Chapter 22

1588 Kata
Davika tersenyum di balik jendela ketika melihat Viko sudah memarkir motornya di depan rumah. Gadis itu keluar dan segera menghampiri Viko yang baru saja melepaskan helm-nya. “Ayo!” “Kita tidak pamit sama orangtuamu dulu?” tanya Viko mengangkat alisnya. “Tidak perlu. Papa sama Mama lagi molor.” “Hah? Molor ... maksudnya tidur?” Davika menganggukkan kepala, “Iya.” Viko mengerutkan kening. “Ini sudah sore.” “Papa tadi habis meeting seharian di kantor, kalau Mama, tidak tahu kenapa pas pulang arisan pinggangnya serasa encok. Mereka titip salam sama kamu, katanya kalau naik motor jangan ngebut.” “Oh sip. Aku tidak bakalan ngebut, kok. Kita langsung berangkat aja, ya. Ayo naik,” ajak Viko seraya menaiki motornya dan memakai helm. Pemuda itu memberikan satu helm lagi pada Davika. Davika duduk di jok belakang. Dia memegang erat baju Viko ketika mesin motor mulai menyala. Ketika melewati rumah Kasya, Davika sempat menoleh pada rumah besar bercat putih itu. Terang namun terlihat suram. Pintunya tertutup rapat, namun cahaya lampu dari dalam rumah membuat Davika tahu kalau Kasya berada di dalam. “Kita mau ke mana, Viko?” tanya Davika sedikit berteriak. “Ke mal!” “Mal lagi?” “Iya!” “Aku bosan, Viko!” keluh Davika. Motor berhenti di lampu merah. Viko membuka kaca helm-nya dan memutar kepalanya ke samping. “Tapi, kamu belum pernah masuk ke Timezone-nya, ‘kan?” “Eh ... iya juga, sih.” “Makanya, aku mau bawa kamu ke Timezone. Ini benar-benar jadi akhir pekan kita yang menyenangkan, karena selanjutnya kita akan terus belajar.” “Oke, aku juga sudah lama sekali tidak ke sana.” Davika menyepakati. Lampu lalu lintas berubah hijau. Viko melajukan motornya membelah jalan raya yang cukup ramai. Hamparan langit sore yang indah seolah bergerak mengikuti mereka dari belakang. Sampai di depan mal, Davika segera turun dari motor. Matanya tak sengaja menangkap sebuah mobil yang terparkir agak jauh dari tempat mereka. Awalnya Davika mengira mobil itu milik orang lain yang tak dikenalnya, namun setelah pengemudinya keluar, mata gadis itu membulat. “Eh, itu Kasya, ‘kan?” tanyanya menoel lengan Viko. “Iya, kayaknya dia,” sahut Viko sembari mengamati Kasya. “Ayo buruan kita samperin dia, Viko!” ajak Davika dan berlari kecil mendekati Kasya. Gadis itu beberapa kali menabrak orang lain yang tiba-tiba muncul dari balik mobil yang terparkir. Davika minta maaf lalu terus berlari membuat orang-orang itu misuh-misuh tak jelas. Viko yang menyusul gadis itu hanya tersenyum tak enak pada orang-orang yang ditabrak Davika dan meminta maaf atas kelakuan gadis itu. “Kamu di sini, Sya?” Kasya yang sibuk mengambil sesuatu dari dalam mobilnya spontan berdiri dan berbalik menatap sumber suara. “Eh, Davika? Kamu ngapain di sini?” “Jalan-jalan sama Viko,” jawab Davika, “kamu sendiri?” “Aku bosan di rumah, kak Arni lagi keluar karena ada urusan jadi kuputuskan untuk ke sini membeli beberapa barang dan bersenang-senang sebentar.” “Oh, begitu, ya.” “Iya,” ucap Kasya sibuk memperbaiki tali tasnya, “karena kamu sudah di sini, bagaimana kalau kita jalan-jalan bertiga saja?” usul gadis itu.” “Eh?” Davika mengangkat kedua alisnya, “kukira kamu mau membeli beberapa barang, sedangkan kami akan ke Timezone.” “Tadi aku bilang hanya bosan di rumah jadi aku ke sini. Membelinya bisa kubatalkan, aku akan ikut bersenang-senang dengan kalian.” Kasya tersenyum manis. Davika tersenyum kecil dan mengangguk dengan perasaan tak sepenuhnya. Saat melihat keakraban Kasya dan Viko di taman tadi, ucapan teman-teman sekolah mengenai mereka merasuki otaknya. Sisi negatifnya mulai menuduh temannya itu. Namun, Davika tidak bisa melupakan bagaimana terguncangnya Kasya saat dirundung oleh beberapa siswa. Tapi tetap saja, melihat Viko dekat dengan Kasya membuatnya tak nyaman. Pertemuan mereka di mal juga sepertinya bukan kebetulan. Mereka sudah bertemu di mal sebanyak dua kali dan semuanya atas dasar kebetulan. “Eh, gimana, mau masuk sekarang?” tanya Viko yang tiba-tiba saja ada di samping Davika. “Ah iya, ayo,” ucap Davika setuju. Dia diam-diam saja saat Viko menggenggam tangannya dan berjalan masuk. Kasya mengikuti mereka dan berjalan di samping Davika. Davika kembali dalam lamunannya. Di tengah lamunannya, Kasya dan Viko saling pandang sejenak. Bibir Kasya mengeluarkan seringai kecil. [Flashback] Kasya berguling-guling di kasurnya sembari memandangi jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 16.00. Dia mendengus keras sembari memikirkan harus melakukan apa untuk mengusir kebosanannya. Dia ingin keluar jalan-jalan, namun rasanya aneh jika sendirian. Kasya tak tahu harus mengajak siapa. Sementara itu, dia juga sudah mati kebosanan seharian terkurung di rumah, hanya makan, tidur membersihkan rumah dan kegiatan rumahan lainnya. Kasya menoleh ketika pintu kamarnya dibuka dan sedetik kemudian, kepala Arni menyembul dari luar. “Ngapain, Sya?” “Huft!” Kasya menghembuskan napas dengan kasar, “tidak ngapa-ngapain, kok, Kak. Aku juga tidak tahu harus bikin apa,” keluhnya. “Sejam lagi aku mau keluar bareng temanku. Kamu mau ikut” tawar Arni, “dari pada rebahan terus di dalam kamar,” sambungnya sembari terkikik geli. Kasya mengumpat kecil mendengar ejekan Arni. Dia bangun dari tidurnya, “Memangnya mau ke mana, sih, Kak?” Arni terlihat berpikir sejenak. “Hm, palingan ke Cafe atau tempat karaoke. Gimana? Kamu mau ikut?” “Yaudah, deh, aku ikut aja,” ucap Kasya akhirnya. Gadis itu merentangkan tangannya dan menguap lebar. “Yaudah kalau gitu. Kamu cepat-cepat mandi terus siap-siap, oke?” “Sip, Kak.” Arni menutup pintu kamar Kasya, namun tak lama pintunya terbuka kembali. “Eh, Sya.” “Iya, Kak?” “Tadi Nyonya nelpon,” ujar Arni. “Kok, Kak Arni tidak bilang, sih!” “Ya, maaf. Tadi kukira kamu tidur. Lagipula kami cuma ngobrol sebentar.” “Mama nelpon lewat mana? Kok, tidak menelepon di ponselku saja?” “Kata Nyonya ponsel kamu tidak aktif, jadi Nyonya hubungin lewat telepon rumah,” terang Arni. Kasya mengambil ponselnya yang ada di bawah bantalnya dan menekan tombol power-nya. “Pantes. Ponselku lowbat,” gumamnya lalu menoleh pada Arni yang masih berdiri di depan pintu. “Mama bilang apa aja?” “Cuma nanyain kabar kamu dan kasih tahu tentang Tuan. Keadaan Tuan sudah lebih baik sekarang,” lapor Arni. Kasya mendesah lega, “Makasih, Kak, buat infonya. Aku mau siap-siap dulu.” Arni kembali menutup pintu kamar Kasya. Gadis itu duduk di bibir tempat tidurnya dan termenung. Setidaknya, tak ada kabar buruk dari keluarganya dari Belanda. Sudah lama dia tak menghubungi mereka lagi. Mamanya pun jarang meneleponnya karena sibuk dengan urusan kantor yang harus dikerjakan selagi Papanya sakit. Kasya memutuskan segera siap-siap. Dia meraih ponselnya dan men-charger benda itu. Saat ponselnya menyala, notifikasi pesan dari Viko membuat Kasya segera membukanya tanpa pikir panjang. Dia tersenyum membaca isi pesan itu. [Viko: Mau ikut bersenang-senang denganku dan Davika? Datang ke mal dekat RS Hope, ya! Aku rindu menghabiskan waktu denganmu lagi. Aku menunggumu di sana] Kasya langsung keluar dari kamarnya dan mencari Arni. “Kenapa, Sya?” “Anu ... itu, aku tidak jadi ikut denganmu.” “Kenapa?” Arni mengerutkan keningnya. Kasya menyeringai lebar, “Aku barusan diajak sama temanku keluar jalan-jalan!” Arni mengamati ekspresi gadis itu. “Kamu kelihatan senang. Ya sudah, kamu pergi saja sama temanmu itu.” “Siap!” [Flashback end] Mereka bertiga naik ke lantai tiga, tempat di mana Timezone ada. Mata Davika berbinar-binar senang melihat berbagai permainan yang ada di dalamnya. Viko mengambil kartu Timezone yang sudah diisi sebanyak mungkin di kasir. Davika menarik Kasya membaur dalam keramaian Timezone. Matanya menelusuri setiap jengkal permainan yang ada. Viko menyusul mereka dari belakang. “Mau bermain apa?” tanya Viko memperlihatkan kartu Timezone di tangannya. “Capit boneka!” “Dance-dance revolution!” Davika dan Kasya saling pandang ketika mereka sadar telah menjawab bersamaan. Keduanya langsung cengar-cengir. “Oke, yang paling dekat dulu,” ucap Viko menunjuk capit boneka. Mereka bertiga mendekati mesin pencapit boneka. Mata Davika berbinar-binar melihat boneka landak berwarna putih cokelat yang ada di sudut. “Kamu pegang yang ini, sesuaikan gerakannya, oke?” Viko memberi instruksi setelah menggesek kartunya. “Iya, Viko. Aku tahu, kok, permainan ini. Dulu aku sering memainkannya,” ucap gadis itu mengamati pencapit boneka yang masih diam di langit-langit ruang kaca persegi kecil itu, “tapi belum pernah berhasil dapat bonekanya,” sambung gadis itu. Viko dan Kasya terkikik geli. “Tapi, aku akan mendapatkannya saat ini!” ucap Davika semangat. Tangannya mulai menggerakkan stik pada boneka landak yang ada di sudut. Davika mengerahkan semua konsentrasinya pada permainan itu. Keningnya mengerut dan matanya bergerak pelan namun tajam mengikuti gerakan pencapit. Perlahan, dia menggerakkan pencapit pada boneka yang diinginkannya. “Ayo Davika, semangat! Sebentar lagi sampai di lubangnya, ayo, ayo!” pekik Kasya. “Oh, ayo-ayo cepat bergerak,” gumam Davika saat pencapit lambat bergerak. “Yah!” Gadis itu mengeluh ketika jepitan pencapit melemas dan bonekanya jatuh. “Ulang lagi, Dav. Jangan nyerah,” pekik Kasya mengompori semangat gadis itu. Viko menggesekkan kartunya lagi. Davika memulai permainan lagi. Boneka landak itu sudah dekat dengan lubang. Dengan hati-hati, dia mencapit boneka itu dan membawanya ke atas lubang. “YES!” jerit Davika senang ketika boneka landak itu keluar. Dia mengambil boneka itu dan memeluknya erat. “Apa kubilang, aku pasti berhasil melakukannya!” ucap gadis itu bangga. “Iya, kamu berhasil, sampai-sampai kamu tidak sadar kalau lagi berkeringat,” kekeh Viko. Davika mengusap keningnya yang basah dan nyengir, “Oh, aku benar-benar tidak tahu.” “Oke, kita lanjut ke dance-dance revolution!” ajak Viko. Setelah mereka menjauh, beberapa orang yang mengamati Davika saat bermain tadi mendekati mesin pencapit itu dan mulai memainkannya. “Kamu tak mau main, Dav? Sebelah sini kosong,” ajak Kasya. “Tidak, deh. Aku tidak tahu nge-dance,” tolak gadis itu. “Viko? Kamu tidak mau ikutan?” “Ya? Oh iya, aku akan ikut main,” ucap Viko setuju. Mereka berdua naik ke papan dance dan mulai mengikuti gerakan dance-nya. Makin lama, gerakan dance-nya makin cepat dan membuat mereka kewalahan. Akhirnya, Kasya yang menang. “Aku mengalahkanmu!” seru Kasya. “Itu kebetulan saja! Ayo, mari ulangi lagi!” Viko ngotot dan menggesek kartunya. Mereka kemudian permainan itu lagi dan Davika hanya mengamati mereka dengan gelisah. Dia makin takut sisi negatifnya ternyata benar. Keakraban mereka sungguh membuat risau Davika. Selain itu, dia juga takut kalau ada teman sekolahnya lagi yang melihat Kasya ada di sini bersamanya, pasti mereka akan menyebarkan berita itu ke sekolah. Kasya akan di cap sebagai pengganggu hubungan orang dan di-bully lagi. “Sudah dibilang aku pemenangnya, kamu malah ngotot mau ulang. Akui saja itu!” ucap Kasya bangga setelah mereka menyelesaikan permainan dan Kasya menang lagi. Viko turun dari papan dance-nya sembari mengusap peluh di keningnya, “Oke, kali ini kamu menang.” Kasya tersenyum miring dan ikut turun daru papan dance-nya. Dia mengamati Davika yang menatap lantai dengan tatapan kosong. “Dav?” panggil Kasya sembari menyentuh pundak Davika. Davika langsung tersentak membuat Kasya ikut kaget. “Ah, maaf, sepertinya tadi aku melamun. Kalian sudah selesai?” tanyanya mengalihkan. Viko dan Kasya mengangguk. “Jadi, kita lanjut main lagi?” tanya Davika berusaha menepis semua pikiran negatifnya. “Ayo!” seru Kasya girang. Mereka bertiga kembali berkeliling memainkan berbagai game dengan senyum bahagia. Namun, hati Davika tak ikut bahagia. Hatinya kini justru merasa resah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN