Chapter 9

1633 Kata
“Aishh, memalukan!” rengek Davika di dalam kamarnya. Gadis itu berguling-guling di tempat tidurnya dengan wajah yang memerah dan masam. Rasa menyesal timbul dalam hatinya. Kenapa dia harus menyatakan perasaannya secepat itu, sih? Kalau saja dia menahannya sebentar lagi, mungkin malam ini dia bisa bergelung nyaman di tempat tidurnya dengan novel setebal 600 halaman di genggamannya. Davika menggigit kuku jarinya yang panjang hingga lecet. Kejadian tadi sore terus saja terbayang-bayang dalam pikirannya membuatnya malu akut. “Eh, sebaiknya kamu pulang. Ini sudah sore.” Itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan Davika setelah menunggu dua menit keheningan yang dibuat Viko tadi. Yang paling membuat malu, Viko hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Bagaimana dia harus berhadapan dengan Viko di sekolah besok? Apa dia harus sok akrab kembali seolah kejadian tadi sore tak pernah ada? Tapi, bagaimana kalau Viko malah mengungkitnya? “Argh!” Davika mengacak-acak rambutnya. Sedari tadi, dia sudah berusaha sibuk. Mulai dari bermain gitar sampai satu dawainya putus. Davika tak tahu apa dia memetik dawai terlalu keras hingga putus atau dawainya memang sudah rapuh. Dia tak ingat. Karena pikirannya saat itu hanya tertuju pada Viko dan pernyataan konyolnya tadi sore. Saat menyadari bermain gitar tak membuatnya melupakan hal memalukan itu, dia mengalihkan kesibukannya pada buku gambar yang mamanya belikan beberapa hari lalu. Tak berhasil juga. Malah membuatnya frustasi karena dia tanpa sadar malah menggambar wajah Viko. Lalu selanjutnya yang di usahakannya adalah memikirkan apapun yang tidak ada Viko sama sekali di dalamnya. Oh, itu tak berhasil juga. Hanya lima detik dan wajah Viko dengan ekspresi tak terbaca muncul kembali di dalam pikirannya. Ya, begitulah. Kadang, saat ingin melupakan sesuatu, kita justru malah mengingatnya. Hal terakhir yang diusahakan Davika adalah membaca novel. Ya, tak berhasil juga. Dia malah tak bisa fokus pada bacaannya dan malah memikirkan Viko lagi. “Aaaah, malu-maluin!” jerit Davika mulai gila. Sepreinya sudah berantakan sana-sini karena dia terlalu banyak gerak. Pintunya mendadak terbuka dan kepala papa dan mamanya muncul, “Apa yang malu-maluin, Davika?” tanya Karina. Davika menoleh lalu bangun. Kedua orangtuanya membulatkan mata melihat penampilan putrinya. Ouch, mengenaskan sekali. Gadis itu masih memakai seragam SMA-nya. Bahkan sepatunya pun belum dilepas. Rambutnya yang tadi tertata rapi kini sudah kusut seperti baru saja berkelahi. Belum lagi tempat tidurnya yang seperti robot pecah. “Astaga ... apa-apaan ini, Dav? Kenapa kamu kacau sekali?” tanya Karina. Dia dan suaminya masuk ke dalam kamar Davika dengan mimik heran campur kaget. “Apa kamu tidak suka dengan sekolahmu? Atau bagaimana?” tanya Riko prihatin. Davika mendesah pelan, “Huh, tidak kok, Pa. Sekolahnya bagus, teman-temanku juga ramah, kok.” Dia ngomong begitu dengan raut wajah lara. Tentu saja orangtuanya tak percaya. “Betul?” Karina memastikan. Davika mengangguk lemah. “Tapi, ini ....” Karina melihat sekelilingnya, “kenapa hancur begini?” “Ah, itu ... Davika kurang kerjaan Pa, Ma.” Karina dan Riko saling pandang. Sejak kapan anak mereka punya hobi menghancurkan kamar sendiri? “Tapi, kamu baik-baik saja ‘kan, Sayang? Tidak ada masalah apapun? Di sekolah atau sama teman-temanmu?” tanya Karina prihatin, “sampai-sampai kamu begini,” gumamnya kasihan. “’Kan, Davika sudah bilang, tidak ada apa-apa, kok. Davika pengen aja hancurin kamar sendiri.” Alasan yang konyol memang. Tapi, Davika belum mau memberitahu orangtuanya perihal tadi sore. Bisa-bisa volume rasa malunya malah bertambah. “Terus siapa yang beresin kamar kamu nanti?” tanya Karina mendadak galak, “kalau Mama sih, tidak mau, ya.” “Nanti——“ “Jangan minta tolong ke Bi Minah!” potong Karina cepat. “Ihh, yang mau minta tolong ke Bi Minah siapa sih, Ma? Davika cuma mau bilang, nanti Davika