Chapter 8

1089 Kata
Dua mata pelajaran telah berhasil dilalui Davika di hari pertamanya. Walaupun tadi ada kendala sedikit. Bu Lisa yang mengajar matematika dan Pak Kumis yang mengajar PKN juga sudah mengerti tabiat Davika. Davika tak tahu apa Pak Kumis itu hanya julukan pada guru PKN-nya itu, namun sosok pria paruh baya itu sempat membuat Davika harus menahan untuk tidak mengikik. Kumisnya yang tebal dan gaya humoris guru itu membuat Davika lebih rileks dibandingkan dengan Bu Lisa yang berwajah datar. Kini, jam istirahat tiba namun dia hanya duduk diam di tempat duduknya, tak berani berkutik. Setelah Pak Kumis tadi keluar, Deo mengajak Viko ke perpustakaan mengambil beberapa buku paket untuk pelajaran selanjutnya. Padahal Davika ingin buang kecil. “Dav, kamu kenapa? Kayak cacing kepanasan,” tanya Yeri yang duduk di belakangnya. Davika berbalik cukup cepat sampai rambutnya menampar pipi Yeri.” “Aduh!” “Eh, ma-maaf, Yeri. Aku ... aku tidak sengaja!” pekik Davika panik. Yeri langsung mengerutkan keningnya. Dia yang kena tamparan tapi yang heboh malah Davika. Gadis itu memutuskan untuk tertawa pelan lalu mengibas tangannya, “Ah, tidak apa-apa kok, Dav. Santai.” “Eh, iya.” “Oh iya, tadi aku perhatikan, kamu duduknya gelisah. Kebelet, ya?” Davika mengangguk ragu. “Lah, kok tidak bilang dari tadi?” heboh Yeri, “ayo sini! Kuantar ke toilet!” Davika tak bergerak. Dia menatap Yeri dengan wajah ragu. “Tidak usah takut sama aku, Dav. Aku orangnya baik, kok. Ayo sini. Kalau kebelet itu tidak boleh ditahan, nanti jadi penyakit. Ayo!” ajak Yeri lalu berjalan duluan Davika buru-buru menyusulnya. Dia tersenyum sebagai balasan ketika beberapa teman sekelasnya memberinya senyuman ramah. “Dav, jadi selama ini kamu homeschooling, ya?” tanya Yeri. “Iya.” “Homeschooling itu bagaimana?” “Lumayan.” “Jadi, kamu homeschooling udah lama banget, ya.” “Iya.” “Sebenarnya, apa yang bikin kamu SAD?” “Heh?” Davika menggumam tersinggung. Yeri seketika panik, “Ma-maksudku Social Anxiety Disorder. Sorry, kalau kamu malah salah paham.” “Tidak apa-apa.” Mereka tiba di toilet. Davika masuk dalam diam, Yeri hanya membasuh tangannya di wastafel sembari memasang mimik murung. Jawaban Davika yang singkat membuat Yeri jadi kikuk. Mulutnya yang selalu cerewet kini ditutup rapat. Dia merasa Davika masih jaga jarak dengannya. Biasanya, setiap ada siswa baru yang nyasar ke kelasnya, Yeri-lah yang paling pertama akrab dengan siswa tersebut. Tidak membedakan gender, semuanya disapu rata oleh Yeri. Tapi kali ini, rasanya susah sekali untuk akrab dengan Davika. Cewek itu polos, lugu dan penakut namun, tertutupnya bikin minta ampun. Ah, Yeri rasanya ingin jadi Viko yang kini akrab dengan gadis itu. Bukan apa-apa, dia hanya suka berteman dengan kepribadian seperti Davika. Rasanya seperti tantangan tersendiri, itu menurut Yeri. “Yeri?” “Eh, kamu sudah selesai?” Davika mengangguk. “Ya sudah, ayo ke kelas,” ajak Yeri berjalan duluan dan Davika menyusulnya. “Perpustakaan itu dimana, sih?” tanya Davika sembari berusaha jalan bersisian dengan Yeri. “Agak jauh. Di lantai satu dan paling ujung. Makanya, Deo sama Viko ambil buku paket sebelum ke kantin, biar nanti pas belajar tiba, tidak perlu buru-buru lagi,” ungkap Yeri. “Di sana ada buku?” Yeri menatap Davika seolah sedang berpikir, lah? perpustakaan memangnya untuk apa? Simpan batu? “Ah, maksudku ada novel atau cerita-cerita mengenai sejarah-sejarah Yunani Romawi? Aku suka baca kisah-kisah tentang Dewa-Dewi,” ralat Davika kikuk. “Oh, tentu!” sahut Yeri riang, “di perpustakaan juga banyak kok ensiklopedia tentang sejarah-sejarah Indonesia!” Davika menatap gadis berambut ikal itu dengan heran. Yeri langsung kikuk sendiri, “Ya, aku salah. Kamu cuma mencari sejarah mengenai Yunani-Romawi.” Davika menahan senyumnya. Yeri mirip mamanya yang cerewetnya tidak bisa di rem. Namun, pikirannya langsung teralihkan ketika Viko memanggilnya. Cowok itu membawa setumpuk buku paket Kimia. “Kamu dari mana?” tanya Viko. “Dari toilet sama Yeri.” “Kamu lapar? Mau ke kantin?” tanya Viko. Davika berpikir sejenak lalu menjawab, “Oke, deh.” Viko masuk ke dalam kelas menyusul Deo yang sudah terlebih dulu meletakkan buku-buku paket di meja guru. “Ayo.” Viko menarik Davika menjauh dari kelas, meninggalkan Deo dan Yeri berdiri menatap mereka di pintu kelas. “Ah, aku tidak pernah secanggung ini ngomong sama anak baru. Cewek itu benar-benar sudah berapa kali membuatku kikuk,” keluh Yeri, “padahal aku menyukainya.” Deo menatap Yeri sembari mengangkat sebelah alisnya, “Kamu ....” Yeri sontak melotot, “Hei, tidak! Maksudku, aku ingin berteman dengannya. Memangnya suka itu cuma berpatok pada satu makna , apa! ‘Kan, suka itu banyak maknanya!” sungut Yeri. “Yah, bagi aku, mustahil banget orang cerewet level kronis kayak kamu susah akrab sama orang baru, tapi aku sudah lihat sendiri Davika itu gimana. Jadi, aku mempercayainya. “Kalian ngomongin apa?” Mira tiba-tiba nimbrung di tengah-tengah membuat keduanya kaget. “Tidak ada,” ucap keduanya lalu bubar, meninggalkan Mira yang masih terheran-heran. ••• Viko dan Davika masih berseragam lengkap SMA Bangsa ketika mereka menikmati matahari yang perlahan-lahan turun di taman rumah Davika. Davika berayun di ayunan sementara Viko duduk dengan kaki di julurkan di kursi besi. “Lumayan ‘kan?” tanya Viko tersenyum kecil. Davika memelankan tempo ayunannya, “Hm, semuanya baik. Tapi, ini masih hari pertama, hari-hari berikutnya aku pasti akan merasa nyaman,” jawabnya optimis. “Aku senang kalau kamu juga senang. Semoga saja, enam bulan ke depan kamu bisa menikmati hari-harimu dengan baik di sekolah.” Davika tersenyum mendengarnya. Ia menatap cowok itu yang sedang asyik sendiri memilin bajunya. “Viko,” panggil gadis itu. “Iya?” “Menurutmu, kita ini apa?” “Hm, teman? Sahabat? Apalah. Dua kata itu memang berbeda tapi bagiku maknanya sama. Terserah kamu, deh, anggap aku ini apa.” Viko tertawa pelan. Senyum Davika sirna. Dia menunduk menatap rumput pendek di bawahnya. Rasa sukanya hanya bertepuk sebelah tangan. Viko tak menyukainya. Sudah jelas dari ucapannya tentang hubungan mereka. Cowok itu menjawab dengan begitu mudahnya, tanpa beban sedikitpun. Tapi, Davika juga bukan tipe manusia yang suka memendam perasaan. Menurutnya, semua unek-unek itu harus dikeluarkan. Memendamnya sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Dan Davika tak suka menyakiti dirinya sendiri. Kalau dia sendiri tak peduli dengan dirinya sendiri, bagaimana dia mau peduli dengan orang lain? Itulah yang sering di katakan oleh papanya. Oh, jangan ikutkan fobianya. Itu masalah yang lain lagi. Gadis itu menarik napas panjang dan menghembusnya dengan keras sampai-sampai Viko mungkin saja mendengarnya. Davika akan jujur pada perasaannya. Jika Viko menolaknya dia akan terima dengan lapang d**a. Setidaknya, Davika sudah mengeluarkan isi hatinya. Jawabannya belakangan saja. “Viko ....” “Iya?” “Aku tahu ini kedengarannya memalukan. Tapi, kalau kamu tak suka dengan apa yang ku ucapkan nanti, aku harap pertemanan kita tetap berlanjut, ya?” “Memangnya kamu mau ngomong apa, Dav?” “Janji, ya. Kamu tidak akan menjauhiku,” pinta Davika. Viko mengerutkan kening lalu mengangguk ragu, “Janji.” “Aku ... aku menyukaimu, Viko,” cicit Davika, “aku tahu, mungkin ini tak masuk akal bagi kamu karena aku ini pengidap SAD. Tapi, aku memang menyukaimu. Maaf, kalau ucapanku ini akan mengusik pikiranmu. Aku tidak berniat memaksakan perasaanku, kok, kalau kamu memang hanya menganggap aku teman. Aku hanya ingin jujur pada kamu. Aku sudah bilang, ‘kan, kalau aku sudah mempercayai seseorang, aku akan terbuka padanya.” Viko tak tahu harus menjawab apa. Itu adalah rangkaian kalimat paling panjang yang Davika ucapkan selama dia mengenal gadis itu. Kalau saja gadis itu tak sedang menyatakan perasaannya, Viko mungkin akan merasa speechless. Tapi, sekarang dia hanya bisa diam. Kepalanya berdenyut-denyut pusing. Seorang gadis pengidap fobia sosial menyatakan perasaan padanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN