Kasya memanjat pagar tembok dan memasuki kawasan taman Davika. Agak tak lazim memang, tapi Kasya sudah terbiasa mengambil jalan pintas dari situ. Lagipula Riko dan Karina juga tak keberatan kalau-kalau Kasya tiba-tiba muncul dari pintu taman.
Gadis itu nyengir lebar ketika Bi Minah menatapnya dengan cengo saat menjulurkan kepalanya di pintu rumah. Dia masuk dalam rumah sembari tersenyum kikuk.
“Non Kasya ngapain intip-intip?” tanya Bi Minah.
“Saya tidak niat intip rumah ini, kok, Bi. Tadi saya kira Davika ada di sini. Rencananya Kasya mau kagetin, hehehe,” kekeh Kasya.
Bi Minta geleng-geleng kepala sembari tersenyum kecil. Wanita paruh baya itu mengendikkan dagunya ke arah lantai dua.
“Non Davika ada dalam kamarnya, tuh, sama Nyonya. Kayaknya mereka lagi sibuk pilih pakaian untuk Non Davika pakai jalan-jalan.”
Kasya mengangkat alisnya, “Jalan-jalan?”
Bi Minah mengangguk polos, “iya, jalan-jalan. Setiap akhir pekan Non Davika dan Den Viko keluar jalan-jalan, sekalian terapi untuk Non Davika.”
Kasya mengulum bibirnya sembari menggerakkan matanya, sedang berpikir keras.
“Eh, kalau Non Kasya mau naik ke atas, naik saja. Bibi ke belakang dulu, ya,” ucap Bi Minah berlalu ke dapur.
Kasya mengangguk seolah Bi Minah masih melihatnya. Dia menatap ke atas dan menaiki undakan tangga. Gadis itu menatap pintu kamar Davika dan berpikir, tengah memilih untuk masuk atau pulang saja. Akhirnya, dia memilih untuk pulang, namun kemunculan Riko dari tangga menahan langkahnya.
“Eh, Kasya?” panggil Riko. Pria itu memakai setelan jas rapi dan tas kerja menggantung di tangannya.
“Ah ... sore, Om,” sapa Kasya.
“Sore ... kamu kenapa?”
“Anu, Om. Itu ... Kasya mau samperin Davika di dalam kamarnya.”
“Oh ... ya sudah, masuk saja. Om kira tadi siapa yang jalan di lantai dua makanya Om ke sini mau cek. Ternyata kamu, toh,” ucap Riko lalu turun ke lantai satu.
Kasya menarik napas panjang lalu berbalik kembali ke arah kamar Davika. Dia membuka pintu kamar temannya itu. Dan pertama yang dilihat oleh Kasya adalah tumpukan pakaian di atas tempat tidur Davika. Karena terpana melihat pakaian yang menggunung, Kasya tak sadar dia sudah membuka pintu kamar Davika dengan lebar sehingga dua orang yang ada dalam kamar itu melihatnya dengan heran.
“Kasya?” Davika menggumam kaget.
Karina juga terlihat kaget. Namun dengan cepat, wanita itu sadar dari keterkejutannya. Sembari tersenyum riang, Karina menghampiri Kasya dan menariknya mendekati lemari pakaian milik Davika yang hampir kosong melompong.
“Kasya, coba, deh, bantu Tante milihin pakaian untuk Davika! Dari tadi Tante cariin pakaian yang bagus, tapi kelihatannya tidak cocok untuk Davika. Gaya pakaian kamu selalu stylish dan keren menurut Tante. Jadi, tolong bantu, ya!” pinta Karina riang.
Giliran Kasya yang heran. Gadis itu menatap Davika dengan raut cengo.
Davika yang dilihat seperti itu meringis malu, “Ah, Mama berlebihan.”
“Apanya yang berlebihan!” bantah Karina, “ini momen penting untuk Mama. Kenapa tidak kasih tahu Mama kalau kamu sudah pacaran dengan Viko?”
“Ma, tadi kita sudah bahas itu,” ucap Davika datar.
“Tetap saja! Mama juga seharusnya tahu lebih awal kalau kalian sudah pacaran!” ujar Karina dengan raut wajah yang dibuat kesal. “Sya, kamu sudah tahu kalau Davika pacaran dengan Viko?” tanya Karina pada Kasya.
“Ha?” Kasya mengerjap-ngerjapkan matanya lalu mengangguk kaku.
Melihat itu Karina mencebikkan bibirnya lalu beralih pada gunung pakaian yang terbentuk di tempat tidur Davika.
“Ayo, Sya! Sini bantu Tante,” panggil Karina.
Davika dan Kasya saling pandang beberapa saat lalu mengedikkan bahu. Mereka berjalan mendekati Karina dan ikut memilah pakaian-pakaian di tempat tidur.
“Bagaimana kalau yang ini?” Kasya mengangkat kaos abu-abu lengan panjang dengan gambar kelinci putih di bagian d**a, “dan ... ini,” lanjutnya sembari mengangkat celana jenis palazo.
Karina memperhatikan dua jenis pakaian yang ada di tangan Kasya dengan tatapan menilai lalu menggelengkan kepala.
“Bajunya sudah bagus menurut Tante. Tapi, kalau dipasangkan dengan celana model gitu, kayaknya kurang pas, deh. Itu ‘kan celana jaman 60-an.”
Kasya menyingkirkan celana itu lalu memilah celana lain. Sembari memilih, dia berpikir keras, kenapa celana model palazo bisa ada dalam lemari Davika?
“Kalau yang ini, Tante?” tanya Kasya mengangkat celana model cutbray.
Karina mengangguk setuju. Dia memperhatikan kaos,abu-abu dan celana cutbray pilihan Kasya.
“Good. Seleramu bagus, Kasya,” puji Karina.
Kasya tersenyum kecil, “Makasih, Tante.” Dia lalu menoleh menatap Davika, “oh iya, Dav. Nanti bawah bajunya kamu masukin ke dalam celana biar kelihatan bagus, oke?”
Davika yang sedari tadi hanya memperhatikan, mengangguk mengerti.
“Eh, kalau begitu Kasya pulang, ya,” pamit Kasya.
“Kok cepat sekali?” tanya Davika.
“Kamu ‘kan mau keluar. Siap-siap, deh, sebelum Viko datang jemput kamu,” ujar Kasya memasang senyum palsu.
•••
Kasya berdiri di dalam kamarnya dengan wajah tanpa ekspresi. Melalui jendela kamarnya, dia menatap motor yang melaju keluar dari rumah Davika membawa Viko dan teman satu-satunya menuju jalan-jalan akhir pekan.
Gadis itu memegang jeruji jendelanya, jari-jarinya menekuri jeruji itu dengan pandangan yang kosong. Kasya makin bersalah atas keputusannya ini. Namun, semuanya sudah terjadi. Kasya tak bisa begitu saja memberitahu Davika. Membayangkan dirinya membongkar semuanya pada Davika, membuat hal-hal negatif bermunculan dalam pikirannya. Tapi, dia juga tak yakin sanggup menahannya. Menunggu Davika putus dari Viko? Sampai kapan dia harus menunggu. Melihat bagaimana raut wajah bahagia Karina saat tahu putrinya berpacaran dengan Viko membuat hati Kasya bagai dihujam ribuan pisau.
Kalau orangtua sudah beri restu, hubungan pasti akan berjalan mulus. Belum lagi, bagaimana dekatnya Davika dan Viko. Kasya takut Viko malah tenggelam dalam hubungannya dengan Davika dan membuat hati pemuda itu terjerumus pada Davika.
Kasya masih bisa memakai senyum palsunya melihat kedekatan Viko dan Davika. Tapi bagaimana kalau Viko berpaling pada Davika? Kasya tak yakin masih bisa mengandalkan senyum palsunya.
“Kasya?”
Kasya berjengit kaget dan berbalik cepat hingga membuat Arni yang barusan menepuk pundaknya mundur selangkah dengan wajah terkejut.
“Kak Arni! Kamu buat aku kaget, tahu!” sungut Kasya mengelus-elus dadanya.
“Aku juga kaget, tahu!”
Ada yang tak biasa dari interaksi antara tuan dan asisten itu. Interaksi mereka terlalu akrab. Itu karena umur Kasya dan Arni yang tak terpaut jauh. Kasya tak suka membuat orang yang lebih tua darinya harus berbicara hormat padanya, walaupun itu asistennya. Menurutnya, selagi masih dalam batas normal, dia memakluminya.
“Aku mau belanja untuk kebutuhan kamu sebulan ini. Mau ikut? Dari pada mojok seharin dalam kamar,” tawar Arni sekaligus menyindir.
Kasya memonyongkan bibirnya dan mengibas tangannya, mengusir Arni dari kamarnya. “Tega banget katain aku begitu. Udah sana, aku ikut, deh. Sebentar, aku ganti baju!”
Kasya mengganti baju secepat mungkin. Dia bergerak mengeluarkan mobilnya dari garasi. Arni masuk dan duduk di sampingnya. Mereka kini tak terlihat seperti tuan dan asisten namun kakak-adik.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas kenit, mobil Kasya berhenti di depan mal. Dia dan Arni langsung keluar dari mobil dan berjalan ke gedung mal. Mereka menuju bagian penjualan kebutuhan rumah tangga.
“Kasya! Kamu mau ke mana?” tanya Arni sedikit berteriak, karena Kasya malah memilih jalan lain ketika tiba di depan pintu toko.
Kasya menatap Arni dan segera mendekati perempuan itu.
“Eh, anu ... tadi aku lihat temanku di sana. Kamu beli kebutuhan bulanannya sendiri, ya. Aku mau samperin dia. Nanti kalau belanjanya sudah selesai, telepon aku saja,” ucap Kasya lalu segera melangkah pergi.
“Oke,” gumam Arni yang tak didengar Kasya lagi. Cewek itu kini sibuk memilih semua kebutuhan yang tersedia dalam toko itu.
Sementara itu, Kasya mengendap-ngendap di balik etalase sepatu, mengintip Viko dan Davika yang asyik memilih sepatu. Davika terlihat normal-normal saja dan nyaman dengan keramaian di sekitarnya. Melihat itu, Kasya lega. Pramuniaga yang berdiri di dekatnya menatap gadis itu seperti seorang pencuri.
Menyadari itu, Kasya buru-buru memperbaiki gerak-geriknya dan memutuskan untuk menghampiri dua orang itu. Toh, dia secara kebetulan bertemu mereka di sini. Dia tak tahu kalau mereka jalan-jalan ke sini. Apa salahnya menyapa mereka selagi berada di tempat yang sama.
“Hei, kalian di sini juga?” sapa Kasya memasang senyum. Lagi-lagi itu senyum palsu. Di hatinya, terasa perih melihat mereka berjalan berdua seperti ini, bagaikan pasangan normal.
Davika menatapnya kaget sedangkan Viko menatapnya dengan senyum kecil, seolah kehadiran Kasya sangat diharapkan olehnya.
“Kamu, kok, bisa di sini, Sya?” tanya Davika.
“Aku tadi temenin Arni belanja bulanan dan kebetulan lihat kalian di sini, ya udah aku samperin sekalian.”
Davika mengangguk mengerti.
“Kalian lagi beli sepatu?” tanya Kasya.
“Iya, nih. Aku kekurangan stok sepatu di rumah,” keluh Davika.
“Aku juga mau beli, deh. Kebetulan lagi di sini,” putus Kasya lalu mulai memilih sepatu.
Tak butuh waktu beberapa lama dan mereka selesai membeli sepatu masing-masing. Kasya berniat mengajak keduanya ke lantai dua untuk melihat pakaian, sekaligus menikmati kebersamaannya dengan Viko. Lagipula, Arni juga belum meneleponnya. Tapi, ucapannya tertahan ketika Davika menyerahkan paperbag-nya pada Viko dengan ekspresi wajah seakan sedang menahan sesuatu.
“Ehh, di sini ada toilet, kah?” tanya Davika merapatkan pahanya.
Pramuniaga yang berada di dekat situ dan mendengarnya langsung sigap memberitahu arah toilet pada Davika.
“Mau aku temani!” tawar Kasya.
“Tidak usah, Sya. Aku bisa sendiri, kok!” tolak Davika lalu buru-buru menjauh.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Viko setelah Davika pergi.
“Baik, kok. Kamu?”
“Baik juga. Walaupun tadi sedikit bingung hadapi kehebohan Tante Karina,” kekeh Viko.
“Tante Karina pasti suka banget sama kamu, sampai-sampai senang sekali saat tahu kamu pacaran dengan anaknya,” ujar Kasya kecut.
Viko terkekeh pelan dan merangkul Kasya, “Tapi, aku tetap suka sama kamu, kok,” ucapnya.
Kasya menepuk tangan Viko yang melingkar di bahunya dan segera menyingkirkannya. “Nanti Davika lihat.” Gadis itu mengingatkan Viko.
Mereka berdua tertawa pelan dan mulai mengobrol normal sampai Davika muncul kembali. Mereka bertiga lalu naik ke lantai dua.
Davika menggamit lengan Viko dan membawanya ke sebelah kanannya dan Kasya berjalan di sisi kirinya. Ketika berada di eskalator yang kebetulan tak ada orang selain mereka bertiga, Kasya dan Viko menyempatkan waktu untuk saling berpegangan tangan di belakang Davika. Sampai di lantai dua, mereka segera melepasnya sebelum orang lain memergoki mereka dan malah memberitahunya pada Davika.
Kasya tahu ini salah. Namun, pertemuannya dengan Viko terbatas. Di sekolah mereka tak boleh terlihat dekat atau teman-teman yang lain akan mencurigai mereka. Di rumah pun begitu. Kalau Viko bertandang ke rumahnya, dia takut Davika tiba-tiba muncul dan melihat mereka berdua.
Dering ponsel dari saku celana Kasya membuat gadis itu menghentikan kegiatannya memilih pakaian. Dia segera mengangkat telepon dari Arni.
“Halo?”
[“Halo? Sya, kamu di mana? Aku sudah ada di parkiran, nih.”]
“Oh, astaga. Aku di lantai dua!” Kasya menepuk jidatnya.
[“Ya sudah, kalau kamu masih asyik sama temanmu, aku pulang naik taksi saja, ya.”]
“Jangan! Aku juga sudah selesai, kok. Tunggu sebentar, ya. Aku segera turun.”
[“Oke, baik. Kututup teleponnya, ya.”]
“Oke.” Kasya menjauh ponselnya dari telinganya.
“Dav, Viko, kayaknya aku pulang duluan, ya. Kak Arni sudah tungguin aku di bawah,” ringis Kasya.
“Yah, padahal kamu belum selesai milih pakaian,” ucap Davika mencebikkan bibirnya, “kamu hati-hati, ya, pulangnya.”
Kasya mengangguk lalu berbalik menuju eskalator. Beberapa langkah kemudian, dia berbalik lagi dan melihat Viko yang sedang memandangi kepergiannya sementara Davika sudah asyik memilih pakaian.
“Dah,” ucap Kasya tanpa suara dan melambaikan tangannya.
Viko membalas lambaian tangannya dan mengucapkan sesuatu tanpa suara yang membuat Kasya tersenyum kecil sepanjang perjalanannya keluar mal.