Chapter 24

1272 Kata
Kening Davika berkerut dengan mata yang menatap tajam rumus-rumus Fisika di buku paket setebal lima centi. Setengah jam lagi pak Bambang akan masuk dan memberi les Fisika. Davika berusaha memahami rumus-rumus yang berhubungan dengan soal latihan nanti sebelum les dimulai. Saat ini kelas lumayan sepi. Ada dua temannya yang mojok di sudut lain sembari memakan bekal. Mereka sempat mengajak Davika ikut serta namun gadis itu menolak dengan halus. Yang lainnya pada berburu makanan di kantin sekolah termasuk Viko. Davika sendiri tetap tahan di kursinya sembari memelototi rumus-rumus Fisika. Tak lama kemudian, Viko, Deo, Yeri dan Mira memasuki kelas berbarengan. Viko membawa dua gelas es kopi dan meletakkan satu di meja Davika. “Buat kamu, biar nanti tidak mengantuk,” ucap Viko senyum. “Terima kasih, Viko,” ujar gadis itu lalu menyeruput kopinya. “So sweet sekali kalian,” celetuk Mira yang duduk di depan Davika. “Yang jomblo tidak usah sirik!” sindir Deo. Mira mendelik, “Nyindir diri-sendiri, ya, Mas?” Yeri ngakak melihat Deo yang tak bisa membalas perkataan Mira. “Sebagai sesama jomblo tidak usah mengejek,” ujar Deo kesal. “Ah, kalian ini ada-ada saja, deh,” cicit Davika dengan wajah tersipu. “Makanya cari jodoh cepat-cepat, gih. Deo, kamu tinggal pilih Yeri atau Mira,” timpal Viko dengan raut usil. “VIKO!” teriak tiga orang itu bersamaan lalu saling menghina satu sama lain. Yeri dan Mira sibuk saling menolak Deo dan Deo yang misuh-misuh sambil menyumpah tidak akan berpacaran dengan Yeri ataupun Mira. Tawa Viko dan Kasya pecah melihat mereka malah saling mengumpat dan bukannya bersatu mengeroyok Viko. Satu per satu teman sekelas mereka kembali ke kelas. Kelas perlahan riuh. Beberapa siswa saling bertanya mengenai tugas makalah Biologi yang akan dikumpul besok. “Eh, iya, ternyata masih ada tugas Biologi. Kalian sudah selesai?” tanya Deo. “Iya, sudah. Nanti malam tinggal aku print,” jawab Davika. “Mati aku! Aku belum selesaiin bagian penutupnya,” pekik Deo menepuk kepalanya. “Nah, rasain!” cela Yeri pongah. “Karma, tuh.” Mira menambahkan. “Tinggal bagian penutupnya, ‘kan? Tidak usah khawatir, tidak terlalu panjang, kok. Kamu masih punya waktu nanti malam buat ketik terus besok pagi-pagi baru print dan jilidnya,” timpal Davika memberi solusi. “Wah, makasih, pacarnya Viko!” sanjung Deo, “dan lebih bagus kalau kamu bantuin aku kerja bagian penutupnya.” “Enak saja!” gerutu Viko kesal. “Eh, kok kamu yang ngegas?” Viko memutar bola matanya jengah. Cowok itu menunduk menatap Davika yang hanya tersenyum geli. “Jangan dibantuin, biar dia kerja sendiri, oke?” “Oke!” Davika menyepakatinya hingga membuat Deo misuh-misuh lagi. Ponsel Davika yang berada dalam laci berdering. Dia meraba lacinya dan mengambil ponselnya itu. “Halo, Ma?” [“Halo, Sya. Hari ini kamu pulang jam berapa?”] “Sekitar jam lima, Ma. ‘Kan mulai hari ini Davika ada les. Memangnya kenapa, Ma?” [“Ah, tidak apa-apa, kok, Sayang.”] “Papa sudah pulang, Ma?” [“Belum. Nanti kamu pulangnya sama Viko, ‘kan?”] “Iya, Ma. [“Oh iya. Semangat ya, les-nya, Sayang!”] “Iya, makasih Mama.” [“Mama tutup teleponnya. Dah!”] “Dah, Ma.” Davika menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menyimpannya kembali dalam laci. “Dari Tante Karina, ya?” tanya Viko. “Iya,” sahut Davika lalu menyeruput kembali kopinya. “Oh iya, waktu malam Minggu, Papamu juga pasti pulang larut malam, ‘kan?” tanya Davika. “Maksudnya?” Viko malah balik bertanya dengan raut tak mengerti. “Pulang larut malam alias lembur, kata Papa. Papamu ‘kan sekretarisnya Papaku, ya, pasti ikut lembur juga, ‘kan?” “Eh? Tidak, tuh.” “Hah? Kok, bisa?” “Memangnya Papamu lembur karena harus selesaikan apa?” tanya Viko heran. “Katanya ada rapat dengan klien.” “Hah? Tapi, Papaku pulangnya cepat, kok. Waktu kita pulang dari Timezone, Papa sudah ada di rumah. “Heh?” “Kenapa, Dav?” Davika diam sejenak lalu menggeleng pelan. Tak lama kemudian, Pak Bambang masuk ke dalam kelas. Semua rumus-rumus yang telah dipejari Davika barusan buyar semua akibat percakapannya dengan Viko barusan. ••• Les selesai tepat saat jam menunjukkan pukul lima. Di kelas XII MIPA 1, Pak Bambang mengemas bukunya serta alat tulis lainnya dan memasukkan semuanya ke dalam tas. Guru muda itu lantas berdiri dan memandang seisi kelas. “Saya harap, semua materi dan soal-soal latihan yang telah saya paparkan tadi bisa kalian pahami. Silakan pelajari kembali saat di rumah nanti. Cukup sekian pertemuan hari ini. Selamat sore!” “SELAMAT SORE, PAK!” balas seisi kelas serempak. Pak Bambang mengangguk dan berjalan keluar kelas. “Langsung pulang?” tanya Viko sembari mengemas alat tulisnya. “Iya,” sahut Davika sembari memandangi suasana di luar, “udah sore juga.” “Oke, ayo.” Viko mengulurkan tangannya dan Davika menerimanya. “See you tomorrow, ya, Dav!” seru Mira. Davika melambaikan tangannya, “See you tomorrow!” “Eh, sebentar.” Viko berhenti lalu berbalik pada Mira. “Hari Sabtu kamu ada acara?” Mira memutar bola matanya ke atas lalu menjawab, “Kayaknya tidak ada. Kenapa?” Davika yang tahu arah pembicaraan Viko langsung membuka mulut. “Ah iya! Jadi begini, Mira. Kita sudah rencanakan bakal belajar bareng tiap akhir pekan buat persiapan UN. Kamu mau ikut?” “Wah, iya, dong! Aku pasti ikut!” “Eh, eh, ikut apaan?” Yeri ikutan nimbrung. “Belajar bareng tiap akhir pekan. Mau ikutan?” tanya Viko. “Wah, iya! Aku kadang tidak mengerti kalau guru yang jelasin, tapi kalau teman yang jelasin, aku cepat mengerti. Aku pasti ikut!” seru Yeri semangat. “Aku ikut juga, dong!” celetuk Deo yang masih duduk di kursinya sembari mengemas beberapa buku ke dalam tasnya. “Tentu. Lebih banyak, lebih baik,” ucap Davika tersenyum. “Jadi, kita nanti belajarnya di mana?” tanya Mira. “Soal itu, nanti kita pikirkan. Akhir pekan masih jauh. Jadi, yang mau ikut kumpulin materi atau soal-soal latihan yang kurang di pahami. Nah, nanti saat belajar bareng kita bisa pelajari bersama-sama sampai kita mengerti,” jelas Viko. “Perencanaan yang bagus,” cetus Yeri, “eh, udah sore, nih. Aku duluan, ya! Bye semuanya!” pamit gadis itu dan berjalan keluar kelas. “Ayo, Dav. Kita juga harus segera pulang,” ajak Viko. “Ayo.” Mereka berdua berjalan menuju parkiran. Viko mengambil kunci motornya dan segera menyalakan mesin motor. Dia naik ke atas motor seraya memasang helm. “Ini helm-nya.” Viko memberikan helm pada Davika. Gadis itu menerimanya dan segera memakainya. Ketika motor Viko perlahan melaju, Davika melihat mobil Kasya masih terparkir. “Eh, eh, itu mobil Kasya, ‘kan?” tanya Davika menepuk bahu Viko. Viko mengamati plat mobil berwarna silver itu. “Hm, iya.” “Kukira dia sudah pulang. Ternyata masih ada di sini,” gumam gadis itu. Viko memelankan laju motornya. “Kamu mau tungguin Kasya?” Davika berpikir sejenak. “Kayaknya tidak usah, deh. Kami tadi juga tidak janjian mau pulang bareng. Lagi pula aku sudah bilang sama Mama, kalau aku pulangnya bareng kamu.” “Oke, deh,” sahut Viko lalu melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah, membelah jalan raya. ••• “Makasih, ya, sudah antar aku pulang,” ucap Davika mengembalikan helm pada Viko. “Sama-sama.” Pemuda itu tersenyum seraya mengelus pelan kepala Davika. Entah sejak kapan, rambut Davika jadi candu bagi Viko. “Kamu tidak mau singgah dulu?” tanya Davika. Viko menengok pintu rumah Davika. “Orangtuamu ada di dalam?” “Iya, mereka pasti ada di dalam. Itu mobil Papa ada, kok,” sahut Davika menunjuk mobil sedan berwarna hitam metalik milik Riko yang terparkir di lahan kosong samping rumah. “Oke, deh, aku mau sapa mereka sebentar,” ucap Viko akhirnya. Pemuda itu turun dari motornya dan melepas helm di kepalanya. Mereka berjalan beriringan ke dalam rumah dan mendapati Riko sedang membaca berita di tablet. “Papa, Davika pulang!” seru gadis itu ketika masuk dalam rumah. “Hai, Sayang! Bagaimana les kamu?” tanya Riko, “eh, ada Viko juga, ya,” sambungnya terkejut. “Iya, Om.” Viko terkekeh pelan lalu menyalami Riko. “Mama mana, Pa?” tanya Davika. Gadis itu duduk di sofa samping Viko dan melepas sepatunya. “Lagi di dapur masak bareng Bi Minah.” Baru saja Riko mengucapkan itu, Karina muncul dari dapur dengan celemeknya. “Kalian sudah pulang ternyata!” seru wanita itu. “Viko, sekalian makan di sini saja, ya!” “Eh, tidak usah, Tante. Viko mau langsung pulang saja,” tolak pemuda itu halus. “Aduh. Kok, cepat sekali, sih?” “Tidak apa-apa, Tante. Sudah mau malam juga.” “Oh iya, sudah mau malam juga, sih. Eh, tapi Davika sudah pernah pernah bilang ke kamu, kapan-kapan makan malam bareng di sini?” Viko mencoba untuk mengingatnya. “I-iya, Tante.” “Kasih tahu sama orangtua kamu, besok malam datang, ya, makan malam bersama di sini. Oke?” “Baik, Tante. Nanti saya sampaikan ke Papa dan Mama,” ucap Viko kikuk, “kalau begitu, Viko pamit dulu, ya, Om, Tante.” Viko menyalami mereka lalu berjalan keluar. Davika menemaninya hingga ke depan pintu. “Kamu hati-hati, ya, pulangnya. Jangan ngebut.” Davika mengingatkan. “Iya, Dav. Aku pulang, ya. Dah!” Davika melambaikan tangannya. Dia tetap berdiri di depan pintu sampai Viko pergi. Gadis itu mengulum bibirnya ketika memikirkan besok akan makan malam bersama keluarga Viko. Ah, Davika sudah tidak sabar menantikan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN