Chapter 12

1004 Kata
Davika mengerutkan kening ketika melihat Kasya yang kelihatan terlalu buru-buru memakan lauk-pauk di piringnya. Gadis itu menggeleng pelan, berusaha tak berpikir aneh lalu melanjutkan makannya. Sebenarnya, dia merasa curiga sejak tadi sore. Setelah dia memberitahu Kasya bahwa dia telah mempunyai pacar, gadis blasteran itu langsung terlihat kikuk dan gelisah. “Mau tambah lagi, Sya?” tawar Karina ketika melihat lauk-pauk di piring Kasya hampir habis. Kasya menggeleng lalu tersenyum kecil, “Thank’s, Tante. Kasya sudah kenyang, kok.” Karina tersenyum lalu menatap ke arah putrinya yang tengah memakan lauk-pauknya sembari termenung. “Dav?” panggil Karina namun gadis itu tak menjawab. “Davika?” “Eh? Ah iya, Ma?” Davika mendongak dengan cepat. “Makan kok pakai melamun,” tegur Karina, “mau tambah lagi?” “Tidak, Ma. Davika sudah kenyang,” tolak gadis itu. Kasya tiba-tiba berdiri membuat Riko, Karina dan Davika menatapnya. “Maaf, Kasya harus pulang, Om, Tante. Ada urusan penting dan Kasya baru ingat.” Gadis itu tersenyum kikuk. “Terima kasih untuk makan malamnya, Tante. Kasya pergi dulu, ya. Davika, dah!” pamit gadis itu. Setelah keluar dari pintu, Karina langsung menoleh pada Davika, “Sikap Kasya aneh. Kalian tidak bertengkar, ‘kan?” “Tidak, Ma. Davika juga heran sama sikap Kasya,” sahut gadis itu bingung lalu melanjutkan makannya. Riko dan Karina saling menatap lalu menggelengkan kepala. “Mungkin dia ada masalah,” kata Riko prihatin. Karina mempertimbangkan perkataan suaminya lalu mengangguk setuju. ••• Kasya menatap jam dinding di rumahnya. Belum terlalu larut untuk bertandang ke rumah orang. Gadis itu naik ke lantai dua, mengambil jaket dan kunci mobilnya. Dia turun, mengunci pintu rumahnya dan menuju garasi. Dan tak lama, dia segera melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya. Arni, ART-nya yang biasa menyiapkan kebutuhannya kembali ke rumahnya untuk sementara karena Kasya ke Belanda. Besok, Kasya akan menghubungi ART-nya itu agar kembali. Sampai di tempat tujuannya, Kasya segera mengetuk pintu rumah itu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampakkan seorang pemuda. “Kasya? Kamu sudah pulang?” Kasya tersenyum getir lalu menarik pemuda itu keluar dari rumah. “Kamu pacaran sama Kasya, Vik?” tanyanya dengan wajah masam. Pemuda yang ternyata adalah Viko mengangkat alisnya, “Kamu kenal Davika?” Kasya tertawa kecewa, “Kamu masih tanyain itu ke aku? Dia itu teman dekat aku!” Viko mematung. Cowok itu menatap Kasya dengan ekspresi kaku. Dia mulai mengingat-ngingat percakapannya dan Davika saat baru pertama kenal. [“Dia tidak ada di sini. Beberapa hari yang lalu dia keluar negeri. Kalau nanti dia datang, pasti akan kukenalkan kamu padanya. Mungkin kita bertiga bisa jadi teman yang baik!” ujar Davika semangat. Melihat itu, Viko tersenyum kecil. “Bagus. Tapi, temanmu itu memangnya lagi kemana?” “Dia lagi di Be—“] Jadi, ucapan Davika yang terpotong saat itu adalah Belanda? Viko memijit kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pusing. Dia mengingat kembali saat dirinya mengobrol dengan orangtua Davika. [“Sebenarnya, temannya itu mau. Tapi, saya tidak yakin percayakan Davika padanya karena dia sering bepergian keluar negeri. Jangan sampai Davika baru masuk sekolah dan temannya itu harus keluar kota, ‘kan bisa kacau. Davika pasti butuh waktu mencocokkan diri dengan keramaian dan dia pasti butuh orang yang dipercayainya senantiasa ada di sampingnya,”] terang Riko saat itu. “Kamu, kok, jahat banget sih lakuin ini sama aku? Memangnya kamu anggap aku apa, sih?” tanya Kasya kesal. Gadis itu membuang muka, tak ingin Viko tahu dirinya menangis. “Maaf, aku ... aku tidak tahu kalau Davika ternyata teman kamu,” lirih Viko. “Kamu ... kamu jahat.” Kasya tak bisa menahan isakannya lagi. Dia menunduk dan menutup wajahnya. “Maaf, aku terpaksa,” lirih Viko. Pemuda itu maju dan merengkuh Kasya dalam pelukannya, berusaha menenangkan gadis itu. Kini, Viko dilema. Dia menyukai Kasya, namun di sisi lain dia juga bingung pada perasaannya pada Davika. Selain itu, dia bertanggung jawab menjaga hubungan keluarganya dan keluarga Davika. Kasya sontak mundur menjauhi Viko ketika Mama Viko muncul dari dalam rumah. “Siapa, Vik?” teriak wanita itu dari depan pintu. “Ah, ini temanku, Ma! Balas Viko berteriak. Kasya tersenyum kecut mendengar kata ‘teman’ dari Viko. Tapi, dia berusaha tegar. Dia yang memintanya, bukan Viko. “Kenapa tidak diajak masuk?” “Di sini aja, Tante! Saya cuma sebentar, kok.” Kasya berseru dengan suara serak. Sebenarnya tak sopan berteriak pada orangtua, namun Kasya tak memikirkannya karena larut dalam sakit hatinya. Mama Viko menatap mereka sejenak lalu mengendikkan bahu dan masuk ke dalam rumah. “Jelasin ke aku, kenapa kamu bisa pacaran sama Davika? Kamu tidak lupa sama komitmen kita, ‘kan?” tanya Kasya kecut. Viko menatap lama mata cokelat gadis itu di tengah keremangan malam. “Sya, percaya sama aku. Aku sungguh menyukaimu. Aku tidak mungkin melupakan komitmen kita.” Viko masih ingat hari dimana dia menyatakan perasaannya pada Kasya. Gadis itu juga mengaku menyukainya namun dia menolaknya. Kasya percaya, bahwa setiap hubungan pasti ada akhirnya. Hubungan pernikahan saja bisa berakhir baik itu cerai atau saat maut memisahkan apalagi hanya pacaran. Kasya tak mau mengambil resiko sakit hati. Dia terlalu takut menghadapi itu. Dia memutuskan berkomitmen dengan Viko, bahwa mereka akan tetap mempertahankan perasaan masing-masing walaupun tak berpacaran. Dia ingin hubungan yang serius dan Kasya rasa, masa SMA belum waktunya untuk membangun hubungan serius. Namun kini, dia malah mendapat sakit dari keputusannya itu. “Davika yang menyatakan perasaan padaku lebih dulu,” aku Viko, “aku ... aku tidak bisa menolaknya. Orangtua kami berteman dekat. Dan Papa sudah memperingatkan aku lebih dulu agar menjaga hubungan kami. Kalau aku menolaknya, aku takut mengecewakan Papaku. Hanya itu saja, Kasya,” ungkap Viko lemah. Kasya menatap pemuda itu. Raut wajahnya perlahan melunak namun rasa kecewanya tak menghilang. “Aku tidak tahu harus bersikap apa ke depannya. Aku tidak sanggup melihat kalian ....” suara Kasya menghilang. Isakan halus dari bibirnya membuat hati Viko serasa diremas-remas. “Hei, kamu tidak perlu khawatir. Kamu akan tetap orang yang aku sukai. Aku janji,” bisik Viko merengkuh gadis itu. “Tapi bagaimana dengan Davika? Dia teman aku, Vik. Hanya dia yang selalu temani aku sampai sekarang. Aku tidak tega membohonginya seperti ini,” isak Kasya. “Shhh ... aku ngerti itu. Tapi, kita juga tidak bisa memberitahunya begitu saja. Untuk sementara, kita rahasiakan ini darinya, ya?” “Sampai kapan kita merahasiakan ini darinya?” Viko terdiam. Kasya menarik napas lelah, “Kita tidak jahat, ‘kan, menyembunyikan ini dari Davika?” Pemuda itu mengeratkan pelukannya, “Tidak, Sya. Percaya sama aku.” “Jangan berhenti suka sama aku. Please,” lirih Kasya ditengah isakannya. Viko adalah alasan utamanya tetap bertahan di Indonesia. Berusaha hidup mandiri demi pemuda itu dan jauh dari keluarganya. Rasanya sangatsedih ketika mengetahui Papanya sakit keras sementara dia tak bisa terus-terusan berada di dekat papanya. “Tidak akan.” Viko mengeratkan pelukannya. “Janji?” Viko terdiam sejenak, “Janji.” Viko menggigit bibir dalamnya. Dia merasakan firasat buruk akan janjinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN