Chapter 23

1140 Kata
Davika dan Karina duduk di ruang keluarga sembari menonton acara TV. Mama dan anak itu sesekali tertawa ketika muncul adegan yang kocak. Namun, hati Davika tetap resah. Dia belum bisa menepis pikiran negatifnya sejak pulang dari Timezone dengan Viko dan Kasya tadi sore. Karina tertawa lagi, namun tawa ibu satu anak itu langsung sirna ketika menyadari anaknya tak ikut tertawa. “Pikirin apa, sih, Dav?” tanya Karina. Davika tersenyum kering, “Tidak ada, kok, Ma.” “Oh iya, sudah jam segini tapi Papa kamu belum pulang. Biasanya kalau lembur pasti nelpon dulu,” ujar Karina sembari melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Davika baru sadar akan hal itu. Papanya jarang sekali pulang malam. Gadis itu berdiri dari sofa dan berjalan ke arah pintu. “Belum ada tanda-tanda Papa mau pulang juga, Ma,” celetuknya sembari mengamati jalanan yang hanya diterangi lampu jalan. Davika menyandarkan punggungnya ke daun pintu sembari melipat tangan di depan d**a. Dia menatap ke arah jendela kamar Kasya. Lampu kamar gadis itu masih menyala. “Ke sana atau tidak, ya,” gumam Davika mempertimbangkan. Gadis itu berbalik menatap Mamanya yang kembali asyik menonton. Davika tak mampu lagi memendam resahnya sendiri. Dia harus memberitahu pada Kasya. “Ma, Davika ke rumah Kasya dulu, ya.” Karina berbalik, “Ngapain malam-malam bertamu ke rumah orang? Besok saja. Kasya mungkin sudah tidur.” “Tidak, kok, Ma. Lampu kamarnya masih nyala.” “Oke, tapi jangan lama-lama, ya. Ini sudah hampir larut malam.” “Sip, Ma!” Davika berlari keluar dari pintu menuju taman dan memanjat pagar tembok untuk menyeberang ke rumah Kasya. “Sya? Kamu belum tidur?” teriak gadis itu dari luar sembari mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh Arni. “Eh, Davika? Ada apa?” tanya asisten Kasya itu. “Kasya belum tidur? Aku mau ketemu sama dia.” “Oh, aku tidak tahu. Ayo masuk, langsung saja naik ke kamarnya,” ajak Arni dan membuka pintu lebar-lebar. Davika langsung naik ke lantai dua dan mendekati pintu kamar Kasya. Dia berdiri sejenak di depan pintu berwarna cokelat itu lalu mengetuknya pelan. “Masuk aja! Tidak dikunci, kok!” teriak Kasya dari dalam. Davika membuka pintu kamar dan segera mendekati Kasya yang sibuk mengetuk-ngetuk layar ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. “Kenapa, Kak ... eh, Davika?” Kasya menaikkan alisnya dan langsung mematikan layar ponselnya, membuat Davika sedikit curiga. “Kok dimatiin?” tanya gadis itu. “Tidak apa-apa, kok. Aku kaget aja kamu tiba-tiba muncul padahal sudah malam,” dalih gadis itu. “Oh iya, maaf ganggu kamu malam-malam begini. Tapi, aku sudah tidak sabar bilang ini padamu,” ucap Davika tak enak. Jantung Kasya berdebar-debar melihat raut wajah Davika yang serasa ganjil. Dia duduk tegak di tempat tidurnya. “Oh iya, ayo duduk di sini,” ajaknya sembari menepuk-nepuk kasurnya, “memangnya kamu mau bilang apa?” Davika duduk di dekat Kasya. Dia menatap gadis itu sembari menggigit bibir dalamnya. Dalam hati dia berdoa semoga Kasya tak tersinggung dengan ucapannya. “Em, begini,” Davika menjeda sejenak dan mengusek-usek lehernya, “aku harap kamu jangan tersinggung apalagi marah, ya?” pintanya memohon. “Eh? O-oke.” “Begini ... aku cemburu karena kamu terlihat akrab dengan Viko. Bukannya aku percaya dengan gosip yang menyebar di sekolah, tapi aku cuma resah aja lihat kalian dekat begitu. Aku, aku takut kalau Viko akan menyukaimu. Aku tahu ini terdengar egois, tapi ini juga demi kebaikanmu, Sya. Kalau ada yang lihat kamu dan Viko dekat lagi, bisa-bisa mereka mikirnya yang tidak baik. Aku tidak mau lihat kamu terluka, juga Viko. “Kamu boleh bilang aku ini pacar yang posesif, tapi kamu juga pasti tahu, ‘kan, gimana rasanya saat pacarmu sendiri dekat dengan gadis lain? Aku bukannya menuduhmu suka pada Viko, tapi aku bilang ini padamu sebagai peringatan saja. Aku tidak ingin pertemanan kita berakhir cuma karena laki-laki. ” Kasya merasa tertohok mendengar itu. “Kasya,” panggil Davika pelan, “apa kamu menyukai Viko?” Tatapan mereka bertemu. Kasya menelan ludah melihat ekspresi Davika yang seolah berharap agar dia menjawab tidak. Tangan gadis itu mencengkram seprei. “Aku ... benar, aku cemburu,” lirih gadis itu menunduk. Davika menutup mulutnya dengan raut kaget. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. “Kamu ... menyukai Viko?” “Tidak, Dav. Aku tidak menyukainya.” Bohong. “Aku justru cemburu padanya. Sejak ada dia, kamu terlalu banyak menghabiskan waktu dengan cowok itu. Kamu jarang lagi memanggilku dari tembok pagar untuk ngobrol. Aku merasa kamu makin menjauh dari aku, Davika.” Bohong. Semua yang dikatakan Kasya adalah dusta. Dia menyukai Viko. Dia cemburu pada Davika yang telah merebut Viko darinya. Dia cemburu pada Davika yang telah menghabiskan banyak waktu bersama Viko dalam status pacaran. Dia benci perasaannya yang campur aduk. Dia benci pada Davika namun dia juga menyayanginya. Kasya tertunduk di hadapan Davika. “Maaf, kalau kamu merasa aku jadi benalu di antara kalian.” “Tidak ... bukan begitu, Sya. Maafkan aku, maaf ....” Davika mengusap wajahnya dengan frustasi lalu memeluk Kasya dengan erat. “Maaf, aku telah mencurigaimu. Maafkan aku. Aku gagal jadi teman yang baik buat kamu.” “Kamu sudah banyak berbuat baik padaku, Dav. Jangan merasa bersalah, wajar kok kalau kamu cemburu,” ucap Kasya kecut. “Maaf, kalau aku sudah jarang meluangkan waktu bertemu denganmu lagi. Aku benar-benar tak menyadari itu, Sya,” lirih Davika menyesal. Kasya mengulum bibirnya dan mengusap punggung Davika. “Tidak apa-apa, kok, Dav.” Mereka melepas pelukan. Davika merapikan rambut Kasya yang sedikit kusut dan menatap temannya itu dengan rasa penyesalan. “Katakan apa yang kamu mau dariku, Sya? Aku akan berusaha mengabulkannya sebagai rasa bersalahku.” “Aku tidak menginginkan apa-apa, Dav. Aku hanya ingin selalu bersamamu, itu saja.” Kasya tersenyum kecil. “Baiklah. Aku janji, akan selalu mengajakmu jika aku bepergian dengan Viko.” “Kenapa harus ada Viko?” tanya Kasya tak mengerti. “Kenapa, ya?” Davika berpikir sejenak. “Mungkin karena aku sudah terbiasa keluar bersamanya.” “Aku ingin kita sekali-kali bepergian berdua, tanpa Viko,” pinta gadis itu. Kasya hanya ingin jalan-jalan dengan Davika dan tanpa Viko. Karena sudah jelas, keberadaan cowok itu hanya akan membuatnya cemburu melihat kedekatan Davika dan Viko. “Baiklah,” tukas Davika, “lagipula fobiaku sudah perlahan-lahan menghilang. Kamu juga harus berterima kasih pada Viko.” “Lain kali aku akan berterima kasih padanya,” ujar Kasya tersenyum kecil. ••• Pukul 10, Davika kembali ke rumahnya. Dia tersenyum lega karena kini resah di hatinya menghilang. Dia tersenyum kecil ketika memikirkan Kasya justru cemburu pada Viko karena dirinya jarang meluangkan waktu bersama Kasya sejak Viko ada. Mobil Riko sudah terparkir di halaman rumah. Papa pasti sudah pulang, pikir Davika. Gadis itu berlari-lari kecil ke dalam rumah. Namun, senyumnya langsung sirna ketika melihat Riko dan Karina saling pandang dengan suasana terkesan kaku. “Tumben pulang larut malam tidak nelpon ke rumah dulu, Mas? Ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Aku sama Davika jadi khawatir, loh!” tegur Karina. Riko mendesah lelah, “Maaf, baterai ponselku habis, Rin. Tadi ada rapat dadakan dengan klien jadi pulang lambat.” “Rapat, kok, tengah malam,” celetuk Karina menyipitkan matanya. “Namanya juga rapat dadakan, Rin. Masa mau tunggu sampai pagi,” ucap Riko lalu menguap lebar, “Davika mana? Sudah tidur?” tanyanya. “Davika di sini, Pa,” timbrung Davika seraya mendekati orangtuanya “Papa kelihatan capek banget,” ucap gadis itu prihatin. “Mau mandi atau makan dulu, Mas?” tanya Karina. “Mandi dulu, deh, biar segar. Papa masuk ke dalam dulu, ya,” ujar Riko dan berjalan masuk kamar sembari menguap lebar lagi. Karina dan putrinya saling bertatapan. Wanita itu menepuk pundak Davika. “Sebaiknya kamu tidur. Mama akan siapin makanan buat Papamu,” suruh Karina. “Davika mau bantuin Mama siapin makanan buat Papa.” “Tidak usah, Sayang. Ayo sana, naik tidur.” Raut wajah Davika cemberut ketika mamanya menolak untuk dibantu tapi gadis itu menuruti kata mamanya untuk naik ke kamarnya dan tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN