Malilah membawa Arumi menikmati udara pagi yang sejuk setelah semalam diguyur hujan dengan wajah ceria. Sepanjang jalan ia terus mengajak Arumi berbincang dengan bahasa yang terkadang hanya dipahami oleh mereka mereka berdua.
Di kejauhan, nampak beberapa orang ibu-ibu sedang berkumpul. Mungkin mereka sedang menunggu penjual sayur langganan, atau juga penjual ikan keliling. Malilah berhenti sejenak, mengingat ucapan Hanan. Sekelompok ibu-ibu tersebut menoleh kepadanya bergantian, kemudian saling berbisik, lalu menoleh lagi padanya bergantian. Sebenarnya, Malilah merasa minder. Tapi, Arumi seperti marah karena Malilah berhenti mendorong strollernya. Akhirnya Malilah kembali meneruskan langkah.
"Haay anak manis. Cucunya Bu Ratih kan, ya? Cantik banget sih, Dede ...." Salah seorang ibu-ibu langsung mendekat dan mengajak Arumi bicara. Namun, ekor matanya berulang kali melirik Malilah, terutama bajunya. Meski merasa risih, Malilah tetap berusaha tersenyum dan mengangguk pada semua yang sedang menatap dirinya.
"Kamu siapa? Keluarganya Bu Ratih atau ...."
"Babby sitter, permisi ya ibu-ibu, kami lewat." Malilah buru-buru memotong ucapan salah satu ibu lainnya.
"Oooooh!"
Seperti paduan suara, mereka semua kompak membulatkan mulut.
"Kirain calon mantu baru," celetuk salah dari mereka lagi.
"Husst! Fania yang cantik dan modis aja gak disukai Ratih, apalagi dia!"
"Iya tu Ratih sadis banget sama mantu. Hanan juga ngikut emaknya. Masa anak baru lahir emaknya langsung dibuang."
"Sudah kendor kali. Cantik tapi kendor kan, anu juga."
"Mungkin juga, ya."
"Jangan sampe deh, besanan sama keluarga itu. Menakutkan!"
Tawa mereka pun menggema di belakang Malilah yang mulai melangkah. Rumpian ibu-ibu tersebut berhasil membuat bulu kuduk Malilah meremang. Berbagai pertanyaan mengendap di benaknya.
"Semengerikan itukah keluarga majikanku? Apakah Fania itu istri Hanan? Apa dia pergi karena tidak tahan dengan keluarga suaminya?"
Ah! Andai Dimas tidak kabur membawa uang dari Hanan, Malilah lebih memilih mundur dan mengembalikan uangnya. Tapi semua sudah terlanjur. Dimas membuatnya terlilit hutang pada keluarga itu.
***
Malilah membawa Arumi kembali agak siang. Ia sengaja berjalan lebih jauh, sambil menunggu kerumunan ibu-ibu tadi bubar.
"Kok lama amat jalan-jalannya? Jangan sampai anakku kepanasan. Banyak tetangga yang liatin kamu enggak tadi?"
Hanan menyambut Malilah yang sudah kembali membawa Arumi. Wajahnya masih sama seperti saat Malilah pergi tadi. Seperti habis mengunyah sebungkus asam jawa saja. Masam ....
Malilah terdiam sejenak, memikirkan ucapan ibu-ibu tadi. Malilah berusaha menetralkan perasaan supaya bisa bersikap biasa, seperti sebelum dia mendengar rumpian ibu-ibu tadi.
"Heh! Lagi dan lagi kamu kutanya enggak jawab. Mikirin apa sih? Banyak yang liat kamu enggak tadi?" Hanan mengulang pertanyaannya.
"E ... eh! Eum ... ya banyak to, Pak Bos. Masa enggak? Namanya juga aku orang baru di sini," jawab Malilah sedikit tergagap.
Ckk!
Hanan berdecak sebal. Tangannya berulang kali mengacak rambut dengan gusar. Seperti ingin marah, tapi tidak tega juga. Akhirnya ia menghampiri Malilah dan menarik paksa tangan wanita tersebut agar mengikutinya menuju ke kursi tamu.
"Duduk! Diam! Tunggu disitu!" perintah Hanan sambil berbalik menarik stroller Arumi agar ikut mendekat.
"Aduduuh, Pak Bos ... kasar banget sih. Aku baru habis lahiran loh. Kata orang, perempuan yang habis melahirkan itu urat-uratnya kembali muda. Makanya enggak boleh ngangkat beban berat. Gerakan juga harus serba pelan. Salah-salah, bisa sakit dan ... menyebabkan kematian loh!" Malilah menakut-nakuti Hanan.
"Segitu aja dibilang kasar. Jangan lebay! Perasaan kemarin suamimu lebih kasar daripada aku kamu baik-baik aja," tukas Hanan.
Ternyata Hanan pandai juga bersilat lidah. Malilah jadi mati kutu. Sepertinya Hanan sedang bersiap-siap mengatakan sesuatu yang kurang mengenakkan bagi Malilah. Bisa dilihat dari raut wajahnya. Tak sekalipun senyum terukir di bibir majikannya sejak tadi, meski ia tengah menatap Arumi. Hati Malilah menjadi masygul.
"Arumi kenapa diam sih? Nangis dooong, biar aku ada alesan buat kabur ke kamar," harap Malilah di dalam hati. Tapi bayi mungil itu tetap baik-baik saja. Ia malah asik mengecup jari tangannya. Nampaknya kali ini Arumi tidak berpihak padanya.
"Pak Bos, biasanya bayi kalo ngecup tangan, berarti dia haus. Aku bawa Arumi ke ...."
"Diam! Aku mau ngomong!" potong Hanan membuat Malilah terpaksa tidak melanjutkan ucapannya. Tak ada pilihan lain lagi selain mempersiapkan telinga dan menata hati untuk menerima apapun yang akan Hanan katakan. Yang jelas bukan sesuatu yang menyenangkan untuk di dengar.
"Aku paling benci dengan orang yang suka kepo sama urusan pribadiku!" ucap Hanan yang membuat jantung Malilah berdetak dua kali lebih cepat. Kedua jemarinya saling meremas. Berulang kali Malilah merutuki kebodohannya sendiri hari ini di dalam hati.
"Lain kali, segera lakukan apa yang aku perintahkan. Pembangkanganmu terhadap perintahku hari ini kuampuni. Besok-besok, kalau aku bilang ganti bajumu, ya cepat ganti. Awas kalau ngulangi lagi!" ancam Hanan dengan tatapan tajam.
Malilah menunduk, menatap jari-jari kakinya yang bergerak seolah ingin mencakar keramik yang ia pijak. Kedua tangannya mencengkram pinggiran sofa kuat-kuat.
Hanan pura-pura tak melihat kekesalan Malilah. Ia langsung menghampiri Arumi.
"Udaaah? Anak cantiknya Papa udah jalan-jalan? Udah berjemur?" Hanan membungkuk sambil tersenyum dan berbicara pada Arumi. Arumi seperti mengerti ucapan Hanan. Bayi mungil itu menatap Papanya cukup lama. Tak lama kemudian, terdengar suara sesenggukan.
Hanan menoleh ke arah Malilah. Terlihat wanita itu sedang menyapu sudut matanya dengan sebelah tangan.
"Lah, malah nangis? Kaya diapain aja," ejek Hanan. Malilah tetap terisak. Hanan menghela napas lalu duduk dan menatap Malilah dengan seksama.
"Bagian mana yang sakit? Tanganmu tadi? Sini, kuurut!" Hanan menawarka diri. Malilah menggeleng sambil menyapu sudut matanya sekali lagi.
"Lah, terus? Kalau enggak sakit ngapain masih nangis!"
"Ya sudah, kamu mandiin dia sana!" Perintahnya pada Malilah lagi, masih dengan nada kesal sambil mundur kemudian menghempas tubuhnya di kursi. Arumi mulai gelisah dan mengeluarkan tangisan kecil. Tangan mungil Arumi berulang kali menyapu wajahnya sendiri.
"Sepertinya dia haus. Kan habis jalan-jalan. Aku susuin aja dulu ya, Pak Bos?" ucap Malilah langsung mengangkat tubuh Arumi dan membawanya duduk di kursi ruang tamu juga. Posisinya berhadapan dengan Hanan.
"E ... e ... eh! No! Mandi dulu Malilah, habis dari jalanan banyak debu." Hanan mengangkat tangan sambil mengacung jari telunjuk.
Malilah menggeleng tegas. Kali ini ia mengabaikan larangan Hanan, karena tangisan Arumi semakin nyaring.
"Dia haus Pak Bos, kasian. Kalau nunggu mandi dulu kelamaan. Lagi pula jalanan aspal gak berdebu-debu amat pagi-pagi begini. Lagian tadi subuh kan habis hujan juga."
Malilah tak perduli pada larangan Hanan karena Arumi nampak benar-benar haus. Ia langsung membuka kancing dasternya bagian depan.
"E ... e .... e .... eh! No! No! No!"
Hanan menggoyangkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Malilah. Malilah menatap Hanan dengan sorot kesal.
"Pak Bos! Aku gak papa dilarang, dimarahin, dihina atau mau diatur menjadi seperti apapun oleh Pak Bos, tapi kalau soal kapan waktu Arumi ingin menyusu, aku enggak mau kompromi dan diatur-atur. Mohon maaf, Pak Bos!" sahut Malilah tegas, dengan tangan kanan langsung merogoh sesuatu di balik baju bagian depan, mengeluarkan sumber makanan utamanya Arumi.
"Eh, Ya ampun Malilah. Aku bukan ngelarang kamu nyusuin Arumi lagi. Tapi maksudku jangan di sini juga, Malilah! Di kamar sana! Jangan semau-maunya kamu juga dong, ngeluarin itu di depanku." Hanan mengusap wajah dan langsung berpaling, melihat adegan ala-ala ibu dan anak di depannya.
"Eh, Astagfirullah! Iya, Maaf. Aku khilaf Pak Bos," ucap Malilah buru-buru sambil memasukkan kembali modal utamanya dalam bekerja tersebut. Cepat-cepat ia menutup baju di bagian depan lalu menggendong Arumi.
"Khilaf! Khilaf! Bilang aja sengaja mau pamer di depanku. Dapat babby sitter kok modelnya gini-gini amat, sih!" gerutu Hanan Malilah hampir saja sukses membuatnya kepalanya nyut-nyut.
Malilah sendiri kembali bersikap seperti tadi. Pura-pura tidak mendengar gerutuan Hanan dan langsung membawa Arumi menjauh. Di dalam hatinya malu juga. Mana Pak Bos pake bilang dia pamer lagi. Padahal dia benar-benar khilaf. Aduuhh!