Seorang gadis memasuki rumah Davika yang pintunya terbuka lebar. Tangannya menenteng dua paperbag. Dia berhenti di depan pintu. Mata cokelat terangnya mengamati isi rumah yang terlihat sepi. Kaki jenjangnya melangkah masuk menuju dapur. Sembari berjalan, gadis itu menyugar rambut cokelat sebahunya.
Sesampainya di dapur, bibir tipisnya menyunggingkan senyum kecil ketika melihat Karina tengah sibuk memasak.
“Hai, Tante!” sapanya riang.
Karina langsung berbalik. Matanya melotot kaget ketika melihat sosok gadis yang menyapanya. “Kasya! Astaga, kamu kapan pulangnya dari Belanda, Sayang?” seru Karina antusias. Dia mengelap tangannya dan segera memeluk teman dekat putrinya itu.
Setelah melepas pelukan mereka, Kasya menjawab, “Tadi pagi, Tante. Maaf, ya, Kasya baru datang sore ini. Tadi Kasya ketiduran,” ucap Kasya dengan bibir mencebik. Namun, dengan cepat senyumannya kembali.
“Oh, iya, ini oleh-oleh untuk Tante,” ucap Kasya riang lalu mengeluarkan Keramik Delft Blue dari dalam salah satu paperbag yang dibawanya.
Karina berbinar senang, “Astaga, Kasya! Ini bagus banget. Makasih, ya, Nak!” ucap Karina antusias. “Oh iya, Tante lagi masak banyak, nih. Kamu ikut makan malam bareng disini aja, ya?” tawar Karina.
Kasya mengangguk semangat, “Oke, Tante!”
Gadis itu melirik ke lantai atas. “Umm, Tante, Davika ada di atas?”
“Oh, Davika?” beo Karina lalu tersenyum, “dia belum pulang sekolah.”
“Oo— eh? Belum pulang sekolah? Maksudnya, Tante?” tanya Kasya kaget.
“Iya, dia belum pulang sekolah,” ulang Karina lalu menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore, “harusnya dia sudah pulang kalau jam segini. Tapi, tadi dia nelpon Tante, katanya mau singgah di toko buku sebentar.”
“Ta-tapi, Tante. Kok, Davika bisa sekolah? Perasaan, sebelum Kasya pergi, Davika masih homeschooling, tapi ini ....”
“Hm, iya. Waktu kamu di Belanda, Davika dikenalin sama anak teman Papanya. Mereka cepat akrab dan waktu Davika dibujuk supaya masuk sekolah, Davika mau asal satu sekolah dan dekat terus sama anak itu. Eh, dia sekolah di SMA Bangsa, loh! Satu sekolah sama kamu,” ungkap Karina antusias sembari mengiris bawang merah. “Kamu tahu, ‘kan Davika tidak mungkin harus diam di rumah terus. Dia juga harus berbaur lagi sama dunia luar. Maaf, Tante dulu tidak bisa percayakan Davika pada kamu karena kamu sering ke Belanda. Tante sama Om takut, pas Davika belum bisa menyesuaikan dirinya di sekolah, kamu harus pergi ke Belanda,” ujar Karina menyesal.
Kasya menganggukkkan kepala dengan canggung, “tidak apa-apa, Tante.”
“Tapi, sekarang kamu tenang saja. Kamu sudah punya rekan untuk bantu Davika beradaptasi di sekolah. Oh iya, Davika juga sudah mulai agak berani ke pusat perbelanjaan atau pasar malam. Yah, walaupun dia kadang masih suka ketakutan. Tante tidak lihat langsung, sih. Cuma temannya itu yang ceritakan ke Tante,” ungkap Karina.
Kasya mengernyitkan kening mendengarkan penjelasan Karina. Kurang lebih dua minggu dia ke Belanda menjenguk papanya yang sakit dan saat dia pulang, Davika ... berubah? Dia sudah lama berteman dengan Davika, namun dia tidak mampu membuat Davika bepergian ke keramaian seperti orang itu. Kasya jadi ingin tahu siapa sosok yang menggantikan dirinya sebagai teman dekat Davika selama dia tidak di sini.
“Emm ... Tante?”
“Iya, Sya?”
“Orang yang Tante maksud itu siapa? Yang jadi teman Davika selama Kasya tidak di sini.”
“Oh, dia Vi—“
“Sore, Ma! Davika pulang!” seruan Davika terdengar. Karina dan Kasya bergegas meninggalkan dapur, menghampiri Davika di depan.
“Mama ... Kasya! Kamu sudah pulang?” pekik Davika antusias. Dia berlari mendekati Kasya dan langsung memeluknya erat. Kasya hampir saja terjungkal jika tak mampu menyeimbangkan tubuhnya.
“Astaga, Davika! Kebiasaan kalau peluk aku, suka main labrak saja, deh!”
“Tidak peduli! Aku kangen banget sama kamu.” Davika makin mengeratkan pelukannya.
Ketika mereka melepas pelukan, Kasya memperhatikan seragam sekolah Davika. “Rasanya pengen nangis lihat kamu pakai seragam sekolah, Dav.”
Davika tersenyum malu-malu, seolah sedang mengingat sesuatu.
“Ya sudah, kalian lanjutin, deh, ngobrol-ngobrolnya. Mama kembali ke dapur dulu, ya!” ujar Karina lalu berbalik menuju dapur. Sesampainya di dapur, wanita itu berteriak, “Kasya, paperbag ini untuk siapa?”
Kasya berjengit, “ahh, sebentar, ya!” ucapnya pada Davika lalu berlari ke dapur. Tak berapa lama, dia kembali sembari menenteng paperbag.
Baru saja Kasya ingin membuka mulutnya, Davika langsung mengangkat tangannya. “Biar kutebak,” ucap Davika menyipitkan matanya, “ole-ole untukku?” terka gadis itu. Setiap pulang dari Belanda, gadis itu selalu membawakan keluarga Davika oleh-oleh.
Kasya tersenyum geli, “jawaban benar!” ucapnya riang lalu mengeluarkan sekotak cokelat dari dalam paperbag.
“Wah, cokelat Belanda!” jerit Davika senang. Dia menatap Kasya dengan wajah penuh terima kasih. Davika membuka kotak cokelat itu dan memakan sepotong cokelat. “Rasanya enak!”
“Baguslah kalau kamu suka. Lain kali kalau ke sana, aku bawain kamu Stroopwafel dan keju Belanda. Rasanya juga tak kalah enak, loh!” terang Kasya dengan mata berbinar.
Davika tertawa dan menyetujuinya. “Ayo kita ke kamarku,” ajaknya lalu menarik Kasya menuju tangga. “Banyak yang harus kita ceritakan!”
“Hm, aku juga ingin tahu siapa yang mampu buat kamu jadi berani,” ucap Kasya dengan nada mengejek.
Davika membuka pintu kamarnya sembari mendesis kesal. Namun, Kasya bisa menangkap raut malu dari wajah temannya itu.
Kasya duduk di kasur, mengamati kamar Davika yang serba biru sedangkan pemilik kamar berdiri di depan meja riasnya sembari melepas blazer abu-abunya yang menandai dia adalah siswa SMA Bangsa. Dia meletakkan blazer itu di kursi dan langsung melempar tubuhnya ke kasur hingga terpantul beberapa kali.
“Jadi, kapan kamu tiba di sini?” tanya Davika. Tangannya mencomot cokelat dan memakannya perlahan.
“Tadi pagi, jam sembilan. Habis itu, aku ketiduran sampai jam dua siang. Makanya aku baru datang sore ini,” terang Kasya.
“Papa kamu gimana? Sudah baikan?”
“Sudah. Dua hari yang lalu Papa keluar di rumah sakit tapi tetap harus konsultasi ke rumah sakit sesuai jadwal yang sudah diatur dokter,” tukas Kasya.
Dia menunduk sedih ketika mengingat Papanya yang menderita kanker paru-paru. Ini juga menjadi waktu terlamanya di Belanda. Sebelumnya, jika ke Belanda, paling lama hanya tiga atau empat hari.
“Kamu sabar, ya. Om Hanson pasti bakal cepet sembuh,” hibur Davika. Gadis itu mengamati wajah Kasya. Papa Kasya merupakan orang Belanda. Namun, wajahnya mewarisi mamanya yang asli Indonesia. Wajahnya tak terlihat seperti orang Belanda. Hanya saja, rambut cokelat terang dan tinggi Kasya yang dia wariskan dari sang papa membuktikan bahwa dia memiliki darah Belanda.
“Hm, aku selalu sabar, kok,” ucap Kasya tersenyum lebar.
Davika menyenggol pelan bahu Kasya, “aku mau tanya, Sya.”
“Apa?”
“Sampai sekarang aku masih tidak tahu alasan kamu tetap bertahan tinggal di sini padahal keluarga kamu sudah pindah ke Belanda.”
“Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan, Dav,” kekeh Kasya.
Davika langsung cemberut, “ya, maksudnya, secara tidak langsung aku tanya alasan kamu tetap bertahan di sini.”
“Kalau aku ikut pindah ke Belanda, aku tidak bakalan ketemu kamu lagi, dong!”
Davika menyipitkan matanya, “aku tidak yakin hanya itu alasannya kamu tetap disini.”
Kasya menghela napas, “repot, Dav. Aku malas urus semua t***k-bengek pindah sekolah, apalagi ini luar negeri,” keluh Kasya, mengingat keluarganya pindah saat dia kelas satu SMA. Namun, bukan hanya itu yang menjadi alasan Kasya tetap bertahan. Masih ada satu alasan lagi. Namun, Kasya memutuskan menyimpannya sendiri.
“Jadi, lulus SMA kamu ada rencana lanjut kuliah di Belanda?”
“Belum tahu.” Kasya mengendikkan bahunya, “aku juga belum lancar bahasa Belanda.”
“Belajar, dong!” gerutu Davika.
“Halah, lupakan!” Kasya memperbaiki duduknya, menghadap Davika, “sekarang giliran kamu cerita tentang teman baru kamu itu.”
Pipi Davika langsung memerah, “emm, Sya. Sebenarnya kami sudah pacaran.”
Mata Kasya melotot sempurna, “dia laki-laki?” tanyanya tak percaya.
Davika mengangguk malu.
“Astaga,” lirih Kasya masih tak percaya. Gadis itu menyugar rambutnya.
“Ahh, jangan seperti itu, Sya! Aku jadi malu,” sungut Davika melempar tubuhnya tengkurap di kasur dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.
Kasya langsung tertawa mendengar Davika yang menggerutu malu di balik bantal. Gadis itu menarik tangan Davika agar duduk kembali. “Maafkan aku. Aku cuma tidak percaya, kamu bisa secepat itu jatuh cinta pada laki-laki.”
“Ahh, rasanya malu sekali harus mengakui ini,” ringis Davika.
Kasya terbahak melihat wajah Davika yang semerah tomat. Gadis itu mencomot cokelat dan memakannya sedikit-sedikit.
“Jadi, siapa pemuda yang mampu membuat kamu jatuh cinta secepat itu?” tanya Kasya di sela-sela kunyahannya.
“Viko,” ucap Davika nyaris berbisik.
Tubuh Kasya langsung mematung, “Viko?” beonya.
Davika mengangguk malu, “iya, Viko. Kamu pasti kenal. Dia, ‘kan satu sekolah sama kita.”
Kasya berharap yang dimaksud Davika bukan Viko yang dikenalnya. Namun, di sekolah hanya ada satu siswa yang bernama Viko.
Dalam sekejap, cokelat yang tadinya terasa manis di mulutnya langsung hambar.