Davika sedang berada di perpustakaan untuk mencari referensi dari tugas makalah yang diberikan oleh guru Biologinya. Dia juga mau mencari buku latihan untuk persiapan menghadapi UN. Gadis itu mengerutkan keningnya ketika fokus membacanya terganggu karena di meja sebelah, dua siswi sedang saling bisik membicarakan sesuatu.
“Hei, ini perpustakaan. Tolong jangan ribut,” tegur Davika baik-baik.
Dua siswi itu menoleh. Siswi yang rambutnya dikuncir mengerutkan kening menatap Davika. “Kami tidak ribut, kok. Kami ngomongnya pelan-pelan.”
“Justru suara bisikan kalian itu mengganggu fokus aku. Kalau mau ngobrol, sebaiknya di luar. Perpustakaan itu tempat membaca dan belajar. Bukan untuk membicarakan hal-hal lain.”
Dua siswi itu memasang wajah tersinggung namun tetap berdiri dan beranjak pergi. Tapi, beberapa langkah kemudian mereka berbalik dan menatap Davika seolah sedang mengingat apakah mereka pernah bertemu dengan gadis yang kini sedang sibuk membaca.
“Eh, kamu Davika?” tanya gadis dengan rambut terurai.
Davika mendongak, “Iya.”
“Ah, jadi kamu korban Kasya, ya? Wah, aku turut bersimpati, Dav. Pasti rasanya sakit ditusuk teman sendiri,” ucap gadis rambut kuncir dengan nada dramatis.
Davika tiba-tiba berdiri dan menatap dua gadis itu dengan datar. “Kalian dapat info itu darimana? Itu semua tidak benar. Kasya hanya temenan biasa dengan Viko. Jangan buat kesimpulan sendiri bahkan menggosipkan sesuatu yang tidak terjadi. Itu termasuk pembullyan, tahu!” jelas Davika kesal.
“Eh? Jadi itu tidak benar?” beo gadis rambut urai.
“Tapi, itu sudah tersebar satu angkatan,” celetuk gadis kuncir kuda.
“Apa?” mata Davika membelalak.
“Jadi, ada grup lambe sekolah yang umumin itu di w******p. Adminnya Zoe. Eh, kamu belum masuk, ya, Dav? Nanti, deh, ku invite ke sana. So, si Zoe lihat Kasya dan Viko lagi jalan-jalan di mal. Jadi, dia sempatin buat foto. Kamu mau lihat?” tawar gadis kuncir kuda dengan semangat. Dia mengulurkan ponselnya pada Davika.
Davika mendesis kesal dan menepis ponsel si kuncir kuda hingga terseret di meja baca. Beruntung, dua centi lagi atau ponsel gadis itu akan mencium lantai. Gadis kuncir kuda itu menjerit panik dan buru-buru mengambil ponselnya.
“Astaga! Dalam satu tahun aku udah ganti ponsel tiga kali. Kalau kali ini rusak lagi, aku bakal dihapus dari kartu keluarga!” pekik gadis itu.
Davika sebenarnya tak suka membuat keributan seperti ini. Tapi, yang jadi korban di sini adalah Kasya. Dia tak mau temannya merasakan hal yang sama sepertinya.
Dengan wajah pongah Davika melipat tangannya di depan d**a. “Jangan coba-coba menyerahkan ponselmu lagi padaku kalau tak ingin dihapus dari kartu keluargamu!” sinisnya lalu mengembalikan buku di rak. Gadis itu lantas keluar perpustakaan.
Namun, langkahnya terhenti ketika gadis rambut terurai memekik heboh sembari melihat layar ponselnya.
“Eh, eh, Kasya lagi di WC, ditahan sama anak IPS 1, weh!” seru gadis itu menepuk-nepuk bahu temannya. Mereka melihat layar ponsel dengan antusias dan beberapa kali memperbesar foto bagian Kasya.
Davika tertegun ketika mendengar nama Kasya. Dia berbalik dan merebut ponsel itu dari tangan gadis rambut terurai. Gadis itu lantas memekik panik, takut ponselnya ikut ditepis ke meja baca.
Davika menatap ponsel itu dengan wajah mematung. Pada foto toilet yang dibagi dalam grup lambe, ada Kasya yang terhimpit di sudut toilet oleh beberapa gadis. Wajah gadis itu datar namun raut takut jelas-jelas terpatri di air mukanya.
Davika menyerahkan kembali ponsel itu pada sang pemilik lalu berlari keluar perpustakaan. Gadis rambut terurai itu bernapas lega dan mengelus-elus ponselnya.
“Untung saja tidak ditepis.”
•••
Kasya sedang membasuh wajahnya di wastafel ketika sekumpulan gadis dari kelas IPS masuk bersamaan. Kasya awalnya tak merasa ganjil. Namun, ketika salah satu cewek menutup pintu dan menguncinya, gadis itu langsung was-was. Dia berusaha bergerak sebiasa mungkin, mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap wajah serta tangannya.
Salah satu gadis dari mereka berdiri di samping Kasya sembari mencuci tangannya. Kasya melirik gadis yang sedang tersenyum miring itu.
“Bagaimana rasanya main belakang dengan pacar orang lain?” tanya gadis itu dengan nada biasa.
Kasya enggan menjawab. Dia melirik tag name gadis itu. Medha.
“Kamu tuli atau bisu?” tanya Medha dengan nada tajam.
Kasta berusaha tak terlihat takut, “Tidak, kok.”
“Wah,” Medha tertawa, “ternyata kamu berani juga pasang wajah begitu, ya?”
“Buat apa aku takut? Kalian tidak akan bisa macam-macam padaku.”
“Kata orang, kamu itu seperti makhluk halus di kelasmu, ya?”
Kasya mengepalkan tangannya.
“Sebenarnya, aku tidak tertarik padamu. Tapi, sekarang aku sangat-sangat tertarik. Kamu itu diam-diam menghanyutkan, ya?” Medha sarkatis.
Gadis itu berbalik dan bersandar pada wastafel. Dia menoleh pada Kasya dan menarik dagu gadis itu hingga wajah mereka hanya berjarak lima centi.
“Aku memang sudah terkenal dengan sebutan preman sekolah dan semacamnya. Tapi, tidak ada yang lebih rendah dari menusuk teman sendiri dari belakang,” lirih Medha. Senyum miring menjadi khas gadis itu.
“Aku tidak melakukan itu,” bantah Kasya pelan. Dia berusaha menjauh namun Medha malah mencengkeram pipinya dengan keras. Kasya meringis kesakitan dan air matanya perlahan mengalir.
Medha berdecak-decak dramatis melihat Kasya yang mulai menangis dalam diam. Dia menggelengkan kepala dengan wajah yang dibuat seolah sedang kasihan pada Kasya.
“Sayang sekali, tidak ada yang luluh pada air mata gadis sepertimu.”
Gadis-gadis lain yang berdiri di sekitar pintu tertawa mengejek. Kasya menggigit bibir dalamnya berusaha menahan isakannya. Dia melepas cengkeraman Medha dari pipinya dan mundur hingga punggungnya menubruk dinding.
Langkah yang salah, karena kini dia justru terjebak di sudut toilet sedangkan Medha terus melangkah maju dengan senyum setannya.
“Aku jadi kasihan pada Davika,” ucap Medha sembari melangkah maju, “kudengar, gadis itu fobia sosial, ya? Wah, kadang emosi gadis seperti itu tidak main-main, loh!”
“Dia tidak akan mempercayai itu!” jerit Kasya tak bisa menahan lagi.
Medha tertawa sinis, “Jadi, kamu sudah mengakui kalau kamu itu ...,” gadis itu mendorong pundak Kasya dengan telunjuknya, “main dengan Viko?”
“Aku tidak main dengan Viko!” jerit Kasya marah. Dia balas mendorong Medha, tak peduli apa yang akan terjadi nanti. Medha sudah kelewatan. Gadis itu mencampuri urusan yang tidak seharusnya dia ada di situ.
Medha melotot marah. Dia bangkit dan berniat membalas perlakuan kasar Kasya, namun suara gedoran dari pintu toilet menghentikannya.
“Siapapun di dalam! Buka pintu ini!” teriak suara itu dari luar.
Teman-teman Medha membelalak panik. Mereka mengenali suara itu. Itu Pak Hardi, guru BK terganas SMA Bangsa. Mereka terlalu panik hingga tak tahu harus melakukan apa.
“Buka pintunya atau saya akan dobrak pintu ini!” teriak Pak Hardi dari luar.
Medha menggeram marah. Seseorang pasti sudah melaporkan kejadian di sini. Tidak mungkin Pak Hardi datang begitu saja menghampiri toilet perempuan seolah mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam.
“Ini bagaimana, Med?” tanya salah seorang temannya dengan wajah panik.
Medha membuang napas dengan gusar lalu mengibaskan tangannya dengan cuek, “Bukain ajalah.”
“Tapi ....”
“BUKA PINTUNYA SEKARANG!” suara Pak Hardi menggelegar dari luar.
“Aku yang akan bertanggungjawab. Aku bakal tanya Pak Hardi biar kalian tidak ikut terseret ke ruang BK.”
Salah seorang teman Medha itu menghela napas berat lalu membuka pintu toilet. Tidak lama berselang, wajah Pak Hardi yang memerah menahan marah kelihatan dengan dua siswa di belakang guru itu. Viko dan Davika.
“Kasya!” Davika merangsek maju dan memeluk Kasya.
Medha yang melihat itu terperangah. Namun belum sempat dia memprotes, Pak Hardi sudah menarik kerah belakang bajunya dan segera menyeretnya pergi.
“Dasar anak nakal! Sudah mendekati Ujian Nasional masih saja mencari masalah. Mau jadi apa kamu nanti, hah?” bentak Pak Hardi berang. Guru itu menatap rombongan Medha dengan memata elangnya, “kalian semua ikut ke ruangan saya juga!”
“Jangan, Pak!” bantah Medha, “saya yang bertanggungjawab atas masalah ini. Mereka tidak tahu apa-apa. Bawa saya saja, ya, Pak,” pinta Medha.
Pak Hardi melotot marah namun akhirnya luluh juga. Medha memang nakal, tapi kesetiaannya dalam berkawan tidak diragukan lagi.
“Baiklah, tapi ini kesempatan terakhir! Saya tidak mau lihat kalian dalam kumpulan pencari masalah!” tegas Pak Hardi lalu menyeret Medha menuju ruangannya. Teman-temannya hanya menunduk di tempat mereka masing-masing.
“Apa lagi yang kalian buat di sini?” tanya Viko datar, “pergi sana!” usirnya.
Teman-teman Medha itu langsung ngacir menjauh.
Viko menatap Davika yang sedang memeriksa Kasya, memastikan tak ada luka fisik.
“Kamu beneran tidak apa-apa?” tanya Davika cemas.
Kasya menggeleng lemah, “Tidak kok, Dav,” ucapnya.
Davika memeriksa gadis itu lagi. Namun, ketika mata mereka bertubrukan, Davika menyadari mata Kasya berkaca-kaca.
“Ada apa?” tanya Davika
“Terima kasih sudah datang menolongku,” ucap Kasya pelan.
Davika tersenyum pelan. Dia terkesiap ketika Kasya tiba-tiba menangis dan memeluknya erat. Davika memutuskan tak bertanya apa pun. Kasya memang tak terluka secara fisik, namun mentalnya yang terluka. Yang perlu dia lakukan sekarang hanyalah diam dan membiarkan Kasya menangis sepuasnya di bahunya.