“Sepeda?” Kasya mengerutkan keningnya.
Davika mengangguk semangat. “Iya, sepeda.”
Kasya menatap sekelilingnya. Tadi dia baru saja bangun pagi dan Davika sudah ada di depan kamarnya, menyuruhnya bersiap-siap untuk olahraga pagi di hari Sabtu.
Kini mereka berdua tengah berdiri di pinggir taman komplek, memandangi beberapa buah sepeda sewa yang terparkir manis di dekat mereka.
“Kamu mau naik sepeda?” tanya Kasya lagi dengan nada tak percaya.
Davika menatap temannya itu dan mengangguk erat. “Iya, kenapa?”
Raut wajah Kasya berubah kikuk. “Ehm, memangnya kamu tahu naik sepeda?”
“Iyalah, naik sepeda gampang banget, kok. Tinggal naik aja, sudah!” ucap Davika tertawa.
“Ish, maksudnya kamu tahu mengendarai sepeda, gitu?” Kasya memutar bola matanya.
“Iyalah, aku sering main sepeda, kok, waktu kecil dulu.”
“Itu udah lama, Dav,” sungut Kasya, “udah, deh, kita lari-lari berapa putaran aja. Aku takut nanti kamu jatuh kalau naik sepeda.”
Kasya menarik gadis itu agar mulai berlari-lari kecil, namun Davika menahan tangannya hingga Kasya berbalik menatapnya bertanya-tanya.
“Pokoknya naik sepeda!” kukuh Davika, “lagipula sebentar lagi Viko mau datang ke sini.”
Kasya mengangkat dua alisnya mendengar ucapan Davika barusan. “Oh, dia mau datang?”
Davika mengangguk, “Iya. Ayo, kita pesan sepedanya keburu abis,” ajaknya menarik Kasya.
Tadinya Davika dengan semangat mengajak Kasya, namun tiba di depan penyewa sepeda, nyali gadis itu langsung ciut. Dia beringsut ke punggung Kasya dan menyuruh gadis itu yang memesan.
Kasya mendengus geli melihat kelakuan Davika namun dia mengalah dan memesan tiga buah sepeda pada pemuda yang berjaga di sana. Setelah melakukan beberapa syarat untuk menyewa sepeda, pemuda itu memisahkan tiga buah sepeda untuk Davika, Kasya dan Viko.
“Kenapa, sih? Kok, tadi malah sembunyi padahal kamu yang semangat banget maksa pesan sepeda,” ujar Kasya menahan tawa.
“Tidak tahu. Langsung aja gitu refleks,” balas Davika cemberut.
Tawa Kasya perlahan mereda.
Dua gadis itu berbincang sejenak mengenai Ujian Nasional yang makin mendekat. Mulai Senin mereka akan mendapat tambahan pelajaran dan pulang lebih lambat.
Obrolan mereka berhenti ketika Viko muncul dengan motornya. Pemuda itu memakai baju kaos abu-abu dan celana training hitam. Viko menghampiri dua gadis itu sembari tersenyum kecil.
“Hm, jadi kita akan olahraga apa?” tanya Viko.
Davika menunjuk sepeda yang sudah mereka sewa, “Itu.”
“Hah? Kamu tahu naik sepeda?” tanya Viko mengerutkan keningnya.
Davika langsung mencebikkan bibirnya. “Kukira cuma Kasya yang bertanya itu, ternyata kamu juga. Jelas dong, aku tahu.”
“Oh,” Viko tertawa, “jadi, udah mau naik sepeda, nih?” tanyanya.
“Ayo!” seru Davika.
Gadis itu berjalan duluan dan menaiki sepedanya. Viko dan Kasya saling pandang, tersenyum geli sembari geleng-geleng kepala. Keduanya ikut menyusul Davika, mengelilingi taman hingga beberapa putaran dengan sepeda.
“Ah, udaranya segar sekali!” gumam Kasya menikmati udara pagi menampar wajahnya. Rambutnya yang diikat setengah berkibar-kibar ke belakang.
“Aku sudah sangat lama tidak naik sepeda!” seru Davika riang. Gadis itu mengayuh sepedanya hingga berbarengan dengan Kasya.
“Kukira kamu akan kaku mengayuhnya, tapi ternyata kamu terlihat mahir-mahir saja seolah sudah sering bersepeda,” puji Kasya tersenyum geli.
“Kamu mengejekku?” tanya Davika.
“Tidak, aku memujimu.”
Viko mengamati dua gadis yang mengobrol sembari tertawa pelan di atas sepeda mereka. Dia mengayuh sepedanya hingga sampai di samping Kasya.
“Kalian tidak mau istirahat dulu?” tanya Viko, “kita sudah bersepeda sebanyak lima putaran.”
“Kamu capek, ya?” tanya Davika geli.
“Tidak, sih, tapi lebih bagus kalau kita istirahat dulu,” elak Viko.
“Oke, deh. Kita berhenti di sana.” Davika menunjuk kursi besi yang ada di pinggir taman.
Tiga orang itu berhenti dan memarkir sepeda mereka di pinggir agar tak mengganggu pesepeda lainnya.
“Kalian haus?” tanya Viko.
“Iya,” aku Davika sembari mengipasi wajahnya dengan tangan.
“Oke. Aku beli minuman sebentar, ya.” Viko berlari menjauh menuju pedagang kecil-kecilan yang ada di bagian lain taman.
“Hah, capek juga, ya, kayuh sepedanya,” keluh Davika. Gadis itu menguncir rambutnya dengan karet gelang yang nyasar di saku celananya. Tapi, seperti biasa, Davika kurang ahli dalam mengikat rambutnya sendiri tanpa sisir.
Kasya yang menyadari itu mendengus jengah dan menyentak kepala Davika agar membelakanginya. Dia melepas ikatan di rambut Davika dan memperbaikinya agar lebih rapi.
“Makasih, Sya,” ucap Davika sambil cengar-cengir.
Kasya lagi-lagi mendengus, “Latihan ikat rambut yang rapi, ya, Dav.”
“Oke, sip!”
Viko datang dan membawa tiga botol minuman dingin.
“Ini,” ucap Viko memberi dua gadis itu masing-masing sebotol air.
“Ah, segar sekali,” gumam Davika setelah meneguk air nya hingga tersisa setengah.
Gadis itu melihat jam tangannya, “Sudah jam tujuh, kita lanjut lagi?”
“Sebentar,” sanggah Kasya, “ayo foto dulu. Kita tidak punya koleksi foto bareng, Dav.”
Mata Davika membulat. “Ah iya, aku juga baru ingat!” pekik gadis itu menepuk dahinya.
Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya dari sana, “Viko, bisa fotoin kami?” pintanya sembari mengulurkan ponselnya.
Viko mengangguk setuju. Dia mengambil ponsel Davika dan mulai mengatur kameranya.
“Kalian dekat-dekat lagi ... lagi. Oke? 1 ... 2 ... 3!” Viko memotret dua gadis itu dan segera memperlihatkannya.
“Wah, bagus sekali! Ulang lagi, ya!” pinta Davika.
Viko memotret mereka hingga beberapa kali dengan hasil yang bagus. Dua gadis itu menjerit senang dan mengucapkan kata-kata manis agar Viko mau memotret mereka masing-masing.
Viko mendengus jengah namun tetap memotret mereka. Davika berpose duduk di kursi sembari tersenyum menatap ke arah kamera. Hasilnya sangat bagus. Senyum Davika terlihat manis dan natural.
Giliran Kasya yang di depan kamera, Viko jadi sedikit kikuk. Cowok itu sampai beberapa kali memotret Kasya dan hasilnya blur. Untung saja Kasya dan Davika tidak menyadarinya.
“Sudah?” tanya Kasya.
Viko mengangguk.
Kasya mendekat dan melihat hasilnya membuat Viko jadi khawatir kalau-kalau Davika memperhatikan mereka. Namun, gadis itu ternyata asyik memandangi seorang wanita yang berjalan dengan anjingnya.
“Wah, hasilnya bagus!” pekik Kasya, “nanti kirimin aku, ya, Viko!”
Davika langsung menoleh, “Kalian sudah tukaran nomor telepon?”
Kasya dan Viko saling pandang. Dengan cepat, Kasya mengeluarkan cengirannya. “Maksudnya, kamu yang kirimin aku, Dav. Ini, ‘kan, ponsel kamu.”
“Oh ...” Davika mengangguk-ngangguk membuat Kasya dan Viko bernapas lega.
“Mau lanjut bersepeda lagi?” tanya Viko.
“Ayo, sebelum matahari makin tinggi.” Davika sepakat.
Mereka bertiga mendekati sepeda masing-masing dan mulai mengayuhnya mengelilingi taman.
“Eh, hari Senin kita sudah les, ya?” Viko membuka obrolan.
“Iya,” sahut Kasya sebelum Davika membuka mulut.
“Ah, berarti kita bakal pulang lambat, nih.”
“Tidak juga, sih,” cetus Kasya, “aku dengar jam pelajaran kelas XII akan dikurangi sejam. Jadi, kita selesai belajar jam tiga, istirahat sejam dan lanjut les sampai jam lima.”
“Bagus, dong, kalau begitu,” gumam Viko mengangguk-anggukan kepala.
Tiba-tiba ide brilian terbesit di benak Viko. “Eh, bagaimana kalau tiap akhir pekan kita adain belajar bareng? ‘Kan bagus, tuh, biar kalau ada yang belum ngerti, kita bisa pelajari kembali bersama-sama. Gimana?” tanya Viko semangat.
“Boleh. Itu ide yang bagus,” sahut Kasya cepat. Alhasil, Davika yang baru mau buka mulut langsung bungkam kembali.
Sementara itu, Viko dan Kasya saling pandang sejenak seolah memikirkan hal yang sama yaitu bisa sering bertemu jika mengadakan belajar bersama tiap akhir pekan.
“Jadi, kita bertiga saja? Atau mau ajak yang lain?” tanya Viko.
“Yeri, Mira dan Deo boleh ikut kalau mereka mau,” celetuk Davika.
“Ide bagus, Dav. Nanti aku kasih tahu mereka,” sahut Viko setuju.
“Jadi, kita mulai kapan dan di rumahnya siapa?” tanya Kasya.
“Kita mulai pekan depan saja. Anggap saja hari ini adalah hari terakhir kita untuk menikmati akhir pekan,” usul Viko, “persoalan rumah siapa yang bakal jadi tempat belajar nanti dilihat. Ujian Nasional masih beberapa bulan lagi. Kita bisa menempati rumah secara bergiliran. Kalau pekan depan rumahku, pekan depannya lagi bisa di rumahmu atau rumah Davika.”
“Iya, aku setuju itu.” Davika nimbrung. “Nanti jadi, ‘kan, Viko?” tanyanya kemudian.
“Jadi, kok, Dav.”
“Eh, kalian mau ke mana?” tanya Kasya ingin tahu.
“Biasa, terapi keramaian,” ujar Davika terkekeh.
“Kukira fobiamu sudah sembuh, Dav.”
“Hm, bisa dibilang begitu. Tapi, kadang masih muncul lagi. Jadi, aku mau benar-benar berusaha agar fobiaku sembuh total!” seru Davika semangat.
“Bagus kalu begitu, Dav. Sekalian nge-date, ya, ‘kan? Aku mah apa, cuma bisa bergelung di tempat tidur sambil pantengin story w******p,” ucapnya penuh makna.
“Sabar, Sya. Nanti kamu bakal dapat pacar juga, kok,” hibur Davika sembari mengedipkan matanya.
“Sebenarnya sudah ada,” celetuk Kasya membuat Viko yang tadinya diam langsung merasa gelisah. Kakinya serasa melemas sampai-sampai dia berpikir tak mampu lagi mengayuh sepedanya.
“Hah, beneran, Sya? Siapa? Kok tidak kasih tahu aku?” tanya Davika beruntun.
“Bercanda!” seru Kasya tertawa dan mempercepat kayuhan sepedanya hingga dia berada di depan.
“Ish, Kasya!” jerit Davika kesal dan memperkuat kayuhan sepedanya, berniat mengejar Kasya yang berada di depan.
Viko memperlambat laju sepedanya dan berhenti. Dia butuh air untuk menetralkan detak jantungnya yang berpesta pora gara-gara Kasya.