta pagar tembok. Di atas pagar itu, dua gadis duduk di sama sembari menatap bulan di langit. Walaupun hanya coretan pensil tanpa campuran warna, Kasya tahu taman dalam gambar ini adalah taman rumah Davika. Dan tembok itu adalah pagar yang selalu mereka berdua jadikan tempat mengobrol bareng kala malam tiba.
Kasya membuka lembaran selanjutnya dan menatap takjub beberapa gambar baju, celana serta gaun.
“Dav ....”
“Hm?”
Kasya menoleh pada Davika. “Setelah lulus SMA, kamu mau lanjut kuliah jurusan apa?”
Tangan Davika yang bergerak di kursor berhenti. Dia mendongak dan menatap Kasya dengan kerutan di kening.
“Iya juga, ya. Kenapa aku belum pernah memikirkan itu?”
“Jadi, kamu belum tahu mau kuliah di mana?” tanya Kasya speechless.
Davika diam sejenak lalu mengangguk ragu-ragu. “Kamu sendiri mau lanjut kuliah di mana?”
“Aku akan berusaha lolos di Universitas Indonesia. “
“Wah, keren!”
“Kamu sendiri juga keren, Dav,” ujar Kasya sembari mengangkat buku berisi model pakaian yang sudah digambar oleh Davika.
“Eh, kamu dapat itu dari mana?” tanya Davika kaget.
“Di meja belajarmu. Ini benar-benar bagus, loh, Dav. Kenapa kamu tidak coba pilih jurusan yang berhubungan dengan desainer saja? Kamu pintar menggambar, selain itu model pakaian yang kamu gambar ini juga terlihat unik dan bagus. Pasti hasilnya akan cantik jika dibuat!”
Davika memandangi sejenak gambarnya itu lalu mendesah. “Ah, itu aku cuma kebetulan gambarnya, Sya. Lagipula, cuma itu, kok, model pakaian yang kugambar, selain itu tak ada lagi.”
“Padahal ini bagus,” gumam Kasya cemberut dan mengembalikan buku gambar itu ke tempat semula.
“Oke, sudah!” seru Davika.
“Apa yang sudah?”
“Filmnya sudah kupindahkan ke penyimpanan internal. Ayo, kita nonton!”
“Kamu tidak mau memikirkan dulu jurusan apa yang akan kamu ambil?”
“Lain kali saja! Ayo!”