yang bereskan sendiri.” “Ya sudah kalau begitu. Tapi, kamu benar-benar tidak ada masalah apapun ‘kan?” tanya Karina lagi. Davika menggeleng sabar, “Iya, Mama, iya. Tidak, kok.” Riko dan Karina mengamati putrinya itu, berusaha menemukan kebohongan di sana. Tapi, yang mereka dapat hanya wajah kelelahan. Hari ini putri mereka juga sedikit cerewet kalau ditanya. Mungkin dia sudah tertular sifat-sifat anak sekolah jaman sekarang. “Ya sudah. Rapikan kamar kamu. Habis itu, kamu bersih-bersih dan turun makan malam. Oke?” tutur Karina. Davika mengangguk. Riko dan Karina keluar dari kamar, walaupun sekali-kali mereka menoleh pada Davika yang belum bergerak lagi. “Kamu benar-benar tidak apa-apa, ‘kan, Sayang?” tanya Riko kembali memunculkan kepalanya di balik pintu. Davika meneguk ludah dengan kasar. Dia sudah frustasi mengenai Viko dan orangtuanya malah datang menanyakan pertanyaan secara berulang-ulang sembari menghabiskan stok kesabarannya. Mereka orangtuamu, Dav, pikirnya mengingatkan diri sendiri untuk sabar. Gadis itu menoleh pada papanya dan tersenyum, “Iya, Papa. Bisa tutup pintunya? Davika mau mandi dulu.” “Oh, oke.” ••• Viko memarkir motornya di parkiran siswa lalu melepas helm-nya. Dia merapikan tata rambutnya melalui spionnya sampai seseorang menepuk keras bahunya. “Heyo, Bro! Apa kabar? Si Davika mana?” tanya Deo. Viko meringis dan menyentuh bahunya, “Heyo, heyo! Kamu kalau pukul orang jangan kebablasan, dong!” sungutnya. “Ya maaf. By the way, kamu ke sekolah tidak sama Davika, ya?” “Ngapain kamu nanya begitu?” “Huh, kalau tidak mau jawab, bilang!” sungut Deo, “aku ke kelas duluan!” ketusnya lalu berbalik menjauhi parkiran. Viko memandang temannya itu dengan bingung. Oh, sikap cowok itu plin-plan sekali. Viko menggelengkan kepala pelan, memutuskan untuk melupakan itu. Dia berjalan mendekati gerbang dan singgah di pos satpam untuk menunggu Davika. Kali ini, dia tidak tenang. Apa yang harus dia katakan saat bertemu dengan gadis itu nanti? Sok akrab seperti sebelumnya? Tadi malam cowok itu tidak bisa tidur nyenyak gara-gara pernyataan suka Davika padanya. Dia sendiri juga masih bingung pada perasaannya. Dia tidak tahu, apa dia juga menyukai gadis itu. Dia betah dekat-dekat gadis itu. Walaupun pendiam dan penakut, Viko sangat menyukai kepolosan dan keluguan Davika. Menurutnya, itu sangat menggemaskan. Davika memang tipe cewek yang disukainya. Sikapnya membuat Viko ingin terus melindungi gadis itu. Tapi, di sisi lain dia juga sedang menyukai seseorang. Sayang sekali, hubungan mereka tidak terlalu jelas. “Papa harap kamu juga bisa berteman baik dengan Davika. Papa tidak mau ada masalah di antara kalian yang bisa menyebabkan pertemanan Papa dengan Pak Riko rusak.” Perkataan papanya waktu itu terngiang-ngiang kembali dalam pikirannya. Viko mulai bertanya-tanya, haruskah dia menerima pernyataan Davika? Davika memang bilang bahwa dirinya hanya ingin jujur dan tak memaksakan Viko membalas perasaannya. Tapi, pasti ke depannya pertemanan mereka akan jadi canggung. Selain itu, Davika adalah cewek yang tidak suka memendam perasaannya sendiri. Bagaimana kalau gadis itu menceritakannya pada orangtuanya? Bagaimana kalau orangtua Davika marah karena tahu anak mereka ditolak? Itu pasti berdampak juga pada orangtuanya. Viko tidak mau itu terjadi. “Eh, masih pagi-pagi sudah melamun saja!” suara pak satpam membuyarkan lamunan Viko. Viko tersentak, “eh, iya ... tidak kok, Pak.” “Mikirin apa?” tanya pak satpam sok akrab. “Tidak ada kok, Pak,” dusta Viko. “Nungguin cewek yang kemarin, ya? Siswa baru, kah? Saya baru lihat,” celoteh pak satpam sembari menyesap kopinya. “Eh, iya Pak.” “Ooh, ya sudah. Saya tinggal dulu, ya,” pamit pak satpam itu meninggalkan Viko dan segelas kopi. Viko menatap cangkir kopi itu. Dia sesekali menoleh keluar mengawasi setiap siswa yang baru datang. Ketika melihat jam tangannya, cowok itu mulai gelisah. Lima menit lagi bel berbunyi tapi Davika belum muncul-muncul. Namun, Viko tetap bersabar menunggu di pos satpam. Lima menit berlalu dan bel akhirnya berbunyi. Viko akhirnya terpaksa ke kelas sebelum guru mendahuluinya. Mungkin dia absen hari ini, pikir Viko. Namun, sampai di depan pintu kelas, Viko langsung bingung campur kaget. Masalahnya, dia sudah menunggu hampir lima belas menit di gerbang dan ternyata Davika sudah duduk nyaman di kelas sembari ngobrol dengan Yeri dan Mira. Cowok itu melangkah masuk dan meletakkan tasnya di atas meja. Davika yang menyadari Viko sudah datang langsung membuang muka. “Eh, tumben kamu lambat, Vik?” tanya Yeri, “biasanya cepat, tuh.” Viko duduk di samping Davika sembari membuka tasnya dan menelaah isinya. “Tadi ada sedikit halangan,” dusta Viko lagi. Dia melirik Davika yang malah mengalihkan pandangan pada taman yang ada di bawah. Viko diam-diam mendesah lelah. Seperti dugaannya, dia dan Davika sekarang terjerat dalam suasana awkward. “Tumben kalian diam-diam? Kemarin kalian akrab banget, loh. Terus, kenapa datangnya tidak barengan?” Mira yang pertama kali menangkap suasana awkward itu. “Tidak apa-apa.” “Tidak apa-apa.” Davika dan Viko saling pandang ketika menyadari mereka telah menjawab bersamaan. Beberapa detik kemudian, mereka langsung canggung kembali dan membuang wajah masing-masing. Yeri dan Mira bingung atas sikap keduanya. Baru saja Yeri ingin bertanya, Pak Darman, guru Fisika yang mempunyai rambut ala profesor masuk ke dalam kelas. ••• “Dav, mau ke kantin bareng?” tanya Yeri. Davika menoleh dan mengangguk. Kemarin, Viko mengajaknya ke kantin dan mulai menyadari keramaian itu tak seseram yang selalu dia pikirkan. Davika mulai merasa bahwa dia memang harus melawan fobianya. Dia sudah muak mengonsumsi berbagai obat yang tak memberi pengaruh apa-apa pada fobianya. Walaupun terkadang masalalu itu kembali terngiang-ngiang dalam pikirannya, Davika rasa itu adalah resiko yang harus ditanggungnya. Mungkin dia harus berterima kasih pada Viko karena telah muncul dalam hidupnya .... Davika menggeleng pelan. Viko lagi, Viko lagi. Cowok itu kini berada di sampingnya, sibuk mencoret-coret bagian belakang buku tulis. Sejak jam pertama, mereka belum saling bicara. Davika hanya bisa berdoa dalam hati, semoga teman sekelasnya tak menyadari itu. Dia bergegas merapikan bukunya dan memasukkan ke dalam laci lalu berdiri Namun, gadis itu langsung mematung ketika Viko menahan tangannya. Padahal dia mau ke kantin. “Davika nanti ke kantin bareng aku,” ucap Viko menatap Yeri. Yeri mengangkat sebelah alisnya dan melirik Mira yang juga mendengar Viko mengucapkan itu. Gadis itu mengangguk ragu lalu berkata, “Oke, kalau begitu aku ke kantin sendiri saja.” “Ikut!” seru Mira, “aku juga mau ke kantin.” Lalu, dua cewek itu berjalan keluar kelas, meninggalkan Davika yang enggan bergerak. Dia berusaha mengatur napasnya senormal mungkin agar tak terlihat sedang gugup. Dia ingin berteriak pada beberapa temannya yang sibuk main game di bagian sudut lain kelas namun suaranya juga enggan keluar. “Duduk, Dav.” Viko bersuara. Mungkin Davika hanya berhalusinasi, tapi dia mendengar suara Viko rada serak, seperti orang yang sedang gugup. Davika duduk. Namun, gaya duduknya seperti cacing kepanasan. Kakinya tak berhenti saling mencolek di bawah kursi. Tangannya terus saja mengusek-ngusek belakang lehernya. “Yang kemarin itu ....” Viko menggantungkan ucapannya. Debar jantung Davika tak normal lagi. Dia hanya bisa berharap Viko tak mendengarnya. Dasar jantung nakal! Dumelnya dalam hati. “Ku-kurasa ... aku juga menyukaimu.” Viko gugup setengah mati. Davika sontak menoleh pada cowok itu dengan mulut menganga. Jawaban Viko benar-benar di luar perkiraannya. Dia kira Viko akan menolaknya karena kemarin cowok itu tak mengatakan apapun. Jantung Davika serasa mencelus. Sepertinya dia tak usah menyesali pernyataan sukanya kemarin. “Jadi, kita berpacaran sekarang,” putus Viko mantap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN