Beberapa minggu setelah kejadian memuakkan dengan Clarissa, suasana di kediaman Rayhan kembali tenang, bahkan jauh lebih romantis. Rayhan benar-benar membuktikan ucapannya; ia memutus semua kontrak bisnis yang berhubungan dengan wanita itu dan kini lebih banyak menghabiskan waktu bekerja dari rumah. Ia seolah ingin menebus rasa bersalahnya karena sempat membuat Alya mendengar kata-kata kasar Clarissa.
Sore itu, Rayhan mengajak Alya untuk menghadiri sebuah pameran seni eksklusif yang diadakan oleh salah satu yayasan amal terkemuka. Sebenarnya Rayhan enggan pergi ke tempat umum, namun ia tahu Alya sangat menyukai lukisan, dan ia ingin istrinya merasa bahagia setelah hanya berdiam diri di dalam rumah.
"Ingat, jangan jauh-jauh dariku. Tetap gandeng lenganku," bisik Rayhan posesif saat mereka turun dari mobil. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang membuatnya tampak sangat berwibawa, sementara Alya tampil sangat mempesona dengan gaun brokat berwarna nude yang sangat elegan namun tetap sopan.
Di dalam galeri yang megah itu, Alya tampak sangat antusias melihat deretan lukisan cat minyak yang dipajang. Rayhan mengikuti di belakangnya dengan tangan yang tak pernah lepas dari pinggang Alya, memberikan tatapan tajam pada setiap pria yang berani melirik ke arah istrinya.
Namun, langkah Alya tiba-tiba terhenti di depan sebuah lukisan abstrak bertema "Kerinduan". Matanya membulat saat melihat sosok pria tinggi yang berdiri tak jauh dari lukisan itu. Pria itu mengenakan kacamata, berwajah teduh, dan memiliki senyum yang sangat ramah.
"Adrian?" ucap Alya hampir tidak terdengar.
Pria itu menoleh, dan seketika wajahnya cerah. "Alya? Benarkah itu kau?"
Adrian melangkah mendekat. Dia adalah pria yang pernah menyatakan cintanya berkali-kali pada Alya saat mereka masih di universitas, namun Alya menolaknya karena menganggapnya hanya sebagai teman baik. Adrian adalah pria yang baik hati, santun, dan kini telah menjadi seorang arsitek sukses.
Rayhan langsung merasakan alarm bahaya di kepalanya. Ia menarik Alya lebih dekat ke dadanya, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. Matanya yang dingin menatap Adrian dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
"Siapa dia, Alya?" tanya Rayhan dengan suara berat yang menuntut penjelasan.
"Ini Adrian, Mas. Teman kuliahku dulu," jawab Alya sedikit gugup karena merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul dari tubuh suaminya. "Adrian, ini suamiku, Rayhan."
Adrian mengulurkan tangan dengan sangat sopan. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Rayhan. Saya sering mendengar nama besar Anda di berita bisnis. Saya Adrian, teman lama Alya."
Rayhan menatap tangan yang terulur itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menjabatnya dengan sangat singkat dan kasar. "Aku tidak pernah mendengar namamu disebut oleh istriku," ujar Rayhan tanpa basa-basi.
Adrian hanya tersenyum tipis, tidak merasa tersinggung oleh sikap kasar Rayhan. "Wajar saja, kami sudah lama tidak bertemu sejak hari kelulusan. Alya, kau tampak sangat bahagia sekarang. Aku senang melihatmu baik-baik saja."
"Terima kasih, Adrian. Kau sendiri bagaimana? Aku dengar kau sekarang sudah punya firma arsitektur sendiri?" tanya Alya mencoba mencairkan suasana.
"Ya, begitulah. Masih belajar. Oh ya, ini kartu namaku. Jika kau butuh bantuan untuk renovasi atau sekadar ingin berbincang tentang seni, hubungi saja aku. Aku akan sangat senang bisa membantumu," ujar Adrian sambil memberikan kartu namanya dengan tulus.
Alya baru saja akan mengambil kartu itu ketika tangan Rayhan lebih dulu menyambarnya. Rayhan menatap kartu itu sejenak sebelum memasukkannya ke dalam sakunya sendiri. "Istriku tidak butuh arsitek lain. Aku bisa membeli seluruh firma arsitektur di kota ini jika dia menginginkannya. Dan dia tidak butuh teman bicara selain aku."
Adrian sedikit terkejut dengan posesifitas Rayhan yang luar biasa, namun ia tetap bersikap tenang. "Saya mengerti, Tuan Rayhan. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya senang bertemu kembali dengan teman lama. Saya permisi dulu, Alya. Senang bertemu denganmu lagi."
Begitu Adrian pergi, Rayhan langsung menarik Alya keluar dari galeri tersebut, tidak mempedulikan pameran yang belum selesai mereka kelilingi. Di dalam mobil, suasana menjadi sangat dingin. Rayhan melempar kartu nama Adrian ke lantai mobil dengan kasar.
"Mas, kenapa Mas bersikap seperti itu? Dia orang baik, dia hanya teman lama," keluh Alya.
Rayhan berbalik, menatap Alya dengan tatapan yang sangat gelap karena cemburu. "Aku tidak peduli dia baik atau tidak. Aku bisa melihat cara dia menatapmu, Alya! Dia masih menyukaimu, bukan? Jawab aku!"
"Mas, itu masa lalu. Aku tidak pernah punya perasaan padanya," bela Alya.
Rayhan menarik napas panjang, mencoba menahan amarahnya. Sesampainya di rumah, Rayhan langsung membawa Alya masuk ke dalam kamar. Sifat manjanya yang posesif meledak. Ia memeluk Alya dari belakang dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alya sambil bergumam gelisah.
"Aku tidak suka pria itu, Alya. Aku tidak suka ada pria lain yang punya kenangan denganmu sebelum aku. Rasanya aku ingin menghapus semua ingatanmu tentang pria mana pun kecuali aku," bisik Rayhan, suaranya terdengar sangat rapuh.
Alya berbalik dan menangkup wajah Rayhan. Ia melihat mata suaminya yang memerah karena rasa takut yang tidak beralasan. "Mas, tidak ada yang bisa menggantikanmu. Dia hanya bagian dari masa lalu yang tidak berarti apa-apa bagiku sekarang."
Malam itu, Rayhan benar-benar menunjukkan betapa terancamnya dia oleh kehadiran Adrian yang "sempurna" dan santun. Rayhan seolah ingin membuktikan bahwa dialah satu-satunya yang berhak atas cinta Alya. Ia memanjakan Alya dengan sangat intens di atas ranjang, menuntut perhatian penuh dari istrinya.
Dalam keintiman yang transparan malam itu, Rayhan berkali-kali meminta Alya untuk mengatakan bahwa dia hanya milik Rayhan. Sifat manjanya muncul saat ia meminta Alya terus memeluknya hingga pagi, seolah-olah jika ia melepaskannya, Adrian akan muncul dan mengambil istrinya.
"Hanya aku, Alya... katakan hanya aku," pinta Rayhan di sela-sela desahannya.
"Hanya kau, Mas Rayhan. Selamanya hanya kau," jawab Alya sambil mencium dahi suaminya yang berkeringat.
Namun, di dalam hatinya, Rayhan tahu bahwa Adrian adalah tipe saingan yang paling berat; pria yang baik hati dan tidak punya cacat moral. Hal ini membuat Rayhan semakin terobsesi untuk mengurung Alya lebih dalam lagi di dalam istananya, memastikan bahwa bayangan Adrian tidak akan pernah menyentuh pikiran istrinya lagi.
Saat Adrian memberikan kartu namanya, Rayhan tidak hanya mengambilnya dengan kasar, tapi ia juga menatap mata Adrian dengan tatapan yang seolah ingin menembus jantung pria itu. Rayhan merasakan dadanya panas bukan karena Adrian melakukan kesalahan, tapi karena ia melihat ada binar ketulusan di mata Adrian yang tidak ia miliki. Rayhan sadar dirinya penuh dengan kegelapan dan obsesi, sementara Adrian tampak seperti cahaya yang tenang. Hal itu membuat harga diri Rayhan sebagai seorang pria yang sangat dominan merasa sangat terusik.
"Sepertinya kau sangat sukses sekarang, Adrian," ujar Alya mencoba memecah keheningan yang mencekam itu.
"Berkat doa-doamu juga, Alya. Aku ingat dulu kau selalu menyemangatiku saat aku hampir menyerah di semester akhir," jawab Adrian dengan suara yang sangat lembut, sebuah suara yang bagi telinga Rayhan terdengar seperti sebuah ancaman besar.
Rayhan mempererat pelukannya di bahu Alya hingga istrinya sedikit meringis. "Istriku memang wanita yang sangat murah hati dalam menyemangati orang lain, namun sekarang, dukungannya hanya ditujukan untukku. Kami harus pergi sekarang, masih banyak urusan yang jauh lebih penting daripada mengenang masa lalu yang sudah terkubur."
(Tambahan Detail - Setelah Sampai di Rumah dan Keintiman Malam Hari)
Sesampainya di kamar, Rayhan tidak langsung mandi. Ia berdiri di balkon kamar, membelakangi Alya sambil menatap kosong ke arah taman. Tangannya yang masuk ke saku celana meremas kartu nama Adrian hingga hancur menjadi serpihan kecil.
Alya berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Rayhan. "Mas, jangan seperti ini. Mas membuatku takut."
Rayhan berbalik dengan cepat, ia memegang kedua bahu Alya dengan intensitas yang tinggi. "Kau tahu apa yang membuatku paling takut, Alya? Aku takut kau mulai membandingkan aku dengan dia. Aku tahu aku kasar, aku tahu aku sering memaksamu, dan aku tahu aku mengurungmu. Tapi pria itu... dia terlihat begitu sempurna. Dan itu membuatku ingin menghancurkan segala hal yang berhubungan dengannya agar kau tidak pernah memiliki pilihan lain selain aku."
Rayhan kemudian menuntun Alya ke ranjang dengan perasaan yang campur aduk antara amarah dan rasa takut kehilangan yang mendalam. Malam itu, hasrat yang ia berikan bukan hanya sekadar cinta, melainkan sebuah pembuktian diri. Rayhan ingin Alya merasakan bahwa hanya dia yang bisa memberikan kepuasan dan perlindungan seperti ini. Ia manja dalam setiap gerakannya, menuntut Alya untuk terus menciumi wajahnya dan membisikkan kata-kata pemujaan.
"Jangan pernah sebut namanya lagi, Alya. Jangan pernah simpan wajahnya di pikiranmu," bisik Rayhan saat ia sudah mencapai batas kemanjaannya. Ia menyandarkan kepalanya di d**a Alya seolah-olah dunia akan kiamat jika Alya melepaskan pelukannya.
Alya menyadari bahwa suaminya sedang berada di titik paling rapuh. Ia mengerti bahwa bagi pria sekuat Rayhan, rasa cemburu terhadap pria "baik" seperti Adrian adalah siksaan batin yang luar biasa. Alya pun memilih untuk memberikan seluruh perhatiannya, membiarkan Rayhan mengeksplorasi hasratnya hingga ke titik paling transparan, demi memastikan suaminya merasa bahwa dialah satu-satunya raja di hati Alya.