Chapter 20

1444 Kata
Kasya baru saja turun dari bus ketika dua gadis mendekatinya dengan tatapan judes. Dia mengerutkan keningnya sembari menatap dua gadis itu dari atas ke bawah. Matanya beralih pada class tag di lengan kiri salah satu gadis itu. Kelas XI IPA 4. Adik kelas, pikir Kasya dalam hati. Kasya mulai was-was lagi. Dilihat dari ekspresi dan tatapan dua gadis itu, sepertinya mereka sudah tidak sabar melemparkan ‘cabe' dari mulut masing-masing. Gadis ber-name tag Mellie melirik bagian d**a Kasya, “Jadi, ini, ya, yang dibilang Kasya?” tanyanya ketus. “Yang sopan, ya, kalau nyebut nama kakak kelas!” bentak Kasya. “Ih, mau banget dihormati padahal kelakuan tidak terhormat!” sinis gadis ber-name tag Cally. “Kalian kenapa, sih? Aku rasa kita tidak pernah bermasalah, kenal pun tidak.” Kasya berusaha melewati mereka, namun Mellie mendorong bahunya hingga dia mundur kembali. Para siswa yang baru datang sontak memperhatikan mereka. Bisik-bisik mulai terdengar di sekeliling mereka. Kasya menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia menatap dua adik kelasnya itu dengan tajam, “Jangan macam-macam sama aku! Kalian mau cari masalah dengan kakak kelas kalian, ya?” Cally menatap Kasya dengan pongah. Tangannya dilipat di depan d**a. “Dengar, ya, kita di sini tidak mau cari masalah. Walaupun kamu itu kakak kelas, bukan berarti kamu seenaknya ngelakuin hal yang salah.” “Coba jelasin salah aku apa!” tantang Kasya. Mellie dan Cally saling pandang lalu tersenyum remeh. “Kamu, ‘kan, yang lagi viral? Eh ... Pelakor Muda?” tanya Cally dengan nada mengejek. Kasya mengepalkan tangannya. “Sebenarnya, aku juga tidak terlalu ambil pusing tentang masalah ini. Tapi, aku pernah ngerasain dikhianati teman sendiri. Jadi, aku ngerti gimana perasaan kak Davika sekarang. Kalau dulu aku tidak sempat memaki perebut pacarku, sekarang aku bisa memakimu,” ujar Mellie ringan. “Kamu lampiaskan rasa marahmu ke aku?” tanya Kasya heran lalu terkekeh-kekeh, “kekanak-kanakan sekali kamu.” “Biarin kekanak-kanakan, daripada murahan kayak kamu!” balas Cally telak. Kasya mematung mendengar itu. Kepalan tangannya makin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia ingin membalas perkataan Cally namun bisikan-bisikan di sekelilingnya membuat tenggorokan Kasya tercekat. Matanya perlahan memanas. Sebisa mungkin, Kasya menahan air matanya. Dia menundukkan kepala, tak ingin orang lain melihat wajahnya. “Tuhkan! Dia tidak bisa membalas lagi! Dasar pengkhianat!” teriak Mellie. “Pengkhianat!” Cally menimpali. Perlahan, suara-suara lain bermunculan, memberi kepahitan pada gendang telinga Kasya. Gadis malang itu menutup telinganya. Air matanya merebak dari pelupuk matanya, tak dapat tertahan lagi. “Eh, apa-apaan ini?!” Kasya mendongak, menatap Viko yang menerobos kerumunan dan menatap semuanya dengan marah. Davika menyusul dan segera merangkul Kasya yang sesenggukan. “Pengkhianat!” teriak salah seorang dari dalam kerumunan. “Kasya bukan pengkhianat!” teriak Davika marah. “Aku sudah bilang, semuanya hanya salah paham! Kenapa kalian malah membesar-besarkan masalah ini, sih?!” Viko memperhatikan wajah Kasya yang sudah kacau padahal hari masih pagi. Cowok itu mengepalkan tangannya dengan erat. Dia merasa tak bisa menyembunyikan ini lagi. Mereka yang mengira Kasya adalah pengganggu hubungannya dengan Davika tak pernah mengusik dirinya. Namun, mereka malah melampiaskan semuanya pada Kasya. Viko tak mau Kasya tersakiti. “Apa kalian berdua dalang di balik semua ini?” tanya Viko mengintimidasi Mellie dan Cally. Mellie dan Cally tak menjawab. Dua gadis itu hanya menunduk dan saling melirik. Davika mengamati mereka. “Kalian, ‘kan, yang senyumin aku waktu hari pertama aku masuk sekolah?” tanyanya. Mellie dan Cally saling pandang lalu mengangguk ragu. Para siswa lain mulai bubar karena takut dengan tatapan Viko. “Aku kira kalian orang yang ramah, tapi aku ternyata salah,” ucap Davika kecewa, “minta maaf sama Kasya,” suruhnya. Mata dua gadis itu membelalak, “Tapi, Kak ....” Mellie keberatan. “Kenapa? Kalian tidak mau minta maaf? Atau kalian mau kulaporkan pada guru BK?” “Jangan!” teriak Mellie dan Cally bersamaan. “Kalau begitu minta maaf!” “Minta maaf, Kasya,” ucap dua gadis itu bersamaan. “Yang benar!” tegur Davika dengan mata dibulatkan. Mellie dan Cally terlihat keberatan, namun mereka tak bisa apa-apa. Mereka akhirnya menatap Kasya dengan ekspresi yang dibuat seikhlas mungkin. “Kak, aku minta maaf sudah menunduh Kak Kasya yang tidak-tidak. Sekali lagi, aku minta maaf,” ucap Mellie. “Aku juga minta maaf, Kak.” Cally menimpali. Davika menoleh pada Kasya. “Mau maafin mereka?” tanyanya lembut. Kasya hanya mengangguk. Bel sekolah berbunyi. Mellie dan Cally langsung ngacir ke dalam sekolah dengan desisan kesal. Sementara Viko, Davika dan Kasya masih berdiri di luar gerbang. “Kamu sudah tidak apa-apa, Sya?” Kasya menggigit bibir dalamnya dan mengangguk-angguk kuat. “Ya udah, kita ke dalam, ya? Bel sudah bunyi,” ajak Davika. Dua gadis itu berjalan duluan. Viko mengikuti mereka dari belakang. Pemuda itu mengamati punggung Kasya. Viko masih di ambang keraguan. Antara ingin membongkar semuanya atau tetap bertahan dalam kebohongan. Viko ingin hubungannya dan Kasya mendapat kejelasan, namun dia juga sudah terlanjur pacaran dengan Davika. ••• Davika mengajak Viko ke kantin, namun cowok itu menolaknya. “Aku ada urusan sebentar di bawah. Kamu ke kantin sama Yeri atau Mira saja, ya?” “Urusan apa memangnya?” Viko mengibaskan tangannya, “Pokoknya ada. Kamu pasti lapar, sudah sana pergi ke kantin bareng Yeri,” suruh Viko sembari menganggukkan dagunya ke arah Yeri yang berdiri di depan kelas sembari memandangi sesuatu. “Eh, oke. Tapi, kamu memangnya tidak lapar?” tanya Davika ragu. “Aku akan makan di kantin bawah,” jawab Viko. “Yaudah, aku pergi dulu, ya.” Davika berdiri dan menghampiri Yeri yang berdiri di luar. Viko memperhatikan dua gadis itu berbincang sejenak lalu pergi menghilang dari pandangannya. Pemuda itu berdiri dan berjalan menuju ambang pintu, memastikan Davika dan Yeri sudah benar-benar pergi ke kantin. Viko berjalan menuju tangga dan turun ke lantai satu. Kakinya melangkah ke arah taman yang agak sepi karena sekarang waktunya makan siang. Dia bersandar di bawah pohon mangga yang rindang lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Tangannya bergerak-gerak di atas layar ponselnya. Mata Viko menyipit ketika kontak Kasya terpampang di layar ponselnya. Pemuda itu tengah berpikir keras, antara ingin menghubungi gadis itu atau ketemu saja saat pulang sekolah. Viko mendesah dan memutuskan menelepon gadis itu saja. Mengingat dia akan menemani mamanya ke acara teman mamanya nanti sore. [“Halo, Viko. Kenapa?”] suara Kasya terdengar. “Halo, kamu baik-baik aja, ‘kan?” Kasya tak langsung menjawab. [“Iya, aku baik-baik aja.”] “Kasya,” ucap Viko menghela napas, “aku akan memberitahu Davika tentang hubungan kita.” [“Apa?”] Kasya memekik kecil dari seberang telepon, [“jangan, Vik!”] “Kenapa? Aku sudah tidak bisa melihatmu diperlakukan seperti tadi pagi, Sya!” [“Pokoknya jangan dulu, Vik. Bagaimana kalau mereka malah berbalik menuduh dan menyerang Davika? Aku tidak mau Davika diperlakukan seperti itu, Vik,”] suara Kasya melemah, [“lagipula, Davika orang yang paling pertama lindungi aku setiap teman-teman yang lain muncul dan menuduhku. Padahal, sebenarnya kita juga berbohong padanya.”] Viko memejamkan matanya. Semuanya terasa makin rumit baginya. Dia juga tak bisa menyalahkan Davika. Gadis itu tak tahu apa-apa. Seandainya Davika tahu dia dan Kasya saling menyukai, apa Davika tidak akan menyukainya atau setidaknya memendam perasaannya sendiri? Kepala Viko berdenyut-denyut pusing. Sejak menyimpan kebohongan, hidupnya tidak tenang. [“Viko? Kamu masih di sana?”] suara lembut Kasya membuyarkan pikiran rumit Viko. “Ah iya, Sya,” Viko menyahut, “kamu sudah makan?” [“Iya, aku baru saja menghabiskan bekalku. Kamu? Sudah makan juga, ‘kan?”] tanya Kasya. Viko tersenyum kecil, [“Iya, aku sudah makan,”] dustanya. [“Jadi, kamu sekarang di kantin?”] “Tidak.” [“Lalu, di mana?”] “Coba kamu melihat ke bawah,” ujar Viko sembari mendongak ke atas, tepat di bagian jendela di mana Kasya duduk. Tak lama kemudian, kepala Kasya menyembul dari balik kaca jendela. Viko menjauh dari bawah pohon dan melambaikan tangan pada Kasya. Gadis itu tersenyum geli dari atas dan membalas lambaian tangan Viko. Pemuda itu tersenyum lega melihat senyum Kasya dari kejauhan. Senyum itu seolah mengobati rasa frustasinya. Viko membuat finger heart membuat Kasya mengulum bibir menahan senyum. Pemuda itu tertawa pelan. Dari kejauhan saja dia bisa melihat wajah Kasya yang merona. [“Aku akan tetap sabar menunggu kamu, Vik,”] ucap Kasya akhirnya setelah mereka membisu dan hanya saling melempar senyum. “Dan aku akan berusaha keras perbaiki semuanya,” ucap Viko tersenyum. [“Aku mendukungmu.”] “Kasya ....” [“Ya?”] “Apa setelah semua ini selesai, kamu mau memperjelas hubungan kita?” tanya Viko sembari menatap ke arah jendela. Kasya menatap pemuda itu dari jendela dan tersenyum kecil, [“Ya, aku mungkin akan menerima pernyataan cintamu.”] “Mungkin?” [“Ah, ralat. Pasti,”] ucap Kasya yakin. “Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu.” Viko mengedipkan sebelah matanya. Kasya tertawa ringan. Rasa sakitnya telah diperlakukan tak baik perlahan hilang, telah terobati oleh teleponan sejenak dengan Viko. [“Aku juga sudah tidak sabar, Viko.”] “Aku sayang kam——“ “Viko? Kamu ngapain di sana?” Viko tersentak dan berbalik cepat. Dia mendapati Davika dan Yeri berdiri di teras sekolah. Pemuda itu buru-buru menyimpan ponselnya di saku celana dan mendekati dua gadis itu. Dalam hati Viko berdoa, semoga Davika dan Yeri tak melihatnya saat melayangkan finger heart pada Kasya. “Kalian sudah dari kantin?” tanya Viko menghampiri mereka. “Iya, sudah,” jawab Davika, “kamu ngapain di taman? Nelpon siapa? Kamu sudah makan?” tanya gadis itu beruntun. “Ah, itu tadi Mama telepon, ingatin aku temani ke acara temannya,” jawab Viko, “omong-omong, waktu istirahat masih lama, ‘kan? Aku baru saja mau makan.” Davika melihat jam tangannya, “Masih ada tiga puluh menit,” ucapnya, “oh iya, kapan kamu ada waktu ke rumah? Papa sama Mama ajakin makan malam bareng. Kalau bisa, orangtua kamu juga katanya boleh ikut,” ucap Davika riang. Yeri tersenyum geli dan menyenggol pundak Davika, “Wah, sepertinya ada yang sudah direstui sama orangtua, nih!” godanya. Davika hanya tersenyum malu. Viko mendengus kikuk dan mengusek-ngusek tengkuknya. Pemuda itu lupa mematikan sambungan teleponnya dengan Kasya. Sementara itu, di dalam kelasnya, Kasya yang mendengar semuanya hanya bisa tersenyum pahit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN