Davika memandang layar ponselnya yang menunjukkan roomchat-nya dengan Viko di w******p. Status Viko online sejak tadi namun cowok itu belum mengabarinya sejak pulang sekolah.
Davika melepas ponselnya dan beralih pada gitarnya. Dia membawa gitar itu bersamanya dan duduk di balkon kamar sembari memetikkan dawai gitarnya. Alunan lembut yang dihasilkan oleh petikan tangannya membuat pikirannya menjadi sedikit rileks.
Akhir-akhir ini, Davika merasa hidupnya terasa lebih ‘berisi’. Dia sempat mengecek jadwalnya untuk mengonsumsi obat. Setelah dia pergi bersama mamanya konsultasi di dokter yang satu komplek dengannya, jadwal konsumsi obatnya dikurangi. Dokter itu memuji Davika karena telah mengalami kemajuan pesat. Davika hanya akan meminum obatnya jika dia mulai merasa fobianya kambuh. Dokter itu bahkan memotivasinya agar lebih giat lagi melawan fobianya. Kalau dia berhasil, dia tak perlu lagi mengonsumsi obat.
Hal itu membuat Davika girang. Apalagi saat menyadari dirinya mulai nyaman ketika berada dalam keramaian. Tiap akhir pekan, Viko selalu menemaninya ke pusat perbelanjaan. Dengan berani, Davika kadang membaur dalam keramaian. Pertama mencoba, dia malah ketakutan dan cemas. Tapi, setelah beberapa kali mengulangi, dia mulai terbiasa dan mencoba untuk menikmatinya.
“Davika!”
Davika tersentak ketika suara Kasya memanggilnya. Saking tenggelamnya dalam pikiran, dia tak sadar Kasya sudah duduk di pagar tembok dengan santainya.
Davika berdiri dengan gitar yang masih ada di pelukannya. “Kamu ngapain di situ?” tanyanya.
Di tengah keremangan suasana, Kasya melambaikan tangannya mengajak Davika ikut duduk bersamanya.
“Ayo sini!”
Davika beranjak keluar dari rumahnya dan melewati taman yang hanya di terangi oleh beberapa lampu neon di beberapa sudut. Gitarnya ikut dibawa. Dia menyerahkan gitarnya pada Kasya lalu memanjat tembok dan duduk di samping Kasya.
“Mainin beberapa lagu, dong!” pinta Kasya.
Davika mengangguk setuju. Dia mulai mengejreng dawai gitarnya untuk mencari nada yang tepat. Dia melantunkan lagu ‘Love is You' sementara Kasya menyenandungkan lirik lagu itu dan menikmatinya.
“Menurutmu, Viko itu cowok gimana?” tanya Davika ketika selesai memainkan lagu.
Kasya memutar bola matanya ke atas, “Menurutku, dia cowok yang baik. Buktinya, fobia kamu perlahan hilang sejak kenal dia.”
“Hm, iya. Dia cowok yang baik.” Davika sepakat. Dia menatap taburan bintang di langit malam.
“Aku merasa tersaingi sejak kamu kenal sama dia. Aku cuma bisa jadi temen kamu satu-satunya tapi dia bisa membuatmu punya banyak teman. Aku iri padanya.”
Davika tertawa pelan dan menepuk bahu Kasya, “Tidak usah iri, Sya. Kamu bakal tetap jadi teman dekat aku satu-satunya. Viko ‘kan pacarku.”
Kasya menundukkan kepalanya dan tersenyum kecut. Dia melirik Davika yang memetik dawai gitarnya.
“Davika ....”
“Hm?”
“Apa aku pernah membuat suatu kesalahan yang membuatmu kesal?”
Davika menghentikan petikannya pada dawai gitarnya dan menatap Kasya serius. “Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?”
“Apa aku pernah?”
Dua gadis itu saling pandang beberapa saat. Seolah saling bertelepati, berusaha untuk memahami pikiran masing-masing.
Davika memutuskan kontak mata mereka lebih dulu dan menepuk pundak Kasya sembari tertawa kecil.
“Kamu tidak pernah membuatku kesal, Sya. Justru, aku yang harusnya bertanya kepadamu. Apa aku pernah membuatku kesal?”
“Pernah,” jawab Kasya langsung.
Davika mengangkat alisnya, “Benarkah? Apa yang telah aku lakukan hingga buat kamu kesal?”
Kasya menatap Davika dengan tatapan dalam untuk beberapa saat. Tangan gadis itu mengepal erat, seolah berusaha memendam semua sakit yang telah dirasakannya.
“Kamu merebut Viko dariku! Itu yang membuatku kesal!”
“Sya? Haloo, Kasya!”
Kasya mengerjapkan matanya. Dia melihat Davika melambaikan tangan di depan wajahnya. Gadis itu menunduk, menatap telapak tangannya yang bertumpu pada tembok, tak mengepal seperti dalam pikirannya. Kasya menghela napas lelah. Ya, keberaniannya hanya sebatas halusinasi.
Davika memandang temanmu itu dengan bingung. “Ada apa? Aku tadi bertanya, loh. Tapi, kamu malah melamun.”
“Tidak apa-apa, Dav.”
“Baiklah. Tapi, jawab dulu pertanyaanku tadi!”
“Yang mana?”
“Apa yang telah aku lakukan hingga membuatmu kesal?” Davika mengulang pertanyaannya dengan sabar.
“Tidak ada.”
“Tadi kamu bilang ada!”
“Kamu kok ngotot banget, sih?” tanya Kasya geli.
Davika mencebikkan bibirnya dan mengejreng gitarnya dengan kasar. “Soalnya tadi kamu bilang aku punya salah padamu!”
“Aku hanya bercanda.”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Oh, aku lega mendengarnya.”
Kasya menoleh pada Davika yang tersenyum memandang langit. Gadis itu mendesah pelan.
“Mainkan lagu lagi, dong!” pintanya.
•••
Davika dan Yeri keluar dari perpustakaan dengan tumpukan buku paket di tangan masing-masing. Seperti biasa, setiap jam istirahat tiba dan sebelum menuju kantin untuk makan, mereka akan perpustakaan mengambil buku paket untuk pelajaran selanjutnya secara bergiliran. Kebetulan, saat ini adalah giliran Davika dan Mira. Tapi, Mira tak masuk sekolah karena sakit dan untungnya Yeri menawarkan diri untuk membantu Davika.
Saat masuk dalam kelas, mereka heran karena Viko dan seorang gadis ada dalam kelas hanya berdua saja, terlihat sibuk mengobrol. Mereka tak bisa melihat wajah gadis itu karena duduk di kursi depan, kursi Mira.
“Oh, kamu di sini, Sya?” tanya Davika ketika mengenali gadis itu cukup lama. Dia meletakkan buku paket di meja guru dan mendekati keduanya.
“Ah, iya.” Kasya berbalik cepat dan terlihat gelisah.
Davika memandanginya dengan polos, “Ngapain?”
“Em, itu ... buku. Ya, buku. Aku pinjam catatan Bahasa Inggris kamu, boleh?”
“Oh, boleh kok.” Davika merangsek masuk ke kursinya dan meraba lacinya. Dia mengambil buku bersampul hitam dari dalam sana dan menyodorkan pada Kasya.
“Kenapa minta padaku? Memangnya, teman sekelasmu tidak punya catatan Bahasa Inggris?”
Kasya meringis pelan dan mendekatkan bibirnya ke telinga Davika. “Tulisan teman aku semuanya kayak cakar ayam!” bisiknya.
Dia menjauhkan wajahnya dan terkikik geli. Davika butuh cukup lama mencernanya dan akhirnya ikut terkikik geli.
“Dih, bisik-bisikan! Padahal aku dan Viko ada di sini,” sindir Yeri, “kalian tidak gosipin kami, ‘kan?”
Davika menggeleng, “Tidak kok. Ngapain? Tidak dapat uang juga.”
Yeri cemberut mendengarnya.
Viko memegang pergelangan tangan Davika. “Mau ke kantin?”
Davika mengangguk semangat,” Ayo! Eh, Sya, mau ikut juga?”
Kasya menggeleng dengan senyum ganjal,” Tidak, Dav. Aku bawa bekal, kok.”
“Oh, begitu ya. Oke, deh. Viko, ayo ke kantin!” seru Davika semangat. Dia melingkarkan tangannya pada lengan Viko dengan erat.
Viko tersenyum padanya dan pasangan itu meninggalkan kelas. Kasya yang melihat itu meremas buku Davika.
Yeri menyadarinya. Dia melirik wajah Kasya yang terlalu kentara untuk disebut ekspresi cemburu. Dia menatap buku Davika dan wajah Kasya bergantian.
“Sya? Kamu baik-baik saja, ‘kan?” tanya Yeri memastikan.
Kasya mengedipkan matanya beberapa kali seperti orang yang baru sadar. Dia menatap Yeri dengan alis terangkat. “Hm?” gumamnya bertanya.
“Eh, itu ... buku Davika kamu remas begitu. Kamu baik-baik saja?” tanya Yeri kikuk.
Kasya melihat buku Davika di tangannya. Dia terlihat terkejut dan segera merapikan buku itu. “Ah, aku tidak sengaja.”
“Oh ....” Yeri menatap curiga gadis itu.
Kasya memandang Yeri yang menatapnya dengan intens. Dia segera keluar dari kelas itu tanpa berkata apa pun.
“Kasya.”
Kasya berhenti melangkah ketika Yeri memanggil namanya. Dia menahan napasnya dan berbalik. Berusaha terlihat biasa-biasa saja.
“Iya?”
“Tidak mau ke kantin?”
Jantung Kasya serasa mencelus. Diam-diam dia menghembuskan napas lega.
“’Kan sudah aku bilang. Aku bawa bekal sendiri. Kamu tidak dengar, ya?”
Yeri menatapnya dengan wajah heran lalu berjalan melewatinya, keluar dari kelas sembari menggumam, “Aku ‘kan cuma bertanya. Apa harus, ya, menjawab seperti itu?”
Kasya tersinggung mendengarnya namun dia malas membuat keributan. Gadis itu menuju kelasnya yang kosong dan menyimpan buku Davika di dalam tasnya.
Dia mengambil bekalnya dari dalam tas dan memakannya dalam hening.
Sembari makan, air matanya yang tak bisa ditahan lagi akhirnya jatuh.