Chapter 10

1808 Kata
Viko menyetir mobilnya menuju rumah Davika saat matahari akan terbenam sebentar lagi. Mereka sudah berpacaran selama empat hari namun ternyata itu belum bisa melepas kecanggungan di antara keduanya. Cowok itu memutuskan bergerak lebih duluan. Sore ini Viko berencana mengajak Davika kencan. Kata kerennya yaitu ngedate. Tapi, dia tak tahu harus mengajak Davika ke mana padahal dia sudah search di internet. Namun, semuanya terlihat norak bagi cowok itu. Dinner di restoran dengan nuansa romantis? Lewat. Dia bukan mau melamar Davika sampai harus menyewa restoran. Bawa ke rooftop dengan banyak bunga serta lilin berpola hati? Lewat juga. Bagi Viko itu namanya hambur-hambur uang. Memangnya pas sudah ngedate, bunga sama lilinnya mau diapakan? Makan tidak, simpan juga untuk apa. Jalan-jalan ke mal? Ah, sudah biasa. Viko maunya yang tidak biasa, cocok untuk anak muda seperti mereka dan pastinya tidak norak. Viko membanting setir membelok masuk ke pekarangan rumah Davika. Seperti biasa, rumah Davika selalu tertutup. Viko menaiki undakan menuju pintu rumah. Viko baru saja ingin mengetuk pintu ketika pintu terbuka dari dalam dan menampakkan Bi Minah dengan penyiram tanaman di tangannya. “Eh ... sore, Bi Minah,” sapa Viko ramah. Bi Minah mengangguk sopan, “Sore, Den. Silakan masuk dulu, Den.” “Davika mana, Bi?” “Oh, ada di atas. Di dalam kamarnya.” “Kalau Om Riko dan Tante Karina?” “Mereka lagi keluar. Den Viko mau saya panggilkan Non Davika?” “Eh, tidak usah, Bi. Biar saya sendiri saja. Em, kamar Davika yang mana?” Bi Minah mengangkat sebelah alisnya kikuk, “Yang pintu warna biru muda, Den. Kalau bisa ngomongnya nanti di sini saja, ya,” ucap Bi Minah tak enak. Viko mengulum bibirnya tersenyum. Dia mengangguk dan menaiki anak tangga sampai di lantai dua. Cowok itu menatap sekelilingnya dan akhirnya mendapat pintu berwarna biru muda. Dia mengetuk pintu dan suara Davika terdengar dari dalam. “Sebentar, Bi!” Viko menahan senyumnya. Ide jahil terbesit di pikirannya. Hitung-hitung biar bisa mencairkan suasana juga. Dia bergeser dan merapat di dinding. “Halo?” Davika membuka pintunya namun tak ada siapa-siapa. “Bi Minah?” Tak ada jawaban apapun. Bulu kuduk Davika meremang. Dia membuka pintu kamarnya makin lebar dan menyadari rumahnya sangat sepi. Mana suasananya sangat mendukung sekali. Hampir senja dan lampu belum dinyalakan. “Bi? Jangan bikin takut Davika, deh!” Belum ada jawaban. Davika mengusap belakang lehernya. Dia berniat menutup pintunya kembali namun sebuah tangan menahannya. “Arghhh!” Davika menjerit keras. Tawa Viko pecah. Cowok itu membungkuk dan memeluk perutnya sendiri. Davika yang pelan-pelan menyadari telah dikerjai oleh Viko merengut dan memukul bahu cowok itu. “Ih, kamu bikin takut-takut aja, deh! “Hahaha! Maaf, maaf. Muka kamu lucu banget kalau lagi takut! Hahaha!” Davika merengut. Namun, lubuk hatinya tengah berbunga-bunga. Empat hari penuh canggung kini berakhir. Em, semoga benar-benar berakhir. “Non? Kok teriak?” seruan Bi Minah terdengar dari lantai satu. “Ah, tidak apa-apa kok, Bi! Tadi ada kecoak yang lewat aja!” sahut Davika. Suara Bi Minah tak terdengar lagi. Mungkin kembali menyibukkan diri. Davika dan Viko saling pandang lalu tertawa. “Jadi, kenapa kamu ke sini?” “Mau ngajak kamu ngedate,” jawab Viko blak-blakan. Davika mengangkat alisnya lalu menatap tubuhnya sendiri. Kaos bermotif doraemon dan celana selutut ditambah belum mandi. Sementara Viko sudah rapi dengan kaos motif garis hitam putih dibalut jaket denim berwarna abu-abu gelap dan celana cardinal hitam panjang. “Ah, iya. Kita sudah pacaran ternyata,” ringis Davika. Viko terkekeh pelan dan mengusap rambut Davika. “Rambut kamu kok rada berminyak? Belum mandi, ya?” tanya Viko hendak mencium telapak tangannya. Davika mendelik dan memukul telapak tangan Viko. “Tidak usah dicium! Udah sana turun. Aku mau mandi dulu.” “Jadi, kamu setuju, nih, aku ajak ngedate?” tanya Viko dengan kilatan jahil. Pipi Davika merona. Dia mendorong Viko menjauhi pintu kamarnya dan segera menutupnya tanpa menjawab kejahilan pemuda itu. Viko geleng-geleng kepala. Dia mendekatkan telapak tangannya yang dipakai mengusap rambut Davika lalu mengendusnya. “Harum, kok,” gumamnya lalu berjalan turun. ••• “Viko ....” Viko berbalik ketika suara Davika mengudara di belakangnya. Matanya melebar takjub ketika melihat penampilan Davika yang sederhana namun terlihat cantik di matanya. Gadis itu memakai baju kaos abu-abu yang bertuliskan ‘Heart’ di bagian d**a dan rok kotak-kotak selutut. Tas selempang tersampir di bahunya. Belum lagi sneakers putih yang membungkus kakinya. “Aku cari di dalam rumah, kamu tidak ada. Kukira kamu pulang, ternyata di sini,” cicit Davika. Viko menarik Davika agar duduk di kursi besi taman dan menatap ke ufuk barat, tempat matahari hampir tenggelam. “Cantik, ‘kan?” Davika menanggapinya dengan senyuman. Dia menikmati pemandangan langit barat yang berwarna jingga. Semburat yang menembus awan-awan tipis terlihat begitu indah. Viko menoleh pelan melihat sejenak wajah Davika dari samping dan kembali meluruskan pandangannya. Pemuda itu memutuskan untuk tak mengucapkan apa-apa, mengizinkan hening mendera mereka untuk sejenak. Setidaknya, dia sudah berhasil mencairkan kecanggungan mereka. Kini, Viko kembali berpikir keras. Dia mengajak Davika ngedate, namun tempat tujuan mereka belum pasti. Pemuda itu memutar otak, berusaha mencari ide. Konyol memang. Detik-detik terakhir mereka ingin pergi dan Viko baru mau mencari tempatnya. Davika masih tenggelam dalam pesona sunset. Viko menatap cewek itu sejenak. Dia mulai memghubung-hubungkan fobia Davika, terapi keramaian sekaligus tempat untuk bersenang-senang. Dan satu tempat terbesit di otak Viko. Pasar malam. Yeah, itu dia! Pekik Viko dalam hati. Pasar malam adalah tempat yang tepat. Di sana pasti ramai. Dia berencana memberikan ‘terapi keramaian’ pada Davika. Selain itu, di sana juga mereka bisa bersenang-senang. Pasar malam juga pas bagi mereka yang masih anak muda. Menghabiskan waktu bersama, menikmati makanan dan berbagai wahana permainan yang sederhana. Viko lebih memilih itu di banding ngedate di restoran, cafe, mal ataupun taman yang bernuansa romantis. Matahari sudah tenggelam. Namun, semburat jingga di langit barat masih ada. Viko berdiri dan mengulurkan tangannya pada Davika. “Ayo!” Davika menerima uluran tangan Viko dan mereka berjalan beriringan. Davika menitipkan pesan pada orangtuanya lewat Bi Minah dan mereka pun bergegas pergi. ••• “Pasar malam?” gumam Davika tak percaya. “Yep, pasar malam!” Viko berseru riang. Dia keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Davika. Gadis itu keluar dengan pelan sembari menatap bianglala yang menjulang tinggi di tengah-tengah pasar. Dia jadi ngeri sendiri saat banyak anak-anak kecil tengah berlari melewati mereka sembari tertawa-tawa. “Viko, ini kita beneran ngedate-nya di pasar malam?” tanya Davika tak percaya. Viko menunduk menatap Davika yang lebih pendek. “Iya. Kenapa?” “Ti-tidak, sih. Tapi, di sini ramai sekali. Nih, bulu roma aku pada naik semua,” cicit Davika memperhatikan lengannya. “Hei, ini akan jadi kencan pertama kita sekaligus terapi keramaianmu.” “Terapi keramaian?” beo Davika. Viko mengangguk semangat, “Sudah kubilang, ‘kan, sebagai teman ... eh, maksudnya sebagai pacar, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Jadi, tolong bantu aku supaya berhasil, ya.” Viko mengedipkan matanya. Davika mengulum bibirnya menahan malu. Hatinya terasa berbunga-bunga mendengar sendiri Viko telah mengakuinya sebagai pacar. “Oke, akan kucoba,” sahut gadis itu setuju. Lagipula, dia sudah bertekad untuk bangkit dari fobianya apapun resikonya. Pasangan yang masih berumur empat hari itu berjalan masuk, menerobos lautan manusia yang memadati bagian depan pasar malam. Suara-suara masalalu kelam memasuki pikiran Davika. Dia hampir limbung, namun Viko menahannya. Gadis itu mendongak, menatap mata Viko yang memberi semangat bisu. Davika tersenyum lalu berdiri tegak. Dia merasakan aliran voltase merambat di sekujur tubuhnya ketika Viko melingkarkan tangan di bahunya. Gadis itu merasa nyaman dan terlindungi. Mereka berdua terus jalan, memasuki bagian tengah pasar malam. “Kamu mau permen kapas?” tanya Viko sembari menunjuk stan yang berwarna pink. Davika mengangguk semangat. Dia sudah lupa kapan terakhir memakan makanan super manis itu. Kelas 5 atau 6 SD? Ah, Davika lupa. “Permen kapasnya satu, ya, Pak!” Viko memesan. “Siap, Mas!” Davika menunggu selagi permen kapasnya dibuat. Dia menatap sekelilingnya. Anak-anak berhamburan di bagian lapangan, bermain spinx yang bersinar ketika melayang ke udara, jeritan-jeritan anak muda yang tengah bermain di permainan perahu terbang memenuhi gendang telinganya. Dan beberapa muda-mudi yang berseru senang ketika berhasil menumbuk tikus nakal dari persembunyiannya. Ya, memang hanya permainan, tapi ada rasa puas tersendiri ketika berhasil membacok kepala tikus buatan itu. Davika ikut merasakan euforianya. Dia tersenyum bahkan tertawa lebar mengamati kegiatan apapun yang di tangkap oleh matanya. Viko hanya diam, menatap gadis itu dari samping. Dilihat dari bahagianya cewek itu, Viko tahu Davika mungkin baru pertama kali ke sini. Eh, ralat. Mungkin pernah, tapi itu sudah lama sekali. “Permen kapasnya, Mas.” Bapak penjual permen kapas menyerahkan satu permen kapas berwarna biru muda. Viko menyerahkan selembar uang sepuluh ribu pada si Bapak. “Terima kasih, ya, Pak.” “Sama-sama, Mas.” Viko menjulurkan permen itu ke depan wajah Davika. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Tangannya mencubit permen itu dan memakannya. “Uh, ini manis sekali!” seru cewek itu, “ayo, cobalah!” Viko ikut mencubit permen itu dan memakannya. Mereka lalu berkeliling pada stan permainan. Sesekali Davika menyentuh kepalanya, mengingat pasar malam adalah tempat yang sangat ramai. Terkadang, dia merasa sesak ketika masuk dalam kerumunan. “Viko, aku mau main yang ini!” pekik Davika berusaha melupakan semua ketakutannya. Tangannya menunjuk permainan memalu tikus. Viko membawanya mendekat, membayar permainan lalu menyerahkan palu karet pada Davika. Viko jadi ngeri sendiri melihat ganasnya gadis itu ketika memalu papan permainan. “Hiya! Mati, mati!” Lelah mengayunkan tangan, Davika berhenti bermain. Permen kapas telah habis. Viko tak sengaja menghabiskannya ketika sedang menonton Davika memalu tikus. Davika tak terlalu peduli Viko dan gadis itu melanjutkan ke stan berikutnya, yaitu melemparkan bola pada tumpukan kaleng dengan jarak 4 meter. Davika diberi kesempatan 3 kali untuk menjatuhkan semua kaleng. Jika berhasil, dia bisa memilih sendiri boneka yang berada di stan itu. Davika menatap kaleng-kaleng yang ada di hadapannya. Dia mengambil ancang-ancang lalu melempar bolanya. Dan ... syut! Sekali tembak, semua kaleng jatuh serempak. Petugas stan menganga lebar. “Aku tidak tahu kamu sehebat itu membidik kalengnya,” puji Viko. Davika yang telah memeluk boneka doraemon besar, hampir seukuran tingginya tersenyum geli. “Kamu tidak tahu, kalau lagi bosan aku suka bermain lempar kasti sendiri dalam kamar.” Viko tertawa mendengarnya. “Kamu mau jagung bakar?” tawar Viko. “Mau!” Davika mengerjap-ngerjapkan matanya penuh semangat. “Kalau begitu, ayo!” Viko melingkarkan lengannya di bahu Davika dan mendekati stan jagung bakar. Asap dari jagung yang baru saja selesai dibakar mengepul, membawa aroma yang menggugah selera. Mereka terpaksa antri sebentar karena banyak orang yang juga sedang memesan jagung bakar. “Astaga, dasar bocah! Hei, jangan lari-lari, nanti kamu hilang!” Davika menoleh pada sumber suara. Alisnya naik ketika melihat cewek berambut ikal sedang menarik kerah baju seorang bocah kisaran umur lima tahun yang merengek. “Yeri?” Gadis yang menarik belakang baju bocah kecil itu menoleh. Matanya berbinar-binar senang ketika melihat Davika. “Hei!” sapa Yeri, “kamu di pasar malam?” tanyanya tak percaya. Gadis itu langsung terperangah ketika cowok di samping Davika ikutan menoleh dan akhirnya menyadari bahwa itu Viko. “Yeri?” “Viko?” “Kamu ngapain di sini?” tanya Viko. Yeri meniup poninya dengan gusar lalu mengendikkan dagunya pada bocah yang tengah merengut. “Nih, adik aku kebelet banget pengen ke sini. Papa sama Mama tidak bisa antar dia jadi terpaksa aku yang temani dia. Mana kakinya tidak bisa diam!” dumel Yeri. Davika dan Viko terkikik geli. “Terus, kalian ngapain di sini?” tanya Yeri, “berdua lagi.” Davika langsung kikuk, “Ah, itu ... Viko kasih aku terapi keramaian!” Davika belum siap mengumumkan hubungannya dengan Viko, jadi dia terpaksa mengelak. Namun, Viko malah menggenggamnya, “Sekaligus nge-date.” Yeri langsung melotot, “Ka-kalian pacaran?” tanyanya tak percaya. Davika mendesis kesal namun Viko hanya mengedipkan sebelah matanya. “Bagaimana? Kok tiba-tiba? Kemarin-kemarin kukira kalian berdua bertengkar karena tidak pernah bertegur sapa ... hei! Kamu mau ke mana?!” Yeri tak sadar jeratan tangannya pada kerah baju adiknya melonggar dan akhirnya bocah kecil itu berlari sembari tertawa-tawa. “Dasar bocah nakal!” pekik Yeri mengejar adiknya. Gadis itu berbalik dan melambaikan tangan pada Davika dan Viko, “sampai ketemu hari Senin!” serunya, menghilang di tengah-tengah kerumunan. “Kenapa kamu memberitahunya?” kesal Davika. “Kenapa harus dirahasiakan?” Viko menahan senyumnya. “Ayo, giliran kita memesan jagung bakar!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN