Viko menghentikan motornya di depan gerbang rumah Kasya, sedangkan si pemilik rumah meneruskan laju mobilnya sampai ke garasi. Dia membuka helm-nya dan menatap ke arah balkon kamar Davika. Walaupun terhalang gorden, Viko tahu lampu kamar pacarnya itu masih menyala. Ini pertama kalinya dia mendatangi rumah Kasya. Wajar saja jika dia tak tahu apa-apa tentang hubungan Kasya dan Davika sebelumnya.
“Viko!”
Viko memalingkan wajahnya dan mengangkat alisnya pada Kasya yang berdiri di depan pintu rumahnya. Gadis itu melambaikan tangannya, menyuruh Viko mendekat.
“Ada apa?” tanya Viko sembari berlari kecil mendekati gadis itu.
Kasya tersenyum kikuk, “Thank’s udah temenin aku pulang. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot begini.”
“Tidak kok, Sya. Lagipula sudah larut, aku tidak bisa biarin kamu pulang sendiri. Apalagi waktu begini, komplek sekitar sini sudah sepi sekali.”
Kasya tersenyum lega dan langsung memeluk Viko. Pemuda itu langsung terperanjat.
“Aku sayang sama kamu. Aku harap kamu selalu ingat itu saat kamu menghabiskan waktu dengan Davika.”
Viko memejamkan mata sejenak, dia mengeratkan pelukannya pada gadis itu. “Aku juga sayang sama kamu,” bisiknya.
“Kasya? Kamu ada di sana?”
Viko dan Kasya melepas pelukan mereka dan langsung saja panik. Suara Davika di balik pagar tembok membuat dua orang itu kocar-kacir tak tahu berbuat apa.
“Kasya?”
“Eeeh, i-iya, Dav?”
Kasya mendorong Viko dan pemuda itu melotot tak mengerti.
“Sembunyi!” perintah Kasya dengan suara tahan.
“Di mana?” Viko panik.
“Sya?” Suara Davika kembali berkumandang di balik tembok pagar.
Kasya makin panik. Apalagi saat mendengar sesuatu seperti papan yang diinjak. Davika dan dirinya biasa mengobrol sembari duduk di atas tembok setebal tiga puluh centi itu. Karena itu, mereka membuat tangga dari kayu agar memudahkan mereka memanjat. Dulu, Kasya senang kalau mendengar suara Davika dari balik tembok itu karena mempunyai teman ngobrol sembari menikmati hamparan taman dan sunset di sore hari. Tapi kini, dia panik setengah mati karena harus menyembunyikan Viko dari Davika. Dia merasa seperti kena peran sebagai pacar gelap Viko padahal dia yang lebih dulu bertemu dan menyukai cowok itu.
“Garasi! Garasi!” Kasya berusaha untuk menahan ledakan suaranya.
Viko bergegas dan berlari masuk ke garasi. Tepat saat cowok itu masuk ke dalam garasi, kepala Davika menyembul dari balik tembok.
“Kamu ngomong sama siapa, Sya?”
Kasya berbalik. Terlalu cepat hingga membuat Davika melempar pandangan curiga.”
“Eh? Ah ... itu, a-aku abis nelpon, hehehe.” Kasya tertawa kering.
“Oh ....” Davika memandang curiga namun tetap memanjat tembok dan berdiri di atas sana dengan kaki bergelantungan.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Kasya. Menyadari pertanyaannya terkesan agak aneh, dia buru-buru menambahkan, “maksudnya, ini udah larut malam, Dav.” Kasya berusaha memperbaiki gerak tubuhnya agar tak kelihatan sedang menyembunyikan sesuatu. Dia mengeluarkan kunci rumahnya dari kantong celana jeans-nya.
“Anu itu ... tadi aku lihat lampu mobilmu. Jadi, aku ke sini mastiin itu bukan apa-apa. Em, kamu dari mana?”
Keringat dingin mengucur dari baji Kasya. “Anu, dari rumahnya Arni!”
Davika mengerutkan keningnya, “Ngapain kamu di sana?”
“Hah? Ah itu, ngasih tahu aja biar besok langsung ke sini.”
“Biasanya kamu tinggal telepon, kenapa repot-repot ke rumahnya?”
Kasya meneguk ludah susah payah. Ini pertama kalinya dia berbohong pada Davika. Rasa panik sekaligus bersalah bersatu dalam hatinya, membuat dia makin pusing mendapat jawaban untuk mengelak.
“Sya?”
“Anu, sekalian beli kuota internet. Aku juga pengen jalan-jalan jadi sekalian aja langsung ngabarin Arni,” dusta Kasya. Dia pura-pura menyugar rambutnya padahal sedang mengelap keringatnya. Kalau saja cewek itu tidak panik, seharusnya dia tahu Davika tak melihat keringatnya karena keremangan malam.
“Ooh.” Davika menganggukkan kepala. Mimik curiga dari wajahnya hilang.
“Besok sekolah, mending kamu kembali terus tidur,” suruh Kasya sembari tersenyum kecil.
“Oke, deh,” gumam Davika lalu menguap kecil, “aku ke sini cuma mastiin kamu baik-baik aja.”
Gadis itu menuruni tembok dan melambai pada Kasya, “Selamat malam. See you tomorrow!” ucapnya lalu menghilang ke balik tembok.
“Iya, Dav!” Kasya pelan-pelan memanjati tangga kayunya dan mengintip Davika. Temannya itu baru saja menutup pintunya.
Dia turun dan buru-buru masuk ke garasi.
“Viko?” panggilnya nyaris berbisik. Dia takut Davika mendengarnya, walaupun mustahil karena garasinya berada di bagian lain rumahnya, jauh dari rumah Davika.
Viko keluar dari persembunyiannya dengan langkah tertatih-tatih. Dia membungkuk dan menggaruk jari-jari kakinya sembari mendesis.
“Kenapa?” tanya Kasya nyaris tertawa.
“Ah, nyamuk di garasi kamu banyak banget,” keluh Viko berjalan keluar.
Tawa ringan Kasya menyembur, “Ya, maaf. Lagipula cuma itu yang ada di pikiran aku tadi.”
Melihat Kasya tertawa, Viko tersenyum lega. Tiada yang di harapkan olehnya saat ini selain hadirnya tawa itu.
“Ya sudah, aku pulang dulu, ya,” pamit Viko.
“Iya, kamu hati-hati, ya.”
Viko mengangguk dan mencium kening gadis itu. Dia berjalan keluar menyongsong motornya sementara Kasya tetap memandanginya.
Gadis itu meraba keningnya dan menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang ingin menerobos.
Setelah Viko pergi, dia memasuki rumahnya menghampiri kesepian.
•••
“Guys, mereka pacaran, loh!”
Yeri berseru dengan kerasnya saat Viko dan Davika berjalan memasuki kelas. Seisi kelas sontak menatap mereka, melemparkan kata-kata jahil serta suitan-suitan yang memekakkan telinga.
Davika menunduk dan mendesis kesal, sementara itu Viko hanya tersenyum kecil.
“Eh, sudah berapa lama? Kok aku tidak tahu?” tanya Mira heboh.
Yeri mengetuk-ngetuk jarinnya di dagunya. “Aku tahu sudah agak lama. Kayaknya sudah seminggu, deh.”
“Wah, curang!” seru Deo memprovokasi, “masa cuma kamu yang tahu duluan.”
Teman-teman yang lainnya ikut mengeluh membuat Yeri memutar bola matanya jengah.
“Sebenarnya aku juga dari kemarin-kemarin mau bocorin, tapi kurasa itu mengganggu privasi mereka,” ucap Yeri lalu kilatan jahil muncul di matanya, “tapi, aku tidak tahan simpan sendiri, jadi sekalian saja aku umumkan!”
Teman-temannya bersorak menggoda Viko dan Davika yang cuma bisa geleng-geleng kepala di tempat duduk mereka.
“Pj, dong!” goda Mira mencolek dagu Davika.
“Pj, pj, pj, pj!” seru lainnya.
Davika meringsut pada Viko dan berbisik, “Pj itu apa?”
Viko hampir saja menyemburkan tawanya, namun dia menahannya. “Pj itu pajak jadian,” sahutnya berbisik.
“Untuk apa, sih?” Davika menggumam dengan kesal, namun rona di wajahnya tak dapat menampik bahwa gadis itu tengah malu.
“Kebiasaan jaman sekarang,” bisik Viko.
“Terus kamu mau aja kasih mereka?” tanya Davika.
Viko menggeleng geli.
“Cie, cie! Ada diskusi kecil-kecil, nih!” seru Deo membuat lainnya main heboh.
Davika berkedip beberapa kali dan menyentuh kepalanya yang mulai pusing. Napas gadis itu mulai terasa sesak. Viko yang menyadari itu mengode seisi kelas. Dengan cepat, semuanya bungkam dengan canggung.
“Kamu kenapa?” tanya Viko hati-hati.
“Emm ... tidak, kok,” gumam Davika menunduk dan memejamkan mata.
Viko menunduk berusaha menatap wajah gadis itu. Wajah Davika terlihat baik-baik saja, namun rautnya tak berkata demikian.
“So sweet banget, sih!” gumam salah seorang cewek.
“Iya. Rasanya jadi pengen punya pacar cepat-cepat,” sahut lainnya.
“Calon suami sekalian,” timpal lainnya.
Seisi kelas terkikik geli. Davika bahkan ikut membuat seisi kelas agak lega. Kini mereka camkan baik-baik dalam hati; jangan buat kehebohan berlebihan sebelum Davika terbiasa.
Mengapa dikatakan ‘sebelum Davika terbiasa'? Karena mereka yakin suatu saat, Davika akan lepas dari fobianya.
Seisi kelas tak menyadari, seorang gadis mengamati mereka selagi melempar suitan menggoda pada Viko dan Davika.
Gadis itu Kasya.
Dia yang notabenenya kelas XII IPA 2 otomatis melewati kelas Viko dan melihat semuanya. Dia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa cemburu yang menggelegak dalam hatinya. Kasya mengingatkan dirinya bahwa Viko menyayanginya dan semua sikap manis pemuda itu pada temannya hanya topeng belaka.
Kasya memutuskan melanjutkan langkahnya menuju kelas. Namun, dia tersentak kaget dan langsung berhenti ketika suara Davika terdengar memanggil namanya.
“Sya!”
Davika keluar dari kelas dengan Viko yang menyusul di belakangnya. Kasya mengatur napasnya berusaha bersikap sebiasa mungkin.
Satu hal yang perlu Kasya dan Viko syukuri; tak ada yang mengetahui kedekatan mereka di SMA Bangsa. Hanya mereka berdua.
“Viko, ini temanku yang kuceritain itu. Namanya Kasya. Kasya, ini Viko ... em, pacarku.” Davika mengenalkan keduanya.
Kasya dan Viko saling pandang cukup lama lalu tersenyum kaku.
“Ha-hai, aku Kasya.”
“Viko,” balas cowok itu pendek.
“Kalian, kok, kaku banget, sih,” ucap Davika memandang keduanya.
Kasya tertawa pelan, “Tidak kok, Dav,” ucap cewek itu menyentuh lengan Davika dan menatap Viko, “semoga kita bertiga bisa berteman baik.”
Davika mengangguk semangat, “Ya, itu pasti!”
Viko mengangguk-angguk kecil dan membalas tatapan Kasya seolah sedang berusaha membaca pikiran masing-masing.