Bab 14: Batas Kesabaran Sang Pelindung

1034 Kata
Pagi itu, suasana di kediaman besar Rayhan tampak begitu tenang. Rayhan memutuskan untuk bekerja dari ruang perpustakaan pribadi di lantai bawah yang menghadap ke arah kolam renang. Ia tetap ingin berada di rumah, namun ada beberapa dokumen fisik yang harus ia periksa. Alya, yang ingin menemani suaminya, duduk di sofa sudut perpustakaan sambil membaca buku, sesekali melirik Rayhan yang tampak sangat serius menatap layar laptopnya. "Mas, mau aku buatkan kopi lagi?" tanya Alya lembut. Rayhan mendongak, tatapan tajamnya seketika melembut saat melihat wajah istrinya. "Tidak usah, Sayang. Sini sebentar," Rayhan menepuk pangkuannya. Alya mendekat dan duduk di sana. Rayhan memeluk pinggangnya erat, menyandarkan wajahnya di perut Alya sejenak untuk mencari ketenangan. "Cukup di sini saja. Aroma tubuhmu jauh lebih efektif daripada kafein mana pun." Namun, ketenangan itu terusik saat interkom di meja kerja Rayhan berbunyi. Suara Budi, kepala keamanan gerbang depan, terdengar tegas. "Maaf Tuan, ada tamu dari mitra bisnis luar negeri. Nona Clarissa. Beliau bilang ada dokumen kontrak mendesak yang harus ditandatangani segera karena jadwal penerbangan investor akan segera berangkat." Rahang Rayhan mengeras. Ia teringat kejadian di restoran kemarin. Namun, karena ini menyangkut kontrak besar perusahaan, ia tidak ingin terlihat tidak profesional di depan staf perusahaannya jika menolak tanpa alasan jelas. Ia juga tidak ingin Alya tahu tentang kelakuan Clarissa kemarin karena ia tidak ingin Alya merasa sedih atau tidak aman. "Bawa dia ke ruang tamu luar. Jangan biarkan dia masuk ke area pribadi," perintah Rayhan dingin. Ia melepaskan pelukannya pada Alya. "Sayang, aku harus menemui rekan bisnis sebentar di depan. Kau tunggu di sini saja ya? Jangan keluar, ini hanya urusan kontrak yang membosankan." Rayhan mengecup kening Alya cukup lama, seolah ingin memastikan istrinya tetap berada dalam lindungan cintanya, lalu ia bergegas keluar. Alya sebenarnya merasa ada yang aneh dari nada bicara Rayhan. Ada ketegangan yang coba disembunyikan suaminya. Setelah beberapa menit, rasa penasaran—dan sedikit naluri seorang istri—membuatnya beranjak. Ia berniat membawakan camilan untuk suaminya dan tamu tersebut ke ruang tamu luar. Di ruang tamu luar, Clarissa duduk dengan gaun yang sangat provokatif—gaun hitam ketat dengan belahan tinggi yang memperlihatkan paha mulusnya. Begitu Rayhan masuk, Clarissa langsung berdiri dengan senyum yang sangat berani. "Tuan Rayhan, akhirnya kita bertemu di tempat yang lebih... privat," ujar Clarissa dengan suara yang sengaja dibuat serak menggoda. Ia melangkah mendekat tanpa mempedulikan dokumen yang diletakkan di meja. Rayhan tetap berdiri di dekat pintu, menjaga jarak. "Letakkan dokumennya. Aku akan menandatanganinya dan kau bisa pergi sekarang." Clarissa justru tertawa kecil. Ia berjalan mengitari meja, mencoba mendekati Rayhan. "Kenapa terburu-buru? Saya tahu Anda menyembunyikan istri Anda di dalam, kan? Pria sehebat Anda pasti merasa bosan dengan wanita rumahan yang hanya bisa menunggu di kamar. Bukankah Anda butuh seseorang yang bisa mengimbangi gairah dan kecerdasan Anda di luar sana?" Rayhan masih mencoba menahan diri. Ia tidak ingin berteriak di rumahnya sendiri. "Clarissa, jaga bicaramu. Selesaikan urusan pekerjaan ini atau aku akan membatalkan seluruh kontrak perusahanmu." Clarissa justru semakin berani. Ia berdiri tepat di depan Rayhan, mencoba menyentuh d**a bidang pria itu. "Istri Anda... dia pasti sangat membosankan. Saya yakin dia bahkan tidak tahu bagaimana cara memuaskan pria seperti Anda dengan benar. Kenapa tidak mencoba sesuatu yang lebih menantang denganku?" Di balik pintu penghubung yang sedikit terbuka, Alya berdiri terpaku. Nampan yang ia bawa nyaris jatuh. Dadanya sesak mendengar penghinaan itu. Air mata mulai menggenang di matanya. Ia merasa sangat kecil mendengar ucapan wanita itu. Namun, sebelum Alya sempat berbalik pergi karena sedih, suara Rayhan yang menggelegar menghentikannya. "Cukup!" bentak Rayhan. Suaranya begitu dingin dan penuh amarah, membuat Clarissa tersentak mundur. Rayhan menepis tangan Clarissa dengan kasar hingga wanita itu hampir kehilangan keseimbangan. Rayhan melangkah maju dengan aura yang sangat mengintimidasi, matanya berkilat penuh kebencian. "Kau pikir kau siapa berani datang ke rumahku dan menghina istriku?" desis Rayhan. "Kau ingin tahu kenapa aku tidak pernah sudi melirikmu? Karena kau tidak ada apa-apanya dibandingkan Alya. Kau tidak secantik dia, kau tidak semenarik dia, dan kau tidak punya kemurnian hati yang dimiliki istriku." Rayhan menunjuk ke arah pintu keluar. "Bagiku, Alya adalah segalanya. Dia adalah satu-satunya wanita yang aku puja, yang aku inginkan setiap detik. Kau? Kau hanya sampah yang mengganggu pemandanganku. Kau bilang dia membosankan? Bagiku, desahan napasnya saja jauh lebih berharga daripada seluruh hidupmu!" "Tuan Rayhan, tapi saya—" "Pergi sekarang!" potong Rayhan. "Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depanku lagi. Besok, aku akan memastikan perusahaanku memutuskan semua hubungan denganmu. Aku tidak butuh investor yang tidak punya harga diri sepertimu!" Clarissa yang ketakutan segera menyambar tasnya dan lari keluar dengan wajah merah padam karena malu dan kalah. Rayhan terengah-engah, amarahnya masih tersisa. Ia berbalik dan baru menyadari keberadaan Alya di balik pintu. Rayhan tertegun, raut wajahnya yang tadi sangat beringas seketika berubah menjadi sangat cemas dan penuh sesal. "Alya... kau melihatnya?" tanya Rayhan lirih. Ia segera menghampiri istrinya, mengambil nampan dari tangan Alya dan meletakkannya di meja sembarang tempat, lalu merengkuh Alya dalam pelukan yang sangat erat. "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud menyembunyikan gangguan wanita itu darimu. Aku hanya tidak ingin kau sedih. Aku tidak ingin kau mendengar kata-kata kotor dari mulutnya." Alya menangis, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru dan cinta yang luar biasa. Ia mendengar setiap kalimat pembelaan Rayhan tadi. Ia merasa sangat berharga di mata suaminya. "Aku mencintaimu, Mas... Terima kasih sudah menjagaku," isak Alya di d**a Rayhan. Rayhan mengangkat dagu Alya, menatap mata istrinya yang sembab. "Jangan pernah dengarkan kata-katanya tadi. Bagiku, kau adalah wanita paling cantik dan paling mempesona di seluruh jagat raya ini. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu, Alya. Kau adalah nyawaku." Rayhan menggendong Alya kembali ke kamar utama mereka. Ia tidak peduli lagi pada pekerjaan atau dokumen di bawah. Ia ingin memberikan seluruh perhatian dan cintanya untuk menyembuhkan luka di hati Alya akibat ucapan Clarissa tadi. Malam itu, kemesraan mereka terasa sangat berbeda. Rayhan menunjukkan hasratnya dengan cara yang sangat mendalam, seolah ingin membuktikan secara nyata melalui setiap sentuhan dan ciumannya bahwa hanya Alya yang berkuasa atas tubuh dan jiwanya. Ia manja, ia posesif, dan ia sangat transparan dalam menunjukkan betapa ia hanya membutuhkan Alya. "Lihat aku, Alya," bisik Rayhan di tengah keintiman mereka yang sangat panas di bawah rembulan. "Hanya ada kau. Hanya kau kanvasku, duniaku, dan surga halalku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN