Chapter 7

1702 Kata
“Tarik napas ... ya, buang! Ulang beberapa kali sampai kamu merasa tenang, oke?” Karina memberi instruksi pada putrinya. Davika menurut. Dia mengambil napas panjang dan membuangnya perlahan-lahan. Gadis itu mengulanginya hingga beberapa kali, namun tremornya tak kunjung hilang. Seluruh badannya terasa gemetar karena gugup. Kakinya tak henti-hentinya mengetuk lantai yang tak bersalah. Kini, dia telah berseragam rapi seperti anak SMA pada umumnya. Riko yang belum menyelesaikan sarapannya di ruang makan hanya mengamati istri dan anaknya sembari senyum-senyum sendiri. Rasanya lucu sekali melihat mereka. Instruksi yang diberikan Karina pada putrinya seperti mendampingi wanita yang ingin melahirkan saja. “Papa, kapan selesai makan?” tanya Davika yang duduk di ruang keluarga. “Sebentar lagi, Sayang. Memangnya kenapa?” “Sebenarnya sekolah dimulai pukul berapa? Davika tidak terlambat, ‘kan? Apa Viko sudah menunggu di gerbang?” tanyanya tak sabar. Karina tertawa pelan, “Ini baru setengah tujuh, Dav. Kamu ini kayaknya terlalu semangat sampai kepagian begini. Tidak akan terlambat, kok. Viko juga sekarang pasti masih di rumahnya.” “Viko nanti tunggu Davika di gerbang sekolah, ‘kan?” “Iya, iya.” Davika masih melemparkan beberapa pertanyaan lagi. Seperti pembelajaran di sekolah itu seperti apa, upacara itu apa, bahkan masalah kantin pun dipertanyakan, apakah semuanya sama seperti SD atau bagaimana, apa sekolah-sekolah yang di film akan sama seperti sekolahnya nanti dan lain-lain. Untungnya, Karina dengan sabar menjelaskan semuanya sampai suaminya selesai sarapan. Riko berjalan mendekati mereka. Karina berdiri dan merapikan dasi suaminya lalu memberikan tas kerjanya. “Hati-hati, ya,” ucap Karina lalu mencium punggung tangan suaminya. “Mama, Davika sama Papa berangkat dulu,” susul Davika mencium tangan Karina sembari mencangklong tas sekolahnya yang berwarna krem. “Iya, kamu hati-hati, ya. Ingat kata Mama, jangan gugup apalagi takut. Percaya sama Mama, tidak ada yang bakal berani ganggu kamu, oke? Viko akan selalu ada di dekat kamu, jadi kamu tenang saja,” terang Karina. Davika menganggukkan kepala. Dia berjalan keluar dengan kedua orangtuanya keluar rumah dan langsung memasuki mobil. Gadis itu terus saja melambaikan tangannya pada mamanya sampai mereka keluar dari gerbang rumah. “Viko nanti ada di depan gerbang tunggu Davika, ‘kan, Pa?” tanya Davika. “Iya, Sayang. ‘Kan, dia sendiri yang bilang,” jawab Riko sembari menyetir mobil. Matanya tetap fokus ke depan memperhatikan jalan raya. “Papa temani Davika cuma sampai gerbang, ya?” tanya gadis itu lagi. “Iya. Sebenarnya, Papa mau antar kamu sampai ke dalam. Tapi, pagi ini akan ada meeting di kantor. Papa harus datang pagi-pagi untuk persiapan. Maaf, ya, Nak,” ucap Rico mengelus pelan kepala putrinya. “Tidak apa-apa, Pa. Lagipula, Viko ada, kok,” dalih Davika menyemangati dirinya. “Baguslah, kalau kamu sudah akrab dengan Viko. Eh, omong-omong, Kasya juga sekolah di sana. Kalau dia kembali dari Belanda, kamu bisa sama-sama dengannya juga,” tukas Riko. “Wah, benar, Pa?” “Iya.” Lima belas menit waktu yang di tempuh mereka dalam perjalanan menuju SMA Bangsa. Sesampainya di depan gerbang, Viko sudah terlihat berdiri di pos satpam sedang berbincang-bincang dengan satpam di sana. Namun, Davika belum turun dari mobil. Gadis itu malah mengamati siswa-siswi berseragam SMA dibalut dengan blazer abu-abu yang lalu-lalang di gerbang sekolah. “Dav? Kenapa belum turun?” tanya Riko. “Davika takut, Pa,” cicit Davika. “Tidak apa-apa, kok, Sayang. Ingat kata-kata Mamamu tadi, tidak ada yang akan berani ganggu kamu, kok. Oke?” “I-iya, Pa,” ujar Davika ragu. Gadis itu berusaha menetrapkan napasnya yang agak sesak. Dia mencium punggung tangan papanya dan membuka pintu mobil. “Ingat yang Mamamu bilang, tarik napas panjang dan buang pelan-pelan.” Riko mengingatkan dengan mimik geli. Davika mengulum bibirnya dan tersenyum. Dia melambaikan tangan dan menutup pintu mobil. Riko membalas lambaian tangannya dan melajukan mobil menjauhi SMA Bangsa. Kini, dia sendiri. Oh, tidak. Dia tidak sendiri. Tapi, justru saat berada dalam keramaian itulah Davika merasa sendiri. Dia benci perasaan itu. “Tarik napas ... ya, lalu buang!” Davika mengingat kembali perkataan mamanya sembari berjalan mendekati Viko yang berdiri di pos satpam. Dia berjalan dengan gelisah karena beberapa siswa menatapnya. “Eh, dia tidak pakai blazer.” “Siswa baru mungkin?” “Kelas berapa?” “Ya, mana aku tahu! Kamu tanyain langsung, gih!” “Tidak, deh. Nanti saja. Sekarang aku buru-buru. Tugasku belum selesai, nanti Pak Kumis bisa hukum aku lagi.” Davika melirik dua cewek yang melewatinya itu. Kedua cewek itu tersenyum ramah lalu berlalu. Davika mengamati class tag yang ada di bagian lengan kiri cewek-cewek itu. Kelas XI IPA 4. Ternyata adik kelasnya. Davika cukup lega karena menyadari dua orang itu ramah. Semoga semua siswa sama seperti mereka. “Hai, Davika!” panggil Viko sembari mendekat. “Ha-hai, Viko,” balas Davika gugup. “Bagaimana? Bagus, ‘kan?” “Apanya yang bagus?” “Ya, sekolahnya. Bagaimana perasaanmu?” “Cukup baik. Tadi, ada dua adik kelas yang memberi aku senyuman ramah.” Viko mengerutkan kening, “Adik kelas? Kamu tahu dari mana?” Davika menunjuk class tag di lengan kiri Viko “Ah, itu ya. Oke, ayo ikut aku ke TU untuk ambil blazer dan class tag-mu.” Viko menarik Davika masuk area sekolah. Sejak kejadian di KFC kemarin— yang menurut Viko itu sangat menggemaskan— cowok itu tak segan-segan lagi memegang tangan Davika. Dia merasa senang karena itu artinya Davika sudah menerimanya sepenuhnya sebagai temannya. Mereka akhirnya sampai ke dalam ruang TU. Setelah menemui dan berbincang sejenak dengan staf TU, Davika akhirnya menerima blazer abu-abu SMA Bangsa sudah lengkap dengan class tag yang terjahit di bagian lengan kirinya. Sekeluarnya mereka dari ruang TU, Viko menatap Davika dari atas sampai bawah sembari menahan senyum. “Ke-kenapa? Ada yang salah, ya?” tanya Davika salah tingkah. “Tidak ada, kok, justru kamu kelihatan cantik sekarang,” puji Viko manis, “ayo, ke kelas,” ajaknya. Davika membiarkan dirinya di tuntun Viko. Suara-suara di sekitarnya tak mengganggunya lagi. Kini dia justru hanya mendengar suara detak jantungnya yang sepertinya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia pernah baca novel tentang ciri-ciri orang yang jatuh cinta. Jantungnya akan selalu berdebar-debar jika berada di dekat orang itu, akan merasa lebih senang dari biasanya dan merasa agak gugup. Davika menyadari itu semua ada pada dirinya sejak kejadian di KFC. Apa dia mulai jatuh cinta pada Viko? “Davika?” Hancur sudah lamunan Davika. “Eh ... i-iya Viko?” “Kamu kenapa?” “Memangnya aku kenapa?” “Kamu diam-diam aja,” celetuk Viko ketika mereka menaiki tangga menuju lantai dua. “Aku, ‘kan, memang pendiam. Kamu sendiri yang bilang itu,” seloroh Davika polos. Viko tertawa pelan, “iya, deh,” ucapnya dan menepuk kepala Davika. Davika hampir saja mengeluarkan suara tercekik. Untung, dia menahannya. Tambahan lagi bagi Davika, tepukan di kepala juga bisa berdampak besar bagi si cewek. Dalam hati, Davika sudah yakin dia telah jatuh cinta pada cowok yang menganggapnya teman itu. Rasanya mustahil mengingat dia itu fobia sosial. Tapi, kalau kenyataan berkata lain, mustahil pun lewat. “Viko, kelas kita di lantai dua, ya?” tanya Davika berusaha mengalihkan isi kepalanya agar memikirkan hal lain saja. “Iya, dong! Kalau bukan di lantai dua, lalu untuk apa kita capek-capek naik?” Davika tersenyum malu. Diam-diam dia merutuki mulutnya karena telah melontarkan pertanyaan bodoh itu. Mereka berdua akhirnya berbelok masuk ke dalam kelas XII IPA 1. Davika menahan napas ketika melihat isi kelas itu. Sekitar dua puluh lima siswa-siswi kini menatap mereka berdua dengan mimik bertanya-tanya. “Itu siapa, Vik?” tanya salah seorang laki-laki berambut cepak. “Temen baru kita!” seru Viko dan semuanya bersorak senang. Namun tak bertahan lama, karena ujung-ujungnya mereka kembali melemparkan mimik bertanya-tanya. “Siswa baru di kelas tiga semester dua? Emang bisa, ya?” celetuk siswi yang duduk di samping cowok berambut cepak tadi. Cewek itu berambut ikal dan memilik mata yang lebar. “Bisalah,” sahur Viko lalu menatap Davika, “ayo, aku antar ke tempat dudukmu.” Davika menahan tangannya ketika Viko berniat menariknya ke tengah-tengah teman mereka, “Aku duduk di mana?” bisiknya. “Di sebelahku, kok. Tenang aja,” jawab Viko berbisik. Mereka duduk di meja ke tiga dekat jendela. Davika duduk dan meletakkan tasnya di meja sembari menatap keluar jendela. Taman sekolah tepat ada di bawah. Davika jadi merasa seperti di balkon kamarnya. Rasanya menenangkan dan sejuk, tapi bedanya, di kelasnya ini riuh sekali. “Jadi, ini cewek yang kamu bilang kemarin, ya, Vik?” seorang gadis mendekati meja mereka. “Hai, namaku Mira, kalau kamu?” “Da-davika.” “Namamu bagus. Semoga betah di kelas ini, ya,” ucap Mira antusias, “oh, iya, kemarin Viko udah cerita sama kita semua tentang kamu. Kami semua baik-baik, kok. Tenang saja,” lanjut gadis itu tersenyum. “Ya, aku juga punya sepupu yang fobianya sama denganmu, tapi sepertinya fobianya itu tidak terlalu parah seperti kamu. Jadi intinya, aku paham keadaan kamu,” tutur cewek berambut ikal tadi, “eh, by the way, namaku Yeri. Ingat, ya!” Davika mengangguk sembari tersenyum canggung. “Namaku Deo, aku ketua kelas di sini!” seru cowok berambut cepak tadi. Dan selanjutnya, suara-suara lain menimpali, memperkenalkan diri masing-masing sampai Davika pusing mendengarnya. Namun, dia lega. Semua teman sekelasnya baik dan ramah padanya. “Sudah kubilang, ‘kan, sekolah itu tak seseram yang kamu bayangkan,” bisik Viko menyenggol pundaknya. Davika tersenyum kecil. Satu pertanyaan melintas di pikirannya tapi belum sempat dia menyuarakan pertanyaan itu, bel berbunyi dan mengalihkan perhatiannya. Semua teman sekelasnya yang tadi membuat kelompok-kelompok kecil langsung bubar dan duduk di tempat masing-masing. Tak lama, seorang wanita paruh baya memasuki kelas. Kelas langsung sepi seolah tak berpenghuni. “Itu guru Matematika kita, namanya Bu Lisa,” bisik Viko yang duduk di samping Davika. Gadis itu mengangguk-ngangguk pelan. “Ada tugas?” tanya Bu Lisa ketika pada siswa telah mengucapkan salam. “Tidak ada, Bu! Yang ada siswa baru doang!” celetuk Deo. “Siswa baru?” Bu Lisa mengangkat alisnya, “coba berdiri.” Davika langsung tremor. Jari-jarinya saling meremas. Dia menoleh pada Viko ketika tangan cowok itu mendarat di pundaknya. “Tidak apa-apa, oke?” gumam Viko menyemangati. Davika mengangguk pelan lalu berdiri. Kakinya gemetar namun dia tetap melangkah ke depan. Dia menatap mata Bu Lisa yang terus mengikuti langkahnya. “Perkenalkan dirimu, Nak,” perintah Bu Lisa. “Eh?” Davika menoleh pada guru itu dengan mengerjapkan matanya. “Kamu tidak dengar? Silakan perkenalkan dirimu dan sekolah asalmu.” Davika menarik napas dan membuangnya dengan pelan. “Per-perkenalkan ... namaku Davika Amoreiza. Sekolah asalku ....” Davika menjeda, “rumah,” ucapnya agak ragu. Teman-temannya langsung tertawa. Mereka salah besar karena tertawa seperti itu. Karena selanjutnya, wajah Davika langsung pucat. “Eeww, menjijikkan!” “Hei, kamu sengaja mendorongnya, ya?” “Jelas, dong!” “Benar-benar pertunjukan yang mengasyikkan!” “Apaan, tuh? Hitam kecoklatan yang berbau. Eew, menjijikkan!” “Memalukan sekali!” “Jangan dekat-dekat dengannya, nanti kamu ketularan kotor!” Suara-suara itu merasuki pikirannya membuat Davika meremas kepalanya. Suara tawa teman-teman SD-nya kembali bermunculan membuat ketakutan dalam dirinya makin besar. Gadis itu mulai terisak dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Teman sekelasnya langsung kebingungan, terlebih Bu Lisa. Viko segera berdiri dan menenangkan gadis itu. “Dia kenapa?” tanya Bu Lisa bingung. “Nanti saya jelaskan, Bu. Kami izin keluar sebentar ya, Bu,” pamit Viko. Tanpa menunggu jawaban dari Bu Lisa, dia segera menggiring Davika keluar kelas dan membawanya menuju toilet perempuan. “Davika, kamu kenapa?” “Mereka ... mereka tertawa. Aku tidak suka ditertawai,” isak gadis itu. “Hei, Dav. Mereka tertawa karena hanya merasa hal itu lucu, mereka tidak bermaksud meledek kamu,” ucap Viko menenangkan. “Benarkah?” “Iya, Dav.” Davika mulai mengusap air matanya. Untung saja, koridor lagi sepi karena pembelajaran telah dimulai. “Ya sudah, kamu masuk cuci muka, gih.” Viko menunjuk toilet. Davika menurut dengan wajah lucunya lalu masuk. Viko menunggu di depan toilet sembari senyum-senyum sendiri. Pemuda itu bertanya-tanya, kenapa Davika begitu menggemaskan di matanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN