Davika 14
Kasya mengemas buku-bukunya ke dalam tas saat bel tanda istirahat berbunyi. Sebelumnya, kelasnya free, namun Kasya memilih untuk tetap buka buku, seolah sibuk mempelajarinya padahal pikirannya tengah melanglang buana.
Dia menghempas punggungnya ke sandaran kursi. Matanya mengamati teman-teman sekelasnya yang berkelompok pergi ke kantin. Tak ada yang mengajaknya bahkan menyapanya seolah dia tak ada di sana. Sikapnya yang cuek saat di sekolah membuat teman-temannya enggan mendekatinya. Baginya, punya teman seperti Davika sudah cukup, dia tak mau menambah populasi penggosip dalam lingkaran hidupmu.
Pertama bertemu dengan Viko di perpustakaan saja cowok itu harus mati-matian mendapatkan perhatiannya. Sayang sekali, sudah berhasil menarik perhatian Kasya, hubungan mereka hanya sebatas komitmen. Kasya yang tak suka jadi bahan perhatian juga meminta Viko merahasiakan kedekatan mereka.
Perut Kasya berbunyi, meminta asupan gizi. Dia mengelus pelan perutnya dengan wajah khawatir, Takur maag-nya kumat. Dia terbiasa membawa bekal, namun hari ini dia tak membawanya karena terlambat bangun. Sebenarnya, Arni bisa saja membuatkan bekal untuknya, tapi tugas Arni di rumahnya hanyalah membantu membereskan rumahnya yang luasnya keterlaluan plus masak makan malam untuknya. Kasya tak suka melebih-lebihkan tugas asistennya itu.
“Kasya!”
Kasya menoleh ke arah pintu dan mendapati Davika, Viko, serta tiga anak lainnya di sana. Kasya mengenali tiga orang itu. Yeri, Mira dan Deo. Saat kelas sepuluh, mereka sekelas namun akhirnya Kasya pindah ke ruangan 2 saat naik kelas sebelas hingga sekarang.
“Ayo, ke kantin!” ajak Davika.
Kasya memaksakan senyumnya, “Em, kayaknya tidak——“
“Lapar itu jangan ditahan. Ayo, ikut bareng kami ke kantin!” Viko memotong.
Kasya bengong di tempat duduknya. Dia tersentak saat Davika sudah ada di dekatnya dan menariknya berdiri.
“Udah, ayo!” Davika menarik Kasya keluar, menghampiri lainnya. Kasya memandang temannya itu dari belakang. Dalam lubuk hatinya, dia lega karena Davika bisa cepat beradaptasi di sekolah. Namun, mengingat siapa dalang di balik semua itu membuat Kasya merasa perih.
Gadis itu mengusap tengkuknya dengan canggung. Dia menatap Viko sekilas dan mendapati cowok itu mengangguk pelan. Akhirnya, Kasya mengangguk setuju dan membiarkan Davika menggandengnya menuju ke kantin bersama Viko dan lainnya.
“Sya, baru pulang dari Belanda lagi, ya?” tanya Yeri.
“Iya.”
“Ah, aku juga pengen rasain gimana rasanya bolak-balik Belanda,” desah Yeri dengan nada berharap.
Kasya tersenyum miris, “Kamu tidak tahu saja gimana rasanya bayangin kalau itu akan menjadi penerbangan terakhir kamu.”
“Maksudnya?” Yeri mengangkat alisnya sebelah.
Deo menyenggol pelan bahu Yeri. “Ck, kecelakaan itu tidak ada yang tahu kapan terjadinya. Bayangin, kamu pergi kunjungi keluarga kamu, terus sudah berharap bakal ketemu mereka tapi pas di jalan takdir malah berkata lain. Ngeri ‘kan?”
“Heh, jangan ngomong sembarangan, ih! Kamu bikin Kasya makin takut!” tegur Mira.
“Tidak usah ngomong begitu kalian berdua. Pamali, tahu!” Viko menimpali.
Sementara Davika hanya menggumam setuju.
Yeri dan Deo saling senggol, saling tuduh hingga mereka tiba di kantin. Rombongan itu memilih meja yang cukup untuk memuat mereka dan kebetulan berada tepat di dekat meja beberapa teman sekelas Kasya.
“Kalian mau pesan apa? Nanti aku aja yang pesanin, daripada repot antrian masing-masing,” tawar Yeri sembari mengedikkan dagunya ke arah antrian yang cukup panjang.
“Aku nasi goreng!” Deo yang paling pertama berseru.
“Samain aja, deh. Dari pada kamu repot ingatnya,” ucap Mira berbaik hati.
“Aku juga nasi goreng saja.” Davika menimpali.
“Kalian berdua?” tanya Yeri memandang Viko dan Kasya bergantian.
“Nasi kuning!”
“Nasi kuning!”
Satu meja itu sontak menatap mereka berdua setelah mengucapkan pesanan mereka bersamaan. Bahkan meja sebelah, tempat teman sekelas Kasya duduk melirik pelan.
“Eh?” Yeri melongo. “O-oke, aku pergi pesan dulu, ya.” Yeri menjauhi meja yang diisi suasana canggung itu.
“Emm, Viko ... kamu tumben doyan nasi kuning?” tanya Deo.
“Hah? Tumben katamu? Maksudnya, Viko barusan pesan nasi kuning di sini gitu?” Mira malah memperjelas.
Deo mengangguk sepakat.
“Memangnya salah kalau Viko barusan pesan nasi kuning? Tidak ‘kan?” Davika tersenyum kecil. “Aku dari awal masuk ke sini pesan mie bakso mulu. Hari ini aku pesan nasi goreng, itu karena aku pengen coba makanan baru di kantin ini. Mungkin Viko juga begitu. Ya ‘kan, Viko?”
Viko menelan ludah, “Iya ... bosan. Aku bosan makan mie bakso, eh maksudnya nasi goreng!”
Kasya diam-diam memalingkan mukanya dan mendesis kecil. Ternyata Viko lebih bodoh berbohong di banding dirinya. Saat itu juga, dia menyadari teman-teman sekelasnya yang sedari tadi menatap ke arah meja mereka langsung buru-buru memalingkan wajah.
“Kasya itu temannya Davika!” salah satu temannya berbisik. Sayang sekali, Kasya masih bisa mendengarnya.
“Davika yang itu?” tanya yang lainnya.
“Iya, yang siswi baru, pacarnya Viko!”
“Mereka pacaran?”
“Ho’oh. Kebetulan aku lewat pas Yeri umumin.”
“Barusan Kasya dan Viko pesen makanan yang sama. Mana pesennya bersamaan lagi!”
“Kesimpulannya ....” satu meja itu saling berpandangan dan pelan-pelan melirik Kasya.
Kasya buru-buru melihat ke arah lain. Hatinya merasa tertohok , membayangkan kesimpulan para penggosip itu bahwa dialah yang menjadi orang ketiga di sini.
“Pesanan datang!” Yeri datang membuah sebuah nampan berisi tiga porsi nasi goreng. Satu pelayan kantin menyusul di belakangnya membawa nampan lain berisi satu porsi nasi goreng dan dua nasi kuning.
Suasana yang agak canggung tadi mulai cair karena Yeri mengeluarkan jurus cerewetnya. Satu meja sampai bingung, Yeri dari mana saja sampai bisa mendapat bahan-bahan obrolan yang bisa di bilang seru.
Viko yang duduk di tengah-tengah Davika dan Kasya terlihat sibuk menikmati makanannya. Namun, tak ada yang menyadari selain Kasya, kaki cowok itu tengah sibuk mencolek sepatu Kasya di bawah meja. Hal itu membuat Kasya tersedak dan Davika buru-buru menyerahkan air padanya.
Kasya melirik Viko. Dia menggigit bibir dalamnya berusaha menahan senyum ketika menyadari raut geli di wajah Viko.
•••
Kasya hampir menutup pintu mobilnya ketika Davika dan Viko berlari-lari kecil ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Kasya keluar dari mobil.
“Davika pulang sama kamu, ya. Motor aku kayaknya lagi mogok,” pinta Viko.
“Oh, iya. Yaudah, pulang bareng aku kalau begitu.” Kasya setuju.
“Tapi, kamu tidak apa-apa kutinggal sendiri?” tanya Davika tidak enak.
“Tidak apa-apa. Deo nanti bantuin aku kok bawa motor ke bengkel. Kamu tenang aja,” ucap Viko menepuk kepala Davika. Kasya langsung memalingkan wajahnya.
“Eh, sebentar,” gumam Davika lalu membongkar isi tasnya. “Astaga! Buku paket Biologi-ku ketinggalan di laci. Pantes aja tasku rasanya ringan banget. Aku ke kelas dulu, ya!”
“Mau ku temani?” tawar Viko.
“Tidak usah, aku bisa sendiri, kok,” tolak Davika lalu berlari kembali ke arah gedung kelas.
Setelah Davika pergi, Viko dan Kasya saling berpandangan. Mereka menjaga jarak agar siswa lainnya yang kebetulan lewat tidak menaruh curiga. Setelah parkiran mobil terlihat sepi, Viko maju selangkah dan bersandar di mobil Kasya.
“Tadi di kantin. Menegangkan banget, ya,” ucap Viko menahan senyum.
“Hm. Rasanya jantungku mau copot.” Kasya tertawa pelan. Gadis itu menunduk dan menendang kerikil-kerikil yang nyasar di beton. “Tapi, teman-teman sekelasku ....”
“Mereka kenapa?”
“Mereka naruh curiga sama kita. Aku tadi sempat dengar separuh percakapan mereka tentang kita,” adu Kasya.
“Kok bisa?”
“Tadi pas kita sebutin pesanan barengan, mereka dengar. Lagian kamu tumben banget pesan nasi kuning. Kukira kamu tidak doyan makan itu.” Kasya menyipitkan matanya menatap Viko.
“Iya, aku memang tidak doyan. Tapi, aku tahu itu makanan kesukaan kamu.”
“Ya, terus? Apa hubungannya?”
“Hm ... mau aja, sih. Soalnya ini kali pertama kita makan bareng lagi setelah beberapa lama. Yah, walaupun tidak berduaan.”
“Pasti Yeri, Mira dan Deo juga naruh curiga sama kita. Mungkin Davika juga,” ucap Kasya nyaris berbisik.
“Kamu tidak usah pikirin yang itu, Sya.”
“Mau bagaimana lagi, Vik? Aku sudah berapa kali berusaha singkirin hal itu dari ingatan aku, tapi tidak bisa. Rasanya tidak enak membohongi temanku sendiri. Padahal Davika dan keluarganya perhatian banget sama aku.”
“Kamu tidak usah merasa bersalah,” ucap Viko lembut, “kita juga tidak menginginkan ini, ‘kan? Kamu sabar, ya. Kita pasti bakal temukan titik terang dari masalah ini,” hibur Viko.
Kasya mengangguk pelan dan memaksakan senyum terbit di bibirnya. Mereka berdua tak berbicara lagi sampai Davika datang.
“Kalian kenapa? Kok diam-diam aja?” tanya Davika.
“Kita tadi ngobrol, kok,” sanggah Kasya, “udah, ayo masuk mobil.”
Davika menurut. Dia melambaikan tangan pada Viko lalu masuk ke dalam mobil.
“Hati-hati, ya,” lirih Viko pada Kasya.
Gadis itu mengangguk dan masuk ke mobilnya.
Viko tetap berdiri di tempatnya, memandangi mobil Kasya yang melaju keluar gerbang sekolah sampai akhirnya dia berjengit kaget ketika seseorang menepuk pundaknya.
“Hah! Kamu lagi, kamu lagi! Doyan banget ngagetin orang!” kesal Viko.
Deo menggaruk tengkuknya, “Ya, maaf. Aku niatnya cuma sapa kamu doang. Kamunya aja yang berlebihan. Motormu mana? Katanya mogok,” tagih Deo.
Viko memutar bola matanya, berlalu dari hadapan Deo dengan tangan dimasukkan ke dalam kantong celana abu-abunya.
“Motorku tidak jadi mogok, kok!” ucapnya sambil lalu.
Deo mengerutkan keningnya menatap punggung cowok itu, “Lah? Maksudnya apaan? Untung belum kupanggilin truk derek!” gerutu cowok itu menuju motornya yang terpasang tali tambang berukuran besar.