Chapter 5

1100 Kata
“Ah! Davika, kamu baru bangun, ya? Langsung ke ruang makan aja, ya. Sekalian ajak Viko juga,” ucap Karina mengalihkan. Dalam hatinya, wanita itu cukup terkejut karena Viko langsung blak-blakan. “Uh ... iya, Mama. Davika juga sudah lapar.” Davika sepakat namun ucapannya tak terdengar meyakinkan. “Viko, ayo sarapan sama-sama,” ajaknya kemudian. “Eh, iya ... aku numpang sarapan ya, Om, Tante,” cicit Viko. “Eh iya, Viko. Silakan.” Riko tersenyum. Viko mengangguk kaku lalu mengikuti Davika berjalan menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, dia dan Davika langsung asal sosor makanan tanpa pembicaraan sedikit pun. Diam-diam Viko menatap wajah Davika yang tengah menikmati makanannya. Viko jadi was-was. Apa Davika memikirkan pertanyaannya tadi, ya? Atau gadis itu memang masih canggung dengannya sampai-sampai belum berani mengajak Viko mengobrol duluan? Pemuda itu memakan makanannya dengan susah payah karena rasa canggung yang menyelimuti mereka kian tebal. Ternyata banyak pikiran dan canggung juga bisa membuat Viko tersedak. Terbukti saat suapan selanjutnya, dia terbatuk-batuk karena makanan yang telah ditelannya salah jalur. Davika yang asyik makan dalam diam langsung mendongak bingung. “Kamu kenapa?” tanyanya polos. Viko belum bisa berbicara karena batuknya belum kunjung reda. Dalam hatinya, dia menjerit kesal karena Davika yang tak peka-peka ketika tangannya menunjuk segelas air di tengah-tengah meja. Pemuda itu menutup mulutnya dengan tangannya. Bukan apanya, dia takut kalau-kalau dia muncrat tepat di depan Davika. “A-air ....” Viko terbata-bata. Davika langsung melotot dan segera berdiri memberikan air pada pemuda itu. Raut wajahnya kelihatan malu sekaligus cemas ketika memperhatikan Viko yang meneguk air dengan rakus. “Ah, aku minta maaf. Seharusnya aku mengerti. Maaf,” cicit gadis itu. Viko menyeka sudut bibirnya, “tidak apa-apa. Ayo lanjutkan makanmu,” ajaknya. Davika duduk dengan pelan. Makanannya kini tak kelihatan enak lagi. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya sampai Viko selesai makan. “Kamu tidak menghabiskan makananmu, ya?” tanya Viko. “Sudah kenyang,” gumam Davika lalu berdiri dan merapikan piringnya dan piring Viko. Dia membawanya ke dapur. “Davika, tadi ... apa kamu dengar yang aku katakan?” tanya Viko ketika Davika kembali. “Ah, aku dengar.” Davika jujur lalu berjalan menuju taman. Gadis itu berbalik menatap Viko yang masih melongo di meja makan, “ayo, bicarakan hal itu di taman.” ••• Viko memutuskan duduk dengan kaki yang diluruskan di atas kursi besi sepanjang tiga meter karena Davika beralih duduk ke ayunan. Sangat dekat, tapi membuat mereka saling membelakangi. Viko jadi berpikir, mungkin Davika ingin membicarakan tentang sekolah tanpa bertatap muka. Matahari pagi yang masih terasa hangat membuat rambut hitam gadis itu kelihatan coklat samar-samar. “Papa sama Mama yang suruh kamu, ‘kan?” tanya Davika. Kakinya yang menyentuh tanah perlahan di goyangkan agar ayunannya bergerak. Walaupun perkataan Davika cukup ambigu, Viko mengerti maksudnya. “Jujur, iya. Tapi, kalau kamu kira aku membujuk kamu hanya untuk menuruti perintah orangtuamu, kamu salah. Aku temanmu. Dan sebagai teman yang baik, aku akan selalu berusaha yang terbaik untuk kamu.” Untuk sejenak, Davika tak bersuara. Tapi setidaknya, Viko masih melihat batang pohon tempat ayunan tergantung itu bergerak. Pemuda itu tetap menahan mulutnya untuk kicep. Memberi waktu untuk Davika menyusun kata-kata. “Tapi, aku takut,” lirih Davika. “Apanya yang kamu takutkan? SMA tidak sama seperti SD, kok. Tenang saja. Sekarang, tidak peduli mereka anak pejabat atau tidak, semuanya akan diadili jika berbuat macam-macam di sekolah.” Viko meyakinkan. Sebenarnya, perkataannya tak sepenuhnya benar, sih. Masih banyak teman-teman sekolahnya yang bergaul sesuai kasta. Ada gosip, mereka akan heboh. Namun, tak ada kejadian bully-membully di sekolahnya sampai si korban diceburin ke kubangan lumpur. “Kamu yakin?” tanya Davika. Viko memutar kepalanya dan menyadari Davika tengah menatapnya. Namun, gadis itu dengan cepat membuang muka membuat Viko mau tak mau terkekeh. “Kenapa ketawa?” tangan Davika setengah membentak. “O'ow, maaf,” ucap Viko menahan senyumnya. Batang pohon tempat ayunan bergantung bergerak keras. Dia pelan-pelan berbalik dan menatap Davika yang tengah berayun dengan tempo sedang. Ketika rambutnya berkibar ke belakang, Viko bisa lihat gadis itu juga tengah menahan senyum. “Jadi bagaimana?” Viko bertanya. “Aku masih tetap takut,” ucap Davika pelan. “Apanya yang bikin kamu takut? Aku janji bakal selalu ada di dekatmu, sampai kamu terbiasa,” janji Viko. “Aku selalu nonton di TV. Paling sering yang bertema kehidupan sekolah. Dan mereka suka bully orang yang kurang mampu atau kurang pergaulan,” ucap Davika takut, “bagaimana kalau aku masuk sekolah dan mereka tahu aku ini kurang pergaulan? Bagaimana nanti aku harus hadapi orang-orang seperti mereka? Kalau aku ketemu sama teman SD-ku yang waktu itu? Apa yang harus aku lakukan?” cerocos Davika panik. “Hei, itu hanya film. Tak ada sekolah yang mengijinkan aksi k*******n seperti itu, kok!” “Benarkah?” Viko mengangguk. “Kamu janji ‘kan bakal terus ada di dekatku kalau aku mau masuk sekolah?” “Iya, Davika.” “Kalau begitu, kamu harus penuhi syaratnya.” Viko mengerutkan kening, “maksudnya?” “Kita harus sekelas,” ucap Davika cepat. Viko tertawa tak percaya, “jadi, maksudnya kamu mau masuk sekolah kalau kita sekelas, begitu?” Davika mengangguk, “iya. Kenapa?” “Yaa ... bukannya aku tidak mau. Tapi, kalau masalah kelas untuk siswa baru, itu biasanya ditentukan oleh staf sekolah,” ujar Viko hati-hati. “Tapi, tadi Papa bilang akan urus semuanya. Jadi bisa, ‘kan?” “Jadi, kamu dengar pembicaraan kami tadi?” Davika langsung mengulum bibirnya, “tidak semuanya, kok,” elaknya. “Okelah, aku usahakan syaratmu terpenuhi,” ujar Viko tersenyum, “jadi, kamu mau ‘kan masuk sekolah?” “Asal sekelas dan selalu dekat denganmu, aku mau,” putus cewek itu. “Oke, deal!” Viko meresmikan. “Tapi, aku masih bingung,” tambahnya kemudian “Kenapa?” “Kamu mau kalau aku dekat denganmu. Tapi, sampai sekarang kamu masih jaga jarak denganku. Kamu ini ... susah juga, ya?” Davika menahan senyum dan berbalik menatap Viko. “Setidaknya, aku sudah bersikap terbuka denganmu. Orang sepertiku ini, butuh banyak waktu untuk mendekatkan diri secara fisik dengan seseorang, tapi kalau seseorang itu telah kupercayai, aku akan terbuka dengannya.” “Jadi kesimpulannya, kamu telah percaya padaku, ya?” Davika tersenyum miring, terlihat sangat manis untuk ukuran cewek SAD “Begitulah.” “Besok sore kamu harus siap-siap, ya. Pulang sekolah aku jemput kamu.” Davika menghentikan gerakan ayunannya,” mau ke mana?” “Memangnya kamu punya seragam SMA?” “Eh, tidak.” “Jadi, kamu sudah pasti tahu ‘kan kita mau ke mana?” Viko mengangkat alisnya. Davika memutar bola matanya ke atas dan meneguk ludah susah payah, “toko?” “Toko pakaian.” Viko melengkapi. “Tapi, aku ....” Suara Davika menghilang. Sorot matanya memancarkan ketakutan. “Kamu percaya ‘kan sama aku? Jadi, kamu tidak usah takut, oke?” “Bukan begitu. Aku ... aku rasanya tidak mampu,” gumam Davika, “ramai ... itu kubenci,” gumamnya sampai berulang kali. Merasa keadaan menuju yang buruk, Viko meringsut dari kursi besi dan berdiri di depan Davika dengan jarak satu meter. Pemuda itu berjongkok dan menatap gadis di depannya dengan sorot lembut. “Tidak apa-apa, kok. Kenyataannya tak sesuai seperti yang kamu bayangkan. Aku jamin itu. Kita ke sana cuma untuk beli seragammu. Lagipula, keramaian di sekolah kadang lebih parah dari pada toko pakaian.” Davika masih bergeming. Hanya diam menatap Viko sembari menggigit bibir. “Ehm ... anggap saja besok itu latihan pertama kamu menghadapi keramaian,” ucap Viko memberi ide. “Latihan? Seperti aku latihan bermain gitar dan sekarang sudah bisa?” tanya Davika polos. “Ya, seperti itu!” Viko semangat, “akan kupastikan kamu juga akan berhasil seperti saat kamu latihan bermain gitar.” Davika menghela napas lalu mengangguk setuju. Walaupun wajahnya masih terlihat ragu, dia akhirnya menjawab, “baiklah, akan kucoba.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN