Davika berjalan beriringan dengan Kasya di koridor SMA Bangsa. Davika tak mau terlalu merepotkan Viko untuk menjemputnya tiap ke sekolah. Akhirnya, dia memutuskan nebeng di Kasya karena papanya juga kadang sudah menghilang saat Davika baru turun sarapan.
Mereka menaiki undakan tangga di mana sekumpulan siswi——satu kelas Kasya——tengah berkumpul dan membicarakan sesuatu. Saat Davika dan Kasya makin mendekat, mereka sontak menatap dua gadis itu dengan tatapan menilai.
“Ini yang kamu bilang?” bisik seorang gadis pada temannya yang lain.
“Iya,” balas temannya berbisik.
“Pantas saja. Wajahnya lugu, mudah saja untuk menusuknya dari belakang.”
“Kalian sedang apa?” tegur Davika.
Sekumpulan siswi yang tadinya berdiri dan menumpukan punggung mereka pada dinding langsung berdiri tegak. Mereka menatap Davika dengan kasihan, sedangkan melihat Kasya seolah seperti bakteri pembawa penyakit. Davika yang menyadari itu mengernyitkan keningnya menatap sekumpulan gadis itu.
“Kalian, kok, lihat Kasya seperti itu?” tanyanya dan menoleh pada Kasya yang menunduk.
“Tidak usah berteman dengannya, Dav,” celetuk salah satu dari mereka.
“Ya. Memangnya kamu mau berteman dengan pengkhianat?” timpal yang lainnya.
“Maksud kalian?” Davika menatap mereka, tak mengerti.
“Dia itu main di belakangmu, tahu!”
“Iya! Aku, sih, sebagai sesama perempuan pastinya tidak tega nusuk teman sendiri dari belakang!”
“Maksud kalian siapa, sih?” tanya Davika masih tak mengerti.
Salah seorang dari mereka bernapas dengan gusar dan melihat Davika dengan tatapan akan-kujelaskan-secara-rinci-agar-otak-mungilmu-mengerti.
“Jadi begini, kemarin dulu aku jalan-jalan ke mal dan lihat Kasya dan Viko berduaan di mal! Mereka kelihatannya akrab banget. Yah, kalau dia bukan teman dekatmu, mungkin aku tak akan ambil pusing. Tapi, Kasya ini kelihatannya dekat banget sama kamu dan dengar-dengar kalian sudah temenan lama, ya? Aku, sih, tidak habis pikir aja. Kok, cewek ini tega banget nusuk kamu dari belakang, apalagi cewek kayak kamu ... eh, maksudnya kamu ‘kan teman dekatnya dia,” cerocos cewek itu menjelaskan panjang lebar.
Kepala Davika mulai memanas. Dia tak terlalu keberatan dikatai cewek ... apapun kelanjutannya, yang pastinya itu berhubungan dengan fobianya. Toh, itu memang kenyataannya. Tapi, dia tak terima Kasya dituduh seperti ini. Dia sudah pernah mengalami yang seperti ini. Dirundung tanpa alasan yang jelas, walaupun kasusnya berbeda lagi. Davika tak mau Kasya berakhir seperti dirinya, terjerat dalam fobia. Walaupun sebenarnya Davika sudah perlahan-lahan lepas dari fobia itu.
“Jadi, maksud kamu Kasya ini main belakang dengan Viko?” tanya Davika.
Sekumpulan cewek itu mengangguk.
Davika menarik napas, menambah pasokan udaranya sebelum menyerocos panjang. “Dengar ya, kalian. Waktu itu Kasya dan Viko tidak berduaan. Aku ada di sana juga. Dan kebetulan waktu itu aku mungkin ke toilet saat kamu melihat mereka. Jadi tolong, ya, jangan nge-judge Kasya seenaknya. Kenapa, sih, orang-orang selalu seperti itu? Menyimpulkan sesuatu tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya? Kami juga ketemu secara kebetulan. Aku dan Viko emang sudah rencanain bakal jalan-jalan ke mal itu sedangkan Kasya kebetulan lagi temenin asistennya beli kebutuhan!”
“Tapi mereka akrab!” bantah Zoe, gadis yang mengaku melihat Viko dan Kasya di mal.
“Apa salahnya mereka akrab? Memangnya mereka tidak boleh ngobrol, begitu?” tanya Davika sinis.
“Dav, aku kasih tahu ini karena kita sesama perempuan!”
“Iya, aku tahu. Tapi, tuduhan kamu itu tidak benar!”
Davika dan Zoe saling melotot. Kasya yang khawatir acara pelototan mereka makin runyam segera menyentuh bahu Davika hingga gadis itu menoleh padanya.
“Sudah, Dav. Ini masih pagi, jangan buat masalah, ya?” pinta Kasya lembut.
“Tapi, dia sudah tuduh kamu sembarangan!”
“Eh, tuduhan aku benar, ya!” Zoe masih ngotot.
Davika makin melebarkan matanya ketika menoleh pada gadis itu. Sontak, nyali Zoe ciut. Jarang-jarang gadis dengan kepribadian SAD itu kelihatan garang begini. Dan sudah jadi hukum alam, setiap orang punya perasaan terpendam dalam diri masing-masing, saat mengeluarkannya mereka akan meluapkan semuanya tanpa ampun.
“Ayo naik, Sya!” ajak Davika dan menarik Kasya ke lantai dua.
Setelah Kasya dan Davika pergi, Zoe melampiaskan rasa kesalnya pada tembok. Dia menatap undakan tangga dengan tatapan datar.
“Sudah dikasih tahu malah ngeyel! Lihat saja nanti, dia pasti akan mengetahui semuanya!”
•••
“Dav, kamu tidak perlu ngelakuin itu,” ucap Kasya saat mereka berhenti depan pintu kelas IPA 1.
Davika memperbaiki cangklongan tasnya sembari tersenyum. “Aku tidak bisa diam saat kamu dituduh seperti itu, Sya.”
“Tapi tetap saja, itu bakal buat mereka benci kamu, Dav.”
“Tidak apa-apa, asal bukan kamu yang membenci aku.”
Atau kamu yang akan membenci aku, Dav. Pikir Kasya tersenyum kecut.
“Ya sudah sana ke kelas kamu. Bel sebentar lagi bunyi,” suruh Davika sembari melihat jam tangannya, “Viko juga belum datang, ya?” gumamnya bertanya.
Kasya yang masih bisa mendengarnya mengendikkan bahu, “Aku tidak tahu.”
Davika mengintip isi kelasnya, “Dia belum ada di kelas.”
“Oke, aku ke kelasku, ya. Bye, Dav!” Kasya beranjak ke kelasnya saat bel berbunyi.
Sebelum memasuki kelas, kakinya berhenti ketika Viko muncul dari tangga sembari berlari-lari kecil. Pemuda itu menatap Kasya sekilas dan tersenyum kecil.
Kasya tak membalas senyum itu. Dia meneruskan langkahnya ke dalam kelas sembari memikirkan tuduhan Zoe dan pembelaan Davika. Gadis itu meletakkan tasnya dan duduk di kursinya. Dia segera membuang muka ke jendela ketika air matanya jatuh. Buru-buru dia mengusapnya dan menggigit bibir dalamnya.
Kasya bertanya-tanya dalam hatinya, apa dia sudah melakukan hal yang benar dengan menyembunyikan semua ini dari Davika? Bagi Kasya, jawabannya adalah tidak. Dia jahat karena telah menyimpan ini bersama Viko. Dadanya terasa sesak ketika mengingat Davika justru membelanya di depan teman sekelasnya dan memilih untuk mempercayainya walaupun Kasya tak membantah tuduhan itu.
“Guys, jam pertama dan kedua kita free! Pak Darmono tidak masuk karena ada urusan keluarga!” Zoe, gadis yang tadi menuduhnya mengumumkan di depan kelas.
Semua teman sekelasnya bersorak, mulai membentuk kelompok-kelompok kecil dan membahas apa saja topik menarik dan terbaru dari i********:. Tak ada yang mengajak Kasya karena sudah tahu gadis itu tak tertarik dengan topik mereka. Oh, ralat. Kecuali Zoe yang kini mendekati Kasya dengan seringaian lebar.
“Seperti biasa, Kasya memang seolah tak terlihat dalam kelas ini,” ucap Zoe dramatis. Gadis itu duduk di kursi kosong samping Kasya.
Kasya mengusap air matanya dan menatap Zoe dengan tegas, “Pergi, Zoe. Aku tidak mau membuat masalah denganmu.”
“Aku juga tidak ... oh, kamu baru saja menangis, ya?”
Kasya memutar bola matanya dan membuang muka ke jendela, seolah Zoe tak ada di sampingnya.
Zoe yang merasa diacuhkan berdecak pelan dan mendekatkan bibirnya pada telinga Kasya.
“Mungkin bagi Davika, kamu dan Viko hanya teman biasa. Tapi bagi aku, tidak. Tatapan kalian menjelaskan semuanya. Aku hanya perlu menunggu untuk menikmati pertunjukan cinta segitiga kalian,” bisik Zoe, “ahh iya. Rangkulan Viko mesra juga, ya. Aku tidak tahu apa yang terjadi kalau Davika melihatnya. Seharusnya, tadi aku bilang itu pada Davika, ‘kan? Tapi, dia pasti tidak memercayai aku. Dia justru memercayai temannya yang telah ... hm, mengkhianatinya atau membohonginya?” Zoe bertanya-tanya dengan nada yang terkesan mengejek.
Kasya mengetatkan rahangnya dan menatap Zoe dengan geram. Zoe menyeringai puas lalu berdiri dan pergi ke tempat duduknya. Gadis itu masih menatap Kasya dengan tatapan nakal membuat Kasya harus menguatkan batinnya menahan hasrat untuk memulai perkelahian dengan Zoe.
Gadis itu lantas berdiri dan berjalan keluar hingga mengundang tatapan bertanya dari orang-orang kelas.
“Ada apa dengannya?” tanya Zaki, sang ketua kelas.
“Tidak tahu,” sahut lainnya, “tapi, dia sempat ngobrol dengan Zoe.”
Semua orang menatap Zoe ingin tahu, kecuali teman satu geng-nya. Zoe tersenyum geli dan mengendikkan bahu tak peduli.
“Hanya percakapan biasa.”