Chapter 6

1835 Kata
Raut wajah Davika terlihat cemas. Mata cokelat gelapnya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 15.30. Kakinya yang sudah terbalut sepatu putih tak henti-hentinya mengetuk ubin yang dingin. Gadis itu terus memperhatikan pergerakan jarum merah pada jam yang rasanya makin lama makin lambat. Ya, begitulah. Terkadang, saat kita sedang menunggu sesuatu, waktu terasa berjalan sangat lama. Saat mamanya tahu dia akan keluar bersama Viko hari ini, wanita itu sangat bersemangat untuk memermak Davika. Alhasil, setengah jam dihabiskan untuk memilih pakaian dan satu jam dihabiskan untuk mendandani putrinya itu. Dan, hasilnya? Cukup membuat Davika merasa seperti ingin wawancara kerja. Paduan jumpsuit berwarna hitam dan kaos putih lengan panjang serta tas selempang adalah pilihan terbaik untuk Davika yang jarang keluar rumah, kata mamanya. Make-up ringan dan rambut yang diurai begitu saja membuat tampilannya terlihat sederhana namun fresh. Kata Viko, sekolah usai pukul 16.00. Setengah jam lagi, pemuda itu akan menjemputnya untuk membeli seragam SMA. Davika jadi was-was. Bagaimana pendapat Viko nanti tentang penampilannya ini? Dia harus bersikap bagaimana nanti saat di toko? Ah, rasanya Davika ingin membatalkan schedule mereka hari ini. Baru saja dia berpikir seperti itu, klakson mobil terdengar dari luar. Karina sontak muncul dari dalam kamar dengan mata berbinar-binar. “Wah, Viko sudah datang!” pekik wanita itu lalo menoleh pada putrinya, “Dav, kenapa belum keluar?” tegurnya. Davika langsung mengerutkan kening, “Kesannya Mama mau usir Davika.” Karina tersenyum geli, “ah, bukan begitu, Say. Masalahnya, tidak baik buat orang menunggu. Menunggu itu berat!” Davika memutar bola katanya dengan ekspresi jijik. Mamanya pasti barusan nonton film D*lan. Sudah pasti! Gadis itu memutuskan langsung mencium punggung tangan mamanya ketimbang meladeni ucapannya. “Kamu hati-hati, ya. Nanti di sana santai saja. Tidak ada yang bakal makan kamu, kok,” ucap Karina memberi semangat. “Iya, Ma. Eh, Papa mana?” “Lagi tidur. Sudah, sana cepat! Viko sudah menunggu,” usir Karina. Davika memutar bola matanya sekali lagi dan melenggang keluar. Di teras rumah, kakinya berhenti melangkah ketika matanya bertubrukan dengan mata Viko. Mereka saling melempar senyum kecil sebelum akhirnya Davika mendekatinya dengan radius dua meter. “Hai,” sapa Viko.” “Ha-hai,” balas Davika kikuk. Kaki kanannya menoel bagian tumit kaki kirinya pertanda dia sedang grogi. “Kamu sudah pernah keluar sebelumnya?” tanya Viko memperhatikan Davika dari atas sampai bawah. “Eh? Ah itu ... pernah tapi cuma sekitar komplek rumah. Kalau jauh-jauh seperti hari ini, ya baru hari ini,” ujar Davika salah tingkah, "memangnya kenapa?”tanyanya. “Gaya berpakaianmu bagus,” komentar Viko. “Oh. Ini Mama yang pilihkan.” Davika tersenyum malu dan menyelipkan rambutnya ke belakang. “Hm, tadinya aku cukup speechless karena mengira kamu memilih sendiri pakaianmu. Tapi, sekarang aku merasa semuanya jadi wajar.” Viko tersenyum kecil. Pemuda itu membukakan pintu mobil untuk Davika, “ayo masuk.” Davika masuk ke mobil. Sembari menarik napas dalam-dalam, matanya terus mengikuti Viko yang mengitari bagian depan mobil dan masuk ke mobil. Pemuda itu menyalakan mesin mobil dan menginjak gas. “Kenapa melihatku terus?” Viko bertanya ketika mobilnya telah keluar dari gerbang rumah. Pipi Davika langsung merah. Dia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke jendela. “Tidak, kok.” “Oh, iya. Kamu ke sekolah selalu pakai mobil, ya?” tanya Davika mengalihkan. “Seringnya motor. Jam tiga tadi aku sebenarnya sudah pulang karena guru lagi rapat. Tapi, aku pulang ke rumah dulu ganti pakaian dan ke sini pakai mobil,” terang Viko. Ah, ya. Davika baru sadar Viko tak memakai pakaian sekolah, melainkan t-shirt biru tua dibalut jaket bomber hitam dan celana jeans biru muda. “Kenapa kita perginya pakai mobil? ‘Kan, naik motor bisa?” “Aku takut. Nanti pas sampai, kamu sudah raib di belakangku karena terbawa angin,” canda Viko. Davika tersenyum, “aku tidak seringan itu, ya.” Mobil Viko keluar dari gerbang komplek perumahan dan berbelok ke kanan, menuju jalan raya yang ramai. Davika memandang gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Berbagai pedagang kali lima berjejer memenuhi trotoar jalan. Berhenti di lampu merah, seorang anak kecil berbaju lusuh dan berwajah kotor mendekati mobil mereka dan mengetuk jendela Davika. Gadis itu berjengit kaget dan beringsut ke arah Viko. Namun, melihat anak itu, dia teringat akan dirinya yang dulu tercebur ke selokan depan sekolah. Rasa iba muncul dalam hatinya. Dengan perlahan, dia mengambil selembar uang hijau dari dalam tasnya. “Dav, kamu mau apakan uang itu?” “Berikan pada anak diluar itu. Kasihan sekali tahu,” ucap Davika cemberut. Dia menurunkan kaca jendela lalu memberikan uang itu pada anak tadi. Dia sampai harus menahan matanya untuk tidak berkaca-kaca ketika anak itu menerima uangnya dengan wajah bahagia. Anak kecil itu berterima kasih pada Davika, namun belum sempat Davika membalasnya, mobil sudah melaju. Viko berjengit ketika Davika mengeluarkan tangannya, melambai pada anak kecil tadi. “Dav, jangan begitu. Nanti kalau ada kendaraan lain yang menyalip dan tidak sengaja menyambar tanganmu bisa bahaya, tahu!” tegur Viko. Davika cepat-cepat memasukkan tangannya kembali dan menaikkan kaca jendela. Tidak memakan waktu lama, mobil Viko berhenti di depan sebuah toko khusus pakaian sekolah. Mata Davika jelajatan melihat isi toko itu. Cukup sepi karena sekarang bukan musimnya membeli seragam sekolah baru. Beberapa pelayan tengah lalu lalang di balik maneken. “Hei!” sambar Viko membuat fokus Davika terbuyarkan. “Ayo, turun.” Davika mengangguk kaku. Gadis itu memperbaiki letak tali tas di bahunya dan membuka pintu mobil lalu turun. Terlalu cemasnya, dia langsung mengeluarkan suara tercekik ketika mendengar alarm mobil. Viko yang menyadari itu langsung tertawa kecil. “Ayo masuk,” ajak pemuda itu lalu berjalan lebih dulu. “O-oke,” cicit Davika lalu mengekor dengan jarak satu meter. Pintu toko yang terbuka dan otomatis terdengar ucapan selamat datang membuat Davika memekik pelan. Beberapa pelayan yang melihatnya jadi terheran-heran. Viko berbalik menghadap gadis itu dengan kedua tangan di masukkan dalam saku jaket bombernya. “Oh ayolah, Dav! Jangan takut seperti itu. Hanya bel otomatis, kok!” ucap Viko. Davika meneguk ludah susah payah lalu memandang satu pelayan toko yang mengawasinya. “Aku tidak suka dilihat-lihat,” gumamnya dan masih didengar Viko. “Ehm ... Mbak, teman saya ini punya sedikit,” Viko menjeda perkataannya untuk mencari kata-kata yang tepat, namun pemuda itu tak kunjung tahu, “ah, intinya jangan memperhatikannya. Itu saja.” Pelayan itu mengangguk ragu. Viko menarik Davika menuju bagian seragam SMA dan memilih beberapa lembar baju putih dan rok SMA berbagai ukuran lalu mengulurkannya pada Davika. Namun, lagi-lagi cowok itu harus bernapas lelah saat Davika berjengit kaget karena seorang pelayan tiba-tiba muncul dari balik maneken lalu tersenyum sembari mengatakan, “ada yang bisa saya bantu, Mas, Mbak?” “Ada,” ucap Viko datar. Si pelayan tetap tersenyum menunggu Viko kembali membuka mulut. “Jangan dekat-dekat dengan kami. Teman saya ini terkadang suka takut pada orang yang baru dilihatnya.” “Tapi, sudah menjadi tugas saya untuk mendampingi para pembeli.” “Khusus untuk kami, tidak. Jadi, silakan menjauh dari kami, sebelum teman saya ini mengamuk.” Pelayan wanita itu mengerutkan kening dengan wajah tersinggung tapi saat mendengar kata ‘mengamuk’, dia melirik Davika sekilas lalu tanpa ba-bi-bu langsung menjauh dari sana. “Huh, kamu mengatakan itu seolah-olah aku ini gadis yang bar-bar,” dengus Davika. “Dari pada dia mengikutimu terus,” bela Viko pada dirinya sendiri, “ukuran bajumu berapa?” tanyanya kemudian. “L.” Viko mengambil kembali beberapa lembar baju SMA dan menyisakan satu ukuran L. “Rok?” Davika memandang beberapa rok di tangannya, “tidak tahu. Akan kucoba semuanya,” ucapnya cuek. “Dari sini, belok ke kanan. Yang paling ujung itu ada pintu. Nah, di situ ruang gantinya.” Viko memberi arahan. “Kamu sepertinya sudah mengenal seluk-beluk toko ini, ya.” “Hm, sedari SD, aku selalu beli pakaian sekolah di sini. Sudah sana, coba pakaiannya,” usir Viko. Davika mencebikkan bibirnya lalu menuju ruang ganti. Dia beruntung karena hari ini toko lengang. Namun, keberadaan pelayan di setiap sisi toko selalu membuatnya gelisah. Kali ini, pelayan lain datang dengan senyum ramahnya. Tapi tetap saja membuat Davika tidak nyaman. Napasnya terasa sesak saking cemasnya. “Mau ke ruang ganti, ya, Mbak?” “Eh, iya.” “Sebelah sana,” tunjuk pelayan itu pada pintu di bagian ujung. “Saya sudah tahu. Makasih,” ucap Davika buru-buru lalu melangkah lebih cepat memasuki ruang ganti. Samar-samar, dia mendengar pelayan tadi sedang berbicara dengan seseorang. “Gadis yang tadi itu kurang sopan,” komentar pelayan tadi. “Ah, dia juga menakutkan,” timpal suara lain. Ternyata itu pelayan yang tiba-tiba muncul di balik maneken tadi. “Cantik, sih, tapi ... gayanya kelihatan kaku.” Davika mendengar itu sembari menggigit bibir. Mendengar perbincangan para pelayan itu mengingatkan dirinya saat di-bully okeh teman-teman SD-nya. Mendadak kepalanya terasa pening, namun dia dengan cepat mengendalikan kesadarannya. Gadis itu mencoba baju SMA ukuran L tadi dan sudah pas di tubuhnya. Rok nomor 28 juga menjadi pilihannya. Sebelum keluar dari ruang ganti, dia mengintip sejenak dan akhirnya bernapas lega saat kedua pelayan toko sudah tak ada lagi. Dia segera menyambangi Viko yang berdiri di tempat semula sembari memainkan ponsel. “Kenapa mukamu kelihatan pucat?” tanya Viko cemas. “Tidak apa-apa,” dalih Davika lalu menyerahkan satu pasang seragam SMA. “Jangan bohong, Dav. Muka kamu kelihatan pucat. Kamu kenapa?” Davika tak menjawab. Dia malah mengembalikan rok lainnya ke tempatnya. “Ayo, ke kasir. Aku mau cepat pulang,” cicit gadis itu merebut seragam SMA dari Viko dan berjalan mendahului Viko. Viko mengernyitkan keningnya dan menggaruk kepalanya bingung. Satu-satunya kelainan Davika adalah fobia sosial. Gadis itu tidak suka keramaian. Tapi, toko sepi sekali hari ini. Sambil bertanya-tanya dalam hati, pemuda itu menyusul Davika. “Totalnya Rp. 130.000,-“ ucap sang kasir. “Ini.” Davika menyerahkan selembar uang 100 ribu dan 50 ribu. Selesai transaksi, Davika langsung keluar dari toko itu. Dia membuka pintu mobil Viko namun sayang, tak bisa terbuka karena Viko menguncinya. Gadis itu berjengit kaget ketika alarm mobil berbunyi sekali. “Ayo, masuk ke mobil. Ada yang ingin kutanyakan padamu,” ajak Viko. Davika segera masuk. Keringat dingin yang berkumpul di bajinya langsung diusap. “Lain kali, aku tak akan kembali lagi ke toko ini,” ucap Davika gusar. “Memangnya kenapa? Lalu, mukamu pucat. Ada sesuatu yang mengganggumu tadi di dalam?” “Ya,” ucap Davika jujur, “dua pelayan toko itu membicarakan aku saat berada dalam ruang ganti. Aku sungguh tak menyukainya. Aku benci dijadikan bahan obrolan.” “Ehm, tapi Davika,” Viko menjeda sebentar, “saat masuk sekolah nanti, kamu harus siap jadi bahan obrolan orang lain. Pindah sekolah saat kelas tiga, eh aku tidak tahu apa kamu bisa di sebut siswa pindahan, tapi bodo amatlah, toh intinya begitu, kamu pasti akan menarik perhatian banyak orang. Anggap saja yang tadi itu latihan. Jadi, kamu tidak perlu sakit hati atau menyerah, oke?” Davika mengeluarkan napas dari mulut, “lebih sulit dibanding menghapal chord gitar,” keluhnya. “Ya, menurutku lebih sulit belajar main gitar. Tapi, persepsi tiap orang berbeda-beda, termasuk kita. Jadi, aku paham. Sekarang, kita mau kemana?” “Pulang!” jawab Davika spontan. “He’e? Baru jam lima, kamu tidak mau keliling-keliling dulu?” “Memangnya keliling mana?” “Kamu lapar?” “Lumayan.” “Kalau begitu, ayo ke KFC!” “Tapi, Viko! Di sana ramai!” “Bodo amat, Dav. Bukannya sudah kubilang, ini bentuk latihan adaptasimu!” Davika sontak memutar bola mata. Yang benar saja! Viko mau membuatnya kehabisan napas saking cemasnya, ya! ••• “Kamu benar-benar mau membunuhku secara perlahan, ya, Viko?” tanya Davika memandangi KFC dari parkiran. “Oh, jelas tidak, dong! Ketakutan itu harus dilawan bukannya di biarkan. Nah, di sini aku mau bantu kamu lawan ketakutanmu selama ini.” Viko menaik-turunkan alisnya lalu menghampiri Davika dan memegangi pergelangan tangan gadis itu. Davika sempat kaget, namun Viko tak menyadarinya. Sudah jelas, pemuda itu juga tak sadar telah memegang tangan Davika. Akhirnya, Davika memutuskan untuk tak melepas tangannya. Diam-diam, gadis itu tersenyum kecil. Telapak tangan Viko yang melingkar di pergelangan tangannya yang kecil terasa hangat dan nyaman. Kalau saja dia tahu ini sejak awal .... Davika menggelengkan kepalanya dan bergumam, “aku pasti sudah gila.” “Kamu kenapa?” tanya Viko, menyadari Davika yang geleng-geleng kepala tanpa alasan jelas. “Tidak apa-apa.” “Eh." Viko akhirnya sadar telah memegang tangannya. Pemuda itu sontak melepasnya, “aku tidak sengaja. Maaf.” Davika mengangguk kikuk. Perasaan kecewa sedikit membuncah dalam hatinya ketika Viko melepas tangannya. Mereka berdua memasuki KFC. Mendengar hirup pikuk ruangan itu membuat Davika menarik ujung baju Viko dari belakang. Pemuda itu berbalik dan menatap Davika bertanya-tanya. Dengan polos, Davika mengulurkan tangannya, “kurasa, lebih baik kalau kamu memegang tanganku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN