“Viko, aku pulang bareng Kasya, ya. Aku takut dia pulang sendiri dalam keadaannya masih kacau begini,” ucap Davika.
Viko tersenyum dan menepuk kepala gadis itu, “Oke. Kalian hati-hati, ya,” ucapnya lalu menatap Kasya.
Mata Kasya terlihat sembab. Dia duduk di kursi kemudi dengan pintu yang masih terbuka. Ketika Viko menatapnya, gadis itu hanya mengangguk lesu.
Davika mengitari bagian depan mobil dan masuk ke kursi depan samping kemudi. Viko lantas berbisik pada Kasya.
“Aku akan ke rumahmu nanti.” Setelah mengatakan itu, Viko mundur dan melambaikan tangannya. Kasya menarik seulas senyum lalu menutup pintu mobilnya dan menginjak gas mobil keluar dari area SMA Bangsa.
Viko masih mengawasi hingga mobil Kasya sampai di jalan raya dan menjauh. Pemuda itu lari-lari kecil mendekati motornya yang terparkir di parkiran motor.
“Buru-buru amat, Vik. Tidak mau nongkrong dulu?” tanya Deo yang juga baru sampai di parkiran.
Viko merogoh kantongnya dan mengeluarkan kunci motor dengan gantungan tabung kaca kecil berisi miniatur kapal mini yang terbuat dari daun jagung kering. Davika yang membeli ini di pasar malam dan memberikannya pada Viko. Entah Viko memang menyukai benda itu atau pemberi benda itu, dia memutuskan untuk menjadikannya gantungan kunci motor.
“Aku ada urusan lain jadi harus cepat pulang,” tolak Viko, “kamu mau nongkrong ke mana memang?”
“Biasa, MoonCoffee sambil ngerjain makalah Biologi. Nih, aku udah kumpulin semua bahan-bahan materinya,” jawab Deo sembari memperlihatkan beberapa buku di dalam tas nya yang terbuka. “Yeri sama Mira ikutan juga. Beneran kamu tidak mau ikutan?” tanya pemuda itu memastikan.
Viko meringis dan menggeleng, “Tidak, deh. Lain kali saja. Makalah Biologi juga masih lama kumpulnya,” kukuh Viko. Pemuda itu menaiki motornya dan mulai memasang helm-nya.
“Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut. Eh, by the way, yang masalah Kasya itu ... udah kelar tidak, sih?” Deo mulai melancarkan aksi korek-korek info.
Viko melirik temannya itu, “Tidak tahu juga. Aku tidak peduli dengan begituan.”
“ Masa, sih? ‘Kan di sini kamu yang digosipkan bersama Kasya. Kamu tidak merasa risih atau gimana, gitu?”
“Tidak, kok. Santai aja.”
“Eh tapi, kasihan si Kasya, sampai digituin sama Medha. ‘Kan bukan cuma Kasya yang ngelakuin itu. Banyak, kok, cewek di luar sana yang kadang pacaran sama pacar temennya.” Deo berargumen.
“Yang aku tangkap dari omongan kamu tuh, kamu tuduh aku main sama Kasya,” celetuk Viko dengan nada tersinggung.
“Eh, kamu tersinggung, ya?” Mata Deo berkilat cerah.
“Ya, jelaslah! Bener-bener ya kamu, cowok mulut gosip. Cowok yang di gosipin sama Kasya ‘kan aku. Jelas dong kalau aku merasa tersinggung. Itu artinya kamu percaya juga sama kabar itu, ‘kan?” tuntut Viko.
Deo tertawa kering dan menyatukan telapak tangannya di depan d**a, “Maaf, Vik. Bukan bermaksud menuduh. Aku cuma bingung aja, di antara banyaknya cewek yang main sama pacar orang, kenapa harus Kasya yang kena getahnya? Padahal itu tidak benar, ‘kan?”
Viko meneguk ludah gugup dan menurunkan kaca helm-nya, “Aku juga tidak tahu. Tanya sendiri sana sama Medha.”
Viki segera menyalakan mesin motornya dan tancap gas menjauhi parkiran sekolah, tak menghiraukan teriakan gusar Deo yang kesal karena dia pergi begitu saja.
•••
Viko berdiri di depan gerbang rumah Kasya. Mobil gadis itu terlihat sudah terparkir rapi di garasi. Pintu gerbangnya juga tidak terkunci. Dengan hati-hati Viko menggeser gerbang dan masuk ke dalam.
Viko tahu Kasya pasti butuh dia juga saat ini. Gosip yang sebenarnya ‘benar' itu hanya menjadikan Kasya sebagai korban. Viko bahkan tak pernah di tuding-tuding atas gosip itu. Dia geram karena Kasya mengalaminya sendirian.
Motornya dia parkir di warung makan dekat gerbang komplek dan memutuskan berjalan kaki ke rumah Kasya.
Viko takut Davika tiba-tiba muncul dan mengenali motornya. Dia juga sudah memakai sweter hitam dengan tudung kepala agar tidak bisa dikenali. Kini, dia terlihat seprti sosok misterius yang memasuki pekarangan rumah Kasya yang sepi.
Viko baru saja ingin mengetuk pintu rumah Kasya ketika pintu tiba-tiba terbuka dan menampakkan wajah Arni yang terkejut dengan kedatangan sosok berjaket hitam.
“Eh, siapa kamu!” pekik Arni ketakutan.
Viko buru-buru membuka tudung kepalanya, “Ini aku Viko, Kak.”
Arni mendesah lega. Dia membuka lebar pintu dan membiarkan Viko masuk.
“Ah, kamu ngagetin aja. Kukira siapa. Gaya baru, ya?”
Viko meringis pelan, “Semacam itulah.
“Kasya ada di dalam kamarnya. Dia baru aja pulang sekolah dengan wajah kusut. Ada apa, sih? Dia tidak mau ngomong sama aku jadi aku biarin aja dia menyendiri dulu,” terang Arni.
Viko menatap tangga yang mengarah ke lantai dua, “Aku naik ya, Kak?”
Arni mengangguk setuju lalu melengos keluar. Perempuan itu sudah sering bertemu dengan Viko dan tahu kalau pemuda itu teman Kasya.
Viko naik ke lantai dua dan berjalan ke arah kamar Kasya. Pintu kamar gadis itu tertutup rapat. Viko mendekatkan telinganya ke daun pintu dan bisa mendengar suara isakan pelan dari dalam. Dengan pelan, pemuda itu mengetuk pintu kamar Kasya.
“Sya, ini aku Viko. Buka pintunya, ya?” pintanya lembut.
Tak ada suara selama beberapa saat di dalam. Pintu juga tidak terbuka. Namun, Viko tetap bersabar berdiri di luar. Akhirnya setelah cukup lama bersabar, pintu terbuka dan menampakkan wajah Kasya yang kacau.
“Viko ....” Kasya memanggil nama pemuda itu dengan lirih. Air mata perlahan mengalir di pipinya yang sudah basah sejak tadi.
Viko tersenyum pedih. Dia mendekatkan diri dan memeluk Kasya dengan erat. Tangis Kasya pecah lagi untuk kesekian kalinya. Bahu gadis itu terguncang hebat.
Viko membelai rambut gadis itu dengan lembut, tanpa mengatakan apapun. Membiarkan Kasya melampiaskan rasa sedihnya di balik pundak Viko.
“Vik ... kenapa semua orang menganggap aku ini jahat?” tanya Kasya di tengah tangisnya.
“Shh, kamu tidak jahat, Sya. Mereka hanya tak tahu yang sebenarnya,” bisik Viko lembut.
“Mereka menghakimi aku tanpa tahu yang sebenarnya ... bukankah seharusnya Davika yang berada di posisiku saat ini?” tanya Kasya kelu.
“Aku dan kamu lebih dulu saling mengenal, lebih dulu saling suka ... tapi kenapa Davika yang menjadi pacarmu? Bukankah itu artinya dia yang sebenarnya merebutmu dariku?”
Viko ingin menjawab, “Itu karena kamu tidak menerima cintaku waktu itu,” namun dia tak mau membuat Kasya makin hancur. Pemuda itu hanya diam, membiarkan Kasya mengeluarkan semua isi hatinya.
“Aku ... tidak tahu harus buat apa, Vik,” isak Kasya, “di satu sisi, aku menyayangi Davika sebagai teman, hanya dia yang selama ini memahami aku. Di sisi lain, aku hanya akan mendapat sakit dari semua kebohongan ini. Aku ... aku ... harus memilih apa? Tetap bertahan menahan ini atau memberitahu Davika sebenarnya dan mengakhiri pertemanan kami?” tanya Kasya putus asa.
Viko melepas pelukan mereka dan menangkup wajah Kasya dengan telapak tangannya. Ditatapnya netra coklat itu dengan dalam.
“Aku tahu ini sulit, Sya. Aku juga merasakannya. Tapi, aku minta kamu tetap kuat dan terus bertahan, ya? Aku tidak akan membiarkan pertemanan kamu dengan Davika berakhir. Aku janji itu.”
Mata Kasya yang memerah kini memiliki secercah harapan, “Kamu janji?”
Viko mengulum senyum, “Aku janji. Hati aku tetap untuk kamu, Sya. Itu yang harus kamu tahu,” ucapnya lembut.
Kasya menarik senyum kecil dan kembali memeluk Viko. Isakannya perlahan mereda, namun dia masih betah menyandarkan dagu di pundak pemuda itu